Kau terus berbicara

Kupikir tidak akan ada yang datang hari ini, tapi ternyata aku salah, kau datang hari ini. Kau pasang senyummu padaku. Aku tahu apa yang kau pikirkan, kau ingin berbicara denganku. Ibuku menyuruhku untuk tidak berbicara denganmu, bahkan menyuruhku untuk menyuruhmu segera pergi.

Aku tidak ingin kedatanganmu menjadi sia-sia. Walaupun tak jauh beda dari ibuku, aku tidak pula merasa senang akan kehadiranmu di rumahku. Paling tidak aku tidak ingin terlihat seperti orang biadab dengan langsung mengusirmu begitu saja. Kau mulai mencari-cari kesempatan berbicara, mencoba menarik perhatianku. Ahhh, aku sudah tidak tertarik lagi pada pembicaraan seperti ini.

Kau makin gugup, kau pasang kecewa di mukamu. Aku hanya mendengus, sambil menyesal. Aku mulai terlihat biadab. Walau aku sempat terpikir untuk mencoba mendengarkanmu, Mas.

Menit-menit berlalu, kembali lagi kau berbicara, aku hanya mendengarkan. Aku tak sanggup untuk melakukan lebih dari mendengarkan. Sofa ini bahkan tahu ada jarak antara aku dan kau. Aku duduk di sini, kamu duduk di sana. Kau menatap mataku tanpa berkedip.

Kau menegaskan bahwa kau tidak main-main. Kau seolah mengatakan bahwa kau serius dan aku harus serius mendengarkan kau. Aku tahu itu, Mas, jelas sekali.

Kembali menit berlalu. Kemejamu mulai dihiasi rembesan keringat. Bahkan aku tidak memberimu minum! Aku tahu kau hanya ingin aku mendengarkan kata-katamu, tapi aku hanya mencoba untuk tidak menangkap sedikitpun omonganmu, Mas.

Kau bertanya padaku, menanyakan tentang impian dan mimpiku. Hal yang sudah lama tidak kuingat-ingat, bahkan terlalu merepotkan untuk sekadar menceritakannya padamu. Entah kenapa kau bawa-bawa mimpiku dalam pembicaraan ini, aku sangat merasa tidak ada urusannya mimpiku dengan omonganmu yang sama sekali tak ingin kudengar ini.

Kau bersikukuh, sedangkan aku segan untuk membicarakannya. Kujawab sekenanya, dengan dingin.

Kau memberikan alasan-alasan yang bahkan tak ingin kudengar. Kau juga menyandingkan impianku dengan alasanmu yang tidak ada hubungannya menurutku.

Aaaaarrrggghhh! Aku tidak mau lagi mendengarkanmu!

Kau akan kuusir ketika berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Tunggu saja, Mas.

Ya, tentu saja kulakukan itu. Rapi, jahat dan dingin. Kau terhenyak, kekecewaan menutupi keseluruhan wajahmu, jelas sekali.

Ya, tentu saja kau bergegas pergi. Tetap dengan menyisakan alasan lain, alasan agar aku berubah pikiran, menjadi mempercayai ucapanmu, mengikuti apa yang kau sarankan padaku.

Akhirnya kau pergi juga, seperti ada perasaan lega saat kau pergi, di samping perasaan yang mengganjal dalam dadaku.

Tak lama, Ibuku keluar dari kamar. Menanyakan padaku untuk apa aku berbicara padamu, mengataiku bodoh telah memberimu kesempatan untuk berbicara, bahkan mengatai kau sebagai penipu.

Aku tahu aku salah. Tapi, Mas, sungguh aku ingin mengatakan sejujurnya saat kau ada di hadapanku tadi.

Sungguh aku ingin mengatakan permohonan maafku, saat kau berhadapan denganku tadi, saat bertatapan tadi.

Aku ingin mengatakan padamu yang sesungguhnya, bahwa baru seminggu yang lalu temanmu datang padaku, mengatakan hal yang sama padaku, hingga membuatku tertarik.

Bahkan ibuku pun tertarik.

Sangat membuatku tertarik, bahkan aku pun mendengarkan tiap tarikan nafas di antara jeda kalimatnya.

Hingga pada akhirnya...

...aku membeli panci teflon seperti yang barusan kau tawarkan padaku.

Sekarang sudah rusak.

Ya, harusnya kukatakan segera ketika kau membuka katalogmu, tapi kau terus saja berbicara.

Kuharap kau mengerti.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer pelangijingga
pelangijingga at Kau terus berbicara (10 years 40 weeks ago)
70

Iya sales itu menyebalkan. Tp kadang ak berpikir bgmn jika menjadi dia. Wah susah juga, mo menjual barangnya blm ngmng dah diusir. Mana bisa laku jualannya... hehehehe.
Tp ak punya pengalaman dg sales kaos kaki. Entah krn ga bs ngomong krn rada pemalu, entah baru sekali jualan dan tdk menguasaai materi si dia jd grogi ketika kutanya2 dan malah cenderung bodoh shg jualannya ga jd laku. Si penjual mengatakan kaos kaki 10 rb dapat 3, trs krn aku kasihan dan malas sebenarnya akhire ak mo beli satu aja (cm kaos kaki ini)... tau dia bilang berapa harganya...3000...hah, ak kaget... Ak ketawa dlm hati, trs ak kerjain lagi. Lho kok 3000 mas mahal banget 2500 boleh ga. Jawabnya ga bs kurang mbak, saya jualnya jalan kaki capek, itung2 buat ongkos. Akhire ak bilang ya sdh ga jadi aja. Emang dasare ak ogah dan kesempatan nego ga boleh ya sdh ga jd beli... (Hehehehe... itu penjual emang bego apa ya, jualan ga cari untung malah rugi)

sorry banyak omong. Tp lumayan ide ceritanya.

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Kau terus berbicara (11 years 17 weeks ago)
70

Sedikit pengolahan kata dan sedikit edit teknik nulis, pasti cerita ini akan menjadi cerita yang bagus.

Bravo....

Writer Rijon
Rijon at Kau terus berbicara (11 years 18 weeks ago)
70

Salam kenal, setuju sama Bang Kudo (sinichi), agaknya terlalu datar.....

Sedikit koreksi:

# kamu datang hari ini.

K-nya kapital kan?? Mungkin salah ketik (lupa kapital (caps))??

# Ahhh, aku sudah tidak tertarik (lagi) pada pembicaraan seperti ini.

Kayaknya gak perlu tanda kurung deh??

# Ya.

Kalau aku, lebih suka setelah frase 'ya' itu diakhiri dengan tanda seru.

Sekian!! GOOD JOB!!!

Writer poop
poop at Kau terus berbicara (11 years 21 weeks ago)
50

merutukiku? ( prgrf 14) mertuaku/menurutku mungikin maksudnya ya.

BINGUNG. makna melus mu. mengartikan banyak hal. tapi kurang menghidupkan pelaku utama/sosok wanita (kalo ingin menujukan pelaku utama seorang wanita), yang hidup masih seorang pria, meurut gw lebih baik tunjuukan saja yang kamu tahu, alami, atau pernah rasakan.

coba buat yg pelaku utama pria dengn tujuan cerita yg sama tp penceritaan yg berbeda, mungkin, inih mungkin loh! bakal lebih berasa.

coba baca bukunya Fira Basuki yg Pintu, Jendela, & Atap atw yg mana sajah lah.

piceeeeeee
weekkkkk.....

Writer rouv_azzacky
rouv_azