Kisah Bagian 7: Ledakan (D)

Segaris cahaya menyeruak membelah gelap. Semakin lama semakin lebar, dan proyeksi buram itu kini perlahan-lahan berubah jernih.

Bili dapat merasakan, tubuhnya terbaring di atas tempat yang lembut. Tubuhnya diselimuti sesuatu hingga terasa hangat. Dan di depan matanya, terpampang langit-langit yang bersih.

Sekelebat cahaya memuntir lehernya ke kanan. Matanya kini membentur sosok yang menghadap jendela. Sosok itu tak bergeming menyaksikan alur air yang mengalir di hadapannya, di balik kaca. Sesaat usai sekelebat cahaya tadi sirna, gemuruh halus terdengar. Sosok itu berputar dan sepertinya kaget mendapati Bili telah siuman.

“Digta...?” suara Bili terdengar parau. Gadis itu menunduk, berusaha menyembunyikan alur lain di wajahnya. Dan selipat tisu terangkat menyeka air matanya yang mengalir.

Setelah beberapa detik bersembunyi, wajah Digta kembali muncul. Kali ini, dihiasi segaris senyum.

“Apa kabar? Bagaimana keadaanmu?” Ia duduk di sebuah kursi. Basa-basinya itu malah dianggap Bili sebagai hal yang aneh. Digta yang ia kenal – setidaknya terakhir kali ia sadar – bukanlah gadis yang suka berbasa-basi. Ia juga selalu menjaga jarak. Namun sekarang, ia bisa menyaksikan wajah Digta kurang dari satu meter. Merah di matanya juga terlihat jelas.

“Apa aku bermimpi...?” Bili merasa, ia berkata cukup pelan. Namun Digta masih mampu menangkap suaranya.

“Mimpi...?”

“Kau... tiba-tiba....”

“Jangan salah tanggap. Aku berada di sini karena aku sudah berjanji pada Ayu. Ia memintaku untuk menggantikannya selama ia pergi.”

“Lalu, di mana Ayu...?”

Digta kembali tertunduk.

“Dia..., mungkin telah menukar nyawanya untuk hidupmu....”

“Agh? Apa... maksudmu?”

“Orang yang menemukanmu, dan menyelamatkanmu dari lift, adalah Ayu. Selama empat jam berturut-turut, ia menungguimu di sini, di rumah sakit ini. Tapi, tiba-tiba satu jam yang lalu, ia memintaku untuk menggantikannya. Ia akan pergi ke LABTEK. Dan..., tiga puluh menit kemudian....”

Terlihat jelas. Butir-butir bening seperti menetes dari wajah Digta. Ia menangis?

“Tiga puluh menit kemudian..., aku mendapat kabar bahwa LABTEK meledak. Seluruh gedung DINA hancur. Aku bisa menyaksikan kepulan asapnya dari sini, bahkan hingga hujan turun. Ayu masih belum kembali.... Ia masih di LABTEK....”

Rating

40
points
Views: 151 reads
Comments: 6
Rating:
57.1429

Favorites

You have to login to access this feature click here

Flag

You have to login to access this feature click here

Read next posts

Be the first person to continue this post
Writer aak_didik
aak_didik at aak_didik (1 year 42 weeks yang lalu)
50

makasih komentarmu yang sangat puanjang itu. aku juga telah buka karya-karyamu. he he pembelajaran buat aku ya. aku emang betul-betul malas. punyamu rapi kok. jelas gitu loh. ake thanks. membaca ceritamu kayaknya harus bersambung terus.sukses

Writer addang13
addang13 at ToT oh Ayu (1 year 45 weeks yang lalu)
50

Pendek amat.

Kenapa dia harus mati!!?! Kenapa!!! *histeris*

Writer najmah_roe
najmah_roe at najmah_roe (1 year 47 weeks yang lalu)
50

hanya bisa diam... hanya sementara... maka kutunggu kisahmu...

Writer Alfare
Alfare at uh, cuma segini? (1 year 47 weeks yang lalu)
90

Mmm, bagian yang ini penyampainnya bagus sih. Cuma terkesan tanggung dan agak tidak pada tempatnya.

Hmm, aku jadi mikir lagi. Tokoh2nya banyak sih.

Writer djava_wong
djava_wong at Lho koq ?? (1 year 47 weeks yang lalu)
80

ceritanya koq cuman segini??

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Kok pendek? (1 year 48 weeks yang lalu)
80

Hmmm cerita bagian yang D ini agak pendek.

Unsur serunya agak hilang, menjadi ada unsur haru (persepsi saya).

Ditunggu kelanjutannya setelah LABTEK meledak...!!!