Dua Sahabat

Pesawat penerbangan Jakarta-Denpasar-Perth mendarat di Bandar udara internasional Perth pukul satu dini hari waktu setempat. Nina menghela kopernya dengan dada berdebar. Di sinilah ia sekarang, menghirup udara pagi negara yang asing. Ia merasa sangat bersemangat dan gugup.

“Irania Leksmono?”, sapa sebuah suara. Nina mengiyakan. Begitu ia membalikkan badan ia memekik.

“NURUL!”, kedua gadis itu berpelukan erat sambil saling rebut menanyakan kabar. Beberapa orang yang lewat menatap sekilas.

“Aku sudah cemas tadi kamu nggak ada. Sudah bingung mau naik apa dan ke mana sambil nunggu kantor universitas buka.”

“Aku sudah nunggu lumayan lama, kok, sekalian nongkrong. Ayo ke sini”, Nurul melambai ke arah seseorang. Seorang lelaki datang mendekat.

“Nin, ini suamiku, Adrian”, Nurul memperkenalkan.

Nina menjabat tangan lelaki itu. Ia memang mendapat undangan pernikahan Nurul tetapi tidak sempat memenuhinya. Mereka bertukar senyum dan nama.

“Ayo, mana tasnya. Kamu tinggal sama kami saja sampai urusan administrasi selesai. Tempatnya agak sempit sih, tapi lumayanlah”, Nurul menyeret sahabatnya itu ke tempat parkir.

Nurul dan Nina bersahabat sejak SMP. Sewaktu kuliah Nurul tinggal di Jogja, dan bila Nina ingin kabur diam-diam ia akan mendatangi rumah kos Nurul. Mereka sempat tidak berkontak beberapa lama setelah Nurul selesai kuliah, menikah lalu pindah ke Perth karena suaminya sekolah lagi di situ. Sepanjang perjalanan ke apartemen, Nurul dan Nina sibuk bertukar gosipan. Adrian cuma bisa senyum-senyum di balik kemudi.

“Kami lagi nimbang-nimbang mau apply permanent residence atau nggak. Prosedurnya lumayan amit-amit,” kisah Nurul.

“Kalian mau tinggal di sini?”

“Iya. Di sini aku dan Adrian sudah mulai punya banyak koneksi. Sekarang setiap hari Rabu dan Kamis aku bantu teman mengajar seni di Art Institute, dan tiap hari Jumat dan Sabtu ngajar nari buat anak-anak di konsulat Indonesia. Adrian kalau lagi nggak ada tugas dari kampus bantu-bantu mahasiswa Indonesia yang baru datang ke sini, seperti kamu.”

“Maksudku, selamanya? Mau di sini?”, Nina bertanya lagi.

“Nggak juga. Itu cuma biar gampang aja pergi-pergi bolak-balik. Tapi tax-nya itu yang nggak kuat. Benernya sih, kalau bisa, mau sekalian ganti kewarganegaraan. Pahit jadi orang Indonesia. Mau ke mana-mana susah. ”

Nina mengulum senyum. Masih saja sinting, sobatnya Nurul. Waktu SMP mereka saling menemukan dan tersadar bahwa mereka masih jenis yang sama. Jenis orang-orang yang selalu berlari. Ketika Nurul mendadak mengabarkan ia hendak menikah, Nina sempat merasa sedih, cemburu, dan kehilangan. Ia cemburu karena Nurul bisa menemukan lelaki yang akan memancangnya dengan pasak menancap tajam ke bumi. Nina sedih karena sahabatnya itu tidak akan bisa berlari sebebas dulu lagi. Ia merasa kehilangan teman berlari.

Apartemen Adrian dan Nurul berkamar tidur dua. Hadiah pernikahan dari orangtua dan mertua. Bukannya istirahat, kedua sahabat itu duduk di sofa dan mulai mengembara dalam ingatan masa lalu mereka. Menggali kembali kenangan-kenangan yang mengikat persahabatan mereka makin erat.

“Jadi setelah Abi, kau berhenti pacaran?”, tanya Nurul menyebutkan nama cinta masa SMA Nina.

“Bukannya berhenti. Hanya saja, rasanya capek. Tidak ada gunanya lagi main merak-merakan, kejar-kejaran seperti itu. Segala basa-basi pendekatan, kencan pertama yang menyebalkan. Mesti menentukan aturan, lah. Mesti bikin batasan, lah. Nggak pernah ada yang bisa langsung sreg dan cocok”

“Kamunya serakah bikin criteria. Mana ada lelaki yang instan jadi seperti itu?”

“Buktinya kamu nemu Adrian”

“Adrian sudah aku kenal lama sebelum mendadak dia nongol di rumah mengajakku nikah. Dia nggak termasuk lelaki instant tetapi lelaki gerilya.” Nurul merendahkan suara sambil melirik ke arah pintu kamarnya.

Kedua sahabat itu cekikikan.

“Aku bosan digombali lelaki. Yang mereka bisa tawarkan cuma janji. Padahal kalau nafas mereka habis, kata-kata juga nggak bisa diumbar lagi, kan?”, keluh Nina.

“Kamu mungkin belum bertemu yang tepat saja. Yang kamu nggak keberatan digombali olehnya,” kata Nurul sambil tersenyum.

“Adrian gombal nggak?”, bisik Nina menggoda.

“Gombal sekali. Kadang-kadang aku terbangun tengah malam dan berpikir, ‘sial gombal banget ya nih orang’ tapi lalu aku lihat dia di sampingku dan aku senang. Aku merasa bahwa walaupun gombal tapi masih terasa wajar dan jujur. Jadi aku nggak keberatan.”

“Kamu cinta sekali sama dia?”

“Iya”, jawab Nurul dengan wajah bersemu.

“Gimana kamu bisa tahu kamu cinta?”

“Karena aku nggak pernah bosan berada dekat dia. Kepikir pun enggak,” bisik Nurul. “Jangan keras-keras, kalau dia dengar nanti jadi GR.”

Kedua sahabat itu tertawa lagi.

Read previous post:  
111
points
(358 words) posted by F_Griffin 12 years 37 weeks ago
74
Tags: Cerita | drama | Cinta | drama | Griffin | Kelekatu
Read next post:  
Writer kavellania
kavellania at Dua Sahabat (11 years 6 weeks ago)
80

ceritanya oke, salam kenal yaaa

Writer FrenZy
FrenZy at Dua Sahabat (12 years 36 weeks ago)
60

G teringat akan Monty Tiwa pas baca ini. Bagus.. tp seperti Monty, ceritanya sepotong sepotong.. jadi agak agak was was n bingung menunggu kejadian selanjutnya.. Kalau bs sih ga pendek2, nti bingung bacanya sampe mana hehehe

Writer Mia Magdalena
Mia Magdalena at Dua Sahabat (12 years 36 weeks ago)
50

selalu saja kalo ketemu temen lama, yang diomongin itu pasti pacar semasa sma atau cinta pertama. Gak ada yang lain apa...?

Writer alleya hanifa thariane nauda
alleya hanifa t... at Dua Sahabat (12 years 37 weeks ago)
100

IRANIA NAMA KELINCI GUE LHO!

Writer miranti alamanda
miranti alamanda at Dua Sahabat (12 years 37 weeks ago)
50

ngomongin tulisan berfragmen, g tiba2 kok jadi keingetan film berbagi suami ya?
Btw griff, emang milis ini namanya apaan?

Writer pikanisa
pikanisa at Dua Sahabat (12 years 37 weeks ago)
70

Griffin kepikiran nggak buat bikin novelnya "Nurul and friend"

Kayaknya kalau mau dibikin novelnya, aku orang pertama yang bakalan antri buat beli.

Semangat.....!!!!!

Writer loushevaon7
loushevaon7 at Dua Sahabat (12 years 37 weeks ago)
50

boleh ya kutulis 'no comment' belaka, biar dpt poin, hehe..

Writer F_Griffin
F_Griffin at Dua Sahabat (12 years 37 weeks ago)

Di Yahoogroups. Jadi bisa lebih leluasa berinteraksi di sana.
Fragmen artinya pecahan. Karena stamina nulis saya sangat rendah, sementara saya ingin menulis karya yang panjang, saya berusaha mengakalinya dengan metode fragmen ini, yang bernafas pendek dan rentang konsentrasi tidak terlalu panjang. Hasil akhirnya adalah semua fragmen tersusun membentuk satu cerita besar yang utuh. Seperti menyusun puzzle. Maunya sih begitu.
====

MILIS SITUS: kemudian@yahoogroups.com. Silahkan bergabung!

Writer KD
KD at Dua Sahabat (12 years 37 weeks ago)
100

terfragmen itu artinya bersambung ya?

Writer v1vald1
v1vald1 at Dua Sahabat (12 years 37 weeks ago)
70

Halah! Gak enak banget baca novel terfragmentasi begini. Medianya kurang mumpuni ya, Griffin.
Bukan genre gw. Tapi gw asyik banget baca tulisan lu.
:ENAk GiLA!