Na...na...na...naa.... (2)

Feel The Taste

”Kita telah mendengarkan presentasi dari ketiga pemakalah yang cukup panjang lebar. Selanjutnya, saya persilakan kepada para peserta untuk memberikan pertanyaan. Saya batasi tiga penanya terlebih dahulu. Saya persilakan untuk tunjuk jari”, orang di samping Kevin yang disebut-sebut sebagai moderator mempersilakan kepada para hadirin untuk melontarkan pertanyaan.

Sementara itu, Kevin yang duduk paling ujung semakin gelisah. Ada sesuatu yang tertahan. Sebelum duduk di depan, rasanya dia sudah tiga kali bolak-balik kamar mandi dengan muka cemas. Tangannya semakin dingin ketika menjelang presentasi makalah. Keringat yang keluar di dahi dan pelipis tidak mampu mengurangi ganjalan di bagian bawah perut. Alasannya sederhana. Kamar mandi di gedung itu kamar mandi kering. Adanya hanya tisu toilet. Tidak ada shower apalagi ember atau bak mandi. Pantas saja, karena Kevin membaca ada tulisan Garuda Hotel terpampang di lobi depan. Kevin merasa enggan untuk buang air kecil. Menurutnya, ini benar-benar kembali ke zaman batu. Kehidupan modern yang tidak higienis.

”Mudah-mudahan ini segera berakhir”, bisiknya dalam hati.

”Kita telah mendapatkan tiga orang penanya. Silakan mbak yang pakai baju biru, bapak yang di depan, sama mbak yang pakai baju putih”.

Mikrofon yang dibawa panitia diberikan kepada penanya. Tanya jawab berlangsung lancar hingga tiba penanya ketiga. Kevin melirik arloji warna silver yang dia kenakan. Waktu yang dialokasikan untuk tanya jawab masih terlalu lama.

Sementara itu penanya ketiga mulai melontarkan pertanyaan.

”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada saya. Nama saya Astri, dari salah satu tabloid wanita. Pertanyaan saya ajukan kepada mas Kevin”, cewek itu membalik catatan pertanyaan yang dia pegang.

”Waduh cewek cantik ini kok tertarik nanya ke aku”, batin Kevin ge_er sambil senyum-senyum mupeng. Hasrat semula sudah sedikit berganti.

”Saya mau tanya sama mas Kevin. Mas Kevin mengatakan kalau film relatif lebih bagus daripada sinetron. Oke, saya bisa terima. Namun, tolong berikan alasan logis yang bisa diterima semua orang, karena sebagian besar masyarakat kita terutama kalangan orang tua merupakan penikmat atau bahkan pecinta sinetron! Terima kasih”, cewek itu duduk kembali.

”Oh Tuhan, cewek ini bukan hanya cantik. Engkau bisa saja menciptakan makhluk hampir sempurna ini. Seandainya dia ikut pemilihan putri Indonesia, aku mau jadi jurinya. Bright, beautiful, and behaviour”, anggapan yang berlebihan at first sight.

”Uh...pertanyaan yang harus dijawab dengan hati-hati. Siapa tahu ada produser sinetron di sini”, Kevin menghela napas. ”Aduh perutku semakin tidak enak. Pertanyaan dan dinginnya AC ternyata tega berkolaborasi membuatku semakin kebelet pipis”, Kevin berusaha mempersiapkan jawaban yang seobjektif mungkin sambil tetap sibuk berubah-ubah posisi.

Beberapa saat selanjutnya moderator mempersilakannya menjawab pertanyaan itu.

”Begini, mbak siapa tadi?”, pura-pura lupa. Salah satu trik untuk jaga wibawa.

”Astri”, jawab moderator.

