“ Aku dengar kamu sudah diangkat jadi Direktur, benar? “
Eliza diam saja.
“ Yah, wajar saja. Di sini juga posisimu ngga bakal terangkat setelah membuat ayam mati mendadak 3 kandang. “ Rico membuka-buka halaman laporan tahunan. padahal tidak ada yang menarik di sana. Tapi dia tetap membuka lembaran yang sama.
Eliza meletakkan barang terakhirnya dalam kardus.
“ Jadi keputusanmu ngga berubah untuk tetap pergi dari sini? “
Eliza menatap pria di seberang mejanya. Rico mengambil boneka beruang dari kardusnya. Hadiah pemberian Rico untuknya di hari ulang tahunnya yang ke-24 kemarin. Eliza sudah terlalu dewasa untuk menimang Teddy Bear, tapi Rico masih tetap memberikannya. Katanya “ Hadiah spesial untuk mantan istri “. Orang ini bukan hanya aneh, tapi juga tidak bisa dimengerti.
Eliza merebut bonekanya kembali. Sekalipun ini dari pria itu tapi sudah menjadi hak milik Eliza.
Rico mengangkat tangannya, menyerah.
“ Sesudah ini jangan temui Anna lagi. Umurnya sudah 2 tahun. Ingatannya sudah mulai terbentuk dan aku ngga ingin dia tau kalau kamu ayahnya. “
Rico tersedak, heran dengan keputusan itu “ Kenapa? Takut anakku lebih mencintaiku daripada kamu? “
Eliza berbalik, tangannya memegang sebuah kotak berisi mobil-mobilan beremote-control “ Bukan! Karena aku ngga mau dia tahu kalau ayahnya seorang playboy. “ Eliza mengembalikan benda itu pada Rico, hadiah yang ditujukan pada putrinya, putri mereka. “ Kamu bahkan bisa menghancurkan pandangannya pada setiap laki-laki di dunia ini. “
“ Bahwa mereka semua sama buruknya denganku? “ Tandas Rico memaksakan tertawa, lantas menimang-nimang kotak itu sebelum memngembalikannya pada Eliza “ Kenapa masih belum diberikan padanya? Ini kuberikan khusus untuk ultahnya yang ke-2. “
“ Kamu bahkan juga ngga bisa mengajarkan bagaimana caranya bersikap. “ Eliza mengembalikan lagi sebuah kotak kecil berisi cincin pernikahan mereka. Barang itu masih tersimpan olehnya meskipun mereka sudah bercerai sebulan lalu. “ Dia itu perempuan Ric, kenapa malah diberi mobil-mobilan? Seharusnya kamu membelikannya boneka atau barang yang lebih bermanfaat seperti stelan pakaian lengkap. “
Rico tertawa getir “ Buat apa? Toh ibunya bisa memberikan sesuatu yang lebih dari ayahnya. Itu sebabnya hak asuh Anna jatuh ke tanganmu kan? “ Rico menatap ke dalam mata Eliza, meminta wanita itu berhenti melakukan semua ini. Mengembalikan hadiah yang dia belikan untuk putrinya saja sudah cukup membuatnya terluka, ditambah lagi wanita itu juga mengembalikan cincin berlian yang diberikannya sebagai hadiah perkawinan.
Eliza menuding dada Rico “ Aku menang karena aku ibunya. “ Tukasnya kejam. lantas berbalik lagi memeriksa apa yang tertinggal dalam bufetnya. Tidak melihat kalau Rico ingin sekali mengatakan sesuatu padanya.
“ Jadi kapan kamu mulai bekerja? “ Tanya Rico memaksa tersenyum meskipun Eliza tidak menghadap ke arahnya.
“ Minggu depan. “ Sahut Eliza mengunci bufetnya sebelum mengangkat kotak di atas mejanya. Rico masih duduk di sana. “ Pintunya mau kukunci atau kamu mau membantuku menyerahkannya ke Rini? “ Tanya Eliza.
Rico bangkit “ Kunci saja. Aku juga mau keluar! “ Katanya tanpa menoleh. Barang-barang di tangannya dimasukkannya kembali ke kardus Eliza “ Ini hadiah untuk kalian. “ Katanya.
Eliza tidak bisa menolak karena Rico sudah pergi meninggalkannya.
“ Jangan temui Anna lagi. “ Eliza mengingatkan sebelum Rico keluar.
Rico cuma mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh yang berarti dia akan menuruti perkataan Eliza.
Eliza menghela nafas lega.
________________________________________
Eliza sebenarnya lebih suka kalau Rico tidak ke ruangannya. Kehadiran pria itu cukup membuatnya emosi, bukan cuma sesaat. Setelah menemukannya berciuman dengan salah satu karyawati baru di ruang rapat, Eliza langsung memutuskan pisah ranjang dengannya, sebulan kemudian baru dia mengajukan keputusan cerai. Sebulan sesudahnya Eliza langsung memutuskan pindah ke tempat kerja yang lain. Bukan karena dia membuat ayam mati mendadak sebanyak 3 kandang, namun karena dia sudah tidak sanggup lagi bekerja sekantor dengan orang yang pernah mengkhianatinya.
Eliza mengemudikan mobilnya. Dia harus menjemput putrinya di rumah ibunya. Sudah dua bulan ini dia selalu menitipkannya di sana sejak hidup berpisah dengan Rico. Di rumahnya tidak menyediakan pembantu dan seorang babysiter yang bisa mengurus rumah dan mengasuh anaknya. Jadi untuk sementara ini Eliza sendiri yang harus turun tangan, menjelang dia masuk ke tempat kerja yang baru. Saat ini kondisi keuangannya memprihatinkan karena habis untuk mengurus perceraiannya dan mengganti kerugian perusahaan akibat keteledorannya. Eliza tidak mau menerima bantuan orang tuanya meskipun mereka terkenal sangat kaya di kota tempat tinggalnya. Baginya, sudah bukan kewajiban orang tuanya lagi membiayai keperluan anak yang sudah memutuskan untuk keluar dari rumah mengikuti suaminya. Sayangnya suami yang diikutinya adalah seorang lelaki brengsek. Namun Eliza merasa beruntung karena dia menemukan perselingkuhan itu lebih awal, lukanya tidak akan lebih dalam daripada jika mengetahui bahwa wanita yang menjadi selingkuhan Rico sudah dalam keadaan hamil.
Mobilnya berbelok pada sebuah rumah besar berpagar besi. Seorang satpam mengangkat topi untuknya. Eliza balas dengan mengklakson sekali dan senyum singkat.
Seorang pembantu berseragam putih hijau membukakan pintu untuknya. Eliza tersenyum melihat penampilan gadis berumur belasan tahun itu. Ibu masih saja suka melakukan sesuatu yang aneh-aneh pada semua pembantu yang bekerja di rumahnya. Seperti membuat seragam khusus dengan bandana berbahan sama di kepala mereka. Eliza pikir ini terlalu berlebihan untuk mendandani pembantu seperti barbie. Ibunya terinspirasi dari telenovela yang biasa di tontonnya di televisi, bahkan mereka diajarkan bagaimana caranya bertata krama. Sampai saat ini pun ibu masih saja suka menerapkan kebiasaan di luar negeri itu di rumahnya.
“ Ibu mana? “ Eliza bertanya pada salah satu dari tiga pembantu yang menyambutnya di muka rumah.
Padahal Eliza sudah bilang 'tidak usah', waktu salah satunya menuntun Eliza ke Gazebo di belakang rumahnya, tapi gadis bernama Ima itu takut dimarahi nyonya makanya dia tetap ngotot mengantarkannya meskipun Eliza sempat berdebat kecil dengannya.
“ Hai nak! “ Begitu sapa ibunya waktu Eliza menggendong putrinya yang berlari kecil ke arahnya.
“ Hai bu! “ Eliza mencium pipi ibunya sebelum mengambil tempat duduk di seberangnya. Eliza menikmati detik-detik dimana Annastasia mencium kedua pipinya. “ Pinter! “ Puji Eliza balas menciumnya.
Ibu sedang menyulam sebuah sapu tangan sewaktu bertanya “ Bagaimana? apa kamu sudah benar-benar keluar dari perusahaan itu? “
Eliza mengangguk sambil terus bermain-main dengan putrinya. Semakin hari Annastasia semakin lucu. “ Iya bu. Hari ini semua ruangannya sudah benar-benar kukosongkan. Uang pesangon juga sudah diterima di muka. “
Ibu tersenyum “ Kamu ini… masih saja. “ kemudian beliau menggeleng.
Eliza tau yang dimaksud ibu pasti soal prinsip hidupnya yang menghitung segalanya dengan uang. Orang tidak akan ada yang percaya kalau ‘Eliza putri pemilik sebagian pom bensin dan agen kendaraan motor-mobil terbesar di kota ini’ adalah seorang wanita mata duitan. “ Yah, namanya saja hidup bu, segala sesuatu harus penuh perhitungan. “ Eliza melepaskan Anna untuk bermain dengan seorang babysiter. “ Kalau ngga, nanti miskin terus. “
“ Kalau memang uang belanjamu kurang kan bisa minta dengan ayahmu atau ibu. “
Ucapan ini sudah sering ditujukan padanya, tapi Eliza bukan gadis cengeng yang merengek karena tidak punya uang. “
Makasih bu, Eliza punya uang kok. “
Ibu meletakkan sulamannya setelah menyelesaikan jahitan terakhirnya. “ Bagus ngga? “
Itu bukan hanya bagus, tapi sempurna. Ibunya sangat ahli dalam hal ini sejak muda dulu. “ Bagus! “ Eliza mengangguk “ Buat siapa bu? “
Ibu langsung menyerahkan padanya.
Eliza menunjuk pada batang hidungnya sendiri, masih kurang percaya.
Ibu mengangguk sambil tersenyum diiringi terima kasih darinya.
________________________________________
Andico mengunjunginya, sepupunya itu membawa kekasihnya untuk diperkenalkan. Dia ingin Eliza yang mengenal Katherine lebih dulu dibandingkan yang lain. Eliza merasa terhormat untuk itu. Hanya saja, Andico terlalu terburu-buru mengambil keputusan untuk mengklaim Katherine sebagai miliknya karena yang Eliza dengar, pria itu bilang mereka akan menikah 6 bulan lagi.
Eliza menarik tangan Andico ke dapurnya sambil tersenyum pada Katherine untuk meminjam kekasihnya sebentar.
“ Ada apa? “ Tanya Andico takut. Tidak biasanya dia diseret-seret oleh gadis yang pernah satu SMU dengannya ini.
“ Kamu ngga salah? Dia itu kan anaknya pejabat. Mau apa kamu main-main dengan putri pembesar. “
“ Main-main? “ Andico kurang menyukai pilihan katanya. “ Aku ngga main-main. Aku memang mau menikah dengannya.
Memangnya tampangku ngga menunjukkan ketulusan. “ Andico mencoba berkaca dan Eliza mendumal pelan melihat kekonyolan sepupunya. “ Apanya yang salah? “ Andico bertanya menghadap Eliza.
“ Kamu! “ Tuding Eliza cepat. “ Kamulah yang salah. Hanna bisa membunuhmu kalau tahu soal ini. “
Alis Andico mengkerut, tidak menemukan apa hubungannya dengan Hanna.
Eliza memukul lengan pria yang pernah menjadi sahabatnya ini. “ Kamu ini masih saja belum berubah. Aku bisa mengerti kalau dia pacarmu. Tapi kalau sudah calon istri, bukannya itu sudah keterlaluan. “
“ Aku ngga melihat itu sebagai sesuatu yang keterlaluan. “ Andico angkat bahu.
Masih tetap cuek seperti dulu. Pikir Eliza geram. Dia bukannya tidak ingat berapa kali Andico dicari para orang tua dari gadis yang dipacarinya. Pria ini cukup beruntung karena ayahnya kepala polisi yang sangat dihormati, jadi banyak yang segan jika ada yang menuntutnya dengan tuduhan ‘mempermainkan anak gadis orang’. Tapi ini pejabat. Dia bisa KO hanya dengan satu kalimat “ Penjarakan dia! “ jika saja ayah Katherine tahu anaknya sedang dipermainkan. “ Heh! Kamu putuskan dia sebelum terlambat. “ Perintah Eliza. Andico tidak akan menolak jika tahu kalau Eliza serius dengan ucapannya. Sayangnya Katherine langsung muncul dan bertanya “ Di mana kamar mandinya? “
Andico dan Eliza menunjukkan sebuah ruangan di ujung tanpa menoleh.
Katherine sendiri tidak bertanya apa-apa lagi karena orang yang menjadi lawan bicaranya terlihat sedang adu otot.
“ Aku ngga mau. “ Andico menatap lekat mata Eliza.
“ Putusin! “ Eliza ngotot. Kali ini dia sampai harus melipat kedua tangannya. Dia tidak takut menantang sepupunya berkelahi jika ini bisa menjamin keselamatannya.
“ Kamu cemburu? “ Tanya Andico akhirnya
“ Jangan ngawur. Ini ngga ada hubungannya denganku. “
“ Ya pasti adalah. Kamu kan pacarku sebelum menikah dengan Rico. Kenapa? Mau balik lagi sama aku? “
Eliza menyerah, dia tidak mau bicara lagi. “ Terserah! Lakukan saja sepuasmu. Kalau kena masalah lagi, jangan datang ke rumahku lagi karena aku ngga mau lagi menolongmu dengan mengaku-ngaku sebagai calon istrimu. Ok? “ Eliza sengaja menepuk-nepuk pipi Andico sebagai tanda peringatan ini berlaku untuk selamanya.
Andico mengikuti di belakang Eliza ke ruang tamu. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Katherine keburu muncul dari arah kamar mandi “ Gimana? Sudah selesai?” Tanya gadis itu tersenyum lugu.
Eliza kasihan melihatnya. Dua kali Eliza berhubungan dengan pria dan dua kali itu juga dia mendapatkan pria yang jauh daripada sifat ‘setia’. Sebenarnya Eliza tidak ingin Katherine jadi korban, tapi gadis itu tidak akan bisa lepas dari rayuan Andico sampai seseorang yang mempunyai ilmu ‘rayuan’ yang lebih hebat muncul dan menyelamatkan Katherine dari ancaman ‘dipermainkan’. Namun menanti kemunculan pria seperti Rico bukan hal yang gampang karena hanya ada satu dalam seribu. Meskipun pada kenyataannya Andico lebih baik dari Rico dalam hal memilih tempat menyeleweng. Pria ini melakukan penyelewengannya jauh dari mata kekasihnya yang lain. Tidak seperti Rico yang melakukannya di kantor dan di depan matanya.
Eliza tertawa getir. Katherine masih menanti jawabannya karena Andico tidak berniat mengatakan apapun. Jadi Eliza bilang saja “ Sudah! Dan kelihatannya Andico sudah mau pulang karena dia ditelepon orang tuanya. Katanya ada keperluan mendadak.“
Andico tidak akan mendapatkan jawaban apapun meskipun dia menatap Eliza dengan raut wajah tidak percaya. Eliza berdusta hanya untuk mengusirnya. Dan Katherine langsung mempercayai ucapannya karena dia langsung menggandeng tangan Andico mengajaknya keluar. Gadis itu masih sempat melambai pada Eliza dengan senyum masih terpampang di wajahnya. Beberapa bulan lagi, Eliza bisa menjamin kebahagiaannya akan berubah jadi kesedihan mendalam karena Andico akan mencampakkannya. Eliza berani bertaruh untuk itu karena dia sudah mengenal pria itu lebih dari 20 tahun.
________________________________________
Eliza ditelepon oleh pemilik peternakan tempatnya bekerja, mengabarkan kalau Eliza harus datang ke kantornya karena mereka akan menandatangani sebuah surat perjanjian.
Ikatan kerja selama 3 tahun? Eliza membaca sebaris kalimat dalam kertas di tangannya. Dia tidak pernah mendengar ini sebelumnya. Ada orang yang mengangkatnya jadi direktur saja sudah membuatnya terkejut apalagi sampai harus dikontrak selama 3 tahun. Padahal jabatan sebelumnya hanya manajer bagian produksi. Bagaimana mungkin ada orang yang menaruh kepercayaan begitu besar pada orang yang tidak dikenalnya dengan baik.
“ Saya rasa ini ngga perlu pak! “ Eliza menyodorkan lembaran kertas itu di hadapan pria yang umurnya kira-kira berkepala 4.
Pak Hendrawan bertanya “ Kenapa? “
Ya tentu saja karena dia belum menunjukkan prestasi apa-apa. Namun Eliza jawab saja kalau dia takut diserahi perusahaan coturnix-coturnix Japonica terbesar yang pernah ada di kota ini.
“ Saya percaya pada kemampuan anda.
Tidak ada pemimpin yang lebih saya percayai daripada manager di perusahaan peternakan ayam besar milik Suzana. “
“ Tapi saya keluar dari perusahaan itu sesudah membawa kerugian yang cukup besar. “
Pak Hendrawan tersenyum “ Kemarau setahun ngga akan bisa terhapus dengan hujan sehari Liz, “
Eliza tersedak mendengar panggilan baru untuknya. Tehnya hampir saja menumpahi stelan jasnya. “ Ngga apa-apa! “ Tolak Eliza halus meletakkan kembali cangkirnya sambil menggeleng beberapa kali waktu pak Hendrawan mengulurkan sapu tangan untuknya.
“ Jadi gimana? Apa kamu mau menandatanganinya? “
The-end
dikirim Orin_Torayuki.com 1 year 32 minggu yang laluTag:









