“Merdeka..Merdeka..” Teriak prajurit-prajurit bersenjata tersebut.
Baru kali ini Murti mempunyai kesempatan untuk dapat melihat kembali kekasihnya yang sudah lama bertempur ke medan perang, dia sangat merindukan kekasihnya tersebut dan tidak ada lagi hal yang akan merintangi mereka untuk menikah.
Nama kekasihnya itu adalah Suparman, bergabung dalam kelompok tentara yang melakukan gerilya yang dilakukan oleh Jenderal Sudirman, setelah kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Read more (1579 words)
Murti melihat-lihat ke sekeliling, dari sekelompok tentara yang berpakaian lusuh tersebut, tidak ia lihat lagi kekasihnya, mungkinkah dia sudah wafat, ataukah dia sudah tidak ingin mengenal lagi dengan dirinya sehingga dia tidak diindahkannya lagi.
“Murti?” tiba-tiba ada seorang lelaki yang menyapa dia.
“Mas Suparman?” Tanya Murti dalam hati, lalu mengarahkan kepalanya ke arah suara tersebut datang.
“Bukan, aku adalah Parno, teman Suparman. Maafkan aku jika aku ingin memberitahukan bahwa Suparman tidak dapat kembali lagi kesini, dia waktu itu ikut dalam kelompok yang akan mengalihkan perhatian pesawat-pesawat Belanda yang mengejar Jenderal Sudirman, tetapi tidak dapat kembali lagi kedalam pasukan sebab salah satu dari kapal tersebut berhasil menembakan bom ke desa yang dia masih tertinggal disitu.”
“Apa, aku tidak percaya ini!” kata Murti sembari menitikan air mata, kekasih yang ia tunggu-tunggu kedatangannya sudah tidak dapat dia temui lagi karena terkena bom dari kapal Belanda.
“Maafkan saya, Mur. Saya sungguh bersedih memberitahukan kabar ini padamu”
“Dia selalu bercerita tentang kamu padaku, katanya nanti suatu saat ketika Yogyakarta sudah di rebut, dia akan berniat mengawinimu, tapi dia tidak bisa melihat kamu lagi disini. Saya hanya berhasil mengambil topi ini dari jasad dia”. Parno lalu mengeluarkan sebuah topi yang sudah lusuh dan banyak terdapat bercak darah.
“Tapi, dia sudah berjanji akan datang lagi kesini” isak Murti sembari menutupi mukanya yang telah banyak mengeluarkan air mata.
“Ya Mur, aku tahu itu.” Parno juga ikut menundukan kepalanya.
“Ayo Mur, aku antarkan kau pulang ke rumah, mungkin kau ingin berdiam diri dulu di rumah” ajak Parno.
“Baik mas, rumahku diarah sana” Murti menunjuk ke arah gang sempit yang mengarah ke jalan rumahnya.
Sesampainya di rumah, Murti mengadu pada ibunya yang sedang berada disana, dan mereka bersama menangis keras-keras lalu saling menyekakan air mata.
“Bu, kekasihku tidak datang lagi kesini, dia sudah wafat disana”, adu Murti kepada ibunya.
“Murti, sudahlah. Ini mungkin memang sudah takdir Yang Maha Kuasa, kita tidak bisa melawannya”, ibunya Murti menasehati anaknya yang sedang berkabung.
“Murti, Parman meninggal sebagai pahlawan, dia orang yang berani dan tidak takut kepada tentara Belanda, dia setia menjaga Jenderal Sudirman”, Parno menambahkan.
“Iya mas, aku mengerti. Bu, aku sedih sekali”. Pelas Murti.
“Sudahlah, nduk. Lebih baik kamu istirahat saja dulu”
Lama berselang, akhirnya, Parno merajut cinta dengan Murti, dan mereka berencana untuk membangun sebuah rumah tangga.
“Murti sayang, maukah kamu menikahi ku?” Pinta Parno suatu saat.
“Mas, aku..aku tidak tahu.. Aku sayang sama mas Parno, tetapi hati dan pikiranku masih tertinggal di mas Suparman”, kebingungan Murti masih terlihat jelas di wajahnya.
“Murti, Parman adalah temanku, kami selalu saling menjaga. Dan aku tahu mungkin di alam baka sana, dia ingin sekali kamu baik-baik saja, aku pun juga begitu, dan selama ini aku menumbuhkan rasa cintaku padamu. Aku ingin kamu mengerti bahwa Parman sudah tidak ada lagi, dan aku mencintaimu”, Parno menjelaskan kepada Murti yang masih bersedih atas kematian kekasihnya, dan menjelaskan bahwa cintanya sungguh-sungguh kepada Murti.
“Baiklah mas, aku terima pernikahanmu, aku juga menyayangimu”. Akhirnya Murti bisa menerima keadaan itu, dan menerima cinta Parno dalam hidupnya.
Bertahun-tahun mereka hidup bahagia dan mempunyai anak, sehingga Parno ingin sekali mengenang masa-masa dia dulu masih bertempur melawan Belanda. Dan dia ingin sekali mengenang temannya Suparman yang wafat di sebuah kota di pinggiran Yogyakarta tersebut.
“Murtiku sayang, aku merasakan bahagia dalam hidupku, aku mempunyai istri yang cantik dan baik, serta mempunyai keluarga bersamamu. Anak-anak kita juga sehat-sehat. Bejo anak pertama kita, sudah berumur 5 tahun, dan Yanti sudah berumur 3 tahun, dan mereka sehat-sehat.” Cerita Parno.
“Ya mas, aku juga merasa bahagia bersama mas Parno”. Timbal murti yang ketika itu sedang menidurkan anaknya, Yanti, di tempat tidurnya.
“Murti, aku ingin sekali melawat ke kota dimana Suparman meninggal, aku ingin mengenang masa-masa kita bertempur dulu, ketika kita dalam masa kesusahan, dan ketika waktu-waktu terakhir dia di dekapanku, kaki dan tangannya putus terkena bom, dan aku tidak sanggup lagi melihat dia”, pinta Parno kepada Murti.
“Jadi kita mau kemana, mas?” Murti kebingungan dengan permintaan suaminya itu.
“Aku ingin ketempat dimana Belanda membom kami dahulu, ketika kami ingin berangkat bergerilya, kotanya ada di Bantul”.
“Baik mas, jika itu maumu. Kita akan kesana segera bersama keluarga kita”. Murti setuju dengan permintaan suaminya.
Keesokan harinya, mereka membawa keluarga mereka pergi ke kota Bantul, menumpang bus yang pergi kesana.
Sesampainya disana, Parno menangis bersedih tatkala dia mengenang lagi Suparman. Rumahnya yang telah di bom tersebut telah berganti rumah baru dan sekarang sudah ada yang menempati.
Parno akhirnya menumpang di sebuah rumah milik penduduk dan keluarganya juga menginap disana. Pemilik rumah, pak Tugiman memanggil Kepala Desa ketika tahu bahwa Parno adalah anggota tantara yang dulu bergerilya melewati kampungnya ini.
Pak Kepala Desa menjelaskan bahwa semenjak kejadian pemboman oleh Belanda tersebut, banyak penduduk yang meninggal, dan hanya sedikit yang tersisa. Mereka kebanyakan mengungsi ke desa tetangga dan kembali lagi ketika Pesawat Belanda dirasa tidak akan membom lagi. Diantara masyarakat yang kembali lagi kesini, ada yang merupakan korban dari pemboman tersebut dan bersikeras untuk tidak kembali ke Yogyakarta karena badannya sudah lumpuh semua, hanya tersisa sebidang dada dan tubuh dari pinggang ke atas, tangan dan kakinya terkena bom dari Belanda.
Mendengar itu, Parno kaget sekali, dia mengetahui bahwa yang dimaksud oleh Pak Kepala Desa tersebut bisa jadi adalah temannya Suparman.
Parno lalu meminta Pak RT untuk memberitahu keadaan orang tersebut dan menunjukan tempat tinggalnya sekarang.
Murti seperti tersengat geledek ketika Parno memberitahunya bahwa kemungkinan besar Suparman masih hidup dan ada di desa ini.
“Apa, mas No? Mas Parman masih hidup?”dia bingung seraya menangis tidak menentu apa yang dia rasa.
“Mungkin saja, tapi pak kepala desa mengatakan bahwa namanya adalah Sugiman dan besok dia akan membawa kita ke rumah orang tersebut, tapi bisa saja tidak karena memang banyak korban yang berjatuhan yang bisa saja masih hidup tetapi lumpuh dahulu kala”. Parno tidak kalah bingungnya. Lalu mereka sepakat untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga mereka untuk menemui orang yang mereka sangka Suparman tersebut.
Keesokan paginya, Parman yang tatkala itu tinggal bersama sebuah keluarga baru bangun dari tidurnya. Sudah lima tahun ini dia banyak berdiam diri, tapi keluarga ini sungguh baik, mereka mau membantu Suparman, merawat dirinya dan memberikan kasih sayang kepadanya. Suparman tidak tega untuk tidak mendengarkan ajakan mereka untuk mengobrol. Sang kepala keluarga yang berprofesikan petani menemukan dia di tanah ketika dia berteriak minta tolong dan membawa dia ke desa tetangga untuk mengungsi bersama keluarganya, ketika perang sudah usai, Kepala Desa memerintahkan kepala keluarga itu untuk merawat Parman.
“Man, sugiman, itu ada pak kepala desa datang, katanya ingin bertemu kamu” kata ibu keluarga tersebut. Ibunya itu sudah dianggap Ibu kandung bagi dia, semenjak dia tidak mau pergi ke Yogyakarta karena tidak mau menghadapi muka ibunya yang kasihan jika melihat dia.
“Parman???” Parno sudah melihat dia dari depan pintu ketika ingin masuk.
“Parman, apakah itu kamu??” Parno memeluk Suparman dengan erat sembari menangis sejadi-jadinya.
