Peringatan pemerintah: Restricted for children!
Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.
Lima buah brankas melesat bak peluru meriam. Hantamannya yang beruntun membentuk lubang lain di sisi gedung, menebarkan puing, dan membuat keributan di jalan raya. Alisya menggeram. Lima lemparannya sama sekali tidak ada yang mengenai sasaran. Tubuh Aries cukup lentur. Ia meliuk menghindari brankas dan kini berdiri tepat sepuluh meter di hadapan Alisya. Urat-uratnya yang timbul di sekujur tubuh, ingin sekali ia gigit sampai bocor.
Aries mendadak hilang. Sebuah pukulan keras mendarat di ujung ulu hati Alisya. Ia terbungkuk, dan wajahnya disambut kepalan tangan.
Alisya berguling dan berhenti dalam posisi terlentang. Dengan mata yang masih dipenuhi arus, ia masih bisa melihat Aries mendarat beberapa detik di langit-langit, sebelum akhirnya meluncur dengan telapak tangan mengepal.
Alisya tidak ingin tubuhnya dihajar, hingga menerobos empat lantai dalam hitungan detik. Dengan ulu hati yang masih nyeri, ia melejit ke samping. Ayunan kakinya menyambut pinggang Aries lebih dahsyat dari serudukan banteng. Aries terlempar meninggalkan gedung.
Sayang, karena ia terlalu bersemangat, Alisya berhasil melontarkan pemuda itu terlalu jauh. Aries berhasil hinggap di sisi gedung yang berseberangan. Dengan lonjakan kaki yang masih bertenaga, ia pun meluncur menuju atap gedung.
Alisya lagi-lagi menggeram. Arus yang menutupi matanya, kali ini seperti membentuk sebuah jalur. Ia melihat jalan kecil menuju sisi gedung di seberang. Tidak ingin kehilangan buruannya, Alisya nekad berlari dan meloncat.
Orang-orang di bawah menyaksikan sesuatu meninggalkan lantai dua puluh. Alisya berhasil mencapai gedung di seberangnya. Ia berputar dan kakinya melejit seperti Aries. Tubuhnya melambung tinggi dan lantai yang hendak ia landasi ialah atap.
Aries telah menunggu. Senyum halus turut tersungging. Di hadapannya, Alisya mencoba untuk tidak roboh. Melompat hingga melebihi sepuluh lantai benar-benar menguras tenaga. Tetapi, bagaimana Aries masih bisa tersenyum setelah diterjang dengan keras?
Angin mempermainkan rambut mereka.
“Aku sebenarnya takjup. Tak kusangka, ada seorang gadis yang mampu bertahan hingga batas ini.”
“Kau..., kau pasti bekerja sama dengan Astro....” Alisya berhasil menyusun sebuah kalimat.
Aries menggeleng kecil. “Astro yang bekerja pada kami. Dan sekarang, kami ingin menangkapnya, karena ia membawa barang yang kami inginkan.”
“Giganium....”
“Tepat sekali...!”
Sebuah pukulan kembali bersarang di ulu hati Alisya. Ia terbungkuk, dan sebuah sikutan mendarat di belakang lehernya. Ia terjerembab. Wajahnya nyaris menghantam beton jika kedua tangannya tidak segera bertapak di lantai.
Sebelum kaki Aries melayang ke kepalanya, dengan sisa-sisa kesadaran yang masih ia miliki, Alisya berputar dan menghindar. Ia berhasil berdiri dan melayangkan beberapa pukulan. Ia juga sempat meliuk dan akhirnya sukses menerjang dagu Aries. Terjangan kaki berputar melambungkan pemuda itu meninggalkan atap gedung. Sebelum ia mampu menyeimbangkan tubuh, Alisya melejit dan memborbardirnya di udara. Satu besutan kaki penutup menghempaskan Aries tepat di atas sebuah mobil. Kendaraan itu ringsek parah seketika.
Alisya mendarat di jalan. Orang-orang yang berkerumun hanya berani menonton dan akhirnya menarik diri beberapa langkah. Terlebih, ketika mereka melihat Aries masih bisa bergerak. Pemuda itu memutar tubuhnya dan jatuh dari atap mobil yang ia buat hampir rata dengan jalan.
Aries berdiri dengan tubuh penuh luka. Langkahnya gontai menuju bagian depan mobil. Di sana, ia berbalik dan menghenyak bumper dengan kaki kanannya. Mobil sontak berdiri terbalik dan kepalan tangan kanannya membuat mobil melayang. Bukannya pergi melarikan diri seperti para penonton di trotoar, Alisya malah menggenggam erat. Ia memasang kuda-kuda untuk menyambut mobil yang meluncur ke arahnya.
Tinggal sepuluh meter. Alisya sudah mengangkat kepalan tangannya. Namun pada jarak seperti itu, mobil tiba-tiba berderai seperti dihantam dari atas.
“Aku sudah mengaktifkan Gerbang Pertama. Maaf baru meminta izin.” Sosok berpakaian besi, layaknya polisi wanita di dalam gedung, perlahan tampak dari debu yang lenyap. Hantaman kedua kakinya meremukkan mobil yang sudah ringsek hingga berkeping-keping.
“Kau sudah menemukan pemuda kedua?” Wanita bersama Gaya tersebut berkata balik.
“Ia tepat di hadapanku.”
“Jangan biarkan ia lari. Beberapa anggota Unit Gerbang akan menyusul.”
“Akan kulakukan semampuku.” Polisi itu mulai melangkah. Kakinya ringan seperti pakaian di tubuhnya tidak seberat nyaris tiga ratus kilogram. Bahkan, langkahnya terayun semakin cepat.
“Tetap di tempatmu, Anak Muda! Aku adalah polisi. Aku akan menangkapmu.” Ia mempersiapkan borgol.
“Jangan takut! Aku yang akan ke sana!” Aries memekik. Ia berlari menuju polisi itu dan melayangkan pukulan. Seakan memiliki indera keenam, pukulan tersebut berhasil dihalau dengan mudah. Beberapa ayunan kaki dan tangan yang segera menyusul bertubi-tubi juga dengan mudah disapu. Aries semakin jengkel dan serangannya semakin membabi-buta. Hingga akhirnya, ia kehilangan konsentrasi dan berhasil dibanting menubruk tembok gedung. Lubang besar kembali menganga.
“Kau seharusnya bersabar.” Polisi itu memungut borgolnya. Ia menoleh dan Aries sudah membuat lubang lain. Ia berlari menerobos gedung.
“Lapor! Tersangka melarikan diri!”
“Kejar!”
Petugas itu mempercepat langkahnya. Ia berusaha mengejar, namun ayunan kakinya dapat didahului oleh Aries.
“Kecepatan larinya 20 kilometer per jam. Semakin meningkat!”
Aries berhasil melewati gedung. Ia mencapai jalan dan semakin tak terkejar.
“Meminta izin untuk membuka Gerbang Kedua!”
Lama tak terdengar sahutan.
“Ketua? Aku meminta izin untuk membuka Gerbang Kedua!”
“Baik. Laksanakan!”
Polisi itu terus berlari.
“Kunci suara, aktif! Laksanakan protokol Gerbang. Mempersilakan sistem membaca DNA.”
“Kode DNA Diterima.” Sebuah tulisan muncul di kaca helm.
“Membuka Gerbang Kedua!”
Perlahan, kecepatan lari polisi tersebut semakin menaik. Katup-katup udara membuka di beberapa bagian tubuh, termasuk kaki dan tangan.
“Hentikan langkahmu, Anak Muda!”
Seruan sang petugas tak diindahkan. Aries semakin melesat. Polisi yang mengejarnya pun segera merespon. Ia melompat sekuat tenaga dan mendarat tepat di hadapan Aries. Tangannya menyambut batang leher pemuda itu dan membuatnya terayun layaknya gantungan kunci.
Namun, hasrat kabur Aries masih kuat. Ia memutar tubuh dan berhasil meremukkan sebagian kaca helm sang petugas. Ketika kakinya kembali menyentuh aspal di jalan, ia kembali berlari.
Belum genap tiga puluh langkah, anggota lain telah mengambil jalur Aries untuk melarikan diri. Katup-katup udara juga telah membuka di sekujur pakaian besi yang ia kenakan. Tak sempat mengerem, pukulan telak di wajah melambungkan tubuh Aries.
Tag:











