sudaaaaah cukup lama anda mengirim karya ini....
Aku katakan.....karya seperti ini, cukup tergolong memiliki alur artistik.
terima kasiiiih
see youuuuuu................
nanggung ui di akhir he5 .. jd pengen nambah .. warung kalee.
ceritanya mengalir, perasaan cemas dari yg baru sangat terasa.
hanya saja perasaan tenang pd akhir cerita kurang tersampaikan yach (*menurutku -- sok tau ah)
Terimakasih atas kritik atas petilan cerita ini.
1. Saya tidak yakin apakah cerita ini bisa dinilai sebagai "Tirani" terlalu dini karena sesungguhnya ia hanyalah fragment dari rangkaian yang lebih besar lagi. Di ruang Kemudian.com ia memiliki beberapa kawan selahiran, diambil secara acak dari sebuah rangkaian, kesemuanya diunggah dengan kata kunci "Kelekatu".
2. Sejujurnya saya sempat agak bingung, "nggak" yang mana yang dimaksud karena cerita ini sudah lama sekali tidak saya baca lagi. Setahun lebih yang lalu saya unggah ke Kemudian.com, dan lebih lama lagi dari itu ia sudah lepas dari kepala saya melalui jari menjadi bentuk teks digital. Saya sudah lupa penempatan kosakatanya secara detil dan terperinci. Ternyata, setelah saya tilik lagi, semua "nggak" yang tidak ditulis miring telah berada dalam tanda petik, bagian dari dialog karakter. Selain itu, seakrab Adrian pada Nina (juga sebaliknya), jika dipaksakan menggunakan kata "tidak" pada saat mereka berdua bercakap, rasanya kaku betul.
3. Jika kosakata yang dipermasalahkan adalah dalam paragraf ini:
"Nina merasa canggung bergerak, canggung bernafas. Seluruh badannya seperti mati rasa. Dalam kepalanya ada badai pertanyaan, tapi sepertinya badai itu memutuskan sambungan komunikasi dengan lidah dan mulutnya, sehingga tak satupun pertanyaan itu sampai terlontar ke udara."
Analogi satu paragraf tersebut, dibaca utuh, adalah gangguan cuaca yang bisa membuat rusaknya peralatan komunikasi elektronik. Saya tidak merasa "badai" dalam kasus ini, menjadi tidak pantas ditempatkan di sana untuk menggambarkan kacaunya isi pikiran Nina. Ataupun, bahwa penggunaan analogi ini (dengan konsekuensi penggunaan kosakata 'badai') adalah bukti sah atas kemiskinan imajinasi dan kosakata saya.
4. Terpeleset antara "Kau" dan "Kamu" memang menjadi salah satu dari sekian kecemasan saya saat berusaha menyunting ulang teks. Sejauh ini saya selalu berusaha menyeragamkan penggunaan istilah sebutan ini sepanjang teks, tetapi dalam kasus ini saya tidak punya alasan selain bahwa: (4.1). 'Kau' yang dimaksud berada di luar tanda petik. Ia merupakan bagian dari narasi tetapi juga tidak, karena sesungguhnya ia adalah isi pikiran Nina. Sesuatu yang tidak terucap. Karenanya ia dituliskan miring. dan (4.2). Perbedaan istilah yang muncul dalam petilan ini tidak mengganggu jeda, ritme, dan narasi cerita.
Terima kasih sekali lagi atas pengamatan yang sudah dipaparkan atas 'Janji Laki-laki...'
:)
Terlalu tirani. Tak ada ruang berfikir setelah membaca kecuali kejadian dalam tulisan dan perasaannya. Jika bentuk tulisannya potret atau sebagian memoar ini sangat tepat. Sayangnya judul cerita lepas dari itu. Apalagi pilihan kata 'Harus', 'Janji'
Kekuatan percakapan juga masih prematur dan terlalu monoton. Kalau EYD jadi prioritas, kenapa masih ada kata seperti 'nggak' tanpa pemiringan, setidaknya pemilahan.
Perbendaharaan kata masih minim. Penggunaan perasaan seperti contoh 'sakit', terlihat masih miskin. Lihat ketika membahasakan masalah. Sepertinya bahasa untuk itu hanya ada 'Badai'. Padahal pilihan masih terlalu luas. Tak ada salahnya memperkaya.
Yang sering terpeleset untuk semua penulis Indonesia adalah, penggunaan kata 'Kamu' dan 'Kau'. "Kamu mencintainya?" sementara di tempat lain, Kau luka, Adrian?
sudaaaaah cukup lama anda mengirim karya ini....
Aku katakan.....karya seperti ini, cukup tergolong memiliki alur artistik.
terima kasiiiih
see youuuuuu................
saya sangat suka alurnya... cantik...
nanggung ui di akhir he5 .. jd pengen nambah .. warung kalee.
ceritanya mengalir, perasaan cemas dari yg baru sangat terasa.
hanya saja perasaan tenang pd akhir cerita kurang tersampaikan yach (*menurutku -- sok tau ah)
practice makes perfect
keren. enak bgt dibaca.
parfait!! Aku pengen banget bisa nulis kayak gini...
sip.
http://www.kemudian.com/node/232811
Terimakasih atas kritik atas petilan cerita ini.
1. Saya tidak yakin apakah cerita ini bisa dinilai sebagai "Tirani" terlalu dini karena sesungguhnya ia hanyalah fragment dari rangkaian yang lebih besar lagi. Di ruang Kemudian.com ia memiliki beberapa kawan selahiran, diambil secara acak dari sebuah rangkaian, kesemuanya diunggah dengan kata kunci "Kelekatu".
2. Sejujurnya saya sempat agak bingung, "nggak" yang mana yang dimaksud karena cerita ini sudah lama sekali tidak saya baca lagi. Setahun lebih yang lalu saya unggah ke Kemudian.com, dan lebih lama lagi dari itu ia sudah lepas dari kepala saya melalui jari menjadi bentuk teks digital. Saya sudah lupa penempatan kosakatanya secara detil dan terperinci. Ternyata, setelah saya tilik lagi, semua "nggak" yang tidak ditulis miring telah berada dalam tanda petik, bagian dari dialog karakter. Selain itu, seakrab Adrian pada Nina (juga sebaliknya), jika dipaksakan menggunakan kata "tidak" pada saat mereka berdua bercakap, rasanya kaku betul.
3. Jika kosakata yang dipermasalahkan adalah dalam paragraf ini:
"Nina merasa canggung bergerak, canggung bernafas. Seluruh badannya seperti mati rasa. Dalam kepalanya ada badai pertanyaan, tapi sepertinya badai itu memutuskan sambungan komunikasi dengan lidah dan mulutnya, sehingga tak satupun pertanyaan itu sampai terlontar ke udara."
Analogi satu paragraf tersebut, dibaca utuh, adalah gangguan cuaca yang bisa membuat rusaknya peralatan komunikasi elektronik. Saya tidak merasa "badai" dalam kasus ini, menjadi tidak pantas ditempatkan di sana untuk menggambarkan kacaunya isi pikiran Nina. Ataupun, bahwa penggunaan analogi ini (dengan konsekuensi penggunaan kosakata 'badai') adalah bukti sah atas kemiskinan imajinasi dan kosakata saya.
4. Terpeleset antara "Kau" dan "Kamu" memang menjadi salah satu dari sekian kecemasan saya saat berusaha menyunting ulang teks. Sejauh ini saya selalu berusaha menyeragamkan penggunaan istilah sebutan ini sepanjang teks, tetapi dalam kasus ini saya tidak punya alasan selain bahwa: (4.1). 'Kau' yang dimaksud berada di luar tanda petik. Ia merupakan bagian dari narasi tetapi juga tidak, karena sesungguhnya ia adalah isi pikiran Nina. Sesuatu yang tidak terucap. Karenanya ia dituliskan miring. dan (4.2). Perbedaan istilah yang muncul dalam petilan ini tidak mengganggu jeda, ritme, dan narasi cerita.
Terima kasih sekali lagi atas pengamatan yang sudah dipaparkan atas 'Janji Laki-laki...'
:)
Terlalu tirani. Tak ada ruang berfikir setelah membaca kecuali kejadian dalam tulisan dan perasaannya. Jika bentuk tulisannya potret atau sebagian memoar ini sangat tepat. Sayangnya judul cerita lepas dari itu. Apalagi pilihan kata 'Harus', 'Janji'
Kekuatan percakapan juga masih prematur dan terlalu monoton. Kalau EYD jadi prioritas, kenapa masih ada kata seperti 'nggak' tanpa pemiringan, setidaknya pemilahan.
Perbendaharaan kata masih minim. Penggunaan perasaan seperti contoh 'sakit', terlihat masih miskin. Lihat ketika membahasakan masalah. Sepertinya bahasa untuk itu hanya ada 'Badai'. Padahal pilihan masih terlalu luas. Tak ada salahnya memperkaya.
Yang sering terpeleset untuk semua penulis Indonesia adalah, penggunaan kata 'Kamu' dan 'Kau'. "Kamu mencintainya?" sementara di tempat lain, Kau luka, Adrian?
Lalu... Keep Writing.
hmmm
Bagaimana Cara Menghentikan Cinta nya?