Café ini terlalu sepi. Hanya ada kau dan aku, serta beberapa pasangan yang menikmati malam. Kita duduk menyendiri di pojok ruangan. Segelas Ice chocolate almond kesukaanku dan double espresso milikmu masih belum tersentuh. Sebuah laptop mungil berwarna putih ada di hadapan kita. Kau duduk termangu sementara aku sibuk browsing. Hanya musik dari café yang mengalun lembut dan aroma kopi yang demikian kental temani kita.
“Sudah malam. Kapan kamu akan pulang?” tanyamu perlahan.
Karena cerpen ini dibikin untuk eksplorasi riset, jadi aku bahas soal settingnya aja ya, Fan.
Saat awal membacanya, aku langsung merasakan suasana kafe ini. so sweet and romantic sehingga asik untuk berduaan berbicara cinta. dalam hal ini kamu juga membagi-bagi informasi tentang kafe ini ke banyak sisipan adegan sehingga pembaca tetap merasakan suasana kafe ini tidak pada satu momentum saja.
tapi terus terang aku belum merasa menyatu dengan suasana kafe ini, Fan. gambaran yang kamu berikan terlalu umum yang hampir di setiap kafe ditemukan. hal ini membuat setting gamang dan tak menjejak di mana-mana. aku menginginkan lebih!
setiap kafe memiliki "auranya" masing-masing, bukan? Nah, aku belum merasakan aura itu, seperti misalnya kafe yang dibangun dengan nuansa retro pasti memajang ornamen, wallpaper, bahkan foto selebritis tertentu pada zamannya; kafe bergaya Y2K pasti memajang segala aksesoris berbau silver atau milenium, dst.
Trus masih ada bagian yang menjelaskan setting terlalu bergaya reportase juga, Fan, contohnya pada paragraf 4 yang berbunyi:
"Beruntunglah kafe ini, ...."
pola penceritaan kayak gitu, entahlah, bagiku, rasanya merusak gaya tutur romantis yang sudah dibangun sejak bagian awal -- dan mungkin alangkah baiknya diikutkan dan ditambahkan pada gaya tutur di paragraf 7 saat kamu menjelaskan soal si tokoh kamu akan memilih frozen capuccino kalau lagi riang.
Wuih penulisan dua karakter berbeda nih.. awalnya gw sempet bingung, nih sebenernya siapa sih yg ada di cerita lu.. tp akhirnya gw bisa ngikutin ceritanya.. Bagus ! oia sama tu ky gw, benci sepi dan sendiri.. jd inget deh.. hehehe
Kalau nggak ada tanda pemisah itu mungin agak bingung saya. Soalnya karakter sudut pandangnya terasa sama (menurutku lho). Mungkin kalau lebih dalam lagi identifikasi karakternya bisa lebih terasa paragraf itu sedang menjadi siapa.
Misal, perempuannya lebih dinamis dan tegas (jadi cara dia bercerita juga berkesan dinamis dan tegas dan keras kepala). Prianya berkarakter lebih misterius dan diam (gaya berbicara dan berceritanyapun lebih tenang dang misterius).
Mungkin lho.. aku sendiri belum tentu bisa nulis dengan sudut pandang berganti-ganti begini.
tetapi entah mengapa, bagi saya info detail kafe dan kopi tak mensupportya menjadi cerita yang utuh, seperti rasa espresso..hehe.atau saya yang tak menagkapnya..Kenapa sulit endingnya, mungkin cerpen begini tak perlu ending bombastis kali ya..ah tapi entahlah...
PR dari kelas prosa bertema riset dan cafe yang sangat terlambat. Eksperimen untuk membuat dua sudut pandang (susahnya membedakan karakter huhu). Masih stuck dengan endingnya (ada saran?). Well, ditunggu caci makinya ^^
Pantesan saya bingung, kok kayanya watak dan karakternya berubah ubah sih. Dua sudut pandang tooohh!
BGUSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS
na suka awalny..dbgn awal uda nggambarin suasana..tp sayang walo pake 2 sdt pandang tp tkesan sama..jd sdkt bingung ngbedain
walo na jg blum tentu bsa nulis dr 2 sdt pandang..
noir banget
Hmmmm cerpen ini menjawab ceritaku.
Mungkin, sepertinya begitu.
Emosinya dapet banget.