”Film layar lebar itu relatif, saya katakan relatif ya, lebih baik daripada sinetron. Saya katakan demikian bukan karena film itu lebih prestisius atau bergengsi dibanding sinetron. Bukan pula karena biaya pembuatannya yang lebih mahal, walaupun bisa dikatakan demikian. Menurut saya, film itu lebih bisa diterima dengan akal sehat. Reality dan tidak mengada-ada. Sinetron kita kebanyakan agak membodohi akal sehat”, Kevin mencoba menjawab bijaksana. Namun, perkiraan Kevin meleset. Debat ini belum berakhir. Jawaban ini ternyata membuka celah dan cewek itu tidak tinggal diam.

”Jadi menurut Anda, orang yang senang nonton sinetron lebih bodoh daripada orang yang senang nonton film? Sepakatkah Anda kalau kita lebih baik mengatakan bahwa pecinta sinetron merupakan kalangan yang lebih senang sesuatu yang ringan. Sementara itu, pecinta film merupakan kalangan yang lebih senang sesuatu yang berat. Anda setuju?”

”Fifty-fifty. Pendapat itu juga relatif. Anda tentu setuju kalau saya katakan sinetron itu belum tentu ringan dan film itu belum tentu berat. Seandainya kita mengkategorikan seperti yang Anda bilang, saya harus menambahkan bahwa kebanyakan ibu-ibu lebih suka sesuatu yang ringan, I mean sinetron. Sedangkan, kebanyakan anak muda lebih suka sesuatu yang berat atau film. Mengenai pembodohan akal sehat, saya coba memberikan contoh. Sinetron yang tayang di televisi kita sering menampilkan cerita anak miskin dibuang orang tuanya yang kaya raya. Setelah beberapa tahun, dia ditemukan kembali karena selendang, cincin, atau bros yang dia kenakan sama dengan peninggalan orang tuanya. Contoh lain, ada cerita yang mengisahkan salah satu tokoh mengalami kecelakaan lalu dikatakan meninggal. Mayatnya tidak ditemukan. Setelah beberapa bulan ternyata dia selamat karena ditolong orang. Dia tiba-tiba muncul kembali dalam keadaan hilang ingatan. Cerita itu berulang-ulang dikisahkan dalam beberapa sinetron. Jangan salah, saya juga sometimes nonton sinetron. Sekarang coba bandingkan dengan film yang menceritakan laki-laki miskin mampu menikahi perempuan lebih dari satu. Contoh lain, ada cerita film mengenai seseorang menikah dengan orang yang baru dikenalnya beberapa minggu. Dia malah tidak menikah dengan orang yang dipacari atau dikenali selama beberapa tahun dengan alasan tertentu. Bandingkan contoh-contoh itu! Mana yang lebih bisa diterima akal sehat?”, Kevin menerangkan panjang lebar.

Cewek itu berdiri lagi.

“Menurut saya contoh itu ikut-ikutan relatif. Contoh satu dan dua tidak selalu mutlak tidak bisa diterima akal sehat. Sebaliknya, contoh tiga dan empat juga tidak selalu mutlak dapat diterima akal sehat. Ya, ‘kan?”

“Kritis juga cewek ini. Kucium baru tahu rasa”, batin Kevin semakin gemas.

Kevin kembali gelisah. Jawabannya semakin membuka celah. Namun, bukan itu yang membuatnya gelisah. Ada sesuatu yang sudah tidak bisa diajak kompromi. Kebelet buang air kecil sangat menyiksa. Tiba-tiba dia berdiri. Dia mengacungkan jari telunjuk. Tanda interupsi. Aneh. Semua orang menjadi diam. Bahkan saat dia beranjak dari tempat duduknya. Tak seorang pun bergerak. Moderator tidak berkomentar. Cewek itu menatap lurus ke depan tanpa berkedip. Semua orang seperti berhenti bernapas. Kevin berjalan dengan cepat. Hanya dia yang bergerak. Dia berjalan semakin cepat dan setengah berlari. Rasanya saat itu meja makan hotel yang dipenuhi hidangan lezat sangat tidak menggiurkan. Kamar tidur hotel yang mewah pun jauh lebih buruk daripada toilet. Kevin berlari menuju toilet. Sesampai di toilet, Kevin buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Tangannya sibuk mengunci pintu kamar mandi. Buru-buru dia membuka kancing celana panjangnya. Dia heran karena kancing itu sulit sekali dibuka. Sesuatu yang mudah biasanya menjadi sulit dalam kondisi teburu-buru. Sementara ganjalan itu semakin tidak sanggup dia tahan.

