Kata Bi Asih dari terminal naik bis Halim jurusan Bandung-Jakarta, nanti berhenti di Kampung Rambutan, naik angkutan kota warna biru muda, terus naik beca ke dalem, udah gitu sampai deh. Iiiih..pusiiing.
11.00 malam.
Farryz langsung naik bis begitu lihat nama bis dan jurusannya sama dengan yang dicarinya. Maklum cewek, bawaannya banyak. Dari mulai baju ganti super banyak (cewek kan biasanya paling demen ganti baju), make up, handuk ukuran kecil, ukuran sedang, ukuran gede, plus kimononya, eh..eh..malah bawa boneka pula.
Read more (3326 words)
Farryz memilih tempat duduk yang tengah, dekat jendela. Tasnya yang gede disimpen dikursi sebelahnya. Mata Farryz langsung nangkring keluar jendela. Ada beberapa pedagang yang nawarin makanan ke Farryz dari luar. Sebagian maksa sebagian ngegodain. Tapi mata Farryz nggak beranjak dari jendela. He..he.., kali ajah ada yang cakep. Cuci mata sekalian, bo!!
Bis itu jalan 30 menit kemudian pas Farryz lagi kesel-keselnya, soalnya bis itu lama banget penuhnya, jadi lama perginya.
"Neng, Neng! Tasnya dikeatasin, ya," ucap Bapak Kondektur tiba-tiba.
"Eh? Iya, iya, Pak. Lupa Pak. Sorry," jawab Farryz gugup langsung berdiri bantuin Bapak Kondektur ngangkat tasnya, padahal lagi ngantuk.
"Nggak apa-apa, Neng."
Dan berjalanlah si bis itu. Pas Farryz udah mau tidur dibalek jaket hitamnya, tiba-tiba ada yang duduk di kursi Farryz dengan kasar kayak keburu-buru, sampai bikin Farryz kaget banget. Apa lagi seeehhh...?!!
"Eh, sorry, sorry. Maaf,” ucap makhluk disebelah Farryz itu begitu ngeliat muka garang Farryz.
Tapi Farryz langsung luluh karena ngeliat makhluk disebelahnya itu cakep banget. Mamamiaaa..., ternyata ada cowok secuco itu di bis yang sumpek ini.
"Lagi tidur, ya?" sambung cowok itu sambil senyum, nggak enak udah ganggu Farryz tidur.
"Untungnya belum. He..he..," aduh! Jawaban apaan tuh?
"Sorry, ya!" sekarang cowok itu bener-bener ngerasa nggak enak, jadi ngomongnya agak memelas.
"Nggak apa-apa lagi." Asli koq nggak apa-apa. Mau digangguin terus juga nggak apa-apa. He..he.. "Nyantai ajah, nyantai," sambung Farryz sok cool.
Cowok itu ngejawab cuman pakai senyuman, no bumbu-bumbu yang lain, kayak tatapan mata seolah baru ketemu cinta sejatinya kek, atau tatapan kagum karena Farryz yang cool kek (sok cool maksudnya), atau uluran tangan kek, syukur-syukur kedipan mata. Jadi ya, that's just it. Dia langsung diem.
Sialan, bukannya ngajak ngobrol.
Ya, sutralah! Farryz nutupin lagi mukanya pakai kerudung jaket hitamnya, sambil melukin lututnya. Tapi koq malah kelihatan nyeremin, ya!
Menit demi menit, walhasil, cowok itu asli diem. Kayaknya dia lagi dengerin walkman deh. Farryz inget-inget lagi muka cowok itu. Kulitnya nggak begitu putih, tapi kalo dibilang hitam juga nggak. Ada beberapa jerawat setengah mateng dipipinya. Dia pakai celana jeans selutut warna biru muda, kaos putih tapi nggak tahu gambar apa, topi hitam Adidas, sandal jepit (wow), plus ransel hitam ukuran sedang.
Tiba-tiba Farryz kaget lagi, soalnya ada yang bergerak di kerudungnya, ternyata cowok itu berusaha ngebuka pelan-pelan kerudung jaketnya Farryz. Ceritanya mau ngintip kali ya, tapi ternyata Farryz tipe sensitif kayak nyokapnya. Kalo ada gerakan luar sedikit ajah, langsung bangun dari tidur sampai loncat. Tapi beda lagi ceritanya kalau lagi pingsan, he..he..(ya iyalah).
"Sorry, sorry," ucap cowok itu lagi kayak yang pertama.
"Eh, iya, iya. Ada apaan emangnya?" tanya Farryz masih dengan ekspresi kaget.
Cowok itu ketawa ngetawain dirinya sendiri, sambil geleng-geleng kepala. "Gue cuman mau nawarin ini," cowok itu nyodorin bungkusan makanan yang udah dibuka ditangan kanannya.
Sukro???Bussett!!
"Oh. Makasih deh, tapi gue udah makan," jawab Farryz agak bengong.
"Sorry, lho. Gue nggak maksud ganggu lu," ucap cowok itu nepuk bahu Farryz pelan-pelan banget, soalnya cowok itu takut Farryz malah ngamuk nyangkain dia pegang-pegang ala hidung belang. Cowok itu masih inget garangnya muka Farryz pas pertama dia duduk. "Sorry, ya!" tambahnya lagi nempelin kedua telapak tangannya didepan dadanya.
"Nggak apa-apa, lagi. Nyantai ajah, nyantai maaan," jawab Farryz lagi-lagi sok cool, malah kadarnya nambahin.
Cowok itu geleng-geleng kepala. "Gue nggak tahu kalau lu udah tidur beneran. Soalnya baru 10 menit terakhir tadi."
"Oh, gue emang gampang tidur, tapi gampang juga bangunnya," jawab Farryz sok tenang, alias (masih) sok cool.
"Pantesan. Soalnya gue orangnya susah tidur. Butuh 1 sampai 2 jam buat nyenyak."
"Oh, ya??"
"Serius, lho. Nggak tahu kenapa."
"Banyak pikiran kali," Farryz tertawa jahil, jadinya sksd alias sok kenal sok deukeut.
Cowok itu ketawa. "Nggak lagi. Mikirin apa kali?!"
"Utang."
Cowok itu ketawa lagi, Lucu kali, ya? "Lu sendiri koq bisa cepet gitu tidurnya? Apa rahasianya?"
"He..he.., itu sih turunan."
Eh, cowok itu ketawa lagi. Mungkin dia salah nyangkain Farryz sama Jojon. "Gue turunan juga kali, ya?"
"Nah, menurut lu, bokap atau nyokap lu yang susah tidur?"
Cowok itu diem dulu buat mikir, terus ketawa aneh. "Setahu gue, bokap nyokap gue jago tidur."
Akhirnya mereka berdua ketawa.
Dengan situasi yang udah enak kayak gitu, cowok itu langsung nyodorin tangannya. Kenalan ceritanya. "Udah ngobrol gini koq nggak kenalan. Nama gue Nia."
"Hah? Nama cewek?"
Cowok yang ngaku nama Nia itu cuman senyum. Kayaknya udah biasa dengan pertanyaan seperti Farryz.
"Gue Farryz," sambung Farryz.
"Wah, apa nggak kebolak?" tanya Nia.
Farryz sempet bengong, tapi akhirnya nyadar juga kalau namanya itu kayak nama cowok. Ketawa berdua lagi deh. Curiga dua-duanya calon Jojon.
"Lu mau kemana, nih?" tanya Nia.
"Ke Kampung Rambutan, rumah bibi."
"Oh, kunjungan keluarga nih ceritanya?"
"Bukan. Bibi gue kebetulan punya bisnis keluarga. Berhubung anak-anaknya masih pada kecil, berhubung suaminya bussines-man, juga berhubung keluarga gue paling deket sama keluarga bibi gue, ya udah deh, gue diutus untuk ngebantuin bibi gue. Belum termasuk alasan karena gue nganggur alias nggak punya duit, dan gue butuh duit. He..he.."
Nia ngangguk-ngangguk puas dengan jawaban Farryz. "Siapa sih yang nggak butuh duit. Bener nggak?!"
"Betul," jawab Farryz ala Ketul.
"Seterusnya disana atau cuman sebentar?"
"Yah, gimana kerjaan juga sih. Tapi nggak sampai dua bulan kayaknya gue udah balik ke Bandung. Lu sendiri mau kemana?"
“Kerumah orangtua gue."
Yaaahh.., hancur hatiku. Berarti nih cowok asli orang Jakarta. Berarti kalau nanti Farryz pulang ke Bandung, nggak bakalan bisa ketemu lagi donk. Nasib ya nasib.
"Oh. Di Bandung ngapain?"
"Kuliah. Jadi gue kost di Bandung," jawab Nia lengkap dengan senyumnya.
Waduh!! Nggak salah denger nih? Berarti, kesempatan ketemu bakalan ada donk, ha...ha...ha...
"Kenapa?" tanya Nia aneh ngelihat ekspresi Farryz yang senyum-senyum kayak orang punya penyakit saraf.
"Eh? Nggak, nggak," jawab Farryz malu.
"Bacang angeut, kacang angeut, tahu angeut, angeut, angeut. Segala angeut," teriak emang-emang.
"Eh, lu mau bacang nggak?"
"Ogah, ah."
"Tahu?"
"Nggak juga."
"Kacang?"
"Apalagi."
"Jadi?"
"Jadi apaan? Ya, nggak mau ajah. Gue orangnya jarang ngemil lagi."
"Pantesan," ucap Nia sambil ngeliatin badan Farryz yang agak kurus. Farryz yang dari tadi setengah memeluk lututnya dengan cuek diatas kursi (masa diatas bis), sekarang bener-bener melukin lututnya, soalnya risih dilihatin Nia.
"Pantesan apa?"
"Lu kurus."
Farryz meng-huuu dalam hati. Untung tingginya standar, kalau nggak, Nia pasti bakalan lihat Farryz kayak tiang listrik. Itu kalau ketinggian, kalau pendek, mungkin Farryz bakal dikatain kurang gizi. Udah kurus, pendek lagi.
"Lu kost dimana?" tanya Farryz.
"Di Dago."
Oh, pantes tampangnya gaul gini. Kayaknya tiap hari kenyang tuh gaul di Dago.
"Asyik donk!"
"Asyik apanya?"
"Dago kan rame terus. Apalagi malem Minggu. Ancur tuh Dago sama anak muda."
Nia ketawa kecil. "Siapa bilang? Justru gue bosen di Dago terus, karena ramenya itu lho Ryz. Jadi gue rencananya mau pindah kost."
"Wah, sayang tuh. Padahal kan banyak cewek cakep di dago. Apalagi SPG-SPG pas lagi malem Minggu. Muantaf boo!"
Nia ketawa lagi. "Berarti lu suka ngecengin cowok di Dago ya? Ayo ngaku!"
Ngedenger pertanyaan Nia, Farryz jadi blingsatan malu. "Nggaklah," jawab Farryz lalu diam sesaat. "Dikit," tambahnya lagi manyun.
Nia kontan ketawa.
"Koq, ketawa sih? Emangnya gue nggak boleh ngeceng ya?"
"Ya boleh donk!" jawab Nia berusaha nahan ketawa. "Dapet nggak cowoknya?"
"He..he.., nggak tuh."
Nia ketawa makin gede.
"Eh, tunggu dulu," protes Farryz. "Lu sendiri udah punya cewek belon? Kali ajah kost di Dago tapi nggak punya cwewk. Kan, lebih kasian daripada gue.”
"Ada deeeh," jawab Nia tertunduk malu. Wah, kalo ngedenger jawaban kayak gini berarti dia udah punya cewek. Berhubung dia sedang berhadapan sama cewek, jadi jawabannya suka nggak jelas. Ya, nggak apa-apa deh. Daripada ngedenger jawaban 'punya', mendingan jawabannya kayak tadi ajah. Jadi misterius kesannya, huehuehue...
"Eh, btw. Rumah lu dimana?"
"Kenapa? Lu mau ngapel kerumah gue?" goda Farryz.
"Oh, lu mau gue ngapel kerumah lu?" Nia balik godain.
"Iya, ngapel kamar gue, ngapel dapur gue, ngapel ruang tamu, ruang makan, semua rumah gue ajah sekalian."
Nia ketawa lagi lihat Farryz nyerocos tanpa titik koma.
"Eh, lu ko naik bis yang lewat puncak sih? Kan ada yang lebih cepet," tanya Farryz sambil mandangin jalanan malam lewat jendela.
"Supaya lama," jawab Nia santai ikut-ikutan mandangin jalanan.
"Hah?!" kepala Farryz langsung berputar 180 derajat kearah Nia. "Orang pengen cepet, koq lu malah pengen lama?"
Nia nyengir. "Boleh donk! Kadang-kadang pemandangan malam lebih asyik daripada siang. Kadang malah pengen lama-lama di bis."
Nggak tahu Nia yang nggak nyambung alias bodo bin stupid atau Farryz yang telmi, ya? Jadinya Farry nggak ngerti-ngerti amat sama jawaban Nia.
"Kalau lu ngobrol terus sama gue, gimana mau nikmatin pemandangan?"
"Nah, bagus kan? Empat jam ngobrol di bis sama temen cewek baru. Daripada naik bis 2 jam. Kan ngobrolnya jadi sebentar.”
"Oh," balas Farryz rada GR. Harusnya sih jawaban Nia lebih konkrit lagi. Misalnya, bagus kan, gue bisa ketemu lu, nggak sangka deh. Atau, bagus kan gue bisa ketemu cewek cakep kayak lu. Jadi GR-nya puguh, nggak ragu-ragu.
"Kalau lu sendiri kenapa pilih bis yang lama, hayo?" Farryz diserang balik.
"Eh, sebenernya nggak jauh beda juga sih. Gue pengen lihat pemandangan puncak. Kan bagus banget tuh."
"Oh," bales Nia enteng. "Lu suka pemandangan alam puncak gitu ya?"
"Gue suka banget sama pemandangan. Tapi bukan cuman pemandangan alam doang. Pemandangan kota juga gue suka. Kayak pemandangan kota-kota besar dari atas, atau pemandangan kota Las Vegas waktu malam. Kan asyik tuh."
Nia mangut-mangut ngerti.
Bis itu berhenti di perempatan. Ada beberapa pedagang malam yang masuk. Saat itu Farryz sama Nia lagi ngomongin pemandangan.
"A, permennya 'A. Teh permennya teh," tawar salah satu pedagang ke Nia dan Farryz.
"Mau nggak lu?" tanya Nia.
"Nggak," Farryz menggeleng, kecil-kecil tapi mantap.
"Yang lainnya nggak mau? Tuh ada keripik, bakpia, biskuit."
"Nggak," kali ini Farryz geleng kepala lebar-lebar.
"Heran nggak mau apa-apa," gumam Nia. Nia malah beli permen tiga bungkus besar, dua macam biskuit cokelat, masing-masing dua buah, dan keripik pedas. Gileee, tinggal Farryz ajah yang bengong ngeliatnya.
"Iiih! Lu maruk. ya?"
"He..he..he..," Nia nyengir cuek.
"Koq, bisa sih makan sebanyak itu?"
"Apa? Banyak? Segini sih sedikit Ryz," jawab Nia sambil buka permen.
"Sedikit? Kalau porsi banyak menurut lu segimana?"
“Wah, lu tahu porsi tukang beca atau kuli bangunan segimana?"
"Tahu. Paling 2 piring nasi."
"Salah! 2 bakul kali! Nah, gue bisa dua kali lipatnya mereka," Nia ketawa lagi.
Hah!! Nggak salah denger. Cowok secakep dan seatletis Nia makannya buuanyaak banget. Apa cewek-cewek nggak il-fil tuh lihat dia makan? Tapi Farryz berusaha tenang. Kali ajah Nia cuman ngibul, sok maruk supaya nggak kelihatan jaim.
"Makanya kalau gue ngedate, paling doyan ketempat makan," ucap Nia sambil makan permen.
"Jadi lu nggak suka nonton, atau ngedugem gitu?"
"Mau nonton kek, mau ngedugem kek, atau ngeronda kek, apapun itu, ujung-ujungnya harus makan."
Bussyeeett!!
"Lu kalau pergi sukanya kemana?"
"Belanja donk!" jawab Farryz malu-malu tapi tegas.
"Matre donk lu?"
"Enak ajah! Gue belanja pakai duit sendiri tahu! Maksud gue, duit orang tua gue," Farryz protes.
"Oh, jadi kalau lu belanja paling seneng ditemenin cowok lu, gitu?"
"Eh, yang namanya belanja paling nggak enak kalau sama cowok. Ya kelamaanlah, capeklah, tapi kalau diminta saran paling susah."
"Lho, kan gue nanya kalau ngedate paling demen pergi kemana. Lu bilang belanja, tapi tadi bilang paling males pergi sama cowok."
Farryz diam sesaat. "Oh, kencaaan! Aduh! Nia, Nia. Bilang dong! Lu kan tadi nanyanya kalu gue pergi, sukanya pergi kemana, bukan nanya kalau gue pergi sama cowok sukanya kemana."
Nia bingung. Jangan-jangan Farryz konslet.
Lalu Farryz meneruskan ocehannya yang tanpa dosa. "Kalau gue kencan suka kemana, ya?" Farryz ngoceh sendiri, tapi gerakan kepalanya jadi rada genit (itu konslet namanya). "Ah, kemana ajah deh, asal jangan terlalu rame gitu. Kayak dugem gitu, gue nggak suka deh. Teu puguh gitu lhoo," ucap Farryz dengan akhiran O dimulutnya.
"Wah, anak baik dong?"
"Iya dong," jawab Farryz PD. Gue nggak suka tempat rame. Jadinya kalau kencan ketempat kost-annya semaleman, atau kalau dia bukan anak kost ya ke hotel ajah."
Nia kaget denger jawaban Farryz, tapi Farryz malah ketawa.
"Gue becanda dodol," lanjut Frryz sambil ketawa.
"Masya Allaaaah!! Gue kira beneran," ucap Nia sambil ngelus-ngelus dada. Akhirnya dia ketawa deh. Seumur-umur, pengalaman banyak ketawa dibis, ya cuman ini ajah. "Sebenernya sih kemana ajah ngedatenya, asal sama pacar sendiri, ya asik-asyik ajah."
"Betul!" teriak Farryz, nggak sadar orang-orang pada nyari sumber teriakannya.
5 detik diem-dieman.
"Eh, bener lu nggak laper? Stock gue ditas masih banyak koq," tanya Nia sambil makan keripik pedes.
"Nggak koq, suer."
"Nia ngerogoh tasnya ngeluarin sesuatu. "Kalau gitu minum ajah ini."
"Apaan tuh? Bajigurr??"
"Eh, salah, salah," Nia langsung ngebalikin botol minuman transparan yang isinya kayak bajigur itu. Trus ngeluarin minuman kaleng. "Nah, Pocary Sweet. Suka kan?"
"Suka banget. Thanks ya," jawab Farryz sambil nerima PS alias Pocary Sweet. "Koq, lu bawa bajigur segala sih?"
"Aduh neng, itu bukan bajigur, tapi mokacino."
"Oh. Abis warnanya sama sih."
"Nah, ketahuan. Berarti lu suka beli bajigur ya?"
"Mau bajigur, bandrek, cendol, cingcau, suka-suka ajah gue mah. Tapi kalau lagi mood, hehehe.”
"Yeee, kalau lu jadi cewek gue nih, gue ajak makan terus deh, biar gemook."
He..he.. mau donk. Jadi ceweknya maksudnya.
"Ah, lu sih bukan pengen ngegemukin badan gue, tapi pengen ditemenin makan ajah."
"Eh, koq tahu sih. He..he.., akika jadi malu. By the way, kalau nanti ada istirahat, lu nggak bakalan makan donk?"
"Tergantung perut gue-minta diisi apa nggak."
"Yaela, bahasanya. Ya, mudah-mudahan perut lu laper."
"Lha, emangnya kenapa?"
"Jadi gue ada temen makan, huhuehueheu..."
"Slompret lu! Lu kata gue baby sitter lu?"
"Lho! Kan lu lagi nganggur. Ini tawaran freelance 4 jam lho," canda Nia.
Farryz mendengus kesal sambil menyilangkan tangannya. "Ngeledek nih! Emangnya lu mau bayar gue berapa?"
"Bayarannya cuman traktiran makan. Itu juga kalau nanti ada break."
"Kalau gitu untung deh. bayarannya bukan duit. Kalu duit, pasti gue terima."
Nia geleng-geleng kepala. "Dasar cewek matre."
"Hus!! Sembarangan! Bukan matre, tapi materialistis."
"Oh, jadi beda yah?" tanya Nia sok polos.
"Beda dong! Lagian siapa sih yang nggak butuh duit. Everybody need money gitu lhooo..."
"Terus kalau udah dapet duit buat apa? Buat makan, kan?"
"Ya nggak buat makan ajahlah. Buat minumnya juga harus diperhitungkan. Belom minyak tanah buat masaknya, minyak goreng, dan sabun pencuci piringnya."
"Oooh," Nia mangut-mangut. "What ever you say-lah Ryz. Yang penting kita-kita pada nyari duit buat makan, kan?"
"Nggak. Buat beli baju, make-up, creambath, jalan-jalan, de-el-el pokoknya."
"Nah, kalau perut kita kelaparan, masa kita keukeuh mau beli baju? Nggak, kan? Pasti perut dulu diutamain."
"Nggak juga. Kan kita masih punya orang tua."
“Bussyeeett dahh!”
"Aduh! Nia, Nia. Lu tuh emang kesurupan setan makanan kali, ya? Tapi heran koq lu nggak gemuk."
"He..he.., turunan kali."
"Ah, yang bener?! Tapi dari cerita lu sih, pantesnya lu gemuk, lho."
"Eh, gue kan sering olahraga. Basket dooong." jawab Nia bangga.
"Ooh...," balas Farryz takjuk.
"Kenapa? Nyadar ya, kalau badan gue atletis?"
Farryz lagi-lagi mendengus kesal, soalnya emang bener. Tiba-tiba Nia memegang pergelangan tangan Farryz.
Weits!! Apaan nih? Jangan-jangan si Nia jatuh cinta sama gue. Masa mau nembak dibis sih! Nggak apa-apa dink. Kejadian langka. Bisa masuk Ripleys nggak yah?
"Tuh lihat tangan lu! Kecil banget. Kurus. Tulangnya kerasa gini," ujar Nia.
Sialan! Dikira mau ngapain.
"Biarin ajah! Lu sirik, ya?!" jawab Farryz kesel soalnya nggak jadi nembak.
"Lho, koq jadi marah sih? Itu tandanya gue perhatian sama lu."
"Gimana mau perhatian, kita kan baru ketemu."
"Emangnya kalau kenal lama baru boleh perhatian?" tanya Nia stay cool.
"Iya dong!"
"Taela, ini anak."
"Udah, ah! Ngomongin makanan mulu, pusing."
"Ngomong makanan ajah udah pusing. Gimana disuruh makan?"
"Ya makan sih makan.. Tapi heran ya, gue baru nemu orang yang semaruk lu."
"He..he.., jadikanlah itu pengalaman baru untukmu, nak!" ujar Nia menepuk-nepuk bahu Farryz seperti seorang guru kemuridnya.
"Terimaksih, terimakasih," balas Farryz malas.
Diem-dieman beberapa detik.
"Koq diem?" tanya Nia.
"Baru gue mau nanya. Koq lu diem?"
"Lho koq balik nanya?"
"Emang gue mau nanya itu koq."
"Ya udah, lu jawab gue dulu dong."
"Enak ajah, lu dulu dong yang jawab."
"Lha, kan gue nanya duluan."
"Ah! Itu sih gue kalah cepet ajah."
Nia bengong. Udah bengongnya abis, Nia malah ketawa-ketawa sambil ngacak-ngacak rambut Farryz. Dikira Farryz, Nia beneran kerasukan.
"Aduh Ryz. Lu tuh ngocol banget tau nggak sih?"
Farryz ngangkat alis (bisa emangnya diangkat?).
"Lu gini ama tiap orang atau orang-orang tertentu ajah sih?"
Farryz langsung mikir. Jari-jari tangannya bermain-main mengetuk-ngetuk bibirnya.
"Lu pemah punya cowok, kan?"
"Ya pernahlah! Lu kata gue nggak laku.”
"Iya deh, gue yakin lu laku. Cuman ama cowok lu sendiri, apa sikap lu kayak gini juga?"
"Kalau iya kenapa dan kalau nggak kenapa?"
"Ahaa...," teriak Nia kayak nemu emas dibiz. "Gue akan nanggep jawaban lu yang pertama. 'Kalau iya'. Orang biasanya menempatkan jawabannya dipilihan pertama kayak lu tadi.”
"Buzet! Udah jadi tukang makan sekarang lu alih profesi jadi tukang psikologi?"
"He..he.., multi-function banget, kan?"
"Tapi iya sih. Sikap gue sama temen dan cowok gue emang sama. Mungkin gara-gara itu kali ya, gue susah dapet cowok."
"Siapa bilang?"
"Temen-temen gue.”
"Ryz, Ryz," ucap Nia geleng-geleng kepala. " Lu tuh asik tau nggak? Pertahankan apa yang ada didiri lu donk. Buang yang jelek, pertahankan yang bagus. Dan menurut gue, lu bersikap kayak gitu ke cowok lu, sama sekali nggak jelek koq.”
"Tapi kan cowok sukanya yang manis-manis, manja-manja. Kayak manis manja group gitu," canda Farryz.
"Mungkin itu bener. Tapi pada dasarnya kita jadian sama orang yang mau menerima kita apa adanya, kan?"
"Hmm...?” muka Farryz bloon banget.
"Jujur ajah Ryz. Gue malah suka tipe kayak lu gini.”
Muka Farryz ngedadak mirip tomat.
"Bisa dijadiin cewek dan bisa dijadiin temen. Jarang-jarang ada pacar bisa dijadiin temen kan?”
Farryz berharap'Nia-bakal nembak Farryz
"He..he.., tapi lu jangan gr, ya.”
Hilang sudah harapan Farryz.
4 jam kemudian sampailah mereka di terminal. Farryz bingung. Arahan angkutan kota sama becaknya tidak berlaku pada jam itu. Terpaksa Farryz merogoh uang buat naik taxi. Nia juga sama. Tapi sayang, tempat yang mereka tuju berbeda 180 derajat. Jadi nggak bisa barengan.
"Nomer gue udah di save kan?" tanya Nia.
"Udah. Kalau nomer gue?"
"Udah. Nomer lu nggak ada bedanya sama nomer togel.”
"Sialan lu!"
"He..he.. Ya udah. Sampai berjua lagi ya.”
"Emang gue mau ketemu lu lagi?"
"Lho, nyesel lho kalau gue udah terkenal ntar. Lu malah susah ketemu sama gue.”
"Iya, terkenal tukang makan. Hauhauhauhauhau..." Farryz ngakak puas.
“Ih, dasar gendeng. Ya udah, salaman dulu donk.”
"Ah, lu kayak yang mau pisah ajah.”
"Lho, emang kita mau pisah kan?"
"Tapi ntar kita kan ketemu lagi."
"Emang gue mau keemu lagi?"
"Ye..copy-paste lagi.”
Sambil jabatan tangan Nia ngacak-ngacak rambut Farryz karena merasa gemas. Farryz lumer (beuh).
"Udah ah. Bye!" Farryz lari duluan sambil ngangkat tasnya yang berat, soalnya sedih banget mesti pisah sama cowok yang seasyik Nia. Mending meninggalkan deh daripada ditinggalkan. Farryz nggak mau kelihatan sedih didepan Nia. Baru ketemu 4 jam tapi koq berat banget pisahnya, pikir Farryz.
Keesokan harinya, Farryz dapet sms kaget dari Nia.
Eh dodoll Bangun lu. Malu sama matahari.
Eh, lu yg dodol.Gue dari pagi dah bangun kale. Cuman ngantuk. Jadi tidur Ig.
Kalah donk ma gue. Gue ga tdur sm skli lho. Tp bgt nyampe rumah kmren mata gue nutup truz. Nah itu apa namanya?
Itu namanya lu mati suri. Heran jg lu msh bs slamet pake acara sms gue sgl.
Dasar konyol ga ilang2. piara trozz..
Gue konyol lu bego, mau ajah temenan ma orang konyol..
He3, gue laper nech, mau makan dulu
Ya3.1st think on ur mind is food, 2nd is food, and 3rd think is food
Wakakaka ktmu orangnya ga d sms. lu tuh jago bgt bikin gue ketawal!
Lu piker gue jojon..
Ya..ya..ya.. Sampai mereka janjian ketemuan lagi di mall, mereka tetep konyol-konyolan and bego-begoan (ck ck ck).
Rating Views: 40 reads
Comments: 4
Rating:
Favorites You have to login to access this feature
click here Flag You have to login to access this feature
click here
ini part 1 yah?
akhirnx jadian g?
mbok d terusin
yah..
puanjang, dan luama... tapi bukan choki-choki
Wah... kamu betah yak bikin cerita.
Kekonsistenan minat mu membangun cerita patut diacungi jempol.
Tapi... ada beberapa break point yang mungkin bisa coba saya telaah. Kalau kamu g setuju ya... gpp deh..
1. Nama Farryz untuk karakter perempuan. Sepertinya terlalu janggal aja. nama farryz lebih lumrah untuk cowok. Menurutku..
2. Penggunaan konteks bercerita dengan format dialog. Sepertinya terlalu banyak jeng. Pembaca juga perlu disuguhkan penarasian. coba di-cutting beberapa dialog yang bisa diubah formatnya menjadi penceritaan penarasian. Karena terus - terusan disuguhi serangkaian dialog juga rawan banget memnbuat "bored" beberapa pembaca (include my self)
3. Masalah format penyajian. Spasi2 nya mana jeng. kadang masalah ini sepele bagi penulis tapi penulisan yang rapi akan membantu pembaca dalam menelaah lebih dalam dan tidak menimbulkan perasaan ingin cepet2 menyelesaikan bacaan ini.
Oke ... nice job