Hidup Tanpa Cinta

24
points
"

Cerpen terpanjang yang pernah gue buat sampe saat ini.. (Apa masih bisa disebut cerpen?)

"

Aku memandangi gelas berisi vodka di hadapanku. Hanya satu gelas, batinku. Ya.. hanya satu gelas.. Yang kugunakan.. Namun entah sudah berapa botol vodka yang kuhabiskan. Aku mengarahkan pandanganku ke arah jendela berbingkai biru. Kusibak tirai putih yang menutupinya dan membukanya. Angin malam membelai helaian rambutku.

Aku menatap langit malam yang bertaburkan bintang. Aku iri. Aku iri terhadap langit malam yang mempunyai banyak teman. Teman-teman yang meskipun kecil, namun mau memancarkan sinar yang mereka miliki untuk menghisai langit. Bulan... Bulan yang seolah menjadi penuntun sang langit malam. Selalu setia menjaganya.

Kuteguk sisa vodka di gelasku. Belum puas, kutuangkan lagi vodka dari botol yang masih baru. Botol-botol vodka berserakan di mejaku. Bau vodka telah memenuhi kamarku. Kulayangkan pandanganku menuju sebuah buku. Buku usang, namun berharga. Berisi semua kebodohanku di masa lalu. Kubuka lembaran-lembaran yang mulai lusuh itu. Beberapa tulisan tak terbaca lagi karna tintanya yang melebar terkena air mata. Air mata kebodohanku.

Terima kasih..
Hanya itu yang terucap..
Saat lilin tak lagi menyala dalam hidupku..
Kau datang menjadi bintang di hari-hariku..

Aku tersenyum remeh membaca penggalan tulisan itu. Tentu masih kuingat untuk siapa puisi itu kutulis. Untuk si brengsek yang penipu. Kubuka lagi lembaran buku itu. Kini aku berada di halaman-halaman terakhir.

Kau ajarkan aku untuk tersenyum..
Kau bawaku terbang ke angkasa
Melihat betapa indahnya dunia..

Suaramu yang lembut
Membuatku sadar, betapa berharganya hidupku ini...

Sekarang aku tertawa terbahak-bahak saat membacanya. Bukan karena pengaruh alkohol. Aku seorang peminum yang handal dan tidak mudah mabuk. Aku hanya mentertawakan semua kepolosan, yang lebih tepatnya disebut kebodohan yang pernah kulakukan. Tapi aku tahu, tulisan yang ini tidak berdasarkan suasana hatiku. Ini hanyalah sebuah puisi indah untuk menutup buku yang suram. Hanya kumpulan kalimat gombal tak berarti.

Aku membuka bagian depan dari buku itu. Tulisan itu.. Kutulis saat aku pertama kali tahu apa yang disebut cinta.

Aku mungkin tak sempurna
Aku mungkin tak dapat memahamimu
Tapi aku dapat mencintaimu

Mencintaimu dengan sepenuh hati
Dari lubuk hatiku yang terdalam
Hanya untukmu..

Aku hanya diam memandangnya. Kurasakan mataku mulai basah. Segera kuteguk lagi vodkaku. Aku tak akan membiarkan lagi diriku larut dalam suasana seperti ini. Sudah cukup air mata yang mengalir. Ini semua karna hal yang disebut cinta.

Cinta, cinta.. Semua orang selalu saja menyebut itu sebagai hal yang indah. Cinta yang katanya membuat dunia serasa indah. Membuat orang merasa berarti. Membangkitkan semangat hidup... Aku muak mendengarnya. Terlebih ketika ada orang yang mengatakan, ”Tidak ada orang yang mampu hidup tanpa cinta. Semua orang pasti ingin diperhatikan..”

Bullshit! Kali ini aku langsung menenggak vodka dari botolnya. Mungkin saja hukum cinta itu berlaku di kehidupan orang lain. Tapi tidak untuk hidupku. Tak ada lagi kata cinta dalam kamusku. Mungkin dulu ada, tapi kini sudah terhapus. Dan aku tak akan mengingatnya lagi.

~.::.~

4 tahun yang lalu...

Aku bertemu dengannya. Orang yang membuatku mengerti arti cinta. Juga awal dari semua kepedihan dan kebodohanku. Dia membawaku dalam kehancuran. Selama dua tahun aku ditolak olehnya.

”Nih!” kataku singkat sambil menyerahkan sebuah bungkusan kecil berwarna putih. Hari itu hari Valentine, aku yakin dia mengerti maksudku. Aku tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Aku bahkan tak punya keberanian untuk sekedar menatap wajahnya.

”Buat gue?” tanyanya meyakinkan. Aku hanya mengangguk kecil. ”Thanks ya!” katanya lagi sambil mengambil bungkusan itu dari tanganku. Aku tersenyum, terbawa suasana. Saat itu adalah kalimat pertama dari kehancuranku.

Seminggu kemudian ia jadian dengan adik kelas di sekolahnya. Aku memang hanya mengenalnya dari tempat les. Terlalu banyak yang tak kuketahui tentangnya. Aku yang polos itu telah tersakiti oleh cinta. Sejak saat itu aku bertekad untuk menghapusnya dari memoriku. Namun tak sekalipun aku berhasil.

