Iman ingat bagaimana mereka memulai hidup dari sebuah kontrakan berukuran 3x3 di daerah Ngasem Jogjakarta. Iman kala itu sedang berusaha menyelesaikan skripsinya yang akhirnya rampung juga hasil pinjam uang sana-sini dan bantuan orang tua Sri.
Wisuda Iman hanya dihadiri Sri dan teman-temannya. Iri menyusup hatinya manakala melihat orang tua teman-temannya hadir pada acara wisuda itu. Iman meninggalkan tanah kelahirannya di Bengkulu, jauh-jauh bersekolah dan teleh membuktikan keberhasilannya hari itu, tapi tak seorangpun dari keluarganya peduli. Penyebabnya hanya karena perempuan itu, Sri yang kini telah resmi menjadi pendamping hidupnya.
Dipandanginya lagi foto dalam bingkai itu....
"Aku tau aku terlalu membuatmu menderita Sri, aku tau itu. Maafkan aku... Aku tau apa yang ada pada kita saat ini belum bisa menebus kejahatan keluargaku padamu. Tapi kau begitu lembut menerima mereka. Kalau saja bukan karenamu Sri, aku pasti sudah jadi anak durhaka pada ibuku". Dielusnya pipi perempuan dalam foto itu.
Sebulan setelah wisuda Iman, Sri diboyongnya ke Bengkulu. Iman mendapat tawaran menjadi dosen di sebuah Perguruan Tinggi Islam di kota Bengkulu. Dalam pikirannya saat itu, toh pernikahan telah terjadi dan tidak satu orangpun bisa merubahnya kini. Iman berharap orang tuanya akan dengan lega menerima kehadiran Sri disana.
Harapan tinggal sebuah harapan. Yang terjadi justru sebaliknya. Kebahagiaan yang sejatinya diharapkan Iman untuk Sri justru berubah penderitaan luarbiasa menyayat hati perempuan itu. Sendirian di negeri orang, di Sumatera yang berwatak keras. Jauh dari orang tua dan keluarga membuat Sri serasa terasing. Tangannya yang halus tak pernah tersentuh lumpur sawah di Jawa, kini harus dia relakan untuk ikut turun menggemburkan tanah persawahan keluarga Iman. Dalam diamnya, Sri menikmati hari-hari penderitaannya.
(to be continued)
dikirim NoeLoe 37 minggu 22 jam yang laluTag:








