Ada yang hendak menkritik atau memberi saran? Atau hanya sekedar berkomentar? Saya harap, ada yang bisa memberi masukan, untuk memperhalus adegan di sini, sehingga lebih menggugah dan menyentuh.Ngomong-ngomong, terima kasih untuk semua komentar yang telah masuk dari teman-teman K.com. Kritik dan sarannya meski terlalu pedas, tetap diperhatikan, kok, serta dipertimbangkan. Saya ucapkan terima kasih banyak!
Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.
Selanjutnya: Kisah Bagian 8: Ada Apa dengan Andiev? (A) dan (
– 22/23-03-2008
LEDAKAN
(D)
Segaris cahaya menyeruak membelah gelap. Semakin lama semakin lebar, dan proyeksi buram itu kini perlahan-lahan berubah jernih.
Bili dapat merasakan, tubuhnya terbaring di atas tempat yang lembut. Tubuhnya diselimuti sesuatu hingga terasa hangat. Dan di depan matanya, terpampang langit-langit yang bersih.
Sekelebat cahaya memuntir lehernya ke kanan. Matanya kini membentur sosok yang menghadap jendela. Sosok itu tak bergeming menyaksikan alur air yang mengalir di hadapannya, di balik kaca. Sesaat usai sekelebat cahaya tadi sirna, gemuruh halus terdengar. Sosok itu berputar dan sepertinya kaget mendapati Bili telah siuman.
“Digta...?” suara Bili terdengar parau. Gadis itu menunduk, berusaha menyembunyikan alur lain di wajahnya. Dan selipat tisu terangkat menyeka air matanya yang mengalir.
Setelah beberapa detik bersembunyi, wajah Digta kembali muncul. Kali ini, dihiasi segaris senyum.
“Apa kabar? Bagaimana keadaanmu?” Ia duduk di sebuah kursi. Basa-basinya itu malah dianggap Bili sebagai hal yang aneh. Digta yang ia kenal – setidaknya terakhir kali ia sadar – bukanlah gadis yang suka berbasa-basi. Ia juga selalu menjaga jarak. Namun sekarang, ia bisa menyaksikan wajah Digta kurang dari satu meter. Merah di matanya juga terlihat jelas.
“Apa aku bermimpi...?” Bili merasa, ia berkata cukup pelan. Namun Digta masih mampu menangkap suaranya.
“Mimpi...?”
“Kau... tiba-tiba....”
“Jangan salah tanggap. Aku berada di sini karena aku sudah berjanji pada Ayu. Ia memintaku untuk menggantikannya selama ia pergi.”
“Lalu, di mana Ayu...?”
Digta kembali tertunduk.
“Dia..., mungkin telah menukar nyawanya untuk hidupmu....”
“Agh? Apa... maksudmu?”
“Orang yang menemukanmu, dan menyelamatkanmu dari lift, adalah Ayu. Selama empat jam berturut-turut, ia menungguimu di sini, di rumah sakit ini. Tapi, tiba-tiba satu jam yang lalu, ia memintaku untuk menggantikannya. Ia akan pergi ke LABTEK. Dan..., tiga puluh menit kemudian....”
Terlihat jelas. Butir-butir bening seperti menetes dari wajah Digta. Ia menangis?
“Tiga puluh menit kemudian..., aku mendapat kabar bahwa LABTEK meledak. Seluruh gedung DINA hancur. Aku bisa menyaksikan kepulan asapnya dari sini, bahkan hingga hujan turun. Ayu masih belum kembali.... Ia masih di LABTEK....”
dikirim dirgita 26 minggu 2 hari yang laluTag:







