great piece of work, nis ... tapi entah kenapa aku bacanya kayak lagi baca reportase gitu di salah satu majalah wanita hehehe mungkin karena penceritaannya kurang melibatkan emosi, sehingga kesannya seperti kurang menggigit. tapi tema yang kamu angkat bagus, kok, tinggal digali lagi gimana cara penyajiannya biar lebih sedap ;p
“Nggih, Pak Lik..menawi mboten kados ngeten, kulo mboten saget budal..â€. Dia bilang, kalau tidak ngakali umur, dia tidak akan bisa pergi.
dan..
“La iya..Ibumu sing ora setuju karo aku..†Nenekku di kampung disebut, katanya beliau tidak setuju melihat anak2nya dikirim ke Arab karena belum cukup umur.
bener..bahasa jawa sebaiknya diberi sisipan arti. Kan yang baca ga semuanya bisa bahasa jawa. Mungkin emang ga terlalu ngaruh sih, tapi kan ga ada salahnya.
========
be always thankful...
entah kenapa aku merasa ada beberapa bagian dialog yang seharusnya tidak perlu ada, dalam arti tidak perlu dijadikan dialog melainkan cukup narasi karena "keberadaannya" tidak terlalu penting sebagai dialog.
aku bilang dengan kata "entah Kenapa" karena aku sendiri tidak yakin lho. ini semata-mata apa yang kurasakan saat baca kisah ini saja