Tamu yang aku tunggu-tunggu itu akhirnya dating juga, teapat jam 10.15.02 siang hari, tentu saja aku senang bukan kepalang, karena penantian yang aku tunggu sekian lama dengan bebaring tanpa bergerak sedikitpun, bahkan untuk sekedar menggerakkan jari jemari.
Bertahun tahun aku terbaring dan dari detik ke detik aku menunggu kedatangan tamu terhormat yang akan segera mempertemukanku dengan pemegang segala kedaulatan, segala kekuasaan, dan pemegang segala-galanya. Bukankah akhir dari semua penderitaan ini adalah aku harus berpulang kembali ke asal. Ke Hadirat-Nya. Dan setelah aku berada di tempat tujuan itu aku harus menerima penderitaan atau menyandang anugerah kebahagiaan itu adalah urusan lain dan urusan berikutnya.
Tamu terhormat itu mendekatiku dan memulai dengan mengucap salam, dan aku menjawabnya. Dan entah dengan kasar atau halus entah dari bagian atas atau dari bagian bawahku tamu terhormat itu menggandengku hingga aku terlepas dari tubuhku. Tetapi yang aku tahu rasanya demikian sakitnya, seperti kata ustad yang pernah aku dengar, sakitnya seperti merasakan 1000 macam penyakit. Dan sekarang penantianku telah pupus, telah berakhir.
Aku tidak menangis meski aku merasa demikian sakitnya. Aku tidak berteriak karena aku sudah tidak mampu lagi. Aku hanya menyebut nama-Nya, karena seperti yang pernah aku dengar dan aku yakini kalau aku berpulang dengan menyebut namanya, maka pada akhirnya aku akan bertemu dengan-Nya dan aku akan diberikan tempat yang menyenangkan.
Sungguh aku baru bisa melihat sekarang tubuhku yang terbujur kaku, mataku tertutup rapat dan kedua tanganku bersedekap di dada. Aku tidak melihat apakah wajahku kelihatan lebih nggantheng, atau sebaliknya, apakah bibirku tersenyum atau sebaliknya, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Yang bisa aku saksikan dengan jelas adalah keluargaku, orang-orang terdekat, semuanya menangis, melihat itu aku ingin berpaling, aku tak kuasa melihat tangisan orang-orang yang kucintai itu. Bagaimana tidak, aku belum menyiapkan apapun untuk mereka, kecuali beban hidup dan penderitaan.
Tetapi apakah dayaku, apakah aku punya kekuatan untuk menghindar dari tangan yang lebih kuasa dari yang kuasa, kehendak dari raja segala raja, apakah aku punya daya untuk lari dari kenyataan ini ? ternyata TIDAK. Aku tidak punya kekuatan apapun, kecuali menyerahkan semuanya pada Tamu Terhormat itu.
Aku sekarang berada di langit, di awan di angkasa, aku beterbangan dihembuskan angin.
Dan sejurus kemudian aku hilang. Aku hilang terhembus angin, atau barangkali aku sekarang telah menjadi angin. Menjadi angin, menjadi ada yang tiada, menjadi tiada yang ada.
dikirim Oiem 7 minggu 2 hari yang laluTag:












Ide kamu unik bangt. Dari awal ce3rita bikin aku tertarik ^^.
(7 minggu 2 hari yang lalu)Tapi deskripsi tentang kematian itu, apa memang seperti itu kondisi ketika kematian datang? Bukan maksudku mencela karena aku sendiri cukup menikmati imajinasi kamu.
oya, pengetikannya lebih teliti lagi dong. Kata-kata yangs alah ketik sedikit mengganggu waktu bacanya. Salam kenal ^^