Suparman kaget sekali, tetapi mukanya menjadi berubah marah ketika melihat Parno.
“Kenapa kau meninggalkan aku? Pergi kau !!”, teriak Parman.
“Parman, maafkan aku, aku tidak tega melihat kau begini, aku.. aku sangat takut untuk menghadapi kenyataan bahwa kau terkena bom dan kau berteriak-teriak meminta tolong.
Aku tidak tega melihat kau dengan kondisi seperti itu, dan ketika kau menitipkan topimu padaku, kau meminta aku untuk mengakhiri penderitaanmu, aku tidak bisa.”
“Kenapa hanya dengan menarik pelatuk saja kau tidak bisa, dan membiarkan aku tinggal di neraka selama akhir hidupku ini?”
“Aku tidak bisa, Parman!”, teriak Parno.
Ketika melihat Murti sudah berdiri depannya dengan kedua anaknya Bejo dan Yanti, menangislah Parman, dan kemudian Murti berlari keluar seperti tidak ingin menerima kenyataan itu.
Suparman memerintahkan Parno keluar beserta keluarganya, dan dia mengurung diri dia seharian di kamarnya.
“Mas Parman, Mas Parman..”, suara Murti memanggil dari sebelah luar pintu kamar Parman. “Ini Murti, aku ingin bertemu denganmu”.
“Murti?” tanya Parman.
“Iya mas, ini Murti.”
“Masuklah” Pinta Suparman dengan nada lirih.
“Mas Parman, aku mencintaimu, aku menunggumu sewaktu perang berakhir itu, kau tidak ada”. Kata Murti.
“Ya Murti, aku juga mencintaimu, tetapi engkau.. apakah itu anak-anakmu?”tanya Suparman.
“Maafkan aku mas, Mas Parno dan aku mengira kau sudah tiada”. Murti memelas meminta maaf.
“Ya Murti, aku sudah lama menerima diriku seperti ini, dan aku juga sebenarnya sudah mengira akan seperti ini, engkau bersama Parno”
“Tidak mas, aku ingin bersama mas Parman saja, kemaren aku sudah beritahukan mas Parno bahwa aku masih mencintaimu, dan aku ingin berpisah dengannya”
“Tidak Murti, kau sudah mempunyai keluarga, anak-anakmu membutuhkan kasih sayangmu, kau harus bersama dengan mereka”
“Mas, aku hanya ingin bersama denganmu”, Murti memeluk Suparman dengan keras sekali.
“Tidak Murti, tidak bisa. Kau harus bersama dengan mereka. Mereka adalah keluargamu sekarang. Aku akan disini terus selama sisa hidupku.” Parman menutup matanya menolak pandangan Murti.
Tidak lama kemudian Parno datang, dia mendengar keseluruhan pembicaraan dari luar kamar Suparman.
“Parman, maafkan aku” Lirih Parno.
“Ya Parno, sekarang pergilah kalian berdua, bimbinglah dan besarkan anak kalian dengan kasih sayang, aku akan tetap tinggal disini”. Perintah Suparman.
“Baik, temanku Parman. Aku akan sangat merindukanmu”
“Sudahlah, kunjungi saja aku jika engkau mau suatu saat”, Suparman berkata dengan pasrah.
Akhirnya Parno, Murti dan anak-anaknya pulang dan pamit kembali dengan Suparman. Kepala desa juga memberikan bekal untuk di perjalanan kepada keluarga itu.
Suparman sekarang hidup berbahagia dan menikah bersama seorang gadis yang dia suka, dan gadis itu setia merawatnya sampai akhir masa tuanya.
Dan Parno beserta keluarganya menjalin lagi hubungan yang harmonis dan mereka sering menjenguk Suparman untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Mereka juga hidup berbahagia sampai tua umurnya. Dan mereka selalu saling menjaga dan menghormati Suparman.
Saya sependapat dg mas bamby.
Bhs rayuan parno ky pacaranya org modrn ya?
terima kasih, aku akan terus belajar merangkai kalimatnya
Aku suka temanya..
Hanya saja menurutku, saat Parno memberitakan kabar duka kepada Murti pada bagian awal cerita terkesan kurang pas. Entah mengapa ketika terbaca kesannya menjadi terlalu fiksi, padahal menurutku kalimat itu termasuk unsur terpenting dalam cerita ini.
Jadi ingat film Pearl Harbour. Eh, yang nulis ngefans sama jenderal Soedirman ya? Salam kenal ^^
Cerita dengan latar belakang perang kemerdekaan ini cukup menarik. Hanya ada sedikit masalah teknis, yaitu pemisahan antara sub cerita masa perang dan setelah Parno dan Murti menikah dan memiliki anak.
Agar kisah tersebut terbagi mungkin bisa dipakai tanda bintang tiga (***)
Cerita ini mengingatkan aku kepada Novel RIPTA karya Anita Kastubi, sebuah novel perjuangan dan pengkhinatan.
Overall bagus lho ceritamu.