Asswrwb
Teruntuk Julia, perizinkan aku perkenalkan diriku kepada kesadaran yang engkau miliki. Mohon buka hatimu untuk menerima bertitik-titik tinta yang kurangkai menjadi kata ini.
* * * * * * * * * *
Aku rasa aku adalah Pelangi yang miskin warna. Tak akan kau lihat aku indah. Namun aku coba untuk berikan warnaku disaat tubuhmu gelap tanpa cahaya.
Aku rasa aku adalah Api yang miskin kehangatan. Tak akan kau lihat aku mampu membakar semangat tatkala beku meradang dunia malam. Namun aku coba untuk berikan semua itu tatkala hatimu membeku karena lelah.
Aku rasa aku adalah Udara yang hampa tak bernafas. Sesiapapun aka tersedak tak berharap apapun dari aku. Namun saat kau terjebak dalam gua pengap, aku rela menemanimu dan ambillah aku sampai tak bersisa.
Aku rasa aku adalah mantra yang tak pernah berhasil meminta hujan. Sesiapapun tak akan anggap aku berguna. Namun saat kau terluka dan berharap akan keajaiban, mantraku tak akan pernah berhenti memanjatkan do'a sampai kau terbebas dari sakitmu.
* * * * * * * * * *
"Dan kini kau tau siapa aku, bukan?"
Julia mengangguk perlahan...
"Apakah kau rasa aku pantas?"
Julia terdiam dan berusaha menghindari tatapanku.
"Katakan saja apa inti dari suratmu ini, bang Amri."
Aku sendiri merasa tak sanggup bersuara mengeluarkan kata. Disaat ini aku merasa kerdil. Tak ada yang bisa dibanggakan dari duniaku, orang miskin yang hampir tak dapat meneruskan kuliah. Yang keseharianku mencari hutang agar dapat membeli kertas kalkir dan tinta rapido.
Mobil dan rumah yang terletak di sebuah kompleks perumahan yang lumayan elit juga sudah tinggal kenangan. Ahhh... manusia tanpa kebanggaan, itulah aku.
"Julia ... aku ingin kau menjadi calon istriku?"
Begitu susahnya untuk menyebutkan kalimat itu, sungguh.!! Ntah dari mana datangnya dorongan,
akhirnya aku berani, dan sangat bersyukur telah seberani itu. Karena jawaban yang dia berikan pada saat itu, adalah awal dari kebangkitan Api yang terbungkus dalam sekam di diriku, awal dari bertiupnya angin yang terjebak dalam ruang hampa dalam hatiku, dan awal dari bersinarnya matahari dalam semangatku.
* * * * * * * * * *
"Aku cinta kamu, istriku..."
Semoga kau membaca tulisan ini, Ketulusanmu hingga saat ini sudah sangat jauh lebih dari cukup dibandingkan ribuan tahun.
"aku cinta kamu. sungguh."
Rating
Comments: 12
Rating:

Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
cinta..itu tidak melihat kekayaan...tidak melihat kekuasaaan...cinta itu suci,...
knp ga coba buat puisi aja,,
kayanya keren kalo dibuat puisi,,
hehehe,,
ok jg ceritanya.. ke romantisme nya nampak bgt.. manteph, manteph.. haha...
yang ini abang terburu-buru nih. Sewaktu ungkapan maukah kau menjadi calon istriku? maunya diproses lagi lebbih apaaaa gitu loh.. ^^ BTW yg ngasih 10 namanya JULIA istri abang juga ya? ahiahahaha... *** LARIiiiii...
harusnya bisa di kreasikan lagi, tapi idenya sudah cukup bagus
bagus kok
"Semoga kau membaca tulisan ini, hentikanlah point-2 yang kau berikan ditiap karanganku di sini"
...
Jadi ceritanya ngambek nih nggak pernah dikasih comment lagi 3 hari ini? nih UI kasih.
istrinya suprex juga kemudianer?
kali ini tidak pake point deh..! katanya gak mau! wakakakaa...
pembaca gak diikutkan..! ini penulis yang egois. mungkin seperti diary.
setelah Amri cerita soal anaknya yang hanya dapat 4 kali bertemu dalam sebulan, sekarang cerita tentang istri ni? asik juga. jarang-jarang lo seorang suami mengungkapkan perasaanya seperti ini. tapi aku juga setuju dengan Heripurwoko, kok berasa ada yang kurang ya. mestinya cerita ini bisa terasa sangat menyentuh. btw, jadi beneran nih istri Amri juga kemudianer? wah....wah... lucu juga