Bagaimana Cara Menghentikan Cinta?

“Bagaimana caranya bisa menghentikan cinta?” Tanya gadis itu pada suatu siang saat mereka duduk berhadapan di sebuah café, dibatasi oleh dua gelas es kopi susu dan sebuah asbak yang berisi dua puntung rokok.

Jack menatapnya dan terdiam agak lama. Tidak yakin harus menjawab apa. Mahluk kecil kumal dan lelah dihadapannya ini menginginkan sebuah kebenaran filosofis dari orang yang salah, pikirnya. Akan lebih mudah kalau tiba-tiba Nina menyerangnya dengan sebatang garpu, menancapkannya tembus daging dan tulang tangan hingga ke kayu meja lalu memaksanya menjawab pertanyaan itu. Jack akan berteriak sekuat tenaga ke mukanya “F*ck OFF you IDIOT B@STA*D!”. Tapi ini lain. Mahluk itu terlalu melankoli walaupun tolol. Jack jadi tidak tega.

“Kamu tahu di mana letak hatimu?”

“Di sini?” Nina menunjuk ke dada kiri tempat jantungnya berdenyut.

“Bukan!” Tawa Jack mengembang lebar. Ia memegang tangan gadis itu dan meletakkannya di pinggang kanannya. “Tapi di sini”

“Itu bukan hati tapi liver.”

“Iya… hati kan? Liver? Hati.”

“Bukan, bukan. Hati itu…”

“Apa? Hati itu apa? Jantung? Heart is? What? Jantung? Hati itu bukannya Liver?”

“Oh ya?” Nina menatap lelaki itu sambil mengernyit jahil. “Kalau perasaan dari mana datangnya?”

“Itu sejenis dengan psikosomatis. Datangnya dari sini.” Ia memegang kepala Nina dan mencium pelipisnya. “It all comes from your brain. The main factory of all emotional capability.

“Jadi…”

“Jadi apa?”

“Otak kita penghianat dong?”

Jack tertawa lagi.“Kamu tahu tidak obatnya?”
Gadis itu menggeleng.

A big warm hug,” kata Jack sambil mengangguk.

“Itu bukan obat. Itu racun.”

“Sudah jelas ‘kan, darimana sensasi itu berasal? Tipu saja habis-habisan dengan sensasi serupa tapi tak sama, or you can opt out for permanent brain damage.”

“Kalau kamu mengusulkan untuk mulai mencandu bahan penyebab ilusi dan halusinasi, aku rasa itu sama saja lepas mulut singa masuk mulut buaya.”

Jack mengeriut-ngeriutkan wajahnya lalu mendengus. Ia mengangkat gelas es kopi susunya tinggi-tinggi dan menenggak isinya seperti menenggak isi gelas minuman keras.
Nina mendesah.

Have you ever feel it? All your insides fall to pieces”, bisiknya dengan wajah terbenam diantara dua lengannya yang terlipat di atas meja.

Maybe you just need to get laid?” tanya Jack. Tentu saja itu bukan solusi karenanya berbentuk pertanyaan.

“Ada apa sih dengan perempuan dan komitmen?”

Double combo! Bing Bing!” seru Jack keras membuat isi café itu menoleh ke arah mereka. “Aku sama sekali tidak tahu. You’re asking at the wrong person.”
Jack mengacungkan jarinya “ES KOPI SATU LAGI!” Seorang gadis pelayan mengangguk dan memberi tanda pada seorang lainnya untuk segera membuatkan pesanan si ganteng di meja lima itu.

Nina mendengus. Bule gila. Tidak mabuk alkohol tapi mabuk kafein dan adrenalin. Apa bedanya yang satu ini dengan yang buncit berkulit merah bertotol mabuk di tepi kolam renang di hotel tadi?

“Besok aku mau pulang.”

“Eh? Kenapa?” wajah Jack sontak memberengut kecewa

“Aku benci bau hotel.”

“Ayolah Nina. Aku masih ada seminggu lagi disini.” Jack menggoyang-goyangkan kakinya kesal.

Nina mengintip wajah Jack diantara jari-jari tangannya menutupi wajah sendiri. Herannya, kenapa ia mau saja datang setiap kali Jack menghubunginya dan mengajak makan siang? Ia merasa seperti anjing piaraan tolol yang akan datang menjulurkan lidah dan mengibaskan ekor bila dipanggil. Kenapa?

“Kenapa kamu tidak ikut aku saja ke Surabaya, lalu kita ke Jakarta naik pesawat. Atau kalau kau mau kita bisa menyetir saja hingga ke Jogja dan berhenti sebentar di sana.”

“Ada pantainya?”

“Ada.”

Jack menatapnya sangsi. Seperti anak kecil yang mengendusi kemungkinan bahwa dia akan dibohongi besar-besaran.

Can you surf there?
Sia-sia untuk mencoba bohong pada Jack meskipun kepalanya ditutupi karung goni. Nina sering merasa Jack seharusnya jadi bencong atau homo saja karena ia terlalu ganteng untuk bisa sesensitif itu.

“Tidak.”

Huh, so what I’m going to do? Shop? I’m not into that kind of thing,” omel lelaki itu merajuk. Astaga, Nina jadi gemas sekali.
Ia bangkit dan pergi keluar.

“Ah!” Jack berdiri hendak mengejar, tapi berbelok ke kasir dan membayar bill. Es kopinya muncul dari balik counter. Itu juga telah dibayar. Jack meraih gelasnya dari baki dan habis sekali reguk. Baru ia lari keluar mengejar Nina.

Gadis itu ternyata menunggu di mobil dengan wajah masam. Duduk di kursi penumpang. Jack bersungut-sungut masuk ke mobil dan duduk di kursi pengemudi.

“Kamu…,” geram Jack. Ia sudah jera menyetir mobil di Indonesia. Semua orang berjalan dan mengemudi di jalur yang salah. Tapi ia nyalakan juga mesin mobilnya dan ia setir juga kendaraan itu. Berjalan dengan kecepatan rendah sambil bersungut-sungut. Nina membiarkannya, diam saja.

Sebagai balas dendam Jack menguntit Nina hingga ke kamar hotelnya, lalu ia rebahan di kasur, menguasai remote control. Nina duduk di sudut, masih kesal.

“Tahu tidak, aku baru sadar…,” kata Jack sambil tangannya terus memencet-mencet tombol remote. Gambar dan suara di tv bergerak seperti potongan mimpi buruk yang berpendar di kamar yang gelap itu—Nina menutup semua korden dan tidak menyalakan lampu. “…kamu akan terus seperti ini, makan sampah dunia terlalu banyak. Kamu terlalu romantis. Pathetic really.”

Nina membelalak mendengar bagian terakhir. Ia bergegas bangkit dan mendekati tempat tidur dengan alis berkerut. Jack seperti tidak perduli Nina akan melakukan apa padanya. Ia diam saja dan tidak mengalihkan perhatiannya dari TV sementara jarinya terus memencet-mencet seakan dia sedang berada dalam perlombaan game.
Agak lama Nina berdiri di situ. Bengong. Belum memutuskan ia harus bereaksi apa.

“Sini,” Jack menepuk selimut di sebelahnya.

Nina dengan patuh bergelung di samping Jack dan membiarkan lelaki itu memeluknya seperti memeluk guling raksasa.

Pernah, ia membiarkan seseorang memeluknya erat. Membiarkan dirinya melebur dengan orang itu. Dengan buta mengira dirinya jatuh cinta dan akan selalu baik-baik saja. Tentu saja salah. Kalau ia benar ia tidak akan berada di sini sekarang, bergurau mesum dengan gelandangan gila yang kemana-mana menyeret tas sebesar anak kuda.

Mereka diam seperti itu selama berjam-jam, Nina tidak tahu apakah ia tertidur, ataukah tetap terjaga dengan pikiran kosong.

“Kamu masih ingin pulang?” tanya Jack setelah lewat tengah malam

“Hmm…tidak,” bisik Nina dengan mata terpejam rapat.

“Bagus,” Jack balas berbisik.

Mereka berpelukan hingga pagi.

