Tetsuya terbangun dengan sebuah handuk dingin di dahinya. Wajahnya tampak kebingungan. Ia tidak tahu kenapa bisa terbaring di sofa ruang keluarga dengan handuk dingin di dahinya. Belum lagi bau menyengat khas balsem yang tercium di hidungnya.
Read more (3873 words)
Tetsuya terus bertanya-tanya tanpa menemukan jawaban yang jelas. Sepihan memorinya yang tersisa hanya mengingat kalau ada seseorang yang menabraknya ketika sedang menaiki tangga ke atas. Ia ingat kalau tubuhnya terjatuh dan kepala membentur lantai. Selebihnya yang diingatnya hanya warna hitam. Ia seperti dalam keadaan balck-out, mirip orang pingsan. Keadaan yang tidak begitu menyenangkan buatnya. Apa lagi sekarang ia merasakan pusing di kepala bagian belakang akibat bekas luka benjol karena membentur lantai ubin dengan lumayan keras.
”Akhirnya bangun juga!” Rana berseru penuh kelegaan begitu melihat Tetsuya sudah terduduk di sofa dengan kedua mata yang terbuka lebar. ”Aku kira kamu nggak bakalan bangun-bangun. Thank God, your awake.”
Tetsuya merubah ekspresi wajahnya sedingin mungkin ketika melihat sosok Rana muncul sambil membawa semangkuk bubur hangat. Meski sedikit tegoda dengan aroma lezat bubur itu, ia tetap berusaha terlihat tidak tertarik.
Aku tidak lapar.
Tidak lapar.
Tidak masalah kalau tahan lapar sampai besok pagi.
Kruyuk....
Perutnya berbunyi. Tampaknya tidak bisa menghindari bubur hangat yang kelihatannya lezat itu. Ia yang sudah dua hari tidak menyentuh nasi, sepertinya harus menyerah dan menerima maksud baik Rana. Padahal, sebenarnya ia masih kesal karena sudah dua hari ini makanan yang ada di meja tidak cocok dengan seleranya. Apa lagi, tidak ada semangkuk nasi pun tersaji di sana. Padahal, ia tidak bisa hidup tanpa nasi.
”Okayu o dôzo [silahkan cicipi buburnya].” kata Rana sambil membaca buku catatan kecil yang ada di tangannya.
Tetsuya memandangi Rana tanpa menyentuh semangkuk bubur hangat yang diletakkan di atas meja. Ia terkejut mendengar Rana bisa berbicara dengan bahasa Jepang.
”Dô-dôzo [si-silahkan].” kata Rana tergagap.
Tetsuya masih bergeming.
Rana jadi panik dibuatnya. Ia pun akhirnya mengeluarkan buku yang diberikan Airin dari dalam saku celemek yang dipakainya. Jari-jarinya yang panjang, membolak-balik halaman demi halaman agar bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk bisa kembali berkomunikasi dengan Tetsuya.
Tetsuya yang mengamati gerak-gerik Rana ini, tiba-tiba tersenyum. Ia merasa sedikit geli melihat kepanikan Rana yang berusaha dengan keras mencari cara lewat buku, untuk bisa berkomunikasi dengannya. Skor sementara adalah 1─0. Satu untuk dirinya sendiri, sedangkan nol untuk Rana. Ia merasa seperti pemenang sejati─memenangkan perang dingin tanpa berusaha dengan keras untuk menang.
”Watashi nihon-go ga wakarimasu ka [Kamu mengerti bahasa Jepangku]?” tanya Rana. ”Wakarimasu ka [mengerti kan]?” ia bertanya lagi untuk memastikan.
Tetsuya mengangguk. Lalu, tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia meraih semangkuk bubur hangat yang ada di atas meja. Sesuap demi sesuap bubur dimakan dengan lahap tanpa berhenti. Hal ini membuat Rana tersenyum lega. Wajahnya berseri-seri, dan tampak bahagia. Ia merasa kalau kebekuan yang selama ini melanda rumahnya, bisa sedikit berkurang karena sekarang ia bisa sedikit berkomunikasi dengan Tetsuya.
”Gochisô-sama deshita [terima kasih, makannya tadi enak sekali].” kata Tetsuya seraya meletakkan mangkuk kosong bekas bubur di atas meja.
Sebenarnya ia masih ingin meneruskan aksi tutup mulut, tapi yang satu ini adalah pengecualian. Sejak kecil, ia dididik agar selalu berterima kasih pada siapa pun yang menghidangkan makanan untuknya. It is a habbit that hard to change. Jadi, meski masih merasa kesal dengan Rana, ia tetap harus berterima kasih atas makanan yang sudah disajikan untuknya.
Rana yang tidak paham dengan arti ucapan Tetsuya, sibuk mencari-cari artinya di dalam buku. Ia kembali membolak-balik halaman demi halaman demi mencari jawabannya.
Sementara itu, Tetsuya kembali mengawasi gerak-gerik Rana dengan kedua matanya yang tajam. Kalau diperhatikan dengan sungguh-sungguh, sebenarnya Rana tidak seburuk yang ia pikirkan. Gadis itu sebenarnya punya hati yang baik dan semangat juang yang besar. Hal itu terlihat jelas dari perhatian dan kerelaannya untuk belajar bahasa Jepang agar bisa berkomunikasi dengannya.
Tunggu, Tetsu!
Tunggu dulu.
Kenapa bisa begitu cepat terhanyut dengan gadis macam dia?
Jangan terlalu cepat berpikir kalau dia itu baik.
Apa yang terlihat di luar bisa menipu.
Pokoknya jangan tunjukkan sikap baik.
(Ini adalah pergolakan yang terjadi di dalam hati Tetsuya)
”Aha! Aku tahu maksudnya!” seru Rana kegirangan. ”Wah...akhirnya, kamu bisa juga bersikap baik sama aku. Pake bilang makanannya enak lagi. Ah, jadi malu! Dô-itashimashite [terima kasih kembali].” katanya dengan wajah yang memerah.
Tetsuya mengerutkan keningnya. Wajahnya yang tadinya tampak datar, kini terlihat mengkerut bak seperti baru saja meminum jamu pahitan.
”Baka [bodoh]!”
”Hah? Apa? Baka?” tanya Rana dengan wajah super bodoh. ”Baka itu artinya apa, ya?” ia bertanya pada dirinya sendiri sambil membuka-buka buku primbonnya. ”Baka itu sama nggak ya, artinya sama alam baka? Ukh...apa, ya artinya....” ia bergumam sendirian.
Tetsuya kembali mengawasi gerak-gerik Rana. Wajah Rana yang tampak bodoh, terasa lucu baginya. Baru pertama kali ia melihat ada gadis yang wajahnya bisa berubah menjadi begitu bodoh jika sedang kebingungan.
Ting-tong!
Ting-tong!
Tiba-tiba ada yang memecet bel di depan pintu rumah Rana.
Rana sempat mengerutkan keningnya terlebih dulu sebelum akhirnya beranjak pergi ke arah pintu depan untuk melihat siapa yang datang bertamu. Ia kebingungan. Ketiga sahabatnya yang lain tidak mungkin datang bertamu kembali. Mereka semua terpaksa pergi karena dikejar urusan masing-masing.
Alex dengan papanya.
Airin dengan bisnisnya.
Lalu, Lila dengan urusan arisan keluarganya.
Kalau bukan ketiganya, lalu siapa yang datang? Ini bukan hal yang biasa, jadi pantas kalau Rana kebingungan. Karena di hari Minggu seperti ini, biasanya hanya ketiga sahabatnya saja yang datang berkunjung ke rumah.
”Kaya’nya kenal.” kata Rana setelah membuka pintu masuk. ”Yang kemarin di bandara, kan?” tanyanya pada dua orang gadis yang berdiri di depan pintu.
”Yoi, yoi.” jawab salah satu dari dua gadis itu. ”I am Sarah. Remember?”
”Iya. Iya. Aku ingat, kok.” kata Rana dengan sedikit ketus−ia masih kesal soal kejadian di bandara waktu itu. ”Ada apa, ya? Kenapa bisa tahu alamat rumahku?”
”Maaf, kalo nggak sopan. Tapi...aku cuma mau nganter Yuko.” kata Sarah seraya menarik lengan kanan Yuko. ”Yuko-chan....” ia memberikan isyarat mata pada Yuko.
Yuko memandangi Rana dengan sedikit gugup. Gadis asal negeri Sakura yang punya wajah imut mirip Oshin ini, berkali-kali menundukkan kepalanya. Ia seperti sedang menghindari kontak mata dengan Rana.
Rana yang sejak awal memang tidak menyukai kedatangan keduanya, bertambah jengkel dengan sikap Yuko ini. ”Eh, kalian berdua ini sebenarnya mau apa datang ke sini? Strait to the poin aja, deh! Jangan bikin orang bingung.” katanya dengan sinis.
”Kita mau ketemu sama Tetsu. Dia ada, kan?” tanya Sarah.
”Mau apa kalian ketemu sama dia?” tanya Rana balik.
”Yuko mau ketemu sama Tetsu. Mau ada sesuatu yang dibicarakan.” jawab Sarah.
”Nggak bisa. Kalian enggak bisa ketemu sama Tetsuya.” tolak Rana mentah-mentah. ”Tetsuya lagi nggak bisa diganggu. Dia lagi sa...eh, maksudnya lagi istirahat. Iya, benar! Tetsuya lagi istirahat di kamar, dan nggak bisa diganggu.”
Sarah memandangi wajah Rana dengan sedikit curiga. Gadis berhidung betet ini sepertinya punya indera penciuman yang tajam. Berbeda dengan anjing yang bisa mengendus bau-bauan, hidung Sarah bisa mengendus kebohongan.
Rana sedang menutupi sesuatu.
Baunya bisa terendus dengan sangat tajam.
”Ke-kenapa?” tanya Rana sedikit gugup karena dipandangi oleh Sarah. ”Kamu enggak percaya kalo Tetsuya lagi istirahat? Hah?” tanyanya lagi.
”Betul. Aku nggak percaya sama kamu.” kata Sarah sambil memandangi Rana dengan pandangan penuh curiga.
”Hei, jadi orang itu jangan suka punya pikiran jelek sama orang lain.” kata Rana sewot.
”Kalo orangnya kaya’ kamu, siapa pun juga pasti punya pikiran jelek.” kata Sarah dengan ketus. ”Ayo, minggir! Biarkan aku dan Yuko masuk. Kami mau bertemu sama Tetsuya.”
Rana membentangkan kedua lengannya lebar-lebar sehingga menutupi sebagian besar pintu. ”Nggak boleh. Kalian nggak boleh masuk. Ini rumahku, dan aku berhak menerima atau menolak tamu.” katanya dengan tegas.
Sarah tertawa geli sambil memandangi Rana yang memasang wajah serius. Sikap Rana ini dirasa sangat menggelikan untuknya. Ia seperti sedang berhadapan dengan anak kecil berumur lima tahun yang sedang mempertahankan pendiriannya yang terasa begitu egois.
”Kenapa malah tertawa?” tanya Rana kebingungan. ”Ayo, pergi sana! Aku sudah nggak tahan lihat muka kalian berdua di sini.”
”Rana...Rana. Ternyata, kamu lebih menggelikan dari yang aku pikir. Ayolah, jangan bersikap egois begitu. Yuko ini teman baiknya Tetsu. Dia berhak ketemu sama Tetsu. Don’t be silly like this, Rana. Just let her see Tetsu.” Sarah mencoba merayu Rana dengan bersikap lunak.
Rana memalingkan pandangannya pada Yuko.
Seperti sebelumnya, Yuko beberapa kali menundukkan kepalanya untuk menghindari pandangan Rana. Ini membuat Rana sedikit risih. Ia paling tidak tahan menghadapi orang macam Yuko yang selalu menghindari kontak mata dengan orang yang tidak dikenal.
”Rana? Halo?” Sarah merambai-lambaikan tangan kanannya di depan wajah Rana untuk mengalihkan pandangan gadis itu dari Yuko. ”Gimana? Kita berdua boleh masuk, kan? Kita berdua, boleh ketemu Tetsu kan?” tanyanya pada Rana.
Rana berpikir sejenak. Menimbang-nimbang baik dan buruknya kalau Sarah dan Yuko masuk bertemu dengan Tetsuya. Tetapi, belum sempat memutuskan apa-apa, Sarah sudah melenggang masuk melewati pintu depan sambil menggandeng Yuko. Sarah memanfaatkan kelengahan Rana─memanfaatkan kesempatan dalam kebimbangan seseorang.
”Hei! Hei, berhenti!” seru Rana panik. ”Jangan masuk rumah orang seenaknya gitu, dong! Ini namanya pelanggaran hak asasi. Penodongan secara nggak langsung.”
”Halah! Udah lah, Rana. Nggak usah panik dan histeris begitu.” kata Sarah seraya tersenyum-senyum jahil. ”Aku sama Yuko kan udah masuk, jadi kamu nggak bisa ngusir kita gitu aja. Sekarang mana Tetsu? Kita berdua mau ketemu sama dia.”
Emosi Rana meninggi hingga ke ubun-ubun. Sikap Sarah sudah keterlaluan. Baru pertama kali ini ia bertemu dengan gadis tebal-muka seperti Sarah. Tidak berhenti ketika dibilang ’stop’, dan tidak gentar ketika digertak. Benar-benar gadis yang pantang-menyerah.
Keren juga, sih. Tapi, kelihatannya jadi seperti orang yang tidak tahu sopan-santun, dan terkesan memaksa. Tidak semua orang suka dengan tipe orang seperti ini. Bahkan malah, ada banyak orang yang akan membencinya.
”Tetsu-kun!” Yuko berteriak histeris ketika melihat Tetsuya tertidur lemas di sofa ruang tengah. Gadis berkulit sepucat salju itu, segera menghampiri Tetsuya dengan wajah cemas. ”Daijôbu, Tetsu-kun [apa kamu baik-baik saja]?” tanyanya dengan wajah memucat karena terlalu cemas.
Tetsuya meraih tangan kiri Yuko yang menggenggam lengan kanannya. Lalu, ia mengembangkan sebuah senyuman lebar nan lembut pada gadis Jepang itu.
”Daijôbu, Yuko-chan [tidak apa-apa, Yuko].” katanya sambil menatap Yuko dengan tatapan yang juga terlihat sangat lembut.
Hati Rana sedikit merasa kecewa melihat perlakuan Tetsuya yang begitu lembut menenangkan Yuko yang sedang panik. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Tetsuya tidak pernah sekali pun memperlakukannya dengan lembut. Padahal, seharusnya Tetsuya bisa sedikit menghargai dirinya yang sudah bersedia menampung Tetsuya di rumahnya.
”Mereka itu....”
”Bukan.” potong Sarah. ”Mereka bukan pasangan kekasih, kalau itu yang mau kamu tanya.”
”Oh, ya? Tapi...kelihatannya mesra banget.”
”Ah, nggak juga sih!” kata Sarah seraya tersenyum kecil. ”Tetsu memang kaya’ gitu. Dia selalu bersikap selembut itu sama semua cewek.”
”Oh, ya?” Rana tersentak kaget.
Sarah memandangi Rana sambil menggerutkan kening. ”Kenapa, sih? Kok, kamu kelihatannya kaget gitu?” tanyanya penasaran.
”Selama dua hari ini, sikap Tetsuya tuh nggak ada manis-manisnya sama sekali. Dia jutek banget sama aku. Jangankan senyum, ngomong aja enggak.”
Sarah tertawa kecil─seperti ada sesuatu yang menggelitik di perutnya dan membuatnya tertawa cekikikan.
Rana memasang wajah cemberut. Ia tidak diterima dijadikan bahan tertawaan gadis yang sama sekali tidak ia suka, dan bahkan malah ia benci. Sarah tidak berhak menertawainya karena seharusnya ia lah yang berhak menertawai Sarah. Lagi pula, tidak ada satu hal pun yang bisa dianggap lucu sehingga pantas untuk dijadikan bahan tertawaan.
It’s not fair.
I am not a joke.
Ukh!!! Ingin rasanya aku menjambak rambut keriting Sarah, dan meneriakinya untuk tidak lagi tertawa.
Ini penghinaan besar.
Enggak boleh ada cewek gila yang ngetawain aku seperti ini.
Enggak boleh!!!
”Hei! Rana? Hallo?” Sarah melambaikan tangan kanannya di depan wajah Rana─this is the second time she done it. ”Kamu suka ngelamun, ya?” tanyanya sambil menahan tawa.
”Enak aja! Enggak, kok!” tolak Rana dengan tegas.
”Jangan suka self denial, deh. Nggak baik buat kesehatan.” sindir Sarah sambil kecikikan.
Rana meremas-remas ujung t-shirt hijau lumutnya dengan kesal. Sarah sudah keterlaluan. Gadis itu harus diberi pelajaran. Bukan harus, tapi wajib. Penghinaan ini terlalu sakit buat Rana─terlebih lagi kejadiannya adalah di rumahnya sendiri.
”Eh, kamu nggak ngerasa ada yang kelupaan?” tanya Sarah dengan tiba-tiba.
”Enggak.” jawab Rana sewot.
”Sebagai nyonya rumah yang baik, seharusnya kamu menawarkan minuman sama tamu.”
”Terus?”
”Yah, sok atuh bikin minum.” kata Sarah dengan aksen Sunda-nya.
”Ih, sudi banget aku bikin minum buat kalian berdua! Tamu yang nggak diundang.” kata Rana dengan sinis.
”Udah jangan protes.” kata Sarah seraya mendorong-dorong tubuh Rana. ”Sana bikin minuman! Ayo, cepet! Hurry! Hurry! Haus, nih!”
Rana mendengus kesal. Makin lama Sarah semakin bertingkah. Rana merasa tidak bernilai di mata Sarah sehingga gadis berambut keriting itu berhak memerintah yang macam-macam padanya. Padahal, ini adalah rumahnya─daerah kekuasaannya. Daerah teritorial yang seharusnya orang lain tidak berhak atas kuasanya.
”Hei, kenapa masih di sini? Ayo, bikin minuman!” kata Sarah memaksa.
”Nggak mau!” tolak Rana mentah-mentah. ”Kalo mau minum, ambil sendiri di dapur. Aku nggak mau ngeladenin tamu nggak diundang kaya’ kamu.”
”Dasar pelit!”
”Biarin! Dasar cewek nggak tahu sopan-santun!”
* * *
Rana terpaksa mentraktir Tetsuya makan di restoran Jepang. Ini lebih karena tanggung jawab dan permintaan maaf. Rana merasa bersalah karena menelantarkan menu makan Tetsuya, sehingga pemuda berambut orange itu sampai jatuh pingsan.
Sayangnya, niat baik Rana itu dimanfaatkan oleh Sarah dan Yuko. Kedua gadis itu ikut minta ditraktir. Sarah bilang ini sebagai ganti biaya menterjemahkan dan biaya ganti tampungan keluh-kesah.
Rana yang dilanda rasa bersalah hanya bisa mengangguk tanpa bisa protes. Ia terpaksa setuju karena tidak ingin memperpanjang masalah dengan Sarah dan Yuko. Dua gadis itu tampak sangat marah ketika tahu kalau Tetsuya pingsan karena kurang makan.
Yuko berlagak seperti pacar Tetsuya dengan memaki-maki Rana sambil menangis tersudu-sedu. Sedangkan Sarah, gadis berkaki super kurus itu sok memainkan peran sebagai malaikat pelindung Tetsuya dan Yuko dengan ikut memarahi Rana.
Tidak ada yang mau mendengarkan penjelasan Rana. Semuanya menyudutkannya, termasuk Tetsuya yang terus menatapnya dengan sebuah senyuman licik di wajah sementara dua gadis pembelanya maju perperang.
”Nggak ada yang mau dengerin penjelasan aku, Rin.” Rana mengadu pada Airin lewat telepon. ”Semuanya nyalahin aku. Semuanya! Nggak Tetsuya, nggak Sarah, dan nggak juga cewek Jepang itu. Aku seperti anak ayam yang kehilangan induk.”
”Sabar, Ran.” kata Airin dengan nada suara yang lembut.
”Kalo sampai mama nggak pulang dalam waktu dua minggu ini....Hhh...aku nggak tahu deh, gimana jadinya tinggal berduaan sama cowok yang cuma bisa bahasa planet.”
”Kenapa harus gitu? Tadi kan gue udah ngasih ke Elo buku cara belajar bahasa Jepang. Lo pelajarin aja tuh, buku sampai khatam. Lama kelamaan, Lo juga bisa kok berkomunikasi pake bahasa planet.” kata Airin seraya tertawa cekikikan.
Lagi-lagi Rana dijadikan bahan tertawaan.
Sialnya, kali ini sahabatnya sendiri yang menjadikannya bahan lelucon.
”Aku lagi nggak mood bercanda, Rin. Please, give me the good advice.” kata Rana dengan nada bicara yang terdengar sedikit kesal.
”Oke. Oke.” kata Airin yang merubah nada bicaranya jadi lebih serius. ”Menurut gue, Lo harus bisa maklum sama keadaan yang amburadul ini, Ran. Kunci permasalahannya cuma satu, Lo harus bisa belajar bahasa Jepang.”
”Yah...kalo itu sih, baru tahun depan kali aku bisa ngomong sama Tetsuya.”
