Eternal Symphonia--Prologue--II)

Prologue--II
Centurion Dalam Genggaman dan Visi-visi Malam

Saat itu senja mulai luntur oleh gelapnya malam. Bintang-bintang berkilauan di atas, konstelasinya bagaikan hamparan samudera permata. Centurion—bintang malam yang paling besar sekaligus jelas yang pernah dikenali Leon—bersinar cerah kehijauan dengan latar belakang kehampaan dan kegelapan yang tak terhingga.

Leon sedang mengikat kawat sepanjang satu mile mengitari beberapa pohon yang memagari sepetak lapangan rumput kecil hingga membentuk pagar kawat yang tingginya mencapai tiga feet dari tanah. Ia menggantungkan beberapa lonceng-lonceng kecil yang ia bawa di sepanjang kawat itu. Ia memasang beberapa jaring dan perangkap lainnya—serta berusaha mengingat dimana ia pasang perangkap-perangkap itu—di sekitar pagar kawat itu. Ia menyiapkan api unggun di tengah tanah lapang kecil itu dengan menumpuk beberapa kayu bakar yang tadi ditemukannya. Setelah menyiapkan semuanya untuk berkemah, ia merasa lega dan puas, ia berhasil mempraktekkan sendiri apa yang telah ia pelajari tentang berkemah dari beberapa orang yang pernah mengajari dan menunjukkannya.

Di sabuknya kini tergantung tambahan satu kantong baru lagi, kantong itu berisi toadstool yang tadi ia temukan tumbuh di sebuah tonjolan kecil tebing. Leon sangat menyukai toadstool dan jamur-jamur lainnya, menjadikannya sebagai makanan kesukaanya—selain keju dan daging rusa, baginya—karena itu ia begitu bersemangat saat berusaha mengambilnya tadi dan siap menerima hampir semua resiko apapun yang harus diterimanya termasuk terjatuh. Ransel dan busurnya ia letakkan di atas sebongkah batu.

Senja sudah hampir habis ketika Leon keluar dari areal perkemahan sambil berusaha menghindari perangkap dan melompati pagar kawat yang tadi dipasangnya. Leon menikmati udara terakhir senja dan menikmati pemandangan langit yang menampilkan warna pekat. Ia berjalan kembali ke jalan setapak melalui petak-petak berumput, tanah liat, kubangan-kubangan lumpur, rumpun berry, Harsh Shrub, shrub-shrub yang lain, rumpun bambu, batu dan karang-karang. Leon menikmati setiap langkahnya. Lapangan kecil yang ia temukan berada cukup jauh dari jalan setapak, sekitar setengah mile jauhnya. Ia telah berhasil mencapai bagian punggung gunung Mt. Salvatodoé yang berlawanan dari punggung gunung tempatnya berkemah malam sebelumnya—ia telah mengitari Mt. Salvatodoé.

Bagian punggung gunung yang ini cukup landai dan tidak banyak tebing curam seperti punggung gunung satunya, cukup banyak petak berumput meskipun hanya sedikit yang cukup rata dan cukup luas untuk dijadikan tempat berkemah. Sekarang ia dapat melihat apa yang ada di balik jajaran Pegunungan Sierra, sesuatu begitu membuktikan kebesaran alam baginya. Di sebelah barat terlihat hamparan luas warna hijau. Ini pengalaman yang luar biasa bagi Leon untuk melihat hamparan warna hijau muda sekaligus lapangan rumput yang luar biasa luas dan yang sedang memendarkan warna-warna bintang di atasnya. Ini pengalaman yang luar biasa bagi Leon untuk melihat padang rumput di tengah kuasa kegelapan malam. Benak Leon terasa bebas dan lepas saat melihat panorama alam itu. Ia merasa tidak akan ada yang dapat menghalangi langkahnya saat berlari di tengah-tengahnya. Ia juga merasa akan menghabiskan sisa hidupnya bila mencoba berlari melintasinya sampai ke ujung langit di sana.

Leon teringat beberapa baris sajak berjudul ‘The World That Will Never Be Ended’ yang pernah dinyanyikan Alice—yang selalu terdengar dan teringat di benak Leon—pada sebuah acara makan yang digelar di Great Hall Ruthrfold Academy. Alice menyanyikannya dengan Soul Symphony dan diiringi lantunan nada piano, harp, dan tiupan sexophone. Leon kemudian mengingat-ingat lirik lagu tersebut seraya mencoba menyanyikannya.

This World Will Never Be Ended
In A Plain Wide Field I’m Fastening My Steps
Accompanied By The Racing Clives
Cross An Endless Stream

This World Will Never Be Ended
In Those Beautiful Skies I Swim
Through The Beauty Of The Night
Through The Gaps Of The Stars

This World Will Never Be Ended
I Walk While A Warrior Are Being Awaken Next to Me
Got To Get Into The Nest Of Evil And The Wicked Ones
I Will Never Be Giving Up, I Will Never Be Falling Down

This World Will Never Be Ended
I Cross The Great Green Savanna
The Vagrance Of The Roses
Flowing Over And Rides The Wind

This World Will Never Be Ended…
I Will Never End My World…

Ia kembali memandangi padang yang hijau membentang di depannya. Warnanya berpendar diterangi cahaya bintang yang rentan di tengah gelapnya dunia. Ia menarik tangannya ke atas, menggeliat dan mendesah panjang. Udara malam tidak begitu disukainya. Ia menguap dan matanya berbinar.

Leon sudah menghabiskan hampir setengah hari untuk berjalan hari itu. Perutnya dililit rasa lapar, ia hanya menyantap beberapa potong daging dan menenggak sedikit air untuk makan siang tadi. Tak lama kemudian, mata Leon terbelalak dan jantungnya berdegup kencang, dikejutkan oleh sesuatu saat hendak berjalan kembali untuk menyiapkan makan malam. Ia melihat sesuatu bergerak di dalam sesemakan kecil di sebuah petak kecil rumput dekat sebuah kubangan. Ia tidak dapat melihat dengan jelas di tengah keremangan malam. Ia mencabut pisau berburunya dan menarik napas dalam. Ia mencoba untuk menunggu dan bersiap-siap bila sesuatu akan menerjang keluar dari dalam sesemakan. Menit-menit yang terasa lama berlalu. Tangannya mulai basah dan licin oleh keringatnya yang dingin. Dari dahinya mengucur beberapa tetes peluh dingin. Jantungnya terguncang kembali saat mendengar dan melihat gemerisik sesemakan. Dari ukuran sesemakan, ia berani bertaruh apapun makhluk di baliknya tidak lebih besar dari ukuran sesemakan itu sendiri yang tidak lebih tinggi dari lutunya. Meskipun begitu, ia akan merasa bodoh bila secara langsung melompat dan menerjangnya ke dalam sesemakan.

Leon kemudian mengangkat pisaunya, dan menahan pisau itu di udara selama beberapa waktu, lalu melemparkannya ke dalam sesemakan. Pisau Leon berputar menerobos sesemakan dan menimbulkan bunyi potongan dan patahan di sana-sini. Saat pisaunya mendarat, Leon tidak mendengar bunyi pisau itu dipantulkan atau mengenai benda yang cukup keras, melainkan mendengar bunyi halus pisau itu mengenai sesuatu yang cukup lunak—mengenai sesuatu yang menjadi sasarannya atau meleset mengenai tanah liat. Ia mendekati sesemakan itu dengan hati-hati, menjaga kemungkinan sesuatu akan muncul dari dalamnya. Ia berjalan setapak demi setapak mengitari sesemakan. Di dalam keremangan malam ia mengerjapkan mata dan berusaha untuk mengenali sesuatu berukuran kecil yang ada di depannya, bersembunyi di dalam sesemakan dengan pisau tertancap padanya.

Benda itu memantulkan cahaya bintang dengan warna putih. Tak lama Leon mendapati bahwa benda yang ia lempar pisau tadi adalah seekor hare—kelinci—putih. Dengan hati kegirangan ia menghampiri kelinci itu, mencabut pisaunya terlebih dahulu dari tubuh kelinci dan membersihkan darah segar yang ada pada mata pisaunya. Ia tergiur dengan ukuran hare itu, hare itu cukup besar—paling besar dari yang pernah dilihatnya—untuk disantap dalam semalam. Beruntung sekali perutku hari ini, pikir Leon senang. Ia tidak menyangka malam itu akan mendapat makanan selezat toadstool dan seekor utuh kelinci yang gemuk, berlemak, dan lebih dari cukup untuk dihabiskan dalam malam itu. Ia tidak tahu harus berbicara apalagi hingga ia tersentak kaget saat melihat sesuatu tertanam—paling tidak begitulah kata yang paling tepat yang dipikirkan Leon saat itu—pada perut kelinci.

Benda itu bulat, sebulat bulan, dan hijau menyala, sehijau padang rumput yang memantulkan cahaya bulan. Ia dapat melihat dengan jelas benda itu sejelas melihat bintang yang bercahaya di tengah gelapnya malam. Benda itu tembus pandang, Leon dapat melihat perut kelinci yang putih dan berbulu di baliknya. Leon mencabut bola itu dan menggenggamnya dengan tangan kirinya—selagi tangan kanannya masih menggenggam hare tersebut.

Ia tidak mendapati apa-apa pada bola itu saat ia menggenggam dan memutar-mutarnya dengan telapak tangan dan jemarinya, hanya sebuah bola yang berpendar oleh cahaya bintang. Bola tu terlihat seperti bola kaca biasa dan tidak begitu berharga sampai Leon mengangkat bola itu di atas kepalanya, menggenggam erat dengan jemarinya, menempatkan bola itu sejajar dengan Centurion di atas dalam pandangannya. Centurion yang berwarna sama hijaunya terlihat seperti berada di dalam bola itu. “Betapa sebuah kebetulan yang tidak diharapkan,” gumam Leon hambar dan tanpa arti. Bola itu memantulkan cahaya kehijauan Centurion hingga menerangi beberapa yard di sekitarnya—juga wajah dan mata Leon yang berkaca-kaca—dengan warna hijau. Sulit sekali bagi Leon untuk melepaskan pandangannya dari bola itu, bola itu tampak begitu indah dan bersinar di bawah sinar Centurion. Setelah beberapa menit yang terasa membeku, Leon menurunkan bola itu dan bola itu kembali tampak seperti bola biasa. Leon terus memutar-mutar bola itu dengan rasa penasaran yg mendalam dan mencari-cari sesuatu yang istimewa dari bola hijau itu. Kekosongan. Hanya itu yang ditemukan Leon dalam bola itu. Namun saat Leon hendak menyimpannya, bola itu seakan menjawab semua harapan Leon.

Dari inti bola itu muncul secercah cahaya yang sama dengan cahaya Centurion. Leon kebingungan, sampai-sampai ia menjatuhkan kelinci yang ada di tangan kanannya. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ia sempat mempunyai pikiran untuk melempar dan menyingkirkan bola itu dari pandangannya jauh-jauh. Rasa takut dan penasaran menyelimuti dirinya dalam waktu yang bersamaan. Cahaya itu semakin lama semakin membesar dan semakin terang. Cahaya itu terberai di beberapa bagian dan memunculkan beberapa cahaya kecil yang berputar mengitari cahaya induknya dan meninggalkan garis seperti ekor di bekas jalurnya. Bagi Leon cahaya beserta ‘anak-anak cahaya’-nya seperti inti atom yang dikelilingi electron-nya, juga seperti sebuah galaxy—cahaya kecil sebagai planet mengitari inti cahaya sebagai matahari—di jalurnya. Di dalam benaknya juga sempat terpikir bahwa hal itu semua berhubungan dengan sihir. Ia sangat penasaran dan ingin tau akan kekuatan magis. Pikirannya bahwa bola dan cahaya itu merupakan sebuah bagian dari sihir semakin besar dan hal itu yang paling masuk akal—yang juga dapat dikatakan paling tidak masuk akal—dalam pikirannya.

Beberapa menit berlalu dari pandangan Leon tanpa terjadi apa-apa kecuali bola hijau yang memancarkan cahaya dari dalamnya. Mulut Leon terus membuka selama beberapa menit itu, matanya terus membelalak dan jantungnya terus berdebar. Itu pemandangan paling aneh dan menakjubkan yang pernah dilihat Leon seumur hidupnya selama empat belas tahun. Malam yang indah, pikir Leon. Pandangan mata dan pikiran Leon tidak berubah sampai terdengar sebuah suara ledakan yang memecah kesunyian malam di atas sana. Suara ledakan yang begitu keras memecah kesunyian hebat yang terjadi sebelumnya sehingga membuat alat pendengaran Leon tidak siap menerimanya dan segala sesuatu yang didengarnya sekarang hanyalah dengungan panjang dan serasa tidak akan pernah berhenti. Kejadian itu memecah kehempaan ruang benak Leon.

Ia segera memasukkan bola hijau itu ke balik kemejanya dan merunduk ke tanah dengan kecepatan refleknya. Detik-detik sudah lama berlalu tanpa terjadi apa-apa. Dengungan di telinga Leon sekarang sudah berhenti dan yang terdengar hanyalah debar jantungnya. Segalanya berlangsung luar biasa beberapa menit terakhir, segalanya berlangsung begitu cepat dan tidak masuk akal sehingga Leon berpikir—dan sempat berharap—bahwa ini hanyalah sebuah mimpi. Setelah debar jantungnya yang melebihi ukuran normal berhenti, ia segera diselimuti rasa penasaran dan berusaha mencari asal ledakan itu.

Ia bangkit berdiri selagi memegangi bagian kiri dadanya, memeriksa bila bola itu memang ada dan masih ada di situ—setelah semuanya berakhir hanya bola itu yang terbesit dalam pikirannya, bola itu serasa begitu berharga baginya di kesempatan itu melebihi kelezatan toadstool yang ada di kantongnya dan kelinci yang baru saja ditangkapnya. Setelah mendapati bahwa bolanya masih aman di dalam kemejanya, ia menengadah ke langit di sebelah barat, dari arah jalan setapak dan padang rumput.

Langit di barat semerah darah. Pemandangan yang kontras dengan warna langit di sekitarnya yang hiam pekat. Ia terkejut melihatnya dan tidak pernah melihat hal ini dalam dunia nyata sebelumnya. Leon berusaha melihat apa yang terjadi di sebelah barat sana tapi pandangannya bahkan tidak dapat mencapai padang rumput karena terhalang pepohonan dan sesemakan tinggi serta jarak yang cukup jauh. Ia mendapati sebuah tonjolan kecil mirip bukit yang bertebing cukup curam—sebuah bukit berukuran sangat kecil yang tertanam di sebuah gunung—yang tadi dilewatinya. Tinggi tebing pada tonjolan itu hanya beberapa feet. Leon berlari kecil ke bukit kecil itu yang hanya berjarak beberapa yard di depannya, di balik serumpun bambu yang tumbuh di atas tanah liat.

Leon naik hingga ujung tonjolan itu dan kembali melayangkan pandangannya ke arah padang rumput. Ia sekarang dapat melihat padang rumput dan jalan setapak yang telah dan akan dilaluinya. Ia semakin bingung ketika yang ia dapati hanyalah langit merah yang semakin memerah saat ia menurunkan arah pandangnya ke kaki langit. Matanya memantulkan sebuah garis hitam panjang, tidak rata yang seakan mengalir ke atas dan tidak akan pernah berhenti. Sekepul asap hitam yang naik tinggi ke atas terlihat begitu jelas dengan latar belakang langit merah meskipun dunia hanya diterangi cahaya bintang yang cukup redup. Mulut Leon membuka lebar tapi tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Apa gerangan yang terjadi? pikir Leon dalam hati.

Leon tidak terbiasa untuk mengalami hal-hal ‘lebih’—seperti yang terjadi pada hidupnya akhir-akhir ini—sebelum penjelajahan barunya dimulai. Persepsinya terhadap dunia ini begitu berbeda sejak hal-hal menakjubkan—bola hijau itu serta ledakan—itu terjadi. Dulunya ia menganggap dirinya hidup dalam dunia yang terlalu biasa, dunia yang tidak cukup menawarkan petualangan dan tantangan bagi seorang Leon. Segala pertempuran, sihir, serta petualangan-petualangan yang pernah didengarnya sebelumnya yang terkesan seperti hanya sebuah dongeng dan karya-karya sastra sampah yang tak lebih diciptakan untuk menumbuhkan semangat serta imajinasi saja. Sekarang setelah hal-hal luar biasa ini terjadi, harapan untuk mengetahui dan mendapati bahwa segala yang didengarnya itu nyata, pernah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi kembali tumbuh. Semangat baru tumbuh dalam diri Leon. Api dalam dirinya untuk pertama kali berkobar. Sekarang tujuan hidupnya seakan berubah, ia tidak mau menggunakan senjata hanya untuk berburu. Leon telah menemukan petualangan baru dalam hidupnya. Petualangan itu untuk mengungkap—atau turut ambil bagian dalam—segala hal-hal ‘lebih’ itu yang ada di Gaea ini. Mengungkap apa yang ada di balik selubung kabut yang menutupi dan menghalanginya untuk melihat ke dunia luas.

Segaris asap hitam yang tadi membubung tinggi sekarang telah bertambah menjadi dua dan terus bertambah hingga tidak terhitung lagi oleh kesepuluh jari Leon. Leon semakin penasaran akan apa yang terjadi di luar sana, tetapi sekarang jenis rasa perasaannya berganti dari rasa takut dan gelisah menjadi sebuah semangat baru yang berkobar dalam dirinya.

Leon ingat akan kelinci yang tadi berhasil ditangkapnya dan juga bola itu yang ada di balik kemejanya. Ia kembali ke tempat ia menjatuhkan kelinci itu dan memungutnya, menggantungkannya di salah satu kait yang ada di sabuknya. Ia merasa ingin melihat bola itu sekali lagi tapi ia membatalkan niatnya dan hanya mengelus tonjolan di sebelah kiri dadanya, tempat di mana bola itu tersimpan dibalik kantong kemejanya yang kusut. Ia tidak memiliki keberanian dan semangat yang sama seperti tadi untuk melihat bola itu. Cahaya apapun di dalamnya terasa mencurigakan dan selayaknya menyimpan berjuta misteri, ia tidak cukup berhasrat untuk menyingkap misteri apapun di waktu itu. Yang ia pikirikan hanyalah mengistirahatkan tubuhnya yang sudah cukup lelah dan benaknya yang menyimpan terlalu banyak beban untuk dipikirkan, serta menyiapkan diri untuk hari barunya saat fajar menyingsing esok hari. Ia membayangkan mimpi yang indah dan makan malam yang lezat. Daging toadstool yang kenyal dipadu dengan daging kelinci yang berlemak dan cukup segar.

Leon kembali ke tempat perkemahan dengan berlari kecil, tidak sabar untuk melihat keadaan areal perkemahan yang berhasil didirikannya tadi. Kelinci putih yang terkait di sabuknya terayun-ayun cepat seiring setiap langkah yang ditempuhnya.

Sudah lima belas menit ketika Leon mulai melangkahkan kakinya untuk kembali ke areal perkemahan hingga ia dapat melihat—dari sebuah tonjolan kecil tanah—lapangan yang dikelilingi pohon—dan yang Leon tahu, dikelilingi kawat dan perangkap yang cukup tidak kasat mata di tengah gelapnya malam—masih tetap utuh seperti saat ditinggalkan Leon. Ia memperlambat langkahnya dengan nafas yang terengah-engah dan kelelahan yang luar biasa—yang bukan merupakan hal yang biasa bagi Leon, ia bahkan menyadari ia dapat berlari lebih jauh dari itu tanpa kelelahan yang sebesar itu meskipun dengan segala ‘kekurangannya’. Leon memeriksa pagar kawat dan perangkap yang dipasangnya untuk perlindungan dari seseorang atau sesuatu yang berusaha memasuki kemahnya. Perasaannya menampilkan perpaduan antara rasa kecewa dan lega saat melihat perangkap yang kosong. Tadinya ia berharap akan mendapat hewan liar untuk tambahan makan malam atau perbekalannya esok hari. Namun, kekecewaannya terobati dengan mengingat kelinci gemuk yang berhasil ditangkapnnya.

Leon berlutut di salah satu sudut perkemahan. Di tangan kanannya ada sebilah pisau berburu dan tangan kirinya menggenggam seekor kelinci putih gemuk. Ia meletakkan kelinci itu di atas sebuah batu. Leon menguliti kelinci itu hingga tidak ada warna putih lagi yang tertinggal di kelinci itu. Setelah selesai menguliti, Leon membedah bagian perut hare itu—tempat bola hijau itu tertanam. Leon mengeluarkan segala isi perutnya, menggali sebuah lubang kecil di tanah dan membuang apa yang berhasil dikeluarkannya dari dalam perut hare merah jambu—yang tadinya putih—tadi ke dalam lubang itu lalu menutup lubang itu kembali. Leon mengambil kantong airnya, mencuci tangan dan pisaunya dari warna merah darah kelinci lalu menenggak beberapa teguk air segar yang baru ditemukannya di sebuah mata air dalam perjalanannya tadi siang. Ia mencurahkan air itu ke dalam perut kelinci yang kosong—hanya berisi tulang-belulang dan daging merah jambu—dan mulai membersihkannya dari bekas darah dan kotoran. Leon mengambil sebatang kayu yang cukup lurus, bercabang jarang, dan cukup panjang dari tumpukan kayu yang telah dikumpulkannya. Ia menusukkan kayu itu dengan menggunakan sedikit tenaga tersisa yang dimilikinya ke mulut kelinci hingga menembus bagian pengeluaran kelinci yang berada di ujung yang berlainan, menggantungkan daging kelinci di salah satu ujung kayu. Leon meletakkan hare yang telah tertusuk itu di atas sebuah batu yang tingginya mencapai lututnya. Leon mengambil sepasang batu api dan kantong minyak yang ia simpan dalam ranselnya dan meletakkan keduanya di samping tumpukkan kayu. Leon kembali menata tumpukan kayu yang berhasil dikumpulkannya, memilah-milah mana yang dapat dibuang dan mana yang pantas untuk dijadikan kayu bakar. Leon membagi tumpukan kayu menjadi dua, tumpukan kayu yang panjang dan tumpukan kayu yang kecil. Ia menumpuk sebagian besar kayu panjang sehingga terbentuk tumpukan kayu bakar yang berukuran cukup besar. Ia mengumpulkan sedikit dari kayu-kayu kecil, merangkulnya, dan memindahkannya ke sepetak tanah liat di bagian lain perkemahan. Setelah selesai Leon berlutut di dekat tumpukan kayu yang besar, mencurahkan sedikit minyak di atasnya lalu menggesek dan membenturkan kedua batu api di dekat tumpukan kayu berlumuran minyak yang akan ia gunakan untuk membuat api unggun itu. Tidak lama kemudian – dengan keberuntungan – batu yang digunakan Leon berhasil mengeluarkan percikan api yang jatuh di tumpukan kayu dan ia berhasil membuat api unggun.

Leon bangkit setengah berdiri, berjalan mundur beberapa langkah, dan menjatuhkan dirinya ke tanah. Ia duduk sambil memandangi kobaran api sejenak dan mendesah panjang, dan tersenyum puas dengan hasil kerjanya sendiri. Udara panas yang mengalir secara radiasi dari api unggun merasuki setiap bagian tubuh, kulit, dan pori-pori Leon – mengusir hawa dingin yang ia rasakan sejak matahari tenggelam dalam kesunyian malam.
Leon segera bangkit, tidak ingin membuang banyak waktu lagi dengan perutnya yang terasa sakit oleh rasa lapar. Ia menghampiri daging kelinci mentah yang tergeletak di atas batu tadi. Leon memungutnya dan membenamkan salah satu ujung kayu ke tanah dekat api unggun dengan ujung satu yang lain berada di atas api bersama daging hare yang memancarkan warna merah jambu dan putih. Air mata menuruni kedua pelipis mata Leon, matanya tersengat aroma hare yang terbakar rata. Leon menghapus kedua butir air matanya dan menghampiri salah satu batu yang cukup halus dan rata. Leon mencabut pisau yang tergantung di sisi kiri sabuknya dan melepas ikatan kantong berisi toadstool di sisi kanan sabuknya. Leon meletakkan toadstool-toadstool itu berjajar dan menghitung jumlahnya. Sembilan, dalam ukuran yang sangat berbeda satu sama lain. Leon mulai menggunakan ketrampilannya dalam mengolah bahan mentah, salah satu hal yang sangat penting dalam ilmu berburu dan alchemy. Leon membuat sepuluh potongan melintang dan sebelas potongan membujur, membuat mereka berukuran sama sehingga dapat diolah dan dibagi dengan lebih mudah. Leon mengambil penggorengan yang terikat di ranselnya, mengalasi bagian atasnya dengan minyak. Ia menghampiri tumpukan kayu kecil, melakukan cara yang sama untuk membuat api unggun seperti tadi, dengan takaran minyak yang lebih kecil. Leon tidak seberuntung saat menyalakan api pertamanya tadi, ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyalakan api yang seharusnya lebih mudah dinyalakan.

Leon sedang mengangkat penggorengan dengan tangan kirinya –berusaha membuatnya tetap terbakar rata oleh api—di atas api unggun kecil ketika ia mulai menguap. Di atas penggorengan ia meletakkan toadstool-toadstoolnya beserta sejumlah rempah-rempah dan herb yang ia gunakan untuk menambah kekuatan rasa toadstool. Leon juga menambahkan beberapa potong kecil keju di masakannya dan melumatkannya dengan panas penggorengan. Setelah semua bahan yang diinginkan dimasukkan, Leon kemudian mencari sebatang kayu kecil lalu membersihkannya dan menggunakannya mengaduk segala sesuatu yang ada di atas penggorengan, meratakannya dan membuat segala cita rasa meresap dalam kelembutan toadstool. Setelah beberapa menit yang terasa lama di tengah gelapnya malam dan rasa lapar yang bergemuruh dalam perut Leon, warna hitam mulai muncul pada bagian-bagian kecil potongan-potongan toadstool yang dimasaknya. Toadstool-toadstool itu telah matang dan memancarkan aroma yang luar biasa menyengat hidung, membuat mata Leon berair, dan membuatnya hampir meneteskan air liur yang sudah membasahi ujung bibirnya. Leon menarik penggorengan dari atas api dan memindahkan isinya ke dalam sebuah piring kayu yang cukup lebar untuk dipenuhi toadstool sebanyak itu. Setelah meletakkan piring penuh berisi toadstool di atas sebongkah batu, Leon membasahi secarik kain dengan sedikit air dari kantong airnya lalu memadamkan api kecil yang digunakannya untuk menggoreng toadstool dengan kain basah itu.

Leon menghampiri api unggun yang lebih besar untuk melihat hare yang masih dibakarnya di atas api. Hare itu telah terbakar dengan rata, memancarkan aroma yang diyakini Leon mampu mengundang seisi hutan untuk datang.

Setelah menikmati kedua hidangannya—menyisakan sedikit hare karena perutnya tidak mampu untuk menampung makanan lagi—dan menenggak air segar, Leon berbaring di atas selembar kain yang cukup lebar yang dihamparkan di atas petak rumput yang berair tidak jauh dari api unggun untuk membuatnya tetap hangat. Leon memandangi konstelasi bintang di atas, ia mendapati beberapa konstelasi tertentu yang terbentuk. Ia melihat konstelasi The Warrior di arah timur dan konstelasi The Lady sedikit di barat dari arah lurus pandangnya. Ia juga mendapati Centurion masih bersinar terang dengan sinar kehijauannya di arah barat. Ia teringat akan ledakan hebat yang baru saja terjadi dan hal ajaib yang tadi berada dalam genggaman tangannya. Ia masih menyimpan benda itu dalam kantong kecil di sisi kiri dalam kemeja kusutnya. Leon ragu-ragu untuk beberapa detik lalu mengeluarkan bola itu dari sana.

Setelah semuanya itu, benda itu tampak hanya seperti bola kaca berwarna hijau biasa yang memantulkan cahaya bintang. Semakin lama Leon memandangnya, rasa takut dan kekhawatiran yang didapatnya semakin membengkak dan memenuhi benak Leon. Ia tidak tahu harus membuang bola itu atau menyimpannya, membukanya kepada orang lain atau merahasiakannya, dan menyelidiki bola itu lebih jauh atau membiarkannya lewat begitu saja dengan anggapan tidak akan terjadi apa-apa. Semuanya tampak begitu membingungkan, setiap pilihan tampaknya memiliki resiko yang luar biasa besar. Bahkan hanya dengan memikirkan resiko apa yang bakal diterimanya, semangatnya yang tadi begitu menggebu-gebu seakan sirna begitu saja disapu badai rasa takut. Detik demi detik berlalu, tidak terjadi apa-apa. Keremangan, kebingungan, dan kegundahan telah masuk dalam hitungan menit, masih tidak terjadi apa-apa. Menit-menit yang terus berjalan semakin menipiskan kelopak mata Leon yang sebelumnya masih membuka lebar. Leon semakin masuk dalam keremangan malam dan kegelapan alam di bawah sadar. Sebelumnya ia telah menguap beberapa kali dan masih berusaha membuat matanya tetap membuka, namun saat itu sepasang kelopak matanya telah menutupi kedua bola matanya yang berair.

***

Leon berputar di antara ribuan—bahkan jutaan—ranting-ranting tipis yang saling melilit satu sama lain, saling merajut membentuk dinding-dinding ranting di sekitarnya, tidak membiarkan siapapun untuk melihat dan mengetahui apa yang ada di baliknya. Pandangannya terus melaju, melesat ke depan. Tangan dan kakinya, serta seluruh bagian tubuhnya dililit dan ditarik oleh sulur-sulur mimpi menerobos dan mematahkan ranting-ranting yang memenuhi seluruh isi pandangnya, membawanya ke alam mimpi, dunia di bawah sadar. Seakan ia sedang berenang dalam langit atau lautan ranting yang tidak akan pernah berakhir—bahkan ia tidak dapat mengendalikan kemana ia bergerak. Leon tidak merasakan apa-apa, kekosongan mengisi semua sudut benaknya dan secara keseluruhan mengisi dirinya.

Beberapa celah mulai terlihat di antara ranting-ranting di depannya, semakin lama ia melaju celah-celah itu semakin membesar dan bertambah jumlahnya. Cahaya mulai terlihat melalui celah-celah di dunia ranting itu. Cahaya itu semakin terang seiring semakin jarangnya ranting yang melilit dan semakin besarnya celah yang ada. Dinding ranting yang menghalanginya semakin tipis dan hanya menyisakan beberapa lapis ranting.

Leon telah keluar dari dunia ranting itu, cahaya itu semakin terang dan nyaris membutakan mata Leon. Sulur-sulur yang tadi menariknya telah melepasnya. Sulur-sulur itu berasal dari ranting-ranting yang merupakan batas lautan ranting dan seakan menyeretnya keluar dari lautan ranting itu, tidak menginginkan keberadaan Leon di sana. Leon berada dalam kehampaan, kehampaan yang memancarkan warna putih. Cahaya ada di mana-mana, setiap sudut kehampaan tanpa batas itu memancarkan cahaya putih. Leon terus melayang-layang dalam kehampaan.

Leon terus berputar-putar dalam kehampaan tanpa ujung. Rambut peraknya memantulkan cahaya yang tidak berasal dari mana-mana—atau berasal dari segalanya di ruang itu. Kini Leon mulai menyadari kekosongan yang menguasai dirinya dan menggantinya dengan perasaan takut dan bingung. Sesuatu yang menahannya di sana untuk terus melayang—setidaknya tidak menginjak lantai—tampak hilang begitu saja, ia mulai tertarik ke bawah, ke kehampaan yang lebih luas lagi. Namun, perlahan-lahan kehampaan itu kini mulai sirna. Surya kembali menampakkan cahaya terangnya di salah satu ujung ruang, menerangi setiap jengkal ruang itu dan mengalahkan—menghapuskan—cahaya putih dengan cahayanya yang lebih ‘bersinar’. Warna putih di bawah mulai lenyap digantikan dominasi warna biru muda yang ditemani kumpulan warna putih lain – bukan cahaya – yang saling berkelompok menjadi resesif di antara dominasi lautan warna biru.

Leon menyadari bahwa dirinya berada di tengah langit luas dengan matahari di sisi timur—atau barat—nya. Tanpa menyadari bagaimana keadaan dan posisinya, ia terus melesat ke bawah—bukan tertarik oleh sulur lagi, melainkan tertarik oleh gravitasi tempat itu. Langit itu tampak tak berujung, sampai ia menyadari kumpulan awan di sekitarnya mulai menipis dan ia mulai melihat sesuatu jauh di bawahnya.

Kosong. Semua kosong. Kekosongan yang membuat Leon mengerjapkan mata hingga berulang kali. Terrain di bawah hanya berwarna merah, bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa yang ada di bawahnya itu benda solid—atau kumpulan air. Ia terus melaju dengan kecepatan tinggi. Cahaya terang matahari di salah satu ujung dunia dipantulkan rambut peraknya yang terberai. Dengan berjalannya waktu secara perlahan, kecepatan jatuh Leon mulai berkurang. Sesuatu tampak menahannya untuk terpelanting ke tanah. Udara, gravitasi, bahkan berat tubuhnya sendiri tampak mencegahnya untuk jatuh. Ia bahkan tidak dapat mengendalikan kakinya sendiri saat keduanya menginjak terrain merah di bawahnya—yang ternyata merupakan benda padat—dan mendarat dengan lembut. Segalanya tampak berputar dalam benak Leon, pertanyaan, kebingungan, timbul komplikasi dalam benaknya yang tidak dapat ia ungkapkan. Setelah segalanya tampak begitu nyata bagi Leon, itu semua tampak mustahil. Sebelumnya entah bagaimana Leon dapat menyadari bahwa itu mimpi—Leon benar-benar menyadari bahwa itu mimpi, yang merupakan sesuatu hal yang tidak logis bagi siapapun.
Mimpinya ini tampak begitu nyata bagi Leon, ketika orang lain bingung bagaimana membedakan mimpi atau kenyataan, Leon bingung mengapa kenyataan ini bisa berada dalam mimpi. Leon sempat mencoba untuk keluar dari semua ini sampai langit juga berubah merah. Matahari meneteskan air mata darah yang melumuri dirinya sendiri hingga merubahnya menjadi merah. Atmosfer tempat itu semakin memerah seiring munculnya sebuah—atau sekumpulan—suara yang didengarnya dari kedua kaki langit.

Boom! Satu detik berlalu, segala sesuatu yang tampak hanya warna merah.

Boom! Aroma udara sekitar dipenuhi bau darah dan air mata yang bercampur.

Boom! Seuntai garis hitam tipis muncul di atas cakrawala di seberang sisi matahari.

Boom! Garis itu semakin lama semakin naik dan meluas ke atas.

Boom! Hal yang sama juga terjadi pada sisi seberangnya, di mana matahari bebas mengintip dari balik cakrawala.

Boom! Garis—yang sudah terlalu tebal untuk disebut garis—hitam di kedua sisi sudah mencapai lutut Leon, atap dari garis hitam itu mulai terlihat tidak rata.

Boom! Suara terdengar semakin jelas, menyadarkan Leon bahwa itu seperti suara drum besar yang ditabuh.

Boom! Jarak Leon dengan untaian warna bayangan hitam semakin dekat, kurang dari seratus mile.

Boom! Bayangan di sisi seberang matahari mulai terlihat oleh Leon.

Boom! Cahaya matahari yang terpantul seluruhnya menyilaukan mata Leon, semuanya tampak begitu jelas di kedua bola mata Leon. Ia melihat jumlah yang tidak terhitung dari barisan pasukan berbaju besi.

Boom! Barisan pasukan itu semakin mendekat, tapi Leon tidak merasakan adanya ketakutan karena entah bagaimana ia menyadari bahwa yang sedang dialaminya adalah sebuah mimpi. Sesuatu yang terasa sangat hambar bagi Leon, atau siapapun juga.

Boom! Barisan pasukan itu mulai terlihat jelas, namun merupakan kejelasan yang menimbulkan sesuatu yang bukan merupakan suatu kejelasan. Semuanya terlihat aneh, Leon tidak dapat menangkap sesuatu atau apapun itu yang sedang membentuk barisan panjang di depannya dan terus melaju ke arahnya. Saat barisan pasukan itu mulai mencapai jarak hingga hanya beberapa mile darinya, Leon dapat melihat bahwa di dalam barisan itu masih terbentuk beberapa barisan lagi.

Boom! Barisan-barisan di dalamnya semakin terlihat jelas oleh Leon, di depan setiap barisan itu terdapat seorang pengibar panji yang membawa panji yang berbeda-beda pada tiap barisannya. Leon tidak data menangkap dengan jelas apa atau bagaimana lambang di setiap panji-panji itu berbentuk.

Boom! Satu mile. Itulah jarak antara Leon dengan barisan pasukan di depannya, di seberang matahari bersinar terang dari kaki langit ketika barisan panjang itu berhenti dan menghempaaskan debu di sekitar mereka yang hampir menghalangi pandangan Leon. Ratusan, ribuan, bahkan lebih dari jutaan pasang platemail terpantul dari sepasang mata biru Leon. Leon tidak dapat menggambarkan kembali seperti apa platemail-platemail yang digunakan mereka, yang dapat ia ingat hanya platemail-platemail itu berbeda pada tiap barisan atau berbeda sama sekali pada barisan yang sama. Leon tidak dapat—bukan tidak ingin—menceritakan kembali pada siapapun juga secara jelas apa yang dilihatnya saat itu di sisa hidupnya. Bagaimana pasukan itu berbaris, apa saja yang dikendarai pasukan-pasukan itu, bagaimana rupa pasukan baik yang tertutup helm atau tidak, senjata apa saja yang mereka bawa, dan makhluk-makhluk apa saja yang menemani mereka baik yang berada di darat maupun yang sedang melayang-layang di udara.

Luar biasa. Itulah kata pertama yang dapat diucapkan Leon dalam benak terdalamnya sekalipun. Bukan ketakutan atau kebingungan—meskipun rasa itu masih cukup banyak tersisa dalam hatinya—yang pertama kali dirasakannya, melainkan perasaan yang aneh, mendebarkan jantung, mempercepat aliran darah, dan memerahkan mukanya. Semangat yang dirasakannya ini sama persis dengan yang dirasakan saat bola hijau tadi mengeluarkan keajaibannya. Semangat yang terasa begitu nyata bagi Leon karena pernah dirasakannya dan dialaminya tidak lama itu. Matanya berbinar sembari wajahnya semakin memerah. Ia tidak sanggup lagi memikirkan harus berbuat apa.

Tanpa Leon sadari, garis hitam jauh di balik kepalanya juga semakin mendekat, dengan kecepatan tinggi—mungkin lebih tinggi dari barisan yang sedang dikagumi Leon. Ketika Leon memutar tubuhnya dan memalingkan wajahnya, ia mendapati bahwa apa yang terjadi pada garis itu sama persis dengan yang terjadi pada garis yang dilihat Leon sebelumnya. Sebaris pasukan panjang lagi datang. Barisan yang mungkin lebih panjang dan lebih padat—dengan jumlah yang lebih banyak—dari barisan di seberangnya.
Barisan pasukan di garrison itu tampak begitu berbeda, setiap sosok di dalamnya tidak dapat dikenali Leon. Semuanya mengendarai seekor—atau sebuah—tunggangan yang belum pernah dilihat Leon saat itu. Tunggangan itu hitam seluruhnya, menyisakan warna merah di sepasang matanya yang dalam dan memancarkan tatapan yang tajam. Setiap pengendara memakai jubah hitam yang menutupi setiap inch dari apapun di balik jubah hitam itu. Hanya satu hal yang dapat diingat Leon, tunggangan itu ternyata seekor, seorang, atau sebuah makhluk hidup yang bersisik dan sisik-sisiknya memantulkan sinar merah matahari yang bersinar jauh di balik kepala mereka. Sisik-sisik itu tampat brgitu tak becacat dan berkilau, nyaris membutakan mata Leon dengan bantuan cahaya matahari yang bersinar langsung ke arahnya. Onyx, itulah kata pertama yang diingat Leon sepersekian detik setelah menyaksikan semuanya itu yang baginya adalah sebuah keindahan.
Garrison itu tidak bergeming saat kepulan debu merah di sekeliling mereka naik membubung menghalangi pandangan antara Leon dengan mereka. Ia bergantian melihat ke arah kedua arah barisan. Setelah sekian lama ini, ia menyadari bahwa ia berada di tengah medan perang, sesuatu yang harusnya sudah ia sadari sebelumnya. Hening. Segala sesuatunya tampak tak menandakan tanda-tanda kehiudupan jika tidak ada suara-suara pelan dan halus nafas dua barisan pasukan yang mengisi udara di sekitar Leon dengan ritme yang tidak teratur. Segala sesuatunya tampak tidak bergerak, terrain merah di bawah itu semua, bahkan udara tampak tidak bergerak dalam kepadatannya, debu-debu merah yang tadi diterbangkan udara kini sudah turun dan membuka dengan jelas setiap pandangan makhluk yang ada di situ satu sama lainnya. Leon merasakan suatu hal yang berbeda akan tempat itu, orang-orang, dan makhluk-makhluk itu. Ia merasakan suatu aura yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, ia merasakan ketakutan ada dalam wajah orang-orang itu, juga harapan dan semangat yang membakar atmosfer di tempat itu.

Saat semuanya tampak hening selama beberapa menit yang terasa seperti telah dilewati selama bertahun-tahun, terdengar suara melengking yang memecah kerapuhan suasana hening. Suara sebuah terompet tanduk yang dibunyikan menggelegar dan merayapi seluruh isi udara di tempat itu. Suara itu berasal dari salah satu dari kedua garrison itu. Hitungan belum memasuki menit, suara yang sama dibunyikan dari arah yang berlawanan. Suara-suara nafas tampak semakin berat, udara menjadi semakin dingin hingga kepulan asap dingin keluar dari hembusan nafas Leon. Atmosfer merah di sekitar mereka mulai tersingkap digantikan sebuah atmosfer yang lebih ‘bersahabat’. Semuanya tampak normal sekarang, tanpa warna merah yang menyelimuti segala sesuatunya. Keringat dingin mengucur dari dahi Leon, dari balik rambut perak yang menutupi dahinya. Bernafas semakin lama terasa semakin berat untuk dilakukan Leon, udara terasa semakin sulit dihirup dan dikeluarkan. Barisan makhluk yang mengepungnya dari dua arah tidak akan pernah ia bayangkan jumlahnya. Kebingungan dan ketakutan akan apa yang terjadi menjadi tirai bagi ruang benaknya. Derapan langkah kaki dimulai satu persatu, selangkah yang diikuti oleh langkah yang lain. Semakin lama semakin cepat, berasal dari kedua sisi yang berlawanan dan mengepung Leon dari kedua arah.
Bergantian Leon menatap kebingungan ke kedua arah, terkepung oleh jumlah sebanyak itu. Meskipun ia—anehnya—dapat menyadari ini mimpi, ia tetap merasakan perasaan takut yang paling besar yang dapat ia ingat pernah terjadi dalam sejarahnya hingga saat itu. Ketakutan yang semakin lama semakin besar seiring semakin cepat dan banyaknya suara derapan kaki—atau apapun yang dapat menimbulkan suara di situ—menyebabkan ia merunduk dan melindungi—begitulah kiranya kata yang tepat—dirinya dengan kedua tangan di atas kepalanya. Sekarang ia tidak melihat apa-apa di balik kelopak matanya yang tertutup, hanya kegelapan tak berujung. Tapi dalam sebuah mimpi, baru kali ini ia dapat mendengar suara yang tidak ia lihat, derapan-derapan itu semakin keras dan cepat, disertai debuman drum yang dipukul, tangisan, dan teriakan perang. Ia mendengar teriakan-teriakan yang berasal dari bahasa-bahasa yang tidak ia mengerti maupun dari bahasa ibu-nya. Semuanya bercampur dalam waktu yang bersamaan, hampir bersamaan, maupun bersahut-sahutan.
Tanah di sekitarnya bergetar semakin keras seiring menuanya waktu—di dalam mimpinya itu—hingga ia merasakan sesuatu melangkah—atau melayang—di atasnya, tanpa mempedulikan keberadaan seorang berambut perak yang sedang merunduk dan meringis ketakutan di bawahnya. Dalam beberapa waktu yang cukup panjang—ia tidak dapat mengukurnya dalam hitungan paling tidak terinci sekalipun—ia hanya mendengar dentingan logam yang beradu, suara cairan menyembur, ledakan, hentakan, debuman, koyakan, patahan, tangisan, isakan, gumaman, sentakan, teriakan, rintihan, hujatan, dan segalanya yang mungkin ada. Semuanya terasa begitu mengerikan baginya, ia merasakan ketakutan yang mendominasi segala sesuatu di sana.
Semuanya tampak berakhir begitu saja saat Leon menyadari bahwa dirinya tidak mendengar suara apapun lagi selain suara gagak-gagak yang berkoar penuh kemenagan di sana-sini. Leon mengangkat tubuhnya dan menengadah ke atas, matahari bersinar begitu merah tepat di atasnya, membuat segala sesuatunya kembali menjadi merah. Di sekitarnya ia tidak melihat apapun kecuali tanda-tanda kematian dan tumpahan darah di sana-sini. Aku berdiri di atas lautan darah, pikiran yang melintas di benaknya pertama kali untuk mendeskripsikan di mana ia sekarang.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang didapati Leon di tempat itu. Hanya gagak-gagak hitam yang berputar-putar di atasnya—seakan sedang menyampaikan hinaan san cemoohan-cemoohan keji bagi segala sesuatu di bawah mereka. Di antara titik-titik hitam yang tertumpahkan di atas—tidak dapat dipastikan bahwa kemungkinan untuk menggantinya dengan ‘di bawah’ lebih tidak benar— lembaran merah dengan sebuah piringan merah sebagai pusatnya, terlihat di pantulan cahaya mata Leon sebuah titik lain yang dengan bantuan cahaya matahari menyilaukan matanya. Titik itu seperak warna rambutnya dan sejernih seekor bayi rusa atau silverhorn yang baru dilahirkan.

Leon mendapati seekor gagak perak terbang melintasi dan mendekati kepalanya. Beberapa meter tepat lurus di hadapannya, gagak itu mengendarai udara berputar-putar membentuk serangkaian pola aneh. Seakan tertarik olehnya, Leon mengambil beberapa langkah dan mencoba mendekati gagak itu. Tanpa disadarinya, langkah-langkah Leon semakin cepat, hingga berubah menjadi sebuah larian kecil sampai akhirnya ia menyadari dirinya sedang berlari sangat kencang mengejar gagak itu. Ia berlari di antara jumlah yang tidak dapat dihitung dari mayat-mayat. Setelah melalui beberapa puluh atau ratus meter, Leon mulai kehabisan nafasnya.

Leon sedang menunduk terengah-engah saat gagak itu terasa semakin mustahil untuk dikejar. Keringat di wajahnya dengan lebat menghujani tanah merah di bawahnya. Air liur Leon meleleh membasahi bibir merahnya yang sedang terbuka, berusaha menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa.
Gagak perak itu, seakan mengerti bahwa perlombaan telah selesai dengan kemenangannya, juga berhenti terbang hingga melayang berputar-putar di hadapan Leon. Semakin lama ia semakin merendah, mendekati terrain merah di bawahnya, yang juga penuh oleh lautan darah dan tumpukan mayat.

Ketika Leon mengangkat tubuhnya kembali, Leon sudah mendapati gagak itu telah tiada dan digantikan oleh sesosok berjubah perak bercahaya. Sosok itu begitu anggun dan penuh cahaya yang mengaburkan pandangan mata. Leon hanya termanggu berdiri tanpa sanggup mengatakan apa-apa maupun berbuat satu hal pun selain berusaha dengan keras mengambil oksigen lewat cuping hidung dan mulutnya yang terbuka lebar.

Leon sedikit tersentak saat sosok berjubah itu mulai mendekat dan menggerakkan tangan kanannya keluar dari dalam jubahnya. Jantung Leon berdegub sangat cepat ketika ia melihat bola hijau berada dalam genggaman tangan kanan orang itu. Saat itu bahkan Leon belum sepenuhnya menyadari bahwa ia pernah melihat bola itu walaupun ia merasa demikian. Ia menyodorkan genggaman tangannya yang berisi bola hijau itu kepada Leon. Leon tersentak mundur ketika ia telah berhasil mengingat apa dan bahwa ia telah bertemu dengan bola yang mirip—atau sama—sebelumnya.
Saat Leon hendak mengambil bola hijau itu, yang seperti ditawarkan kepadanya, sosok cemerlang dalam jubah perak itu mengeluarkan tangan satunya. Semuanya tampak begitu sulit untuk dihapal ketika kejadian itu berlangsung begitu cepat, ketika sosok itu mengeluarkan sebilah belati merah darah dari balik jubahnya dan menancapkan belati itu ke dada kiri Leon. Darah berlumuran.

***

Dingin. Basah. Sesak di dada. Leon terjaga dan mendapati wajahnya diguyur hujan yang sangat deras. Ia bergegas menuju pohon oak terdekat dan berlindung di bawah atap daun yang bocor di mana-mana. Tidur paling tidak nyaman yang pernah dipunyainya, ia sesaat ingin merasakan kembali tidur di atas kasur bulunya yang empuk di rumah. Sungguh kondisi yang sangat menyakitkan bagi Leon hingga kondisi tubuhnya turun hampir seratus persen. Ia tidak berusaha untuk mengerjapkan mata ketika kedua bola matanya memaksa untuk menutup dan seluruh isi benaknya memaksa dirinya untuk memberi mereka waktu istirahat. Dalam kekosongan malam dan dinginnya air langit.

Read previous post:  
56
points
(2511 words) posted by jc_upu 11 years 27 weeks ago
70
Tags: Cerita | dongeng | eternal symphonia | fantasi | fiksi | leon | mythology | simphony
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer codenameKEY
codenameKEY at Eternal Symphonia--Prologue--II) (11 years 25 weeks ago)
100

key yg masih sma klas 1 ini salut ama dirimu...
klo perlu key ajak master villam dech, biar ikutan baca cerita kamu yg keren abiss ini!
^^ baca juga cerita key...

Writer elbintang
elbintang at Eternal Symphonia--Prologue--II) (11 years 26 weeks ago)
80

baru baca yg ini -ntar ngider baca yg pertama-

enak sih, aku menikmati bacanya.

menurutku ada beberapa kata yang ntah knapa aku tidak dapat menangkap "rasa"nya seperti kata-kata "luarbiasa" dan kata "cahaya" yg berulang.

tapi, untuk keseluruhan crita kamu...
ijinkan aku belajar di sini :-)

--cheers!--

Writer stangelion92
stangelion92 at Eternal Symphonia--Prologue--II) (11 years 26 weeks ago)

Writer Ojeng
Ojeng at Eternal Symphonia--Prologue--II) (11 years 26 weeks ago)
70

Salut, gw setuju ama Senja, kamu emang berbakat.... kamu "penulis muda".

Writer Senja
Senja at Eternal Symphonia--Prologue--II) (11 years 26 weeks ago)
80

Kamu punya talenta 'bro...
Kembangin yah!

Semangaaaat!!!
Gb.. ^^

(aku mo ke mt. Salvatodoe dulu yak! =p)

Writer jc_upu
jc_upu at Eternal Symphonia--Prologue--II) (11 years 26 weeks ago)
40

tq!! kata lo emang bener . . lyric gw masih ancur banget . . gw punya referensi sih--merry-dol nya tolkien keren bnget--jadi gw akan coba buat syair yang bagus kek itu ~~
klu masalah pendetailan cerita, keknya tolkien juga gayanya kek gitu . . banyak detilnya~~ yah tapi akan gw coba perbaikin, soalnya ini masih prolog jadi gw lebih ngarah ke detil dan penggambaran--prolog ngaruhi paradigma orang itu sampe akhir cerita, isn't it? hoho .. ~~
klo masalah dialog ntar tunggu chapter I masih gw tulis, di situ peran karakter dah b'jalan mskipun konflik masih blum muncul

kasih comment nya di semua karya juga dunk, trmasuk prologue I^^ biar sticker nya gede hoho~~
tq2!!

gw nyolomg pt 4 ya hohoh~~

Writer arczre
arczre at Eternal Symphonia--Prologue--II) (11 years 26 weeks ago)
70

Ceritamu adalah cerita dengan setting Medi-Eval. Tentu saja apabila di zaman Medi-Eval, sebuah lirik lagu akan benar-benar dilihat bentuk syairnya.
Justru dari sebuah syair di dalam lirik itu akan mengakibatkan kerealistisan cerita.

Biasanya sya'ir2 pada masa dulu itu lebih mengandalkan sajak. Dari sini, engkau tidak memberikan aturannya, kau terkesan memberikan sebuah puisi bebas. Yang mana itu hanya terjadi di zaman modern seperti sekarang. Sebab zaman dulu, puisi yang dianggap bagus adalah yang memang mempunyai sajak yang bagus.

Btw, itu hanya penilaianku terhadap lirik lagu yang mengganggu, tapi dari segi cerita, your story is good. Dan pesanku. Kurangi pendetailan cerita. Biarkan pembaca yang berimajinasi.

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Eternal Symphonia--Prologue--II) (11 years 26 weeks ago)
90

Seandainya ini buku, tentu lebih asyik membacanya. Ceritanya bagus.

Writer Luna_punk
Luna_punk at Eternal Symphonia--Prologue--II) (11 years 26 weeks ago)
80

hi, JC_Cupu, salam kenal. critamu lumayan juga...bagus... tapi dialognya dibanyakin donk!! ya gitu... terus berkarya. tetap smangt!