Gue suka dengan filosofi Danu.Hidup adalah pilihan...
Walaupun telah digariskan garis kehidupan seseoranng oleh Yang Maha Esa, kehidupan seseorang tidak akan berubah kalau orang tersebut tidak merubahnya...
Ekspresi datar, tapi kok teriak-teriak histeris? Aku nggak bisa membayangkannya...
Untuk jarak Patra dengan tepi bangunan (5 meter...) cocok dengan karakternya yang pengecut. Hanya saja, pencerita memberi keambiguan dengan menambah kata 'saja' di belakang kata 5 meter.
Untung juga karena ia pengecut, ia tidak pinsan di tepi bangunan. Kalau iya, pasti mati, dong.
Yah, aku suka dengan pesan yang disampaikan. Percuma nyalah-nyalahin orang. Mending cari makan enak.
Selamat berkarya!
teknik penceritaan sudah mapan. kamu berhasil memaju mundurkan timeline-nya dengan pas. suspense juga terbangun. hanya saja setting cacat. padahal untuk model cerita sepeti ini perlu banget lho, terlebih setting tempat Patra akan bunuhdiri. kamu (seharusnya) menyebutkan secara jeli suasana tempat untuk bunuh diri itu, seperti misalnya rumah itu beratap cekung/rata seperti apartmen, berpagar/tidak, di balkon kamar/tempat jemuran/"penthouse". ini penting untuk menambah suspens sehingga pembaca akantahu apa saja yang dilakukan Patra secara "lebih dekat." Karena bagiku setiap gerakan tubuh Patra sekecil apapun akan begitu membumbui jika settingnya terbangun rapi.
Lalu, bagiku jarak 5 meter antara Patra-sisi gedung(yang kamu sebut dalam cerita) BELUM DAPAT DIKATAKAN posisi "pas" untuk bunuh diri. umumnya, kalau emang mo bunuh diri, si (calon) pelaku akan berdiri di bibir tembok sambil melihat ke bawah antara memikirkan untuk terun atau tidak. tapi kalau lima meter...