F_Griffin profile

Posts

118
points
(408 words) posted by F_Griffin 1 year 34 weeks ago
78.6667
76
points
(1530 words) posted by F_Griffin 1 year 50 weeks ago
69.0909
112
points
(1515 words) posted by F_Griffin 1 year 51 weeks ago
80
59
points
(614 words) posted by F_Griffin 1 year 51 weeks ago
73.75
89
points
(794 words) posted by F_Griffin 2 years 1 hour ago
68.4615

Comments

Writer karangterjal
karangterjal at Sihir Dalam Secangkir Teh Melati (4 weeks 2 days yang lalu)

saya sangat suka alurnya... cantik...

Writer cat
cat at Perempuan Lalu (4 weeks 2 days yang lalu)

nanggung ui di akhir he5 .. jd pengen nambah .. warung kalee.
ceritanya mengalir, perasaan cemas dari yg baru sangat terasa.
hanya saja perasaan tenang pd akhir cerita kurang tersampaikan yach (*menurutku -- sok tau ah)

practice makes perfect

Writer alif fatahillah
alif fatahillah at Perempuan Lalu (4 weeks 2 days yang lalu)

keren. enak bgt dibaca.

Writer santorini.girl
santorini.girl at Lelaki Ruang Operasi (33 weeks 4 days yang lalu)

parfait!! Aku pengen banget bisa nulis kayak gini...

Writer F_Griffin
F_Griffin at Janji Laki-Laki Harus Ditepati (35 weeks 3 days yang lalu)

Terimakasih atas kritik atas petilan cerita ini.
1. Saya tidak yakin apakah cerita ini bisa dinilai sebagai "Tirani" terlalu dini karena sesungguhnya ia hanyalah fragment dari rangkaian yang lebih besar lagi. Di ruang Kemudian.com ia memiliki beberapa kawan selahiran, diambil secara acak dari sebuah rangkaian, kesemuanya diunggah dengan kata kunci "Kelekatu".
2. Sejujurnya saya sempat agak bingung, "nggak" yang mana yang dimaksud karena cerita ini sudah lama sekali tidak saya baca lagi. Setahun lebih yang lalu saya unggah ke Kemudian.com, dan lebih lama lagi dari itu ia sudah lepas dari kepala saya melalui jari menjadi bentuk teks digital. Saya sudah lupa penempatan kosakatanya secara detil dan terperinci. Ternyata, setelah saya tilik lagi, semua "nggak" yang tidak ditulis miring telah berada dalam tanda petik, bagian dari dialog karakter. Selain itu, seakrab Adrian pada Nina (juga sebaliknya), jika dipaksakan menggunakan kata "tidak" pada saat mereka berdua bercakap, rasanya kaku betul.
3. Jika kosakata yang dipermasalahkan adalah dalam paragraf ini:
"Nina merasa canggung bergerak, canggung bernafas. Seluruh badannya seperti mati rasa. Dalam kepalanya ada badai pertanyaan, tapi sepertinya badai itu memutuskan sambungan komunikasi dengan lidah dan mulutnya, sehingga tak satupun pertanyaan itu sampai terlontar ke udara."
Analogi satu paragraf tersebut, dibaca utuh, adalah gangguan cuaca yang bisa membuat rusaknya peralatan komunikasi elektronik. Saya tidak merasa "badai" dalam kasus ini, menjadi tidak pantas ditempatkan di sana untuk menggambarkan kacaunya isi pikiran Nina. Ataupun, bahwa penggunaan analogi ini (dengan konsekuensi penggunaan kosakata 'badai') adalah bukti sah atas kemiskinan imajinasi dan kosakata saya.
4. Terpeleset antara "Kau" dan "Kamu" memang menjadi salah satu dari sekian kecemasan saya saat berusaha menyunting ulang teks. Sejauh ini saya selalu berusaha menyeragamkan penggunaan istilah sebutan ini sepanjang teks, tetapi dalam kasus ini saya tidak punya alasan selain bahwa: (4.1). 'Kau' yang dimaksud berada di luar tanda petik. Ia merupakan bagian dari narasi tetapi juga tidak, karena sesungguhnya ia adalah isi pikiran Nina. Sesuatu yang tidak terucap. Karenanya ia dituliskan miring. dan (4.2). Perbedaan istilah yang muncul dalam petilan ini tidak mengganggu jeda, ritme, dan narasi cerita.

Terima kasih sekali lagi atas pengamatan yang sudah dipaparkan atas 'Janji Laki-laki...'
:)

Writer azura7
azura7 at Janji Laki-Laki Harus Ditepati (38 weeks 2 days yang lalu)

Terlalu tirani. Tak ada ruang berfikir setelah membaca kecuali kejadian dalam tulisan dan perasaannya. Jika bentuk tulisannya potret atau sebagian memoar ini sangat tepat. Sayangnya judul cerita lepas dari itu. Apalagi pilihan kata 'Harus', 'Janji'

Kekuatan percakapan juga masih prematur dan terlalu monoton. Kalau EYD jadi prioritas, kenapa masih ada kata seperti 'nggak' tanpa pemiringan, setidaknya pemilahan.

Perbendaharaan kata masih minim. Penggunaan perasaan seperti contoh 'sakit', terlihat masih miskin. Lihat ketika membahasakan masalah. Sepertinya bahasa untuk itu hanya ada 'Badai'. Padahal pilihan masih terlalu luas. Tak ada salahnya memperkaya.

Yang sering terpeleset untuk semua penulis Indonesia adalah, penggunaan kata 'Kamu' dan 'Kau'. "Kamu mencintainya?" sementara di tempat lain, Kau luka, Adrian?

Lalu... Keep Writing.

Writer KD
KD at Lupa (38 weeks 5 days yang lalu)

hmmm

Writer dialian
dialian at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (40 weeks 6 days yang lalu)

Bagaimana Cara Menghentikan Cinta nya?

Writer Ive
Ive at Hujan (43 weeks 5 days yang lalu)

Aku selalu suka cara kamu bercerita.

Salam...