Yup, untuk part yang satu ini adalah pemunculan satu karakter dalam kenangan dan penebalan watak dari Rohr dan Zeke...
Mohon komen^^
Memorian of Silvia
Samar-samar..., Bayangan itu memantul dari tenangnya air danau, menampakkan dua orang sahabat kecil yang tengah bermain di tengah hijaunya hamparan rumput nan luas. Seorang gadis kecil berparas manis, bersama sahabat pria kecilnya, yang berbeda dari orang kebanyakan. Si Rambut Perak... Aku.
Entah dimana kenangan ini terlupa, tapi akhirnya ku menemukannya kembali di suatu ruang antara jutaan benang neuron. Sangat indah, walau samar. Tak dapat kulihat jelas wajah gadis itu, maupun perannya dalam hidupku. Tapi kuyakin ia adalah seorang yang berarti bagi hidupku.
Saat itu usiaku genap delapan tahun, setara dengannya. Dan kami selalu bersama setiap hari, baik dalam susah maupun senang, selayaknya sahabat sejati... walau masih anak-anak. Entah kapan, dimana, dan untuk apa, telah lama sekali kulupakan, satu-satunya yang kuingat adalah bahwa ini merupakan satu ikatan terakhir yang menghubungkan kami selamanya. Sebuah ikatan yang menjadi janji tak terlanggar.
Masih samar..., Kulihat ku berada di sisi danau Haverlock, berada tepat diantara lebatnya hutan elm. Gadis itu duduk di hadapanku, tersenyum manis dengan gaun putihnya yang membuat dirinya laksana boneka cantik. Rambutnya hitam lurus, tegerai hingga pinggang, serta dihiasi pula oleh bando yang senuansa dengan gaunnya. Mata hitam indahnya mengerling pada pria kecil dihadapannya, aku.
Semakin tampak jelas...
“Rohr, apa impianmu?” tanya gadis itu kepadaku.
Suaranya lembut, begitu nyaman di telinga. Sejenak ku terhanyut saat mendengarnya, tapi lalu tersadar akan perasaanku sendiri.
“Eh? Apa?” tanyaku polos, benar-benar blank pada apa yang ia tanyakan.
“Hu-uh...” keluhnya manja, tapi terlihat begitu lucu di mataku. “aku tanya... ‘apa impian kamu’???”
Entah kenapa, aku benar-benar merasa canggung untuk menjawabnya.
“Impianku? Ehm..., nggak penting-penting amat, ‘koq. Impian kamu sendiri apa?”
Kulihat rona kemerahan di pipinya sejenak, lalu memudar.
“Aku...” katanya genit, tapi tetap terlihat manis di mataku. “...ingin suatu saat nanti seorang pangeran dari negeri seberang menjemputku, dengan zirah platina dan seekor naga putih sebagai tunggangannya. Lalu sebuah istana batu kuarsa menungguku, dan bersama sang pangeran, aku akan menjadi tuan putri dan hidup bahagia se―lama-lamanya...!” nada suaranya naik, dan terpancar pula nada kebahagiaan yang teramat sangat.
Yah, maniak dongeng..., tapi tetap manis di mataku... Wajahnya tampak begitu berseri. Tak lagi menatapku, kini ia menutup matanya dan mendekapkan tangannya di dada lalu menghadap langit luas. Seakan setiap perkataannya adalah permohonan yang sangat ingin dikabulkan oleh sang kuasa..., dan seorang yang kurasa adalah―
Ya, Maka impianku adalah untuk mengabulkan impianmu...
“K-Kalau begitu, “ kataku, dan ia pun kembali berpaling kepadaku, tapi aku terlalu gugup...
Aku yakin ia pasti melihat wajahku yang berubah merah padam.
“...hmm, ’kalau begitu’ apa?” tanyanya, dan aku semakin merasa gugup.
“T-tunggulah a-aku d-disini selaluu...,” akhirnya aku memutuskan untuk menutup mataku dan berusaha berkata dengan seluruh tenaga tersisa.
Bukan main rusuhnya detak jantung ini, seakan memenuhi seluruh darah yang aliri tubuhku. Kurasakan tangan dan lututku gemetar hebat.
Aneh pula rasanya, mengingat aku baru berusia 8 tahun saat itu, terlebih mengingatnya kembali di masa ini. Tapi lamunan ini terlalu indah untuk dibuyarkan, dan aku terus mengingat kenangan itu...