”Hehehe...Ya, sorry deh, Ran. Otak gue lagi buntu, nih! Gue lagi pusing mikirin bisnis counter hanphone gue yang lagi bermasalah. So, maaf-maaf kalo sarannnya agak kacrut. Setengah otak gue isinya cuma handphone, klien, and duit.”
”Dasar Cici handphone! Makanya, Bu. Kalo belum berpengalaman, mendingan jangan buka usaha dulu deh.”
”Eh, justru yang belum berpengalaman itu banyak tantanganya. You have to survive in this crazy world, you know. Kalo Lo nggak pernah berani ambil resiko, Lo nggak akan pernah bisa berhasil dalam hidup.”
”Hah...debat sama kamu memang nggak bakalan menang ya, Rin.” kata Rana menyerah kalah. ”By the way, thank's for listening my problem, Rin. Seenggaknya, beban masalahku sedikit terangkat karena aku udah curhat sama kamu.”
”No problem, Rana. It’s no big deal, Sister.”
Klik!
Rana dan Airin sama-sama menutup sambungan telepon masing-masing.
Sesi curhat on-air seperti ini memang sudah jadi ritual khusus Rana. Airin yang juga punya six-sense dan bisa membaca tarrot, sering dijadikan tempat curhat oleh Rana. Begitu ada masalah, Rana akan menelepon Airin.
Airin pun setali tiga uang dengan Rana. Ia tidak pernah merasa keberatan dijadikan tempat curhat atau bahkan dijadikan guru spiritual oleh teman-temannya, terkhusus Rana. Ponsel Airin selalu on 24 jam untuk mendengarkan permasalahan teman-temannya. No wonder kalau teman-temannya menyebutnya ’Madam Ring-Ring’.
”Hhh...mereka kelihatannya gembira banget. They look happier when I am not around them.” kata Rana dengan sedih ketika memandangi meja Tetsuya, Sandra, dan Yuko dari balik kaca etalase depan restoran.
Tetsuya sedang tertawa terbahak-bahak menanggapi celotehan dan tingkah Sandra yang sok jadi badut dadakan. Yuko juga sama saja. Gadis itu bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal. Pemandangan seperti ini tidak terlihat ketika Rana masih duduk satu meja dengan ketiganya.
Am I really that bad?
Kenapa ya, mereka terlihat lebih bahagia kalo aku nggak ada?
Apa...cuma Airin, Lila, dan Alex yang bisa menerima aku?
Apa...cuma mereka yang bisa bahagia dengan kehadiranku?
”Rana?”
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang dikenal Rana, menyapanya dari belakang. Suara itu begitu melekat di otaknya selama beberapa minggu ini.
”Bagus!” kata Rana setelah membalikkan badannya.
Yup! It’s Bagus. Pemuda penghancur hati Rana ini berdiri di depan Rana bersama satu orang pemuda lainnya yang juga sama buruknya, yaitu Nino Ferdinan.
”Good! It’s my lucky night.” kata Rana jengkel. ”Di malam yang sial ini, aku bertemu sama dua makhluk paling idiot di muka bumi ini.”
”Heh, cewek nggak tahu terima kasih!” gertak Bagus yang tak kalah jengkelnya dengan Rana. ”Siapa juga yang seneng ketemu Lo di sini. Jangan ke-geeran deh! Muka pas-pasan aja sombongnya minta ampun.”
Rana menyingsingkan kedua lengan baju sweeternya. Ia seperti bersiap untuk melawan Bagus dalam suatu adegan perkelahian.
Menanggapi sikap Rana itu, Bagus sigap-tanggap. Ia juga menyingsingkan kedua lengan kemeja putih garis-garisnya hingga siku. Tetapi, sebelum sempat terjadi perkelahian, Nino mencoba untuk menengahinya dengan cara berdiri di antara kedua kubu yang sedang bersitegang.
”Hei! Hei! Stop it, You Two!” katanya dengan wajah tegang. ”Ini tempat umum. Jangan berkelahi di sini. Bisa bikin malu.”
”Halah! Nggak usah ikut campur deh!” kata Rana pada
Nino. ”Perkelahian ini juga nggak akan terjadi kalo kamu nggak ikut ambil bagian. Tega kamu ya, No! Bisa-bisanya kamu nyuruh sepupu brengsek kamu ini buat pura-pura jatuh cinta sama aku.”
