Lima buah brankas melesat bak peluru meriam. Hantamannya yang beruntun membentuk lubang lain di sisi gedung, menebarkan puing, dan membuat keributan di jalan raya. Alisya menggeram. Lima lemparannya sama sekali tidak ada yang mengenai sasaran. Tubuh Aries cukup lentur. Ia meliuk menghindari brankas dan kini berdiri tepat sepuluh meter di hadapan Alisya. Urat-uratnya yang timbul di sekujur tubuh, ingin sekali ia gigit sampai bocor.
Aries mendadak hilang. Sebuah pukulan keras mendarat di ujung ulu hati Alisya. Ia terbungkuk, dan wajahnya disambut kepalan tangan.
He he makasih banget atas perhatianmu. Jujur aku berencana menjadikan ini sebagai cerita pendek yang memang aku pakai gayaku. Pendek-pendek yang tiap cerpen memiliki alur. Tetapi masing-masing cerita masih berhibungan. thanks.
Bung Digita, komentar elbintang digarisbawahi ya! Menurut saya, itu kelemahan terbesar bung dirgita saat ini, tapi aku selalu gagal mengutarakannya.
Terlepas dari itu, di bab ini, ceritanya betul2 mulai jelas. Kerangkanya juga aku cukup suka.
Saran rekomendasi: Digitarium, penerbit Akoer, karya Baron Leonard. Kurasa cerita dalam buku itu cocok dengan nuansa cerita ini, dan mungkin bisa dijadikan bahan referensi.
entahlah!keknya aku ngebayangin kalu dibikin komik, rasanya lebih mengena (apakah saya sudah pernah mengatakan hal ini sebelumnya ?:p)
di adegan perkelahian yang panjang, ada baiknya diberikan gambaran dekskripsi perasaan si pelaku, apatah dia penasaran, geram, capek, bosan, atau bahkan menikmati. jadi pembaca tidak sekedar "mendengarkan" dialognya" (ekhm..nie sekedar celotehan tukang baca (bukan ahli nulis like you *grin* jadi, tetaplah SEMANGAT!)
Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.
Namun, waktu memang tidak bisa dihentikan. Setelah tergelincir di ufuk barat, mentari kembali datang keesokan pagi. Sesuai daftar yang ditulis oleh Si ... lanjut baca
“Sisa hidup Sira...?” Aku tersengat. Serta-merta tubuhku membeku. “Tinggal besok...?” Entah bagaimana, aku melejit menjauhi daun pintu.
Apa ... lanjut baca
Kelas XI IA 4. Aku terduduk di pojok kanan depan kelas dengan wajah menunduk. Teman sebangkuku hari ini kembali tidak masuk, dan kudengar beberapa mul ... lanjut baca
Kisah ini dibuka oleh penyerangan Armada Inverse milik Koloni Sapphire di Koloni Magna. Selain berlatar belakang untuk menguasai Koloni Magna sebagai ... lanjut baca
PERLU PERBAIKAN
INT. = interior
EXT. = eksterior
VO = voice over
VOC atau OC = menandakan karakter tidak terlihat kamera.
Filtered = untu ... lanjut baca
Sudah lima belas menit dan pintu itu masih menutup. Lampu yang menerangi tulisan Ruang Bedah di atasnya pun masih menyala merah. Seno hanya bisa menun ... lanjut baca
Lukman siswa kelas XII SMA, anak tunggal di sebuah keluarga sederhana. Di rumah, ia tinggal bersama Ayah seorang karyawan biasa sebuah perusahaan dan ... lanjut baca
Pagi yang enerjik. Matahari masih condong ke timur, tetapi enam mobil sudah adu lari menerobos ruas jalan. Di posisi pertama, ada mobil yang dikendara ... lanjut baca
He he makasih banget atas perhatianmu. Jujur aku berencana menjadikan ini sebagai cerita pendek yang memang aku pakai gayaku. Pendek-pendek yang tiap cerpen memiliki alur. Tetapi masing-masing cerita masih berhibungan. thanks.
Pemotongannya pas banget.Jadi bikin tambah penasaran. Btw,maksudnya 'membuka gerbang kedua' itu mirip ama jurus 'Rock Lee'(Naruto) yach?
Begitulah^^
Terinspirasi sama Rock Lee.
Bung Digita, komentar elbintang digarisbawahi ya! Menurut saya, itu kelemahan terbesar bung dirgita saat ini, tapi aku selalu gagal mengutarakannya.
Terlepas dari itu, di bab ini, ceritanya betul2 mulai jelas. Kerangkanya juga aku cukup suka.
Saran rekomendasi: Digitarium, penerbit Akoer, karya Baron Leonard. Kurasa cerita dalam buku itu cocok dengan nuansa cerita ini, dan mungkin bisa dijadikan bahan referensi.
Berjuanglah!
Sip!
Aku tengah menggarap ulang cerita ini.
Membaca ceritamu, kesan pertama selalu seru.
Selebihnya aku menikmati, deskripsi cerita cukup bagus.
entahlah!keknya aku ngebayangin kalu dibikin komik, rasanya lebih mengena (apakah saya sudah pernah mengatakan hal ini sebelumnya ?:p)
di adegan perkelahian yang panjang, ada baiknya diberikan gambaran dekskripsi perasaan si pelaku, apatah dia penasaran, geram, capek, bosan, atau bahkan menikmati. jadi pembaca tidak sekedar "mendengarkan" dialognya" (ekhm..nie sekedar celotehan tukang baca (bukan ahli nulis like you *grin* jadi, tetaplah SEMANGAT!)
------------------------------
--cheers!--