“Se-Seandainya... aku datang kembali, aku pasti telah menjadi s-seorang pangeran y-yang kau..., ―impikan,” kataku, begitu lirih entah terdengar entah tidak, tapi ku melihat respon dari wajahnya yang mendadak tersipu malu.
“... dan... itulah impianku, Silvia...” lanjutku lagi, masih bersuara lirih.
Tanpa kusadari, kini gadis itu―Silvia, menyiratkan senyum indahnya untukku, diiringi perkataan...
“Janji?”
Jantungku kembali berdebar, kini lebih kencang dari sebelumnya. Cukup lama, kutatap matanya yang sehitam almond, dan kurasakan pula waktu berhenti bersamanya. Ia mengharapkan sebuah jawaban...
Aku pun menarik nafas panjang dan berkata tegas,
“Ya. Janji.”
***
Setetes embun jatuh dari ujung jemari sang daun, melayang tinggi diantara dahan pohon oak raksasa. Terkikis oleh angin, lalu pecah saat menghantam sebuah kerikil di muka tanah. Di sisi kerikil, terlihat sebuah kilau perak yang menempa sang pemandangnya. Sebuah cahaya yang khas, hanya terpancar dari busur Rohr, sang rambut perak.
Kini pria itu terbangun dan duduk di sisi busurnya. Terhalang pula oleh bayang kelabu pepohonan oak raksasa di sekitarnya yang terbias oleh lentera fajar. Pagi itu, mentari baru saja terbit, bahkan masih tersisa pekatnya malam di hari kemarin. Tapi di hutan terlarang, tak terlihat jelas perbedaan antara siang dan malam.
Rohr terduduk beku, tampak meratapi sesuatu yang hilang dari dirinya.
“Sudah beruntung kita berhasil lolos dari Rangers Slayer selama semalam...” kata satu suara di belakang Rohr yang begitu mengejutkan.
Rohr segera menarik busurnya meski anak panahnya telah habis.
“Hei, santai sobat...! ini aku, Zeke...” dan tampaklah sosok Zeke yang tengah berjongkok, lengkap dengan wajah konyolnya.
“Cih!”
Rohr berdiri, dan melempar pandangan sinis kepada Zeke.
“Peraturan pertama!” katanya garang. “Jangan rusak lamunanku!”
“Wew!?” Zeke mengernyit kebingungan. “Sejak kapan ada peraturan diantara kita, ha!?”
“Sejak saat ini!” raung Rohr, tampak stress.
Ekspresi Zeke pun berubah konyol dalam kebingungannya. Bagaimana bisa Rohr berubah jadi sentimental begini?
“Dan peraturan kedua―” kata Rohr lagi, “―jangan pernah mengajakku bicara kalau aku tidak mengajakmu lebih dulu!” Situasi pun semakin memanas di dalam diri Rohr, entah apa yang dipikirkannya... tapi sama sekali tak dihiraukan Zeke, yang mungkin menganggapnya sebagai suatu lelucon.
“Hei, kenapa kau ini, Rohr!?” jerit Zeke, nadanya naik 8 oktaf. “Memangnya kau kira sekarang kau ‘bos’nya, ha!?”
Seketika Rohr menerjang Zeke, mencengkram tunik pemuda itu hingga menghantam batang pohon oak, terdengar bunyi derakkan yang membuat Zeke merintih.
“Tentu saja aku ‘bos’nya!” raung Rohr teramat kasar, muncul kilatan buas, bukan lah tampak seperti Rohr yang biasanya.
“Eh?”
Zeke benar-benar tidak mengerti, tapi di dalam hatinya, ia pun turut naik pitam diperlakukan seperti itu. Sementara Rohr kembali berkata―yang seperti meraung, bak makhluk buas.
“Zeke, kau kira siapa selama ini yang bertarung melawan para Centaurus itu, ha!? Kau bisa apa kalau tidak ada aku!?”
“Uh― tapi kau yang mengajakku kemari ‘kan, sobat?” kata Zeke lirih, entah terdengar―entah tidak.
“Asal kau tahu, ya!?” kata Rohr lagi “Aku sudah jenuh menjadi rekanmu! Aku jenuh dengan misi kita! Terutama karena kau tidak bisa berbuat apa-apa, Zeke!”