Read previous post:  
69
points
(803 words) posted by F_Griffin 12 years 37 weeks ago
69
Tags: Cerita | drama | Cinta | drama | Griffin | Kelekatu
Read next post:  
Writer H.Lind
H.Lind at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (7 years 34 weeks ago)
90

Ini juga bagus.. ><
Terutama endingnya.

Writer dialian
dialian at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (10 years 21 weeks ago)
70

Bagaimana Cara Menghentikan Cinta nya?

Writer khatrine
khatrine at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (11 years 5 weeks ago)
70

cara berceritanya bagus sekali,tapi endingnya kurang menyentuh :)

80

saya tidak bisa menggapai nya

Writer KD
KD at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (12 years 28 weeks ago)
100

aku paparazzi, berburu gosip..sip..sip..

Writer Smile
Smile at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (12 years 32 weeks ago)
50

g suka bgt di bagian endingnya....

cerita dgn perpaduan 2 bahasa, yg singkat namun jelas dan sarat makna

short story yg nice menurut g..., bisa mbawa drain pikiran g serasa ikut di dlm cerita ini

ditunggu yg lainnya heheh...

----------------------------
btw....ini yg namanya short story jadi ndak perlu bingung, kebanyakan short story seperti ini. walau endingnya seperti cerita lom selesai tp sudh diperjelas di dialognya
-- arigatoo gozaimasu --

Writer cupu
cupu at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (12 years 34 weeks ago)
60

cerita na bagus, hidup karena dialog nya.

tp aku masih bingung, trus caranya menghentikan cinta gimana ?? kok kayak masih gantung ya ..??

Writer splinters
splinters at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (12 years 34 weeks ago)
70

kita memang selalu jatuh cinta pada mereka yang jauh berbeda dengan diri kita sendiri :)
kalimat-kalimatnya luwes, mengalir dengan sendirinya, terasa tidak dipaksakan. nice.

Writer ThaMie
ThaMie at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (12 years 35 weeks ago)
90

Cocok jadi penulis beneran! Beneeer... deh!(Ato... Jangan2 mank penulis??? Maafkan ketidaktahuan saya ini... Hehe...)

Plizz... Ajarin gimana caranya menguntai kata-kata yang indah, puitis, pokoknya good-lah!! Oce?? Oce??

Writer FrenZy
FrenZy at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (12 years 36 weeks ago)
80

Cynical banget si Jack, tapi alur ceritanya enak dan menggambarkan perasaan Nina dengan jelas. Keep up the good work :)

50

tetap semangat ya...!

Writer Valen
Valen at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (12 years 37 weeks ago)
90

Sptnya Nina cinta banget sama Jack yg bule itu. sampai2 dia buat pertanyaan kayak gitu. Tp sampe sejauh ini belum kelihatan konflik terbesarnya itu apa? Apa krn perbedaan budaya, atau Apa krn Nina takut mencinta lg? Spt kutipan kalimat berikut:
"Pernah, ia membiarkan seseorang memeluknya erat. Membiarkan dirinya melebur dengan orang itu. Dengan buta mengira dirinya jatuh cinta dan akan selalu baik-baik saja. Tentu saja salah."
Gaya penceritaannya asyik, menggiring pembaca utk terus mengikuti.Kalau konfliknya itu tajam dan endingnya bagus, ini bakal jadi novel yg bagus.
Ditunggu selanjutnya...

Writer bulqiss
bulqiss at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (12 years 37 weeks ago)
80

Gila..keren banget,ceritanya seru..tertarik sih ma judulnya,tapi Aku belum ngeh nih gimana caranya menghentikan cinta hehehe
Eh..emang ada apa ma perempuan dan komitmen???
Di tunggu yah...

80

Damn!!! Mood gw lagi pas untuk baca cerita macam ini.
Anyway, good story-telling. Ngelanjutin dua cerita yang udah di-posting kemaren. Ayo teruskaaaaannn...

Writer v1vald1
v1vald1 at Bagaimana Cara Menghentikan Cinta? (12 years 37 weeks ago)
70

Ini sambungan yang mana ya? Dibabat? Jangan! Dialognya asyik banget! Mau ke mana -semua ini- tapinya?
/////\\\\\\
-Man, u r damn good writer!-