Bola Hujan di Telinga Rachel

Setiap hujan turun sore, Rachel selalu mendengar suara kecipak kaki berlari menendang-nendang bola plastik. Rachel tak berani menengok, karena ayahnya melarang keras anak perempuan bermain hujan. Apalagi bermain, menatap hujan di sore hari saja tak boleh. Kalau tetap nekad, maka seikat kayu rotan siap membekas di kaki, paha dan lengannya. Bahkan ia dipaksa tidur di kandang apabila nekad membuka jendela. Tak heran jika setiap hujan mengguyur sore hari, jendela-jendela selalu ditutup rapat.
“Boleh aku menengok suara itu ayah?” tanya Rachel. “Tidak ya tidak, nekad kamu!” jawab ayahnya. “Sudah sana! Bantu ibumu merebus air!”
Rachel hanya bisa menundukkan kepala, mungkin karena tak ada satu pun pembela. Saat neneknya masih hidup, ia selalu dibela. Nenek sering membalaskan pukulan jika melihat Rachel dipukuli ayahnya.
“Tapi suara itu masih terdengar!” sepertinya Rachel tak bisa sembunyikan kekhawatiran itu.
“Terlalu mengada-ada kau ini. Itu kan hanya tetesan dari genting yang bocor,” sahut ayah, “ibumu menadahinya dengan ember.”
Kembali Rachel harus tertunduk. Selama ini suara itu selalu mengusik telinganya ; mengalahkan gelegar petir yang sewaktu-waktu menumbangkan pohon hingga rumah itu hancur berantakan, dan menjebaknya di bawah ketiak reruntuhan.
“Tak ada yang perlu dicari di tempat ini. Sekarang kau harus bersyukur tinggal di desa ini! Di kota telah habis semuanya. Udara di lereng ini masih sejuk. Masih banyak yang bisa kita makan. Betapa lezatnya daging binatang-binatang hutan, jika dimasak dengan sayur-sayur segar,” seru ayahnya seraya berjalan menggunakan tongkat kebesaran sewaktu masih menjadi panglima perang. Pandangan mata Rachel perlahan kosong dan gelap. Bayang-bayang saat para serdadu menculik ayahnya muncul seketika tanpa permisi. Kala itu para serdadu memanggil ayahnya atas utusan presiden. “Ada apa gerangan?”
“Maaf komandan, perang telah terjadi di kota. Ribuan nyawa terancam mati. Untuk itu team pasukan kota memohon bantuan dari pasukan komandan.”
“Baiklah, akan kukerahkan semua.”
“Tapi sekarang komandan harus mengikuti kami, ada berbagai strategi yang harus disusun.”
Rachel mencoba melupakannya, namun tetap saja kian terlukis secara runtut dan tentu saja lebih menyakitkan. Ditatapnya jam dinding bertuliskan nama seorang anak laki-laki. “Aku baru ingat, anak laki-laki itu? Siapakah gerangan? Laki-laki itu hanya kujumpai dalam mimpi?” ia berbisik. Mulutnya terasa kaku jika ingin mengucapkan nama lelaki itu. Jantungnya semakin berdetak kencang. Nafasnya kembali kembang kempis seperti tersumbat beton.
Lautan awan bersemburat ditarik dari rentang jarak yang berlawanan selaksa jaring laba-laba. Mungkin gusar dengan desingan peluru atau dentuman bom yang diledakkan sembarangan, lantas sebagian besar gumpalan awan berarak ke atas gunung dan memekat. Maka muncullah kilat-kilat kecil. Acapkali ia meneriakkan kata-kata rindu dengan ayahnya. Rachel hanya bisa membatin : “Mungkinkah ayah mendengarnya? Mungkinkah ayah melihat gunung ini dan membayangkan serta mengira-ngira aku dan ibu berada di lerengnya? Ayah!”
Kian teriris hatinya dikala dentuman keras terlihat di atas langit kota, menyisakan gema gemuruh yang berkepanjangan. Dan lukisan raksasa tadi berubah menjadi lukisan abstrak yang tak tentu bentuknya. Hanya ledakan-ledakan serta api yang berpijar pada malam hari. Ada desingan terdengar sampai ke hutan. Memecah sunyi dengan gema, menggetarkan puncak gunung. “Ayah, di manakah engkau?” bisik Rachel seraya meneteskan air mata.
