kartika demia : Comments

Writer nusantara
nusantara at (10 weeks 3 days ago)

saya ga biasa komen bagus,
apalagi untuk yang ini,
gimana ya?
misalnya kalau saja saya ini luna maya terus membaca cerita ini, akan seperti apa ya komennya?
hahaha,

Writer samalona
samalona at (1 year 3 weeks ago)

Tentang unsur komedi: penekanan pada cara bercerita; kelucuannya lebih banyak timbul dari gaya penceritaan si narator. Plot twistnya sendiri tidak menggelitik, menurut saya. Mungkin juga karena saya mengomentari cerita ini di zaman yang berbeda. Bagaimanapun, anti-klimaksnya pas menurut saya. Dan penekanan kelucuan melalui gaya penceritaan narator bukan hal yang buruk (saya sendiri belum tentu bisa menghasilkan karya selucu ini); saya hanya mengemukakan apa yang menurut saya berfungsi sebagai sumber utama kelucuan cerita ini. Tentunya ini akan lebih lucu lagi bila dikombinasikan dengan unsur lainnya juga, misalnya setting cerita yang absurd, atau pembaca dibuat lebih penasaran lagi dengan 'kekurangan' yang dimaksud oleh dokter Luna, atau twist yang lebih heboh dan hiperbolik, karena terus terang jawaban dari misteri dokter Luna ini adalah tebakan pertama yang terlintas dalam benak saya.
Hal lain: ada kalimat yang bertentangan dengan kalimat berikutnya, dan dialogue tag yang pleonastis. Yang saya maksud adalah ini:
* Esoknya, tiba-tiba saja Luna memutuskanku. Tanpa sebab dan tanpa alasan. (Setelah kalimat ini, ternyata Luna menyatakan alasannya)
* "Ini," Shinta memberiku sekotak bekal, "ini bekal nasi buat Mas Nur, dimakan, ya!" (pengulangan 'bekal')
* "Ah, enggak. Itu ... anu--" sekarang aku jadi grogi dibuatnya. (saya kira pembaca sudah tahu kalau Nur sedang grogi)
Kalimat-kalimat yang bagus dan dialogue tag yang variatif dalam cerita ini tentu saja lebih banyak.
Menyinggung kembali situasi yang absurd, sebenarnya ada satu dalam cerita ini, yaitu kekebetulanan wajah yang mirip dengan artis dan ternyata namanya juga sama, lalu nama yang sama itu juga kebetulan dimiliki oleh tokoh utama wanita dan tokoh satu-satunya kerbau. Jadi kritik saya yang tadi mohon diabaikan saja.
Salam.

Writer Robospider_no6
Robospider_no6 at (2 years 46 weeks ago)

Terlalu berat untuk komedi. Memang banyak indikasi komedi, tapi ceritanya agak gelap sebenarnya. Masalah transgender memang agak serius. Kalau cowok jadi cewek karena alasan konyol bisa masuk tapi ini jelas dikatakan transgender. Masuknya dark comedy banget. Jadi masuknya drama dan berat. Lagipula cowoknya nggak sensitif sama sekali jadinya Komedi tragis juga nggak masuk. Stylenya sebenarnya cukup unik.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at (2 years 48 weeks ago)

Nganu ... sebenarnya udah mau komen bahkan sebelum cerita ini di pos, tapi nganu ....
Yang jadi perhatian pertamaku sih tidak adanya tanda-tanda bahwa Luna ini sejenis gituan, tanda itu datang dari Luna sendiri, bukan pengataman tokoh utama atau keadaan atau orang-orang sekitar. Gitu sih, yah, gitulah.

Salam

Writer kartika demia
kartika demia at (2 years 49 weeks ago)

Yang Dinas Malam itu aku nulisnya pure horor malah jatuhnya komedi yak? Hiks..
oke, dicatet krisarnya. Susah banget ya bikin orang ketawa, kecuali kalo digelitikin langsung. hehe..
sangkyu Sam Kukuh

Writer kukuhniam
kukuhniam at (2 years 49 weeks ago)

komedinya singkat-singkat ya mbak kar. Maksudku, memang ada banyak poin komedi, tapi terasa satu kalimat, lalu lenyap begitu saja.

"Aku transgender" itu seharusnya menimbulkan efek kaget dan mungkin ada komedinya, iya gak sih mbak kar? atau saya salah ngasih efek, hehe..
intinya, pilihan katamu untuk komedi kayaknya terlalu berat deh mbk. jadi terasa kurang luwes.

saya malah suka tulisanmu yang semacam dinas malam, ingat? mungkin horor, tapi justru terasa ada komedinya. Selain ada efek kagetnya, bahasanya juga gak jelimet. menurut saya sih. ampun lho mbak kalau salah.

Writer kartika demia
kartika demia at (2 years 49 weeks ago)

Iya jayus T.T
Pov1 nya kemayu ya? Berarti aku nulisnya kurang macho. Suwun koreksinya Dan

Writer daniswanda
daniswanda at (2 years 50 weeks ago)

Komedinya banyak yg jayus sih. Tapi bbrp ada yg "kena" dan bikin nyengir.
.
PoV1 cowoknya agak kemayu melayu gimana gitu, rasanya lebih cocok dia yg jadi transgendernya di banding si Luna, Kart.
.
Lalu soal twistnya emang klise sih. Tapi lu nyampeinnya enak. Gue nggak ngerasa "biasa aja" di dua paragraf terakhir. Eksekusi lu yg nge-skip reaksi si Nur waktu denger pengakuan Luna itu terasa pas. Jadi lbh mulus dan lebih kerasa komedinya.

Writer kartika demia
kartika demia at (2 years 50 weeks ago)

Aku kalau disuruh bikin komedi pasti larinya ke jayus. Gak tau kenapa, padahal gak ada niatan juga dijayus2in. Hiks..
Soal romance juga, geli sendiri aku bikin adegannya, jadi larinya ya ke absurd. Kalau nggak gay, humu atau transgender. Yah, gimana lagi. Aku angkat tangan kalau disuruh bikin ide yang romantis2an. Hiks(2)
.
Terima kasih, selalu berkenan :')

Writer The Smoker
The Smoker at (2 years 50 weeks ago)

ish, najis.. ngahahhahha, kolek!
lah...
nah...
tapi ya, kalo mau nyemplung komedi absurd atau jayus. cerita ini nanggung karena gw nya masih nyari logika. tapi lumayan bikin gw ngakak nggak bersuara, keselek doang dengan beberapa ungkapan dalam cerita, dikit sii.
.
terus kenapa idemu sedangkal, atau masih berkutat di dunia gay, transgednder, banci sebagai twist atau pemicu apa-gitu. untungnya sii di sini endingnya si Shinta itu mayan manis.
well,
*salaman*remesgorden*