Pagi baru dimulai. Hari masih gelap dan butir-butir embun kembali membahasi bumi di pagi ini. Sekuntum bunga mawar sudah siap menghadapi hari. Mawar itu tersenyum dan memekarkan setiap kelopak merahnya dan bersiap menikmati hangat matahari, yang rupanya masih enggan menunjukkan sinarnya.
Read more (2264 words)
Mawar itu terus menunggu, menunggu dan menunggu sampai akhirnya kegelapan hilang dari langit dan kemudian gerombolan awan putih pun menyingkir dan mempersilahkan matahari untuk bersinar terang memberikan cahayanya bagi seluruh makhluk hidup yang kembali hidup pagi itu. Tapi belum sempat mawar itu menikmati matahari yang baru bersinar, sebuah tangan kasar memetik mawar itu.
“Hari ini, pokoknya hari ini! Hari ini gua bakal nyatain semuanya! Dengan mawar ini, gua bakal nyatain semua perasaan cinta gua sama dia! Dengarlah langit dan Bumi! Dengan mawar ini, gua bakal buktikan kesucian cinta gua padanya!” teriak Boim sambil mengangkat mawar yang baru dia petik, satu lagi makhluk Tuhan yang tak berdosa menjadi korban atas nama cinta.
“Boim! Kamu apain mawar punya, Mamah?! Jadi kamu yang suka metikin itu bunga mawar Mamah ya?! Bunga itu mahal tahu waktu Mamah belinya!” teriak Ibu Boim murka melihat anaknya memetik bunga mawar yang setiap pagi dan sore dia rawat melebihi anaknya sendiri. Boim langsung menyembunyikan mawar itu di balik tubuhnya.
“Ah, enggak kok, Mah!! Kok nuduh gitu sih ke Boim?! Lagian apa untungnya Boim ngambil bunga kayak gitu? Ya udah deh, Boim berangkat dulu, Mah! Assalamualaikum!” Boim berteriak pamitan menuju motornya sambil memasukan bunga mawar itu baik-baik ke dalam tasnya kemudian dengan hati yang terasa ringan langsung menuju sekolahnya.
***
Waktu berjalan pelan hari itu bagi Boim. Setiap detik terasa lama dia rasakan. Jam dinding terasa bergerak sangat lambat. Guru yang berdiri penuh semangat di depan kelas seperti sedang berbicara dalam adegan slow motion. Setiap suara yang dia dengar terasa bagai alunan lagu ‘Nina Bobo’ yang membuat dia terhanyut untuk tidur. Ingin rasanya hari ini dia membakar sekolahnya agar semua murid bisa pulang lebih cepat hari ini.
Saat pulang nanti rencananya akan dia ungkapan semua rasa bahagia, kekagumannya, gelisahnya, dan semua isi hatinya sampai tumpah ruah kepada tambatan hatinya, Andia, teman satu kelasnya, dan persis saat ini Menunggu saat pulang terasa bagai perjalanan tanpa ujung.
Boim adalah preman sekolah, calon DO di universitas, dan pesakitan di usia tua. Sedangkan Andia adalah anak gadis idaman setiap mertua dan setiap laki-laki yang hidup di muka bumi ini. Cantik, baik, ramah dan memiliki senyuman termanis di dunia bagi Boim.
Wajah Andia yang tersenyum selalu terbingkai dalam hati Boim sejak dia pertama kali melihat Andia. Boim sudah lupa kapan Andia pernah tersenyum padanya, tapi yang pasti hati Boim luluh sejak dia pertama kali melihat senyum Andia.
Jika sedang merasa bosan, Boim pasti langsung mencuri pandang ke arah Andia dan pop! Dunia terasa baru baginya. Ibaratnya, Tuhan mengambil mouse-nya kemudian mengarahkan kursornya ke alam semesta kemudian klik kanan dan memilih kata refresh.
Sebenarnya Boim merasa tidak percaya akan perasaannya. Boim tidak pernah merasa sangat jatuh cinta sedalam ini kepada wanita manapun selain kepada Dian Sastro, yang tentunya tak akan pernah bisa dia jadikan pacar. Tapi semakin dia menolak rasa itu, semakin dia merasa menderita sendiri. Semakin dia tidak ingin melihat Andia, dia merasa semakin kehilangan alam semestanya. Dunia terasa berhenti berputar jika Boim tidak melihat Andia.
Kopi terasa hambar dan rokok yang terselip diantara dua jarinya kehilangan rasa, jika Andia tidak terlihat satu hari saja. Matanya tak dapat terpejam untuk tidur, jika dia belum mengucapkan kalimat selamat tidur ke foto Andia. Sebenarnya bukan foto Andia, tapi foto kelas Boim yang sudah dia coret seluruh wajah yang ada di foto itu selain wajah Andia dan dia sendiri.
Walaupun waktu berjalan lambat tapi detik-detik waktu tidak pernah benar-benar berhenti dan akhirnya bel istirahat pun berbunyi.
Sekolah menjadi riuh seketika. Kantin penuh seketika dijejali ratusan siswa yang lapar sambil berteriak-teriak,”Ba-kar! Ba-kar! Ba-kar?!!” seperti zombie di Resident Evil atau yah..seperti orang yang belum makan daging orok.
“Hei, harusnya lapar! Jangan dengarkan si penulis! Lagi gila dia!” seorang siswi bersuara cempreng dan sok asik memberi koreksi terhadap teriakan-teriakan mereka..
“Oh, lapar toh! Teman-teman, ganti jadi kata lapar! La-par! La-par! La-par!” siswa-siswa itu kembali berteriak.
Sebagian siswa yang merasa dirinya cukup pintar dan malas berjejalan di kantin lebih memilih menitipkan makanan mereka sambil mengerjakan LKS yang belum selesai di kelas.
“Eh, gua nitip nasi kuning ya di kantin?! Mau ngerjain LKS dulu guah!”
“Oh, boleh. Elo sekalian kerjain LKS Biologi gua juga yah?”
“Lho? Ntar gua harus ngerjain dua kali dong?! Kenapa enggak sekalian aja elo minta gua buat ngerjain PR matematika juga?!! Cuman nitip doang, pamrih banget sih?!” teriak si penitip, marah.
“Hah, mau ngerjain soal-soal matematika gua juga?! Elo baek banget yah!! Ya udah kerjain aja sekalian yah?! Ntar nasi kuning lo gua kasih bonus deh….sambelnya!” teriak penerima titipan yang ternyata memang sedikit budeg.
“Hah? Ngasih sambel, LKS dikerjain? Wah, gua juga bawain sambel buat elo deh! Abis itu kerjain soal kimia gua yah?!” teriak siswa yang lain dan diikuti belasan siswa lain yang bersedia memberikan upeti sambel sebagai bayaran dikerjakannya PR dan LKS mereka. Si Penitip langsung mencari tali untuk….gantung diri.
Sebagian siswa laki-laki yang merasa PR hanya untuk orang pintar, mereka sangat yakin bahwa mereka sangat bodoh karena kenyataan bahwa nilai ulangan mereka tak pernah lebih dari angka 3, dan jajan kantin bisa membuat sakit perut, lebih memilih untuk menuntaskan hasrat pagi hari yang tertunda atau sekedar merokok di WC. Menikmati wangi combo dari asam amoniak dan asap rokok, yang untuk sebagian orang, wanginya sangat eksotis. Boim termasuk kepada siswa golongan ketiga ini..
“Im, enggak tahu kenapa gua ngerasa ada yang aneh sama elo hari ini,” ucap salah satu teman Boim sambil menyesap rokok kretek di tangannya.
“Emangnya kenapa? Hari ini gua rada gantengan ya?!”
