lindsaylov : Comments

Writer silvercorolla
silvercorolla at (3 years 51 weeks ago)

cerita ini membuatku penasaran apakah ini mengarah ke supernatural atau fiksi ilmiah

Writer lindsaylov
lindsaylov at (4 years 5 weeks ago)

Alhamdulillah... makasih :D

Writer lindsaylov
lindsaylov at (4 years 5 weeks ago)

Makasih :)

Writer lindsaylov
lindsaylov at (4 years 5 weeks ago)

Wah, makasih banyak Kak atas banyak pembelajaran yang diberikan pada cerpen ini. Benar banget, ternyata ada banyak kesalahan pada cerpenku. Aku kira, cerpenku ini sudah keren banget, heheheh. Rupanya ...huhuhu :'(

Tapi kedepannya, aku akan lebih teliti lagi. Sekali lagi, makasih banyak atas kritik, saran, dan perhatiannya... :D

Writer tommy
tommy at (4 years 5 weeks ago)

bagus

Writer manusiahilang
manusiahilang at (4 years 5 weeks ago)

Delapan

Writer Shinichi
Shinichi at (4 years 5 weeks ago)

"terpentang"? oke. saya enggak bisa menghindari beberapa hal yang menurut saya enggak sesuai dengan yang saya ketahui :D satu dari sekian adalah, tentang berapa kali tokoh aku nggak-sengaja mendengar suara "itu". itu dua kali, dan jumlah segitu saya rasa belum cukup sebagai sebab ia "memikirkannya". masih terlalu sedikit. masih dibilang jarang. karena itu terjadi dalam rentang dua bulan. sekali sebulan, seseorang bisa saja lupa. kemungkinan lupanya sangat besar dengan waktu begitu. kita anggap itu teringat, namun suara yang seperti apa yang akan begitu sangat menempel di ingatan? bagaimana membandingkan suara anjing dan suara harimau? satu menggonggong dan satunya mengaum. jelas beda banget suaranya.
.
hal berikutnya adalah pandangan tentang malam Jumat. menjadikannya sebagai satu dari sekian unsur "pembangkit horor" di cerita ini, enggak begitu bagus menurut saya. kenapa? begini, malam Jumat itu konon dikatakan malam serem yang hubungannya dengan makhluk alam lain. namun di awal cerita, dugaan tokoh aku bukan pada makhluk yang begitu, melainkan pada binatang. buat saya itu enggak nyambung malah.
.
selanjutnya, tentang pandangan penulis (tokoh aku) pada kebiasaan seseorang yang memelihara binatang di dalam rumah. ini dianggapnya sebagai sesuatu yang "ekstrim" (menjadikan rumah itu sedikit ekstrim). saya enggak melihatnya seperti itu. tepatnya, sebagai pembaca saya enggak bisa merasakan keekstriman itu seperti yang "dianjurkan" penulis dalam ceritanya. saya juga jadi bertanya-tanya, ekstrimnya di bagian mana? seseorang memelihara binatang di dalam rumah. mungkin kucing, anjing, burung, iguana, apalagi ya? ya, saya tinggal di lingkungan yang orang-orangnya punya binatang peliharaan. memang siy, sedikit yang mengizinkan hewan-hewan itu tidur di dalam rumah. tapi mereka memeliharanya. jadi, enggak ekstrim. bahkan enggak bisa dikatakan sedikit ekstrim. tapi ini di pembacaan saya. makanya, bagian itu enggak sesuai dengan sayanya pribadi. butuh kerja keras untuk meyakinkan pembaca yang punya hewan peliharaan agar dapat kesan "esktrim" tsb.
.
selanjutnya, penulis ini terlalu "telling" pada ceritanya. tokoh aku di sini muncul sebagai "hanya boneka" dalam kerangka horor yang diciptakan penulis. contohnya: ketika tokoh aku masih bergelut dengan rasa penasarannya dengan suara menggeram dan mengerikan (karena sejak awal saya memang enggak dapat esensi itu, keterangan bahwa suara itu "mengerikan" menjadi konyol bagi saya), penulis "tega" mengatakan bahwa hanya tokoh aku yang menyadari keberadaan suara itu. kenapa? ya karena tau-tau, timbul pertanyaan "mengapa tak satu pun dari enam orang anak kos tahu, hewan apa yang dipelihara oleh ibu kos kami itu." menghidupkan cerita ini, sebaik-baiknya semua cerpen, adalah membiarkan tokoh "menjalani" situasi dalam cerita. kalau saya, saya juga pernah menulis horor, akan membuatnya runut. misal: aku mendengar suara asing. ia terganggu, lalu bertanya-tanya. ia bertemu teman sebelah kamarnya, bertanya. timbul interaksi, timbullah "keterangan cerita" yang enggak harus dikatakan dalam narasi. selanjutnya muncullah kejadian-kejadian yang tak terduga. apa? ya itu soal ada yang menghilang. jadi, rasa penasaran pada pembaca itu "dipupuk" sedemikian rupa. lalu hilangkan keterangan-keterangan yang enggak perlu. misalnya: ketika pembaca mulai memasuki suasana yang memang diinginkan penulis (contohnya seram) janganlah pula memasukkan narasi-narasi yang bisa mengacaukan "situasi" yang sudah dibangun itu.
.
pembaca sedang mendapati bahwa ada penghuni kamar kos yang menghilang. menghilang lho! ini baru serem. eh, tau-tau, narasi berikutnya ada pula soal Mbak Susi yang "bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah perusahaan dan bertahan tinggal di kos itu karena uang sewanya yang sangat murah." ini narasi bikin lemes kalau berkaca dari situasi horor yang BARU SAJA diciptakan penulis. menceritakan hal-hal begitu malah menjadi bumerang (karena kemungkinan besarnya, penulis melakukan itu untuk memperkaya narasi deskripsi).
.
anyway: ada benarnya cerita ini dikemas dalam POV orang pertama; yang membuatnya sah-sah saja menilai "sesuatu" yang terjadi di sekitarnya dengan label "menyeramkan, mengerikan, menakutkan," dsb. sebab, ya itu pendapatnya. pendapat pribadi tokoh yang mengalaminya.
.
kemunculan Jeny itu, ah sayang banget enggak berkesan. sebaiknya, tokoh aku itu punya alasan yang lebih kuat untuk masuk ke dalam situasi tsb. kenapa? ya karena secara logika, ketika pembaca menghadapi situasi begitu, bisa saja ia pergi dan mencari kos lain. namun, tokoh aku bertahan. dan penulis harus punya alasan yang kuat untuknya. apa? Jeny! (lihat saja soal pendapat penulis tentang "bisa menjadi sahabat" itu). dan saya pikir itulah alasan yang disematkan penulis. namun pembaca enggak cukup hanya dikasih tau bahwa mereka bisa jadi sahabat. sejak awal enggak ada dikasih tau soal "kemistri" tsb. tau-tau nongol begitu aja. dan tokoh aku mau-mau aja pulak. lalu dugaan-dugaan yang berkembang seputar cerpen ini terasa sangat dipaksakan. bukan pilihan dugaannya ya. kalau itu sah-sah saja. udah begitu aja memang jauh-jauhnya. cuman, alasannya apa. dasarnya apa. tokoh aku bisa membuat penilaian dan dugaan itu harus dilandaskan sesuatu yang cukup kuat, cukup meyakinkan. kalau hanya karena ia memelihara hewan di dalam rumah, pembaca seperti saya malah tersenyum (padalan itu bukan efek yang ingin dihadirkan penulis, kan?)
.
endingnya? gimana ya? enggak banget. ahak hak hak. sorry kalau kurang berkenan. tapi "Selamat tinggal, Bu Sinta!"? ah, apaan itu. polisi yang "terpaksa" menembak makhluk itu hingga mati? menembak dan terpaksa. lubang rahasia, dan Johanda Surya (namanya enggak banget) yang mengalami "mutasi"? aih, saya jadi inget kalau bokap sedang nunggu SK dari Kepala Dinas yang memutuskan ia akan dimutasi ke sekolah lain. kutukan? objek eksperimen? formula? aduuuuhhh.... serius, dirimu perlu lebih "teliti lagi" membaca cerita horor. satu judul buku saja. tapi ekstra teliti. bentukan kalimat-kalimat di cerpen ini juga rasanya "kurang sesuai" dengan efek horor yang ingin disampaikan.
.
saya pikir begitu saja deh komentar saya buatMu. semoga bisa diambil bagusnya dan dibuang yang jeleknya. btw, enggak usah banyak baca cerpen atau buku. baca satu atau dua judul saja, tapi teliti dengan baik. bentukan kalimat. kecocokannya dengan genre dan sasaran pembaca. hal itu yang sering luput: sebab kita cenderung ke isi ceritanya lebih dulu. kip nulis dan kalakupand. ahak hak hak.

Writer azraelsalvatore
azraelsalvatore at (5 years 16 weeks ago)

Ceritanya keren! Seru banget & bikin penasaran..
Walaupun gak serem tp narasinya mampu mengantarkan para pembaca ke alam imajinasimu hhe..
Great story! Well done!

Writer lindsaylov
lindsaylov at (6 years 23 weeks ago)

Iya... makasih atas perhatiannya. Maklum, masih pemula...:)

Writer lindsaylov
lindsaylov at (6 years 23 weeks ago)

Oh, gitu ya? aq gak pernah berpikir sampai kesitu.Baiklah, lain kali pasti akan aq kasih pesan seperti yang dimaksud.
Thx ya udah mau berbagi...(y)