Kalimat terakhirnya bergema di telinga Zeke, mendadak sorot matanya berubah...
kau tidak bisa berbuat apa-apa, Zeke... kau tidak bisa berbuat apa-apa, Zeke... kau tidak bisa berbuat apa-apa, Zeke...
“Heeahhh!” Zeke mendorong Rohr sekuatnya hingga cengkraman pemuda itu lepas.
“Oh, ya!?” jerit Zeke. “Jangan mulai lagi kesintinganmu, dan jangan pernah menyalahkanku!!! Karena jika kau tidak berlaku yang tidak-tidak, maka misi kita tidak akan sesulit ini, tahu! Dan―”
Sejenak Rohr tampak seperti ingin mendebat, tapi tertutup oleh kerasnya suara Zeke.
“―Apa kau lupa, Rohr? Saat Pejuang Alkimia meminta kita untuk mengambil telur di lembah naga, kau malah mengusik wyvern di sekitarnya! Atau saat kita mengunjungi Chief di shadow village, seenaknya saja kau menantang bertarung para penghuninya! Dan juga saat kita bertandang ke pemukiman Goliath, kau―”
“Cukup! Pria lemah sepertimu tak pantas menasehatiku!”
Kembali, kata-kata itu terasa terulang di telinga Zeke.
Pria Lemah... ...lemah... ...lemah?
“Ya, aku memang lemah, Rohr...” sejenak Zeke diam, meratapi dirinya sendiri. “Tapi paling tidak, aku tidak munafik dan bermuka ganda seperti dirimu! Aku konsisten pada sesuatu yang ku pihak! Pada para pejuang Alkimia! Bukan seperti kau yang mencari aman di tengah awal berkecamuknya perang ini! Kau yang berlindung di bawah ketiak Lord Zyhmar, tapi juga bergabung seolah kau memihak para pejuang Alkimia! Sejujurnya..., kau pengecut, Rohr! Pengecut!”
―Duakkk―
Darah itu jatuh ke tanah, sebagian tertahan oleh telapak tangan tak berdosa, yaitu darah yang mengalir dari hidung dan bibir Zeke. Rohr baru saja memukulnya.
Kini pemuda berambut merah kusam itu tersungkur di tanah. Seakan tak percaya, ia terus memandangi darah tersebut, yang juga membasahi telapak tangannya. Bergantian, bola matanya beralih dari darah ke Rohr, pun sebaliknya.
“Begitu, ya!? Jadi sekarang kau memukulku...” kata Zeke, kentara jelas nada kekecewaan yang mendalam dri sorot matanya. “Itulah masalahmu, Rohr! Kau tidak bisa menerima kehidupanmu, tapi kau tak pernah berusaha mengubahnya!”
Zeke terus memandangi Rohr, mengharapkan satu ingkaran, tapi Rohr menutup mulutnya rapat-rapat.
“Jangan naif, Rohr..., kau pikir kau bisa aman dengan berperan sebagai agen ganda? Apa kau sekuat itu hingga dengan sombongnya berpikir bahwa Kerajaan Sihir dan para Pejuang Alkimia akan memperebutkan dirimu? Tidak, Rohr..., kau yang menganggap diriku lemah ini..., bahkan tak lebih kuat dariku jika tidak memiliki keyakinan dan konsistensi! Tidak ada tempat bagi seorang munafik! Maka jangan pernah mengatakan aku ‘lemah’, Rohr...”
“Zeke, aku―” kata Rohr, tampak amat kesulitan mengatakannya, dan akhirnya putus asa pada diri sendiri. “―ah, kau takkan mengerti, Zeke... Aku―”
“Ya!!!” potong Zeke “Aku memang ‘tidak mengerti’, kau selalu bilang begitu sejak pertama kita menjadi rekan, ‘kan!? Kenapa kau selalu menganggapku tidak mengerti apa-apa!?”
Rohr seperti membeku, diam seribu bahasa.
“Mungkin, sebelum kau belajar untuk memihak..., kau harus lebih mengerti arti seorang rekan..., arti seorang sahabat...” kata Zeke lagi, yang menutup perdebatan tersebut, karena setelah itu Zeke meninggalkan Rohr untuk mencari air bagi lukanya.
Dan Rohr hanya terduduk diam, untuk pertama kalinya. Andai kau tahu, Zeke..., aku mengerti arti sahabat lebih darimu, lebih dari siapapun... arti Silvia...bagiku.
***
Tag:








