Aku mengamit langkah
mari berpikir dengan dahi di lembut tanah
karena terlalu lama benak mendongak pongah
Kau dan aku
melayar tungkai akal
jejak menjejak geladak kapal
Ini
Kita di ambang gerbang sempit
mari kuatkan genggaman sedikit
karena gerai tirai menawar pahit
Lalu tiba senyummu atas darat
lupakan laut
mabuk
lumba-lumba
bahkan camarnya
Ini aku tanpa layar
coba ajar belajar
Dan
aku mengamit lengan
Saatnya mencium tanah kelahiran
tempat hidungmu beradu dengan
miskinnya hatiku tertinggalkan
christ
05.171008.23.45
Rating
169
points
Views: 30 reads
Comments: 28
Rating:
Comments: 28
Rating:

Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati

mantap kali lae.. tak pernah aku memikirkan ide itu sebelumnya.. ku kasih kau sepuluh..
horas,,
aku sangat menikmati olah katamu yg merendah-membumi ini kawan..
tapi baris akhirmu entah kenapa agak mengganggu kenikmatanku mengunyah? apa karena merendah yang terlalu??
saia menganggapna hiperbol, Om
bener-bener cengeng saat saia baca kesekian kali
makasih banyak komentarnya, om
kuatkan lagi genggamannya sedikit.. hati2 shin nanti pikirannya lepas lagi ke laut..
bagi-bagi donk cara bikin puisi kayak gitu
akhirannya dah bagus, sayang bait depan kurang cair...
dingin banget, Blue
gak sakit kan?
thx commentna
keren-keren-keren-keren-kerennnnnnnnn
Ichi jaad...awas kaw....
kabbbbuuuurrrr...