Nilai-nilaiku semakin menurun. Namun kedua bangsat yang telah mengakibatkan hadirnya aku ke dunia ini tak mau mengerti. Aku tak mau-tepatnya tak sebaiknya- menceritakan masalahku kepada mereka. Aku hanya sanggup berkata bahwa aku punya masalah. Kukira dengan pangkat mereka sebagai ’orangtua’ seharusnya mereka mengerti perasaanku. Namun aku salah. Bahkan di dalam habitatku sendiripun tak kurasakan adanya cinta. Tak kurasakan perhatian yang kubutuhkan.

”Aku punya masalah. Aku juga pengennya lepas dari masalah itu. Supaya bisa konsen ke pelajaran...” jawabku jujur

Namun respon mereka dari mereka tak sepantasnya. Setidaknya dengan label ’orangtua yang luar biasa perhatian’ dari orang-orang di sekitarku, tak seharusnya respon mereka seperti itu.
”Mama ga mau tau soal itu. Kalo emang ada masalah, cepetan selesaikan masalah kamu! Jangan ditunda-tunda! Kalo emang buat salah, ya ngaku aja! Jangan kaya pengecut!”

Air mataku mengalir di luar kendaliku. Sementara bangsat itu terus mengoceh. ”Ngapain kamu nangis, hah?! Jangan cari alesan deh!... Coba kamu liat kakak kamu itu! Rajin, alim, baik, berprestasi! Kamu?! Adik kamu juga! Baik, lemah lembut, anggun, penurut, pinter lagi! Lah kamu? Cuma sepuluh besar aja?! Padahal IQ kamu yang paling tinggi kan?! 146!!”

Dalam hatiku aku hanya bisa mencaci maki diriku sendiri. Mungkin aku memang bersalah. Bersalah karna membiarkan diriku larut dalam cinta. Tak seharusnya aku mencintai dia. Aku mempersiapkan diriku untuk ledakan kedua. Aku tahu kebiasaan bangsat yang satu ini. Dia akan terus mengoceh dan memaki untuk memancing amarah bangsat yang kedua.

”UDAH DIEM SEMUA!! Papa..”

Hah? Papa? Huh, jijik! Kalo bukan karena kewajiban juga gue ga bakal mau manggil bangsat kaya lu dengan panggilan itu! Ga pantes tau!

”Papa ga peduli! Pokoknya kamu harus lebih rajin lagi! Kamu itu udah mau exam! Mulai sekarang Mp3 kamu disita! Kamu ga usah buka komputer lagi! Kalo mau ngerjain tugas pake laptop aja! Ga usah internetan! Jangan nonton TV kecuali hari Sabtu! .......”

‘Dasar bejad! Mp3 itu satu-satunya hiburan gue bego!’ Air mataku mengalir semakin deras. ‘Ga usah! Bilang aja kalo gue ga boleh nonton TV! Kalo Sabtu gue nonton juga lu pasti marahin gue soalnya gue ga manfaatin waktu buat belajar! Iya kan?!’ Namun aku tak bisa mengeluarkan amarahku. Aku tak bisa protes. Aku tak punya kekuasaan untuk mengekspresikan protesku.

Sejak saat itu aku bertekad untuk tidak menangis lagi apapun alasannya. Aku sadar, aku ditakdirkan bukan untuk menjadi gadis yang rapuh sehingga diberi simpati oleh banyak orang. Aku tak butuh dikasihani! Jalan hidupku memaksaku untuk menjadi gadis yang tegar, yang terus maju tanpa memperdulikan lingkungan sekitar. Aku harus seperti batu yang tuli, yang harus tahan akan semua caci maki yang dilontarkan oleh kedua bangsat itu.

Aku berhasil melalui dua tahun dengan cukup sukses. Aku kini bermuka dua. Di depan bangsat-bangsat itu aku menjadi anak baik-baik. Jujur saja aku sendiri merasa jijik dengan diriku. Namun aku tak punya pilihan lain. Demi kebahagiaanku, aku harus menjadi anak yang bisa membanggakan orangtua. Atau jika aku tetap menunjukkan diriku yang sebenarnya, aku harus mengucapkan selamat tinggal pada semua hal yang bisa membuatku tersenyum.

Namun suka tidak suka, aku tetaplah hanya manusia biasa. Harus diakui, meski selama ini beberapa temanku kagum akan ketegaranku, aku tak sekuat itu.

”Lu hebat banget.. Lu bisa ga nangis ngadepin bonyok lu. Kalo gue jadi lu, gue pasti udah nangis abis-abisan. Lu juga ga pernah nangis di seklah sekalipun. Padahal gue kalo ada masalah, pati curhatnya sambil nangis. Tapi lu bisa curhat tanpa nangis.” kata temanku di telepon

”Yah.. Tadinya gue juga kaya gitu. Malah cengeng banget.. Tapi setelah gue pikir-pikir, ga ada gunanya gue kaya gitu. Buat apa gue nangis? Nangis kan ga akan nyelesain masalah.. Jadi percuma gue nangis, cuma buang-buang waktu aja..”

”Mungkin lu bener.. Tapi nangis bisa bikin lu lebih lega..”

’Ya.. Lu emang bener..’ batinku. Tapi hal tersebut tidak berlaku untuk orang sepertiku. Jalanku berbatu dan curam. Aku tak bisa lemah seperti halnya cewek lain yang menangis. Lalu orang-orang akan menghiburnya sehingga ia bisa kembali ceria…
Aku sadar aku butuh pegangan. Namun aku tidak tahu harus mempercayakan posisi itu pada siapa. Aku takut peganganku nanti akan hilang. Sama seperti pegangan pertamaku.. Dia, si cinta pertama..

Di saat kelam seperti itulah, si brengsek yang penipu datang. Dia senasib denganku, setidaknya hampir. Dia sama-sama tak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya, demikian juga cerita cintanya yang tak pernah mulus. Bedanya, dia anak orang yang.. Amat sangat kaya.. (Tak mungkin anak orang kaya SAJA memiliki mobil keluaran terbaru secara pribadi. -Baca: MilikNYA, bukan orangtuanya-) Dan setidaknya ia masih lebih punya hati dibandingkan denganku.

Meski orangtuanya kurang perhatian, ia tetap menyayangi mereka. Berbeda denganku, aku selalu mendapatkan cinta yang munafik, -yang mereka cintai adalah prestasiku, bukan aku- dan atas dasar itulah aku sangat membenci kedua bangsat itu.

Aku merasa nyaman berada di dekatnya. Ia ada saat aku kesepian. Saat aku sedang down, ia ada untuk menghiburku. Aku juga mulai bisa menghargai hidupku. Dulu aku tak pernah peduli akan penampilanku. ’toh tak ada yang memperhatikanku’ begitu pikirku. Kebiasaan burukku juga tak kuubah, sampai ia hadir dalam hidupku.

Memang hanya sms biasa. Hanya menanyakan apakah aku sudah makan atu belum. Atau sekedar memberitahu supaya aku tidak tidur terlalu malam. Dan berbagai hal sepele lainnya. Namun hal itulah yang membuatku sanggup mempercayakan hatiku untuknya. It is small things that’re really matter.

Namun memang kebahagiaan dalam hidup ini bukan untukku. Ia pergi ke luar negeri selama 3bulan. Sebelum pergi ia memang telah menyatakan cintanya. Dan ia berharap aku mau menunggunya sampai nanti ia kembali. Saat itu aku tak berharap yang macam-macam. Aku hanya ingin saat ia kembali nanti, kami bisa kembali seperti dulu. Itu saja, tak lebih.

Tapi mungkin bagi orang dengan takdir sepertiku, permintaan sederhana itu terlalu berlebihan. Nyatanya ketika ia kembali, aku telah kehilangan cintanya. Bisa-bisanya saat ia kembali hal pertama yang ia katakan adalah,” Pas di situ gue ketemu mantan gue. Dan ternyata dia masih mau balik sama gue. Nih fotonya, gimana? Dia cantik kan?”

Saat itu aku ingin sekali menamparnya dan menonjoknya. Namun aku tak akan mengorbankan harga diriku hanya untuk orang tak penting sepertinya. ”Iya, cantik. Cocok buat lu..” jawabku singkat

Lalu apa maksudnya selama ini? Semua sms dan kata-katanya ternyata tak lebih dari kumpulan sampah tak berarti. Dan itu membuatku hancur untuk kedua kalinya. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tak akan jatuh cinta lagi. Aku sendiri tak yakin aku bisa menepati janji itu, namun setidaknya aku punya tekad untuk menyimpan hatiku rapat-rapat.

~.::.~

Aku menatap bintang-bintang di luar sana. Semua flashback yang menyakitkan itu terputar kembali. Persediaan vodkaku telah habis. Kini aku berganti ke rum. Tanpa buang waktu aku meminumnya langsung dari botolnya. Aku tak ingin lagi larut dalam kesedihan tak berarti itu.

Aku tak ingin lagi merasakan cinta. Aku ingin sendiri saja. Begini lebih baik. Dalam hidupku, memang tak ada yang namanya kebahagiaan. Bahkan sampai saat inipun aku tak pernah bisa mabuk. Meski telah kuhabiskan berjuta-juta untuk membeli berbotol-botol champagne paling mahal aku tetap sadar. Tak sedikitpun aku merasa flying. Bahkan blushing pun tidak.

Aku tidak peduli lagi terhadap cinta. Toh dalam hidupku ini aku tak akan mendapatkannya. Demikian juga dengan kebahagiaan. Aku akan menjadi orang pertama yang bertahan hidup tanpa cinta. Akan kubuktikan bahwa hukum ’Semua orang butuh cinta’ itu salah. Karna aku, manusia biasa ini, akan hidup sendiri tanpa cinta dari siapapun.

Your rating: None Average: 4.8 (5 votes)
dikirim shadow 37 minggu 6 jam yang lalu
Tag: