Saya ngerasa ada sedikit kesan 'terbata-bata' atau 'terputus-putus' dalam gaya deskripsi kamu. Sebenernya bagus juga untuk selalu nyelipin monolog di sela-sela dialog, tapi jangan sampai keasikan dan lupa dengan deskripsi. PAs adegan yang malam-malam itu rasanya suasananya udah mendukung dan seru, tinggal cara penggambarannya aja. Lanjut!
Aduh, bingung, saya nggak sanggup baca sampai habis. Entah mungkin karena saya nggak terbiasa baca cerita fantasi, tapi saya ngerasa banyak gambaran yang terputus-putus ketika saya berusaha membayangkan cerita ini. Untuk cerita dengan konsep fantasi dan hal-hal non-realis, permulaannya terlalu tiba-tiba. Meskipun ada penjelasan Villam, tapi saya lebih prefer dengan cerita yang memberikan pijakan kepada pembacanya (nggak mesti terlalu lengkap, tapi minimal ada dasarnya, pembaca nggak merasa linglung), apalagi memasuki cerita kamu seperti memasuki dunia yang benar-benar asing, dan sebagai orang awam saya tiba-tiba diserbu oleh berbagai nama dan istilah-istilah alien--entah dari planet mana--yang tidak dikenal. Oh ya, rasa penasaran saat orang membaca cerita kamu dan bergumam, "Wah, kok gini ya?", dan rasa bingung dengan bergumam, "Ini apaan sih?" jelas dua ekspresi yg berbeda lho.
[quote=Imaginary_Guitarist]...tp nama yg gw inget cuma mya ama emna, yg lain susah2 hehehe...[/quote]
he.he...welkam tu de klab. Tengkiyu, gw benerin lagih. hiks... :D
[quote=Imaginary_Guitarist]
btw, "menatap jeri" itu kayak apa yak... lemot nih :D [/quote]
menatap jeri = menatap dengan lebih dari takut pada kengerian yang diketahui telah/akan terjadi
tengkiyu dah mbaca :)
hi, elbintang, gw suka deskripsi lo di awal. tp nama yg gw inget cuma mya ama emna, yg lain susah2 hehehe...
btw, "menatap jeri" itu kayak apa yak... lemot nih :D