Debora, Gadis Membara

“Hmm… mulai darimana ya?” gumamku pada diri sendiri saat Rusdi menanyakan pendapatku tentang Debora, perempuan cantik yang sanggup membuat adrenalin pria meningkat."
“Bagimana kalau dari fisiknya?” desak Rusdi kemudian. Aku mengangguk, akhirnya ada petunjuk awal untuk bercerita.
Debora, dari namanya saja sudah kelihatan. Di mata seorang pria normal, kata Debora sanggup membuat jantung berdebar – debar, lirur menetes, untungnya tidak sampai mimisan. Wajahnya ayu, oval dan mungil. Matanya kecil dan bundar, hidungnya bangir, bibirnya sensual dan selalu basah. Tubuhnya seperti perempuan remaja pada umumnya, tidak gendut tetapi cukup berisi. Tingginya sekitar 162 cm, rambut lurusnya tergerai sampai ke bahu, warna kulitnya selalu berubah apalagi jika terkena matahari – kadang putih kadang juga berubah kuning. Bukan hanya itu daya tarik fisiknya, top of the most is her voice. Merdu ketika bernyanyi, lembut ketika berbicara, dan terdengar mendesah tajam saat dia sedang manja. Interfacenya oke banget, asli Manado. Cowok mana coba yang tidak akan klepek – klepek saat di dekatnya. “Ini cover terbaik sepanjang masa yang pernah ada” komentar para cowok saat melihat wajah Debora berada di halaman depan sebuah tabloid kampus. Wow, sehebat itukah dia?
Rusdi lalu mengangguk – anggukan kepalanya saat mendengar penjelasanku yang panjang itu. Kemudian dia pamit pulang. Aku mengantarkannya sampai pintu pagar dan melambaikan tanganku. Itulah pertemuan terakhirku dengannya, setelah itu kami larut dengan kesibukan masing – masing. Rusdi diterima bekerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di Jakarta, sedangkan aku masih tetap berada di Surabaya mengurusi bisnis handicraft kecil – kecilan yang kubangun saat masih kuliah semester 5.

***

“Hai, cewek…” seru seseorang memanggil namaku sambil melambaikan tangannya.
Siapa ya? Ujarku dalam hari. Aku lalu menoleh ke samping. Cewek? Bukan ah, di sebelah kananku cowok, seorang bapak paruh baya yang sudah mulai beruban. Itu juga cowok kan? Aku lalu memutar kepalaku 90 derajat, kulihat juga seorang cowok, kali ini seorang anak kecil yang digandeng oleh ibunya. Cewek dari mana? Aku pun memutar badanku melihat ke balakang. Banyak orang di belakangku yang kegiatannya sama sepertiku yaitu memilih sepatu! Memang sih ada cewek, tapi yang mana? Rasa penasaranku semakin bertambah, aku lalu menunjuk hidungku dengan jari telunjukku seperti cara orang Jepang ketika mengisyaratkan orang lain bahwa yang dimaksud adalah dirinya. “Aku?” kataku pada pemilik suara itu. Aku harap dia mengerti maksudku bahwa orang yang dia panggil adalah aku. Tengsin dong kalau udah over pe-de, eh ternyata salah orang. Untungnya aku melakukan hal yang tepat, orang itu mengangguk kemudian setengah berlari menghampiriku. Do I know you? Kataku lagi dalam hati.
“Kok seperti orang bingung gitu sih waktu aku panggil?” tanyanya sambil tersenyuk lebar.
“Ehh…” aku meringis. Siapa ya, aku lupa. Bener – bener lupa.
“Aku Wulan, masa nggak ingat?” tanyanya lagi.
“Oh iya… Wulan” jawabku.
Perempuan itu lalu mengelus dadanya. Syukurlah.
“Tapi Wulan yang mana ya?” lanjutku kemudian.
Duengg… seperti adegan di film – film ketika kaget. Untungnya dia masih kaget dalam batas normal, tidak sampai merobohkan dirinya lalu pingsan.
“Aku kira kamu ingat. Baru beberapa tahun berlalu masa sudah melupakan aku. Aku Wulan yang satu kampus sama kamu. Kita dulu sama – sama sering mengalungkan kaleng - kaleng bekas ke MABA 2000 saat jadi panitia OSPEK.” Jelas Wulan. Kali ini aku mulai ting, maksudnya ingat.
“Oh, iya.. iya. Maaf ya, aku bener – bener lupa. Apa kabar?” kataku sambil menyalaminya.
“Alhamdulillah baik” balas wulan sambil mendekatkan pipinya menyentuh pipiku, cipika cipiki – biasalah kalau cewek bertemu.
Wulan adalah teman yang aku kenal saat ikut dalam kepanitiaan OSPEK pada tahun 2000 lalu. Kami memang jarang bertemu saat berada di lapangan, karena dia bertugas meng-ospek-i MABA D3 sedangkan aku pontang – panting ngurusi MABA S1 yang sulitnya minta ampun untuk diatur. Tidak sia – sia hingga akhirnya aku terpilih menjadi kakak ter-cerewet dan dikenal oleh seluruh MABA di kampus pada waktu itu.
“Kamu sendiri bagaimana kabarnya? Kerja di mana? Sudah sukses nih ceritanya?” todong Wulan dengan berderet pertanyaan.
“Alhamdulillah aku juga baik. Aku buka usaha kecil – kecilan, nerusin yang dulu waktu masih kuliah dulu. Lumayan sudah bisa naikin haji orang tua.” jawabku dengan wajah sumringah. Bangga dong, nggak percuma bakat cerewetku yang selama ini terasah bisa mendatangkan banyak uang. Berbekal sifatku yang SKSD alias sok kenal sok dekat dengan orang lain akhirnya aku bisa mengembangkan usaha kecilku menjdai bisnis yang menjanjikan.
“Wah, selamat ya. Aku turut bangga.” puji Wulan sambil menepuk lenganku.
“Kamu sendiri bagaimana?” balasku tidak mau kalah.
“Biasa aja, Ra. Jadi ibu funky satu puteri.” Jawabnya setengah tertawa.
“Hey, kamu udah nikah? Sama siapa?” desakku lagi. Ayo, aku mau tahu lebih banyak lagi. Ceritakan padaku.
“Sepertinya nggak enak deh ngobrol di sini, di tempat lain yuk” ajaknya. Aku pun mengiyakan ajakannya.
“Eh tapi kamu masih milih – milih sepatu ya?” tanyanya lagi. Sepertinya Wulan tidak ingin kesenanganku berbelanja sepatu terganggu. Itu terpancar jelas di wajahnya, tidak ada yang bisa ia sembunyikan dariku. Ia selalu segan pada orang lain dan tidak ingin membuat orang sakit hati karena permintaannya. Sama seperti pada saat OSPEK dulu, wajahnya begitu memelas saat mengatakan padaku butuh seseorang untuk menggantikan tugasnya sebentar tetapi dia tidak secara langsung memintaku untuk menjadi seseorang itu karena takut merepoti aku. Ah Wulan, betapa repotnya dirimu. Tanpa kamu berbicara ngglibet pun aku sudah tahu maksudnya.
“Ah, aku sudah selesai kok milih – milih sepatu. Ini mau bayar.” Aku langsung menyabet sepatu asal tanpa menimang model dan warnanya lagi, kemudian aku meminta pelayan untuk mengambilkan nomer yang sesuai dengan ukuran kakiku dan menaruhnya di kasir untuk aku bayar.
“Yuk, pergi” kataku pada Wulan sambil beranjak meninggalkan kasir. Untuk hari ini saja aku tidak cerewet dalam menilai barang yang aku beli, bagiku pertemuan dengan Wulan dan bernostalgia adalah suatu hal yang jauh lebih menyenangkan daripada memilih sepatu hingga 2 jam hanya untuk mendapatkan model dan warna yang cocok.
Kami akhirnya ngobrol di sebuah coffeshop, masih di mall yang sama saat aku membeli sepatu. Aku memesan cappuchino special yang menjadi andalan mereka.
“Ayo ceritakan yang tadi?” kataku membuka pembicaraan.
Wulan lalu bercerita panjang lebar tentang kehidupannya sekarang. Memang benar dia adalah seorang funky mother, maksudnya seorang ibu sekaligus entrepreneur sejati. Dia mempunyai seorang anak perempuan berumur 3 tahun, dan inilah yang aku tunggu – tunggu adalah siapa pria yang beruntung menjadi suaminya. Ternyata dia menikah dengan pria bule berkebangsaan Swedia, berkenalannya di pulau Bali saat Wulan sedang liburan bersama teman – teman bisnisnya. Dalam benakku dapat dipastikan langsung menuju buah cinta mereka. Yup, gadis kecil itu bernama Dava. Pasti dia lebih cantik daripada ibunya, sudah tentulah karena dia berdarah campuran, blasteran Jawa – Swedia. Apakah dia secantik Debora kelak? Ah, mengapa tiba – tiba dalam pikiranku muncul cewek sok innocent itu. Tapi memang tidak bisa aku pungkiri kalau bertemu dengan sesama panitia OSPEK pasti bawaannya kembali ke tahun 2000, kembali mengingat ada cewek pasca SMA yang begitu popular sehingga membuat para cewek banyak ditinggalin cowoknya, jadi syikir, iri dan dengki. Apalagi saat melihat cewek itu bermanja – manja di depan para cowok,

Bersambung…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer anty
anty at Debora, Gadis Membara (12 years 29 weeks ago)
60

lanjutannya

Writer diversen
diversen at Debora, Gadis Membara (12 years 36 weeks ago)
70

prolog sih oke. bikin mau nerusin baca. cuma tinggal terusannya ini gimana. apa jadinya muter-muter kelamaan atau langsung ke permasalahannya.
set yang seputar kuliah dan ospek sebenernya sangat potensial, model karya trilogi kampus biru...

Writer v1vald1
v1vald1 at Debora, Gadis Membara (12 years 36 weeks ago)
50

Hmmmm...niatan awalnya mau bercerita tentang Debora ya? Berarti potongan tulisan ini benar2 masih balita. Soalnya belum ada arahan pasti. So far,isi tulisan hanya memunculkan karakter-karakter baru,yang tidak jelas mau dikaitkan ke mana dengan Debora.Kalo tidak berarti,maka menjadi tidak perlu.
****
Monggo,silahkan diteruskan...

Writer KD
KD at Debora, Gadis Membara (12 years 36 weeks ago)
100

Oke deh, aku akan tunggu kelanjutannya.

Writer anangyb
anangyb at Debora, Gadis Membara (12 years 36 weeks ago)
80

Biar deh yang lain aja yang muji.
Aku cuma pingin kasih saran aja gimana kalau tanda baca plus cara penulisan lebih diperhatikan..
Nggak ada salahnya antarparagraf dikasih spasi biar lebih longgar.
Tetap Semangat !
Anang, yb

Writer Valen
Valen at Debora, Gadis Membara (12 years 36 weeks ago)
60

Debora. Hmmm...deskripsinya ok banget, sampe kebayang spt apa orangnya.
Yang menarik ialah: detail di cerita ini ok dan bahasanya cukup ngalir.
Cuma, masih belum ada kelanjutannya.