”Sebentar lagi Kevin. Sebentar lagi akan menjadi lega”, batin Kevin sibuk menenangkan. Kancing itu belum terbuka juga. Sementara, ada sesuatu yang terasa hangat keluar. Hanya sedikit.

Tiba-tiba....

”Kevin...Kevin...bangun!”, wanita setengah baya muncul di atas mukanya.

Secara spontan Kevin melompat, berdiri, dan berlari ke kamar mandi. Mamanya heran. Setelah beberapa waktu, Kevin muncul kembali.

”Waduh thank’s berat, Ma. Untung mama bangunin aku. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi”, Kevin spontan mencium pipi mamanya sebagai tanda terima kasih.

”What?”, mamanya semakin heran.

”Teman SMA Kevin dulu mimpi pipis, eh ternyata ngompol beneran”, jawab Kevin ringan. Mamanya hanya bisa mengangguk tanpa ekspresi.

Usia Kevin hampir menginjak 19 tahun. Dia sedikit manja, maklum sebagai anak tunggal. Otaknya bisa dikategorikan cerdas. Meskipun akhir-akhir ini orang lebih memilih mendoakan anaknya agar beruntung daripada cerdas, namun kecerdasan tetap mempunyai kelebihan. Paling tidak, saat mengikuti tes perguruan tinggi negeri, keberuntungan agak lebih rendah nilainya dibanding kecerdasan. Kevin sudah resmi menjadi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu Universitas Negeri di Jogjakarta. Kevin tidak perlu tinggal di kos karena kampus dapat ditempuh hanya dalam waktu 15 menit dari rumahnya. Prestasi ini membanggakan mamanya. Menurut Kevin, ini cukup menjadi surga dunia. Definisi surga dunia mungkin berbeda untuk setiap orang. Sayang sekali bagi orang yang merasa tidak pernah merasakannya. Padahal, siapa pun sebenarnya dapat menciptakan kenikmatan surga dunia dari berbagai keterbatasan atau kelebihan yang dimilikinya. Feel the taste.

Beda orang beda rasa. Demikian halnya perasaan Kevin dan mamanya. Kevin merasa hidupnya dari kecil selalu bahagia. Sebaliknya, mama Kevin selalu mengeluh karena merasa beban yang dipikul terlalu berat. Sejak papanya memutuskan menikah lagi dengan teman kerjanya, Ayu, atas alasan tidak kuat menahan godaan, iman terlalu lemah, dan menghindari perzinaan, mamanya sangat terpukul. Kevin tidak terlalu protes. Dia saat itu memang terlalu kecil untuk mengerti betapa rumit masalah orang dewasa. Dia hanya tahu mamanya akan bertambah satu. Adiknya akan lahir dari mama yang baru. It’s so simple. Pendapat itu tentu berbeda dengan pendapat mamanya. Wanita mana yang mau dimadu. Suaminya dibagi-bagi. Tiga malam tidur dengannya, lalu tiga malam berikut tidur dengan wanita lain. Sisa semalam kadang-kadang digunakan untuk menginap di rumahnya atau di rumah wanita itu. Dia tidak bisa berontak terhadap keputusan itu. Ini bukan karena dia terlalu lemah sebagai wanita. Justru karena dia menyadari bahwa poligami itu syah di mata negara dan agama. Dilematis.

”Mama, Kevin berangkat dulu, ya!”, Kevin pamitan pada mamanya setelah selesai mandi, berdandan, dan sarapan. Dia ada kuliah pagi.

”Kevin, mama bisa minta tolong, tidak? Kamu ’kan sudah mama tolong tadi”, kata mamanya sambil tersenyum.

”Apa, Ma? Mama mau nitip sesuatu?”, tanya Kevin.

”Mama tidak nitip apa-apa. Mama minta Kamu tidak pergi kuliah hari ini, ya!”.

”Mama ini gimana sih? Ma, teman Kevin yang rumahnya jauh terus waktu liburan mudik aja disuruh cepat-cepat balik ke Jogja sama orang tuanya. Mereka melarang anaknya bolos dan memperpanjang libur. Eh, ini si Mama anaknya mau kuliah malah dilarang”, Kevin tetap mengambil tas ransel dan bersiap memanaskan mesin sepeda motor.

”Kevin, mama sudah tidak kuat. Mama ingin minta tolong Kamu mengantarkan mama ke kantor papamu. Mama ingin minta cerai”, mamanya mengemukakan alasan.

”Cerai terus yang mama omongin. Seberat apa sih penderitaan mama? Mama dipukuli papa? Enggak, kan? Mama tidak diberi nafkah sama papa? Enggak, kan? Mama tidak digauli papa? Enggak juga, kan?”, hampir setiap hari Kevin bosan memberi nasehat.

”Enggak sih. Tapi mama tetap ingin cerai. Mama sudah tidak kuat”, mamanya merebahkan diri di sofa.

“Alasannya apa? Mama tidak mau dimadu? Teman mama selalu menyindir? Gengsi? Harga diri? Ah.. mama...Kevin mau pergi dulu, udah telat nih”, Kevin mencium tangan mamanya dan bergegas pergi.

“Kevin, antarin mama ke kantor papa! Mama udah ambil cuti hari ini. Ayolah! Kamu tidak usah kuliah hari ini. Hari ini saja”, mamanya tetap merayu.

“Ma, cerai itu untuk alasan suami sudah tidak bisa menafkahi lahir batin, suami tidak waras, atau suami menganiaya istri”, Kevin turut duduk dan menunda pergi.

“Mama tidak mau diduakan”, mamanya ngotot.

”Mama diduakan sudah berapa tahun? Seingatku, hampir lima belas tahun. Baru sekarang mama bilang tidak mau. Hakim akan tertawa sebelum sempat bersidang”.

”Kamu kok galaknya melebihi mama sih! Kamu cowok sih, jadi enak aja bilang begitu. Mama ini yang merasakan, Kevin. Sakit”, mama Kevin menegakkan badan protes.

”Bukan begitu, Ma. Sekarang, coba mama lihat wanita-wanita dan anak-anak di lampu merah yang Mama lewati tiap hari itu! Mereka mungkin terpaksa meminta-minta karena suaminya tidak bertanggung jawab. Ayahnya meninggalkan mereka begitu aja. Mama, kita hanya perlu merasa berlebih aja”, Kevin mirip guru BP yang tugasnya selalu memberi petuah.

Mama Kevin diam sejenak. Senyum mulai mengembang di mukanya.

Plok...plok..plok...
Tiba-tiba tangannya bertepuk.

”Jempol empat, dua tangan dan dua kaki buat Pak Kevin. Tunggu sebentar, honey! Jangan pergi dulu!”, mamanya berdiri dan berlalu ke kamar.

Kevin mengernyitkan keningnya.

To be continued.....

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer neisca
neisca at Na...na...na...naa.... (2) (11 years 24 weeks ago)
90

bagus....ternyata kamu punya bakat terpendam jadi penulis....:) cuman lebih PD lagih aja.

Comment:
Bright, beautiful, and behaviour

behaviour ini maksudnya apa???

Writer anndutte
anndutte at Na...na...na...naa.... (2) (11 years 24 weeks ago)

to: addang13
thank's comment nya. Justru ini yg kutunggu. kalo ad yg ndak ngerti, berarti aku relatif berhasil membuat org bingung...;> _bangga_red_
baca yg pertama yah..._tetep promosi_red_

Writer addang13
addang13 at Na...na...na...naa.... (2) (11 years 24 weeks ago)
80

Gak ngerti. Ceritanya kelewat berat (skitar 38 kb. Itu pun udah dikompres).
Nilainya juga relatif. Komentarnya ikut relatif.