Di Tengah Kiri dan Kanan

Bisa kurasakan detak jantung yang berdetak semakin cepat melewati saraf-saraf di telapak tangan lalu mengantarkan pesan kepada otak yang kemudian diartikan sebagai tanda kegelisahan. Perutku mual. Telapak tanganku berkeringat. Kakiku bergerak-gerak cepat hingga menimbulkan getaran kecil tanpa kusadari. Bagian bawah bibir kugigit semakin kencang. Lampu kecil menyala berwarna oranye yang berada di atas kursi depan seolah berkata padaku, “Pastikan sabuk pengaman sudah menempel di pinggang anda. Dan pastikan juga bila sudah benar-benar terikat kencang!”. Kupastikan sabuk pengaman sudah melingkar kencang di pinggang. Sayap pesawat besi ini dengan jelas terlihat lewat jendela kecil segi empat tanpa sudut tajam di sebelah kiriku.

“Kamu boleh pegang tanganku begitu kita take off ”, lelaki di sebelah kiriku menawarkan bantuan moril dengan media salah satu bagian fisiknya yang boleh kupinjam sejenak, “Sampai kita landing nanti juga tidak apa-apa. Kamu remas pun aku tidak keberatan”.

“Aku tidak pernah takut terbang, kamu tahu itu”, kataku setelah menggenggam erat tangannya,

“Apa yang tidak aku tahu tentangmu?”, tanyanya dengan nada berbisik, tanpa sedikit pun menjawab tatapan mataku yang mengarah kepadanya, “Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal seseorang, kamu juga tahu itu”.

Dia hanya menunjuk ke arah jendela. Aku menoleh ke mana jari telunjuknya mengarah. Bisa kurasakan getaran pesawat semakin keras. Sayap pesawat semakin menjauh dari daratan. Aku menggenggam tangannya sekuat aku mampu meremas tangannya.

Mengalihkan pandanganku dari jendela dan beralih menatap bagian belakang kepalanya. Melihat rambut ikalnya yang panjang terikat rapi hingga tahi lalat hitam kecoklatan kecilnya jelas terlihat di bagian belakang leher putih. Tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan si tahi lalat mungil. Atau mungkin hanya aku yang tahu? Selain orangtuanya tentu saja. Karena terlalu sering aku mengikat rambutnya, atas nama kerapian.

“Bukannya kamu sudah janji mau potong rambut begitu diterima kerja?”, tanyaku di pagi hari satu minggu setelah dia bekerja di kantor pertamanya, “Kenapa sampai sekarang belum dilakukan?”

Aku masih duduk di balik selimut ditemani segelas kopi di meja dan roti tawar di tangan yang dia siapkan untuk sarapan. Dengan sinar hangat matahari pagi yang menyeruak masuk lewat jendela dan merayap melewati saraf tubuhku tapi belum mampu merayuku untuk beranjak dari tempat tidur.

“Hari jumat saja”, jawabnya singkat dari balik dinding kamar mandi, “Kamu temani aku, setelah aku pulang kerja”. Setelah itu yang kudengar hanya suara dia menyikat gigi dan air yang mengalir.

Dia memang sebisa mungkin membiarkanku terlibat pada setiap hal yang dia lakukan dalam hidupnya. Bahkan untuk hal kecil, seperti pergi ke tempat potong rambut misalnya.

Tapi sampai saat ini pun, aku melihat rambutnya masih terlihat panjang. Bahkan poni yang terakhir kulihat masih belum mampu diikat kini bisa ditariknya ke belakang dan ikut terikat.

Aku menebak dia sudah memotongnya, tapi tidak sampai memangkasnya pendek. Mungkin karena tidak bisa memutuskan sendiri rambut pendek seperti apa yang cocok untuknya. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri hingga tidak sempat mencuri waktu dan menemaninya pergi ke tempat potong rambut.

“Kenapa sampai sekarang rambutmu masih panjang?”, tanyaku setelah lama dalam diam dan pesawat tidak bergetar kencang. Tanda pasang sabuk pengaman juga telah dimatikan, tapi aku memutuskan untuk tetap memakainya. Dia menoleh dan memegang kuncir ikal kecilnya. Mendekatkan wajahnya ke arahku.

“Tidak akan kupotong kalau tidak ada kamu”, jawabnya singkat, masih dengan nada berbisik, “Beli kemeja adalah hal terakhir yang kulakukan tanpa ditemani kamu. Dan hasilnya, bahkan temanku yang dikenal dengan selera fashionnya yang buruk saja mengatakan kemeja itu jelek”.

Mau tidak mau aku tersenyum mendengar pengakuannya. Walau aku belum secara langsung melihat kemeja yang dimaksud.

Jari-jarinya semakin rapat mengisi celah jari-jari tanganku. Aku merasakan cincin di jari manisku menekan kulit. Kurogoh pelan bagian dalam tasku dengan satu tangan dan mengeluarkan kartu undangan segi empat berwarna coklat dengan hiasan kecil di ujungnya.

“Bagus?”, tanyaku sambil menunjukkan kartu itu padanya.
Dia menggeleng pelan. Padahal dia sama sekali tidak melihat ke arah kartu undangan yang ada di tanganku. Biasanya dia tidak pernah mengatakan tidak bagus dengan pilihanku.

“Kalau kamu bertanya tentang desain atau warnanya, apapun pilihanmu itu pasti bagus di mataku. Aku percaya apapun yang kamu pakai untuk acara itu pasti cocok untukmu”, katanya, “Gaun pengantin warna putih yang kamu tunjukkan kemarin itu bagus, walau aku tidak ikut memilihkannya untukmu. Cincin itu juga cocok melingkar di jarimu, walau aku tidak dengan betul-betul menyukainya. Kartu ini juga bagus karena warnanya adalah warna kesukaan kita”.

Aku mencoba melepaskan genggaman tanganku darinya, tapi tidak dilepaskannya. Karena aku merasakan ada sesuatu yang buruk yang akan dikatakannya.

“Tapi besok, gaun itu menjadi buruk di mataku karena bukan aku yang ada di sampingmu ketika kamu memakainya”, katanya, kali ini nadanya tidak lagi berbisik. Nadanya meninggi. “Cincin itu menjadi tidak cantik lagi karena bukan aku yang memakai pasangannya. Dan undangan ini menjadi sangat jelek, karena bukan namaku yang tertulis di dalamnya. Tapi justru nama kakakku yang tertera di sana”

Kulihat tanda sabuk pengaman kembali menyala. Perjalanan 50 menit kami dari Jakarta menuju Jogja hampir berakhir. Lelaki di sebelah kananku masih lelap tertidur. Sejak pesawat take off, dia sudah pulas tertidur karena terlalu lelah menyiapkan semua hal tentang pernikahan. Energinya terkuras karena terlalu bersemangat menyambut acara esok hari.

Aku tidak ingin serta berniat membuatnya terbangun, melihatku justru tidak memegang tangannya atau bersandar di bahunya ketika aku dilanda takut terbang, yang tidak pernah kualami sebelumnya. Bahkan lelaki itu tidak tahu kalau sedari tadi aku dilanda ketakutan. Takut yang sebenarnya bukan disebabkan karena aku benar-benar takut terbang. Tapi takut menghadapi hari esok. Takut menghadapi pernikahan yang akan kualami dengan lelaki di sebelah kananku, melihat wajah bahagianya atas hari yang paling ditunggunya tapi justru akan kuhancurkan di kemudian hari, entah kapan.

Aku merasakan lelaki di sebelah kananku terbangun, kursinya bergerak dan kulihat dia tengah melemaskan otot-ototnya.

“Kamu sakit?”, tanya lelaki di sebelah kananku, “Wajahmu pucat”. Aku hanya bisa menggeleng pelan dan tersenyum padanya. Senyum penuh kepura-puraan. Lelaki di sebelah kiriku memilih untuk melihat ke luar badan pesawat.

“Dika, nanti malam kamu potong rambut, bisa kan?”, lelaki di sebelah kananku berkata pada adiknya, yang hanya dijawab dengan anggukan tanpa menoleh, “Nanti aku yang antar”.

“Biar aku yang antar Dika”, saranku kemudian, “Kamu istirahat saja”. Lelaki di sebelah kananku hanya mengangguk setuju.

Kali ini aku menggenggam erat tangan lelaki di sebelah kananku ketika pesawat landing. Tapi lelaki di sebelah kiriku juga menggenggam tanganku dan seolah kali ini dirinya yang dilanda ketakutan. Bahkan cincin di jari manis tangan kanannya pun terasa menekan jariku. Cincin di jari kami saling beradu.

Aku berpisah dengan lelaki di sebelah kiriku selepas keluar dari bandara karena dia lebih memilih untuk tinggal di hotel dengan alasan rumah tidak cukup luas untuk menampung dia sementara ada saudara-saudara lain yang juga menginap di rumah.

“Aku serius tentang masalah potong rambut tadi, Dik”, kata lelaki di sebelah kananku ketika lelaki di sebelah kiriku hendak masuk ke dalam taksi,

“Nanti aku kabarin, Mas”, jawabnya datar.

Aku tengah mengetik pesan singkat pada layar telepon genggamku ketika lelaki di sebelah kiriku masuk dalam taksi dan pergi meninggalkan bandara. Dan tak lama kemudian telepon genggamku bergetar pelan dan menyala membawa satu pesan singkat.

Segera kuceraikan istriku dan secepatnya menikahimu!

Sender:
Dika
+6280921323323

Sent:
13-02-2007
16:33:58

Satu pesan singkat balasan yang kuterima setelah aku mengirimkannya pesan yang mengatakan: Aku hamil.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer chaghoeths
chaghoeths at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 16 weeks ago)
90

wow...luarrrRRR Biasa, hebat..cah UII berlabel rian ternyata bakat jadi penulis, pantas karyamu dimuat di media. salut.

lam kenal
chaghoeths

Writer avian dewanto
avian dewanto at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 22 weeks ago)
100

Segera kuceraikan istri4u dan secepatnya menikahimu!

gaklah. gak berani. beberapa teman yang melakukannya akhirnya berantakan. rejeki ontan surut. mending nikah lagi aja tanpa menceraikan istri. atau, gak nambah istri daripada bercerai dengan yang sudah jadi istri.

bagaimanapun fiksi mengangkut pula pikiran dan perasaan penulis terhadap sesuatu. termasuk pikiran tentang menceraikan istri.

cerita yang oke deh.

Writer Tedjo
Tedjo at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 23 weeks ago)
90

... udah ah saya tidak bisa komentar lain..karena tulisanmu bagus..selain mau bilang dirimu bisa menghasilkan suspense yang menarik di sini..bravo!

gruß

Writer naela_potter
naela_potter at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 23 weeks ago)
90

aiihh, keren banget ceritanya. Kalimatnya mengalir terus, jelas, enak, dan sangat berisi. ^^
saluut banget,,,

endingnya tak terduga,,

mohon bgd komen critaku yg lain yah,,

^^

salam kenal

Writer snap
snap at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 24 weeks ago)
80

woooow.... ending tak terduga, nice!!

Writer Villam
Villam at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 26 weeks ago)
80

agak janggal melihat beberapa dialognya, tapi aku suka kejutannya...

Writer sangpengelana
sangpengelana at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 28 weeks ago)
50

irama hati sobat sedang melagukan lagu kegelisahan ya.

Writer sangpengelana
sangpengelana at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 28 weeks ago)
50

irama hati sobat sedang melagukan lagu kegelisahan ya.

dadun at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 28 weeks ago)
90

cewek cewek jaman sekarang yah^^ haha....
keren keren keren keren keren keren keren... keren lah pokoknya.
gak nyangka juga.. haduwh gila.
mbak rina,keren, mbak^^

Writer prayana
prayana at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 28 weeks ago)
70

ahh.. tulisan yang bikin rindu, rindu untuk menulis lagi.

Writer Super x
Super x at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 28 weeks ago)
80

mak nyoss. cerita yang ditulis dengan kemampuan deskripsi dan permainan alur yang bagus. ahh... hal yang masih sulit bagiku

http://kemudian.com/node/107285
http://kemudian.com/node/107489

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 28 weeks ago)
80

Ihh...aku sebel sama ceweknya ^^

Writer Ari_rasya
Ari_rasya at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 28 weeks ago)
90

Duh, cerPenNya penuh kejuTan euy ^_^
keren rin =) ajarin ak buat yg ky gni d0nk....

Writer addang13
addang13 at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 28 weeks ago)
90

Wew... Cerita pendek yang gak pendek

Writer FrenZy
FrenZy at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 28 weeks ago)
80

aku pun rindu cerpenmu rin, banyak hal simpel yang dibuat kaya di setiap lembarannya.

Writer poop
poop at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 28 weeks ago)
80

kopi yang kaya dengan rasa.

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Di Tengah Kiri dan Kanan (11 years 28 weeks ago)
90

Sebuah cerita yang bernas. Walaupun mungkin ditulis dalam kondisi tidak bisa tidur, tetapi cerita ini cukup punya nafas.

Selain itu aku juga suka gaya bertuturnya. Good luck deh.

Btw, itu nomor HPnya nomor beneran gak? hehehe mau di miscall.

Jangan lupa baca juga cerita terbaruku ya.