“Cengeng kamu! Kau tidak mungkin bersuami jika cengeng begitu! Tak ada laki-laki yang mau dengan perempuan cengeng macam kau!” seru ibunya menarik tubuh Rachel.
“Setan alas, kenapa kau tak berhenti juga menangis?” seru ibu seraya menampari pipi Rachel yang putih mulus dan kemerah-merahan itu. “Bagaimana dengan ayah? Apakah tidak akan pulang lagi menemui kita di rumah ini!”
“Biar!!!Biarkan ayah mati! Gajinya justru lebih besar jika ia mati. Surga lebih indah dari pada bumi.”
“Di mana surga itu? Adakah surga lain di bumi...?”
“Pertanyaanmu ngelantur. Pertanyaanmu itu pertanyaan para pemberontak. Awas jangan sampai kata-katamu itu diketahui ayah, bisa mati kau. “
“Ah tidak, aku hanya bertanya kok.”
Ada suara lagi memanggil Rachel. “Rachel, ke sinilah! Bawang-bawang segar jatuh dari truk muatan pasar.” Rachel tersentak. Ia mencari di mana suara itu berada. Ia cari di belakang rumah, namun kosong, hanya dua ekor kucing tidur mendengkur tertiup dingin kabut yang turun secara pelahan.
Hingga malam, secara diam-diam, Rachel membuka jendela kamarnya. Bulan sengaja menutup senyumnya dengan sedikit kabut yang samar-samar berarak. Dari jendela kamar, Rachel melihat dentuman di kota yang berubah menjadi gumpalan asap-asap hitam tersebar menutupi pandangan matanya.
***
Pagi-pagi hujan lebih dulu turun sebelum mata membuka ruang mimpi yang menyelimut hangat tubuh-tubuh mengigil di dalam kamar berdinding kayu. Dibukanya jendela kamar, lantas menjulurkan kedua tangannya ke luar jendela. Dengan mata terpejam, Rachel merasakan butiran-butiran air jatuh di telapak tangan. “Buka pintu!” suara lelaki yang lebih tua dari sebelumnya terdengar seperti menghardiknya dari luar. Rachel terperajat, dan bergegas membukakan pintu. Betapa terkejutnya saat ia saksikan ayah berjalan pincang dengan masih menenteng sebuah senapan laras panjang.
“Oh Ayah.”
Rachel menghela nafas panjang dan tak berani menanyakan apapun kecuali langsung bergegas membuatkan air hangat, dan menyediakan teh hangat di meja depan bersama ibunya.
Sepulang perang, wajah ayah nampak kusut. Rambutnya bertambah panjang berombak. Namun cambang dan kumisnya masih menyisakan kewibawaan dan keperkasaan seorang prajurit pilihan. Mata ayah terlihat kosong dan berkaca-kaca sembari masih mereguk teh hangat sedikit gula itu. Dipungutnya sebatang rokok dari dalam bungkus yang sedari ayah pergi masih tergeletak di atas meja. Lantas menghisapnya dalam-dalam. Asap yang keluar dari mulut dan hidungnya, seperti tersendat kesesakan. Padahal tak biasanya, ayah bersikap seperti itu. Apalagi dia seorang tentara. Malu jika hidup di tengah hutan ini kewibawaannya sebagai tentara itu hilang dengan membuang-buang waktu.
“Ayah?” tanya Rachel ragu-ragu. “Jangan tanya apa-apa!” jawab ayah tanpa memandangnya sedikitpun. “Kerjakan pekerjaanmu, dan jangan banyak omong!”
Lagi-lagi matanya terus berkaca-kaca.
Ayah jadi terlalu cengeng.
Sayup-sayup rintih tangisnya terdengar juga. Air yang meleleh dari kelopak matanya yang sayu semakin deras saja. Kegagahan itu seolah luntur seperti seragam perang yang masih dikenakannya. Kusam. “Ayah, apakah ada kabar buruk terngiang?” tanya Rachel seraya menunduk. “Sudah berapa kali aku melarangnya!” jawab ayah terbata-bata. “Harga pengorbanan itu cukup besar. Bukan hanya kaki saja yang pingsan, tapi nyawa tak mungkin bisa dipaksa kembali.”
“Siapa yang kamu maksud?” tanya ibu.
Rintih tangis itu semakin keras ketika mulutnya menyebutkan sebuah nama, “Sadrack, yah Sadrack, sudah berapa kali ayahmu ini melarangmu! Kau tak perlu susah-susah membunuh orang dan menghindari senjata! Ada lahan luas di hutan ini. Masih banyak binatang-binatang hutan yang bisa disantap. Biarkan aku saja yang mati.”
Angin berdesir kencang. Tubuh dua perempuan itu merinding, dan tak bisa lagi meneteskan air mata. Semuanya tertahan dengan sayatan hati yang perihnya menjalar sampai mencekik leher. Namun tak ada satupun titik air mata terjatuh menciptakan butir-butir puisi kesedihan. Mereka terbiasa dengan kabar buruk seperti itu sejak kematian kakek di tempat yang sama. Di medan peperangan.
“Kita cari dukun pencabut nyawa itu?” usul ibu, “biar satu persatu nyawa pemberontak itu dicabutnya.” Muka ayah memerah. Ia datangi ibu dan segera mengayunkan tangannya tepat ke arah ibu. Namun tangan itu buru-buru sudah ditangkisnya. “Jangan pukul! Pengecut! Dasar laki-laki tak bisa menjaga anak. Di mana kejantananmu? Hah sekarang aku beritahu, kalau aku telah berpuluh-puluh tahun menikah dengan prajurit loyo,” seru ibu seraya menuding muka ayah. Lantas memukulnya hingga tergeletak. Yah, ibu, terlalu berani dengan ayah. Tak sepantasnya itu dilakukan. Mentang-mentang ayah sudah tua.
Tapi sejak remaja, kata mendiang kakek, ibu memang benci dengan laki-laki cengeng. Sejak itu, ayah tak lagi menangis. Mungkin ia telah lupa. Bahkan ia juga tak lagi memanjakan Rachel.
***
Kali ini hujan turun kian deras. Angin berdesir kencang. Pohon-pohon bergoyang. Petir bergelegar menghantam jantung mereka. “Awas, tutup semua pintu!”
“Ibu, Ayah, bagaimana dengan laki-laki di luar rumah itu?” seru Rachel panik. Ia berlarian membuka pintu depan, belakang dan jendela-jendela. “Laki-laki itu pasti kehujanan. Ya Tuhan di mana laki-laki itu?”
“Kau mencari siapa?” tanya ayah.
“Tak ada orang di luar,” jawab ibu. “Mereka telah mati.”
“Bukan, Sadrack masih hidup. Aku baru saja dengar ia bermain bola dan memanggil namaku,” kata Rachel.
“Sadrack?” tanya ayah. “Bukankah ia telah mati?”
“Jangan kau paksa kami menangis! Ia adalah ksatria. Biarkan dia mati!”
“Iya, aku yakin itu pasti suara Sadrack. Aku hafal betul dengan suaranya. Ia terbiasa bermain bola setiap menjelang hujan turun. Bukankah ia suka dengan air?,” jawab Rachel, “biar aku rebuskan air. Ia pasti kedinginan dan menangis.”
Saya hanya bisa menatap mereka, dan tak bisa berbuat apa-apa. Mereka terlalu takut dengan gejala-gejala alam. Padahal seperti ini sudah biasa.
Pernah saya sentuh mereka satu persatu. Tapi saya tak bisa merasakannya. Demikian pula mereka. Dan sekarang kawan-kawan menunggu saya untuk ikut bermain bola. Kala senja tiba, kala langit semakin gelap. Kala semua terlelap. Dan saya berharap, Rachel berhenti bermain hujan, dan berhenti menganggap suara-suara itu adalah aku. Sebagian kawanku memang usil, meniru suara dan kebiasaanku semasa aku hidup. Aku tak ingin ayah, ibu, dan Rachel terganggu.
Solo, Juni 2006

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Susy Ayoe
Susy Ayoe at Bola Hujan di Telinga Rachel (12 years 27 weeks ago)
80

dalam...berbobot

Writer indry
indry at Bola Hujan di Telinga Rachel (12 years 27 weeks ago)
50

Ceritanya cukup membius. Tapi alurnya sedikit berbelit. Endingnya mengejutkan. Sebenarnya jika yang lebih dieksploitasi sejak awal adalah Sadrack, ceritanya akan lebih hidup lagi, dibanding dengan mengetengahkan tentang Rachel dan bola hujannya. Meskipun memang ada benang merah di dalamnya. Maaf jika tidak berkenan