Living the same life
Over and over again,
But living those without any regrets
is what really matters...
Sungguh, aku selalu merasa berat jika menyadari bahwa aku harus kembali ke New York. Walaupun kota ini adalah kota kelahiranku, tempat aku menghabiskan masa kecilku, dan di sini pula aku mengenal arti cinta.
Ga tau kenapa, aku ngerasa masih ada yang kurang aj, padahal description settingnya udah cukup banget buat nyampein suasananya.. Tapi tetep aku nggak ngerasa kebawa "emosi"nya..
Terus menurutku, yang jadi fokus di cerita ini kurang jelas aja.. Kamu kayak lebih nekenin suasananya, bukan interaksi antara si cewe dan cowo, sampe pas mereka ngorol tuh nggak kerasa apa2..
secara keseluruhan, ceritanya not bad at all. mengenai deskripsi ttg new york, aku blm pernah ke sana, jadi bisa nambah2 ilmu dari sini.
di bbrp paragraf awal masih terasa kurang mulus lompatannya (menurutku loh ya). empat paragraf pertama masing2 mendeskripsikan perasaan saling bertentangan yg hampir sama, maksudnya sama2 membicarakan pertentangan kata hati, membicarakan topik yg menurutku masih senada. mungkin lebih enak kalau dipadatkan lagi.
paragraf selanjutnya, persisnya para-9 yg diawali dengan: "Bukan hanya di Rockefeller Center..." terkesan mengulangi/monoton krn pada para sebelumnya sudah diawali dengan:"Tidak hanya itu.", apalagi dalam jarak yg sangat berdekatan. mungkin CUT langsung ke: "Madison..."? (well, just a thought)
selebihnya, tepatnya setelah pertemuan sosok 'Aku' dan Emma, aku baru merasakan kelancaran bercerita.
image new york yang berbeda dengan image di kepala saya ^^ yah, interpretasi memang selalu berbeda.
hmmm... komen ya?
entahlah, sef ^^ kali ini sedikit terpatah paragraf demi paragrafnya juga adegan demi adegan. jujur, saya ngga dapat feelnya.
tapi sepertinya karena saya sedang lelah saja sepulang wedding
Ide yang muncul tengah malam. Terima kasih untuk Adrian Achyar yang selalu menjadi teman diskusi setiap malam. Luv u, dear. Enjoy this story, ditunggu komennya..
Rantai itu bergemerincing lagi, memaksanya untuk tetap diam. Pedih rasa sunyi menyayat-nyayat dinding batu yang gelap. Suara yang didengarnya seperti ... lanjut baca
LELAKI itu mendekat. Semakin dekat. Ia datang dengan lengkungan di bibir. Hari ini ia mengenakan kemeja biru muda dan celana hitam. Wajahnya begitu se ... lanjut baca
Asam berwarna kecut
rasanya biru terang
Berpadu aroma lemon
segar merintih
Butir-butir kristal menjadi pasir
Larut bersama raga kecoklatan
Kot ... lanjut baca
Kamu pasti tidak lihat langit semalam, bintangnya semua muncul! Ada rapat dengan Tuhan katanya. Ah, kamu kan tahu kalau aku tidak mengurusi yang begit ... lanjut baca
Banyak wajah-wajah berwarna asam
Satu berarti delima
Putih pun ingkar
Pagar-pagar mulai bicara, "inikah kita?"
Desahan pelan berlalu dalam gamang. ... lanjut baca
Sepasang mata menatap merayu
Aku tak ragu!
Lembut ucapannya membius
Aku memilih tak mendengar!
Tawanya sumbang
Merah pipinya membakar jiwaku!
Bilang m ... lanjut baca
Sebuah cerita yang terinspirasi dari kisah teman kampusku. Teman-teman, komen yah...
SEMILIR embusan angin menyibakkan helaian rambut yang terger ... lanjut baca
Hooa.. aku menulis lagi! :D Teman-teman, mohon komennya yah..^^
Karang besar itu tempat aku menulis perih ini. Jiwaku porak-poranda. Bisu adalah pili ... lanjut baca
Bukan berarti aku melupakan malam
ketika bintang
kurasakan mulai temaram
Waktu berlalu
berjalan melintasi riak gelombang
hingga tak satu pun dari ... lanjut baca
"Cerita ini terinspirasi dari puisi karya Toto Sudarto Bachtiar yang berjudul "Gadis Peminta-minta". Teman-teman, komen yak..^^"
Aku merapatkan jaket ... lanjut baca
Ini kehadiranku yang pertama kalinya dikota Apel, kota yang pernah membuat seluruh dunia heboh dengan runtuhnya Twin Tower pada tanggal 11 september 2 ... lanjut baca
Semula kukira dari awal perjalananku akan diisi dengan lamunan tentang Tammy dan apa yang akan kulakukan disana untuk bisa menegaskan cintaku seratus ... lanjut baca
Kayla jumped out of the yellow public bus before the tires even screeched to a stop. She ignored the annoyed warning from the driver, and hurried insi ... lanjut baca
THE KITE RUNNER
Membaca novel dan menonton film The Kite Runner sama asyiknya. Mungkin karena penggarapan filmnya dilakukan oleh Hollywood, dengan ... lanjut baca
Ini ada beberapa skenario film yang gua dapat, bagi yang berminat silahkan email gua dan kasih tau mau yang mana. Beberapa mungkin ada yang ga sama de ... lanjut baca
Awalnya aku ga kan mo bilang siapa _rufi_. Tapi aku ga ingin dianggap sebagai seorang pengecut. Lagian sedikitpun aku ga pernah da maksud apa-apa. Kal ... lanjut baca
Three boxes of Marlboro menthol and a bottle of vodka were ornamenting the coffee table where I put my legs above it carelessly. I don’t give a damn ... lanjut baca
London, November 2006
I sat alone, wrapped in a dirty bath towel, chain smoking. Josh Groban was playing faintly on the radio, the television turne ... lanjut baca
Mula-mula bangkai, lalu ikan-ikan di lautan, kemudian binatang-binatang yang merayap di atas tanah, kemudian burung-burung yang berterbangan di angkas ... lanjut baca
The Girl in Red
She walks in a bright light
Against the sun’s light.
Two eyes spread light
Killing any rose around;
Melted with the ground
A ... lanjut baca
Ga tau kenapa, aku ngerasa masih ada yang kurang aj, padahal description settingnya udah cukup banget buat nyampein suasananya.. Tapi tetep aku nggak ngerasa kebawa "emosi"nya..
Terus menurutku, yang jadi fokus di cerita ini kurang jelas aja.. Kamu kayak lebih nekenin suasananya, bukan interaksi antara si cewe dan cowo, sampe pas mereka ngorol tuh nggak kerasa apa2..
hehe, no offense y.. cuma komentar =D
ini bagus...cuma alangkah bagusnya lagi kalau ada flashback kenapa mereka putus lebih detail lagi??
saran loh ^^
Prens read my short story & my poems and give ur comment yaaa
bagus kok.. aku cuma stuju aja ama bluer di bagian deskripsi tempat. beberapa seems a little redundant.
untuk suasana NY sih dapet,cuma untuk ceritanya agak kurang...
secara keseluruhan, ceritanya not bad at all. mengenai deskripsi ttg new york, aku blm pernah ke sana, jadi bisa nambah2 ilmu dari sini.
di bbrp paragraf awal masih terasa kurang mulus lompatannya (menurutku loh ya). empat paragraf pertama masing2 mendeskripsikan perasaan saling bertentangan yg hampir sama, maksudnya sama2 membicarakan pertentangan kata hati, membicarakan topik yg menurutku masih senada. mungkin lebih enak kalau dipadatkan lagi.
paragraf selanjutnya, persisnya para-9 yg diawali dengan: "Bukan hanya di Rockefeller Center..." terkesan mengulangi/monoton krn pada para sebelumnya sudah diawali dengan:"Tidak hanya itu.", apalagi dalam jarak yg sangat berdekatan. mungkin CUT langsung ke: "Madison..."? (well, just a thought)
selebihnya, tepatnya setelah pertemuan sosok 'Aku' dan Emma, aku baru merasakan kelancaran bercerita.
well, again, just a thought
in japan called 'Rondo'
kaleeeeeeeeee
image new york yang berbeda dengan image di kepala saya ^^ yah, interpretasi memang selalu berbeda.
hmmm... komen ya?
entahlah, sef ^^ kali ini sedikit terpatah paragraf demi paragrafnya juga adegan demi adegan. jujur, saya ngga dapat feelnya.
tapi sepertinya karena saya sedang lelah saja sepulang wedding
saya menunggu tulisan selanjutnya ^^
whaw,, dingin yaa,,
BGT SEF.....
deskripsina oke banget...
keren..
keep writing