Aku suka ... sangat suka ^o^
mmmhh awalnya binun... tapi oke
Karena cerpen ini dibikin untuk eksplorasi riset, jadi aku bahas soal settingnya aja ya, Fan.
Saat awal membacanya, aku langsung merasakan suasana kafe ini. so sweet and romantic sehingga asik untuk berduaan berbicara cinta. dalam hal ini kamu juga membagi-bagi informasi tentang kafe ini ke banyak sisipan adegan sehingga pembaca tetap merasakan suasana kafe ini tidak pada satu momentum saja.
tapi terus terang aku belum merasa menyatu dengan suasana kafe ini, Fan. gambaran yang kamu berikan terlalu umum yang hampir di setiap kafe ditemukan. hal ini membuat setting gamang dan tak menjejak di mana-mana. aku menginginkan lebih!
setiap kafe memiliki "auranya" masing-masing, bukan? Nah, aku belum merasakan aura itu, seperti misalnya kafe yang dibangun dengan nuansa retro pasti memajang ornamen, wallpaper, bahkan foto selebritis tertentu pada zamannya; kafe bergaya Y2K pasti memajang segala aksesoris berbau silver atau milenium, dst.
Trus masih ada bagian yang menjelaskan setting terlalu bergaya reportase juga, Fan, contohnya pada paragraf 4 yang berbunyi:
"Beruntunglah kafe ini, ...."
pola penceritaan kayak gitu, entahlah, bagiku, rasanya merusak gaya tutur romantis yang sudah dibangun sejak bagian awal -- dan mungkin alangkah baiknya diikutkan dan ditambahkan pada gaya tutur di paragraf 7 saat kamu menjelaskan soal si tokoh kamu akan memilih frozen capuccino kalau lagi riang.
gitu aja kali ya, Fan? sori kalau kepanjangan ^_^
Wuih penulisan dua karakter berbeda nih.. awalnya gw sempet bingung, nih sebenernya siapa sih yg ada di cerita lu.. tp akhirnya gw bisa ngikutin ceritanya.. Bagus ! oia sama tu ky gw, benci sepi dan sendiri.. jd inget deh.. hehehe
mhhh bagus koq ..
x)
Kalau nggak ada tanda pemisah itu mungin agak bingung saya. Soalnya karakter sudut pandangnya terasa sama (menurutku lho). Mungkin kalau lebih dalam lagi identifikasi karakternya bisa lebih terasa paragraf itu sedang menjadi siapa.
Misal, perempuannya lebih dinamis dan tegas (jadi cara dia bercerita juga berkesan dinamis dan tegas dan keras kepala). Prianya berkarakter lebih misterius dan diam (gaya berbicara dan berceritanyapun lebih tenang dang misterius).
Mungkin lho.. aku sendiri belum tentu bisa nulis dengan sudut pandang berganti-ganti begini.
bagus ko, ceritanya cukup menarik
hmm, cerita yg menarik ^^
tapi bener kata Ary.. mesti hati2 bacanya biar tahu sudut pandangnya cewe or cowo nyah...
endingnya terkesan menggantung...
ceritanya terasa datar2 ajah.
but buat penceritaannya saya cukup suka koq...
*hihihi, saya juga gak bisa bikin cerita sebagus inih... masih belajar.
baca cerpen2 dan cerata(cerpenseratuskata) ku juga yah !
Pujianku untuk ceritamu, bagus.
Kalau umurmu masih kepala dua, ceritamu ini sangat cocok dengan karaktermu.
Untuk lebih menantang dalam pembuatan cerita, adalah penilaian pembaca.
Jangan lupa, baca juga cerita-ceritaku.
Wah, saya harus berhati2 bgt nich bacanya, takut salah tbak sdg jd si cewek ato cowoknya...
Tp menarik alur ceritanya =)
saya membAyangkan settingnya ada d cafe tempat saya krja =p hehe...
Ending?? Trasa kurang greget sich. Tp kalo saya yg bkin cerita ky gni, pasti bkn cm ending yg krg greget tp semuanya =p hihi...
Salam kenal ^_^
tetapi entah mengapa, bagi saya info detail kafe dan kopi tak mensupportya menjadi cerita yang utuh, seperti rasa espresso..hehe.atau saya yang tak menagkapnya..Kenapa sulit endingnya, mungkin cerpen begini tak perlu ending bombastis kali ya..ah tapi entahlah...