Nino menatap Rana dengan tatapan penuh rasa penyesalan. Entah kenapa, hati kecilnya berkata menyesal ketika berhadapan langsung dengan Rana. Padahal, ia begitu berapi-api sewaktu membuat rencana balas dendam dengan Bagus.
I still feel some thing with this girl─Nino berbicara dalam hati sambil menatap Rana dengan penuh arti.
”Sepupu gue ini nggak salah. Elo yang salah!” kata Bagus membela Nino. ”Elo nggak pantes nolak ajakan merrid dari calon dokter spesialis penyakit dalam seperti Nino. Dasar cewek sinting!”
”Kamu yang sinting! Dasar cowok brengsek!” kata Rana tidak kalah kerasnya dengan Bagus.
”Kurang ajar! Elo yang brengsek!” kata Bagus seraya menjambak dan menarik rambut Rana.
”Ih! Sadis banget sih, sama cewek! Dasar playboy kacangan! Playboy cap kecoa! Auw!!!” teriak Rana dengan histeris─ia berusaha melepaskan rambutnya dari tarikan tangan kanan Bagus.
Dan, perkelahian pun terjadi. Bagus dan Rana sama-sama terlihat tidak mau mengalah satu sama lain. Mereka terus saling memukul dan menjambak. Perkelahian ini memang tidak berimbang karena terjadi antara pria dan wanita. Tetapi, kelihatannya jadi berimbang karena baik Bagus atau pun Rana saling menjambak. Mereka seperti dua ekor kucing yang saling cakar-mencakar.
Nino yang berada di tengah-tengah, terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang. Ia seperti mau cuci tangan dari perkelahian yang sebenarnya berujung-pangkal dari dirinya juga.
”Berhenti! Rana-san, berhenti!” tiba-tiba ada tangan yang meraih lengan dan menarik tangan Rana agar gadis itu mau mundur dari perkelahian. ”Sudah...ee...jangan beru-kelahi.” kata si pemilik tangan dengan suaranya yang berat dan logat bahasa Indonesia yang khas tapi aneh.
Rana memalingkan wajahnya pada si pemilik suara berat.
Betapa kagetnya ia begitu tahu kalau orang itu adalah Tetsuya. Tetsuya yang asli Jepang dan tidak bisa bahasa lain selain bahasa Jepang itu, kini sedang berbicara dengan memakai bahasa Indonesia.
”Tetsuya? Kam-kamu....” Rana tergagap sambil memandangi Tetsuya dengan kedua mata yang melotot tak percaya─ia tidak mampu berkata-kata karena terlalu shock.
”Sudah. Kamu jangan beru-kelahi dengan orangan ini.” kata Tetsuya sambil mencengekram lengan kanan tangan Rana dengan erat. ”Malu. Malu dilihat...ee...orang ne.”
”Siapa dia, Ran?” tanya Nino pada Rana.
”In-ini...Tetsuya─”
”Tidak perlu perkenalkan saya.” potong Tetsuya. ”Come, Rana-san!” katanya seraya menarik lengan Rana agar gadis itu mau ikut masuk ke dalam restoran.
Tetapi, sebelum sempat Tetsuya membawa Rana pergi, Nino berdiri di depannya menghadang jalan. ”Heh! Aku tanyanya sama Rana baik-baik. Kamu nggak berhak narik Rana gitu aja. Lagi pula, aku ini calon tunangannya Rana.”
”Calon! Baru Calon!” tegas Rana. ”And, itu juga udah nggak ada artinya lagi sekarang. Aku nggak akan mau tunangan sama cowok macam kamu.”
”Tapi, Rana...aku masih sangat banget sama kamu.” kata Nino seraya menggenggam tangan kiri Rana dengan tiba-tiba. ”Aku masih mau kok, jadi tunangan kamu walaupun kamu udah bikin aku sakit hati.”
”Lepasin tangan aku, Nino!” kata Rana sambil menarik-narik tangannya agar Nino mau melepaskan genggamannya. ”Aku benci sama kamu. Aku benci sama kamu!”
”Enggak. Aku enggak akan melepaskan tangan kamu. Aku cinta sama kamu, Rana. Aku─”
Buk!!!
Tetsuya memukul wajah Nino dengan keras sehingga tubuh pemuda itu jatuh tersungkur ke lantai teras restoran.
Rana shock melihat sikap Tetsuya yang satu ini. Ia tidak menyangka Tetsuya akan berani memukul Bagus hanya demi membelanya. Meski begitu, perasaan yang muncul setelahnya adalah rasa senang karena ia merasa seperti seorang putri yang dibela oleh seorang kesatria.
”Hei, You! Stupid security!” kata Tetsuya sambil menunjuk ke arah satpam berbaju seragam serba hitam yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk restoran.
Sang satpam berbaju hitam yang berbadan kekar yang dari tadi hanya berdiam diri memandangi perkelahian Bagus dan Rana, datang menghampiri dengan tergesah-gesah. Wajahnya yang khas orang Timur itu, tampak cemas ketika berhadapan dengan Tetsuya.
”A-ada apa, Mister?” tanyanya dengan sedikit terbata.
”Are crazy or some thing? Melihat ada dua orang fighting, kenapa diam saja?” tanya Tetsuya dengan penuh emosi. ”Saya dan pacar saya ini...”, ia merangkul Rana dengan tiba-tiba, ”...adalah pelanggan restoran ini. We have been disturbed by this two idiot people. Saya mau mereka berdua dihalau jauh-jauh. Get it?” tanyanya dengan galak.
”Yes, Mis-Mister.” jawab sang satpam dengan tergagap pula.
Rana benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang sedang terjadi di depan matanya ini. Kejadian luar biasa komikalnya ini terasa begitu membingungkan buatnya. Tetsuya yang dianggap sebagai tokoh antagonis, malah berbalik menjadi dewa penyelamat dan pangeran berkuda putih.
Pemuda berperawakan tinggi-semampai dan berkulit coklat itu, bukan hanya berhasil membuat seorang satpam berwajah seram tunduk pada kata-katanya tapi juga berhasil menghalau Bagus dan Nino pergi. It’s amazing. Really shocking, but amazing.
”Kenapa diam?” tanya Tetsuya pada Rana yang terbengong-bengong sambil memandanginya seperti orang bodoh.
”Seharusnya aku yang tanya. Kenapa kamu bisa bicara pakai bahasa Indonesia?” tanya Rana balik. ”Terus...kenapa kamu bilang tadi aku pacar kamu?” tanyanya dengan mimik wajah penasaran.
”Ee [uhh]....Maa [oke, begini]....”
Tetsuya tidak jadi meneruskan kata-katanya. Ia jadi terlihat salah tingkah dan berusaha menghindari tatapan mata Rana yang menatapnya penuh rasa penasaran.
”Kenapa diam?” tanya Rana sambil melotot tajam. ”Ayo, jawab! Kamu ngerti kan, apa yang aku bilang barusan?” tanyanya lagi.
”Ah, sudahlah! Kita masuk ke dalam saja. Saya masih mau makan shabu-shabu.” kata Tetsuya seraya menarik tangan Rana pergi.
”Tapi, Tetsuya─”
”Ayo!”
* * *
Aih..aih..Sari-chan, "watashi" bukannya berarti "aku"? Mungkin seharusnya "Anata Nihon go-ga wakarimasu ka" kali ya... ^^
Saran saja nih. Bahasa asing selain dalam dialog atau dalam pikiran mendingan diganti bahasa Indonesia saja. Biar konsisten gitu cerita indonesianya.
Waktu Yuko tanya keadaan Tetsu harusnya pake "ka" kan? "Daijabo ka, Tetsu-kun"
Huahahaha...bahasa Indonesianya Tetsuya lucu banget.
Tapi ceritanya fluffy abis ya? Senenag banget jadi si Rana kalo endingnya begitu ^^
Ditunggu lanjutannya...Oya, saranku yang mengenai bahasa jepangnya, bukan berarti aku bisa bahasa jepang lho ya? Aku juga modal nonton anime sama dorama doang..
ahak..ahak..ahak
Yup,Yosi!
"Watashi" itu memang artinya aku. Rana memang lagi tanya sama Tetsu apa dia ngerti sama bahasa Jepangnya. Gw nulisnya "Watashi nihon-go ga wakarimasu ka [Kamu mengerti bahasa Jepangku]?"...
Yang memang sih, daku tak jago2 amat bahasa Jepang. Gomen ne kalo tak sesuai harapan. Lain kali akan lebih berjuang untuk belajar bahasa Jepang yang baik dan benar...hehehehehe
Bdw, thank's buat komen dan kritik membangunnya Mbak Yosi. hehehehe