“Ye, ngarep! Bukan itu maksud guah.”
“Terus apaan dong?”
“Ya, aneh aja. Perasaan daritadi di kelas ngelamun melulu, sekarang ketawa terus senyum-senyum sendiri. Elo kenapa sih?”
“Emang salah? Ya, wajar aja kalau gua seneng pasti ketawa atau senyum.”
“Sambil melakukan proses pengeluaran sisa-sisa pencernaan di dalam situ sendirian? Emangnya masih wajar gituh?” ucap teman Boim sambil menunjuk ke arah toilet yang baru dipakai Boim.
“Berisik, luh!” Boim membentak temannya itu dan kemudian menyalakan rokoknya yang dia sembunyikan di dalam dompetnya.
“Emang ada apaan sih, Im? Jangan bilang kalo elo sekarang udah mulai pake genjos ya?! Enggak boleh tuh! Gua bilangin pak Ustad lho!”
“Ye, makin kacau aja ini anak ngomongnya. Elo kali yang pake begituan! Gua hari ini lagi seneng karena ada hal yang bakal gua tuntasin hari ini!”
“Apaan? Bayar utang sama Ibu kantin?”
“Lebih penting dari itu!”
“Oh, elo mau ngelunasin LKS Geografi yang udah elo tunggak selama 2 semester yah?”
“Ye, najis! Mending buat beli rokok. Ada deh pokoknya dan elo semua enggak usah tahu dulu, tapi kalau urusan ini berjalan sukses, gua pasti traktir elo semua!” ucap Boim diselingi tawa puas.
“Kayaknya elo emang lagi kesambet setan, Im! Tapi, ya udah lah, kami do’a kan semoga sukses deh dan jangan lupa sama janji traktirannya!”
“Beres! Tenang aja kalo urusan sama Den Boim! Semua pasti beres!”
Tapi di tengah keriangan di WC pagi itu, terdengar sebuah teriakan yang memecah keriangan mereka, “Ada guru! Ada guru!” teriakan peringatan terdengar. Boim dan teman-temannya kembali masuk ke dalam WC sementara yang lain pontang-panting mematikan rokoknya dan mencari tempat perlindungan lain yang aman.
“Hei! Lagi pada ngapain?! Kalian merokok di WC ya?!” terdengar teriakan seorang guru laki-laki
“Enggak, Pak!” jawab Boim dari dalam WC.
“Itu kenapa banyak asap keluar dari pintu?!”
“Anu, Pak, emmm…lagi praktikum kimia!” teriak Boim lagi.
“Di WC?”
“Iya, Pak?! Untuk menghilangkan bau amoniak yang terkonsentrasi di dalam sini pak! Logis kan, Pak?”
“Kamu pikir saya bisa dibodohi sama kamu?! Cepat keluar dari sana!!!” teriak guru tadi. Boim sudah kehilangan alasan dan akhirnya keluar. Ruang BK menjadi tempat penghabisan jam istirahat Boim.
***
Setengah jam sebelum waktu pulang sekolah. Perasaan Boim semakin tak menentu. Jantungnya berdetak semakin kencang, seperti genderang mau perang. Di setiap ada kamu, mengapa darah ku mengalir, mengalir lebih kencang dari ujung kaki ke ujung kepala…. Aku hanya ingin… Bercinta.. Karena… Lho kok malah nyanyi? Maaf… Saya terusin…
Yah, pokoknya perasaan Boim tak menentu. Rasa cemas dan gugup yang Boim rasakan semakin menjadi-jadi. Butir-butir keringat dingin keluar dari setiap pori-pori kulitnya, seperti orang yang baru saja menghabiskan dua porsi mi baso pedas tanpa diberi air setetes pun untuk minum sama tukang basonya. Jahat banget sih itu tukang baso! Mentang-mentang enggak pesen minum, masa air putih enggak di kasih?! Maunya apa sih?! Mmm… Eniwey..kita lihat lagi si Boim..
“Im, elo keringetan gitu? Sakit lu yah?” tanya teman sebangku Boim.
“Hah, kagak! Enggak kenapa-kenapa kok! Gua cuman kepanasan aja.”
“Kepanasan? Enggak lihat kalo sekarang tuh lagi mendung. Yakin elo enggak sakit?”
“Kagak!”
“Ya udah deh kalo emang enggak sakit, gua mah cuman takut aja kalo harus ketularan penyakit dari elo aja!” ucap teman sebangkunya. Boim rupanya agak tersinggung.
“Rese banget sih ini orang! Mau penyakit?! Nih, gua kasih!!” ucap Boim sambil melempar kotoran hidung-nya dan dengan telak mengenai teman sebangkunya. Teman sebangku Boim yang terkena lemparan langsung berlari keluar kelas menuju WC terdekat sambil setengah menangis dan berteriak histeris,”Aku ternoda! Aku ternoda!! Aku kotor!!” seperti adegan salah satu film, dimana pemeran utamanya yang menjadi seorang PSK yang ingin bertobat, sedang menangisi kisah hidupnya yang tragis.
. Pagi tadi sangat cerah, tapi sekarang langit memang benar-benar kelam dan hitam penuh dengan awan mendung. Detik pun kembali berjalan. Butir-butir air hujan pun turun rombongan. Membasahi setiap jengkal tanah di sekolah. Sebagian siswa mengeluh, sebagian lagi mengeluarkan payung cadangan yang mereka bawa dan menyewakannya kepada siswa yang mengeluh itu.
Tadi pagi Andia tidak membawa payungnya yang berwarna birunya hari ini. Melihat air hujan yang turun deras, membuat dia merasa lebih baik untuk menunggu di sekolah saja sampai hujan reda. Dari bangkunya, Boim memandang Andia penuh rasa bahagia karena dia tahu Andia harus menunggu di sekolah sampai hujan reda. Alam semesta sepertinya ingin membantu Boim dalam mendapatkan jawaban dari Andia
Hujan ini adalah bantuan dari langit! Ini pertanda kalau guah emang harus nyatain ke dia saat ini juga! Ucap Boim dalam hatinya sambil perlahan membuka tasnya untuk melihat bunga mawar yang dia petik tadi pagi. Masih terlihat merah dan segar, rupanya mawar itu cukup kuat untuk hidup di dalam tas Boim yang bau apek.
Jarak antara bangku Boim dan Andia adalah 14 langkah. Boim setiap hari selalu menghitung jarak antara bangku dia dan Andia saat semua orang sudah keluar dari kelas. Dia menghitungnya untuk hari ini agar semua terencana dengan baik.
Langkah pertama untuk mulai, langkah ke-5 untuk ambil napas, langkah ke-9 pastikan dia masih diam di tempat, langkah ke-12 bilang ke dia kalau ada yang mau diomongin, langkah ke-14 kasih bunganya dan bilang,”Andia! Boim suka sama kamuh!!!” sambil tatap dia di matanya dalam-dalam!! Boim mengingatkan dirinya sendiri.
Boim mulai menguatkan hatinya, mengambil napas panjang dan mulai melangkahkan kakinya menuju bangku Andia. 1, 2, 3, 4, 5, Boim mengambil napas kembali untuk menenangkan dirinya. 6,7,8,9, Andia masih diam di kursinya sambil menatap kosong ke luar jendela. Boim kembali melangkah. 10, 11, 12, Boim berdiri mematung, suaranya tercekat di tenggorokannya. “Ayo, Im! Nanggung! Udah 12 langkah! 2 langkah lagi!” batin Boim menguatkan dirinya.
“Gimana kalau saya salah? Gimana kalau saya ditolak? Gimana kalau Andia marah dan enggak mau jadi temen sayah lagi? Gimana coba?”
“Itu pasti menyakitkan, tapi percayalah, lebih menyakitkan lagi kalau kamu enggak pernah mengungkapkan perasaan kamu! Cepet! Nunggu apa lagi? Mau nunggu kiamat cuman buat ngomong kamu suka sama dia?!!”
“Andia!” suara parau Boim akhirnya keluar.
Kaget mendengar suara Boim, Andia langsung mengucap istigfar sambil mengelus dadanya kemudian dengan wajah masih penuh rasa terkejut menoleh langsung ke arah Boim. Boim semakin salah tingkah.
“Iya, kenapa Boim?” tanya Andia dengan wajah penuhrasa heran.
“Enggak pulang?” Damn! Dari semua pertanyaan di dunia ini guah malah nanya pertanyaan paling bodoh di jagat raya ini. Enggak pulang?Andia enggak pulang, Im! Mau nginep di sekolah!!! Sekalian aja tanya nenek dia!!!! Boim membatin sendiri.
“Mau, tapi nunggu dijemput. Tapi kayaknya bakal telat deh dijemputnya, soalnya hujan.”
“Oh,” sebuah ‘oh’ tanpa makna.
“Maaf, kalo bikin kamu kaget,” lanjut Boim. “Sayah, pengen anu…nanya sesuatu sama kamu…” ucap Boim sambil menundukkan wajahnya karena malu. Dahi Andia mulai berkerut.
“Kamu mau nanya apa? Mau nyontek PR lagi ya?”
“Emmhh.. bukan. Boim bukan mau nyontek soal. Hal yang Boim mau tanyain, yang lebih personal sih. Boleh, Boim nanya?”
“Ya udah, bilang aja. Enggak apa-apa kok. Emang ada apa sih, Im?” wajah polos Andia yang sedang bertanya, membuat Boim semakin tidak bisa bicara apa-apa. Wajah Boim sekarang semakin memerahdan butir-butir keringat dingin keluar dari setiap pori-pori kulitnya.
Tangan Boim bergetar membuka resleting celananya tasnya, kemudian mengeluarkan mawar yang dia bawa tadi pagi. Seketika itu juga wajah Andia berubah merah, dan wajah Boim lebih merah saat mengatakn semua perasaanya kepada Andia.
***
Hujan masih saja turun walau hari sudah mejelang malam. Boim pulang dengan baju basah kuyup di rumah. Dibuka kembali tas milliknya sambil mengeluarkan bunga mawarnya yang layu. Dengan cepat dia langsung berlari kembali ke taman milik ibunya.
Dengan tangannya dia menggali tanah yang basah oleh air hujan. Setelah cukup dalam menggali, dia menanam kembali mawar yang dia petik tadi pagi dan berharap mudah-mudahan mawar itu masih bisa tumbuh kembali.
“Nah, mudah-mudahan elo masih bisa hidup! Dan mudah-mudahan nanti ada cewek yang mau nerima elo, ya maksudnya gua sih,” ucap Boim. “Pokoknya cepet tumbuh ya, biar gua bisa nembak cewek lagi.”
Boim akhirnya pergi meninggalkan mawar itu untuk tumbuh. Seperti di banyak tempat lain di muka bumi ini, hari ini banyak cinta yang bermekaran tapi tak sedikit juga yang akhirnya harus gugur karena tumbuh tidak pada tempat seharusnya dan Boim mengerti itu semua.
Wah aku lumayan suka ^^.
.
Yup hampir sama ama di kehidupan beneran di sekolah tentunya,
Gitu-gitu kan sifat tokoh yang nyatain cinta juga harus diinget ama dia sendiri.
Kalaw sifat dia [Boim] emang dipandang oleh si cewe[Andien] engga bagus, kayanya engga keterima
Makasi,
Pascal.~
good enough..
gw suka...
Bagus. good luck 4 u.
Btw jgn lupa mampir ya.
kasihan amat si Boim? huuu..
btw, komen tulisan2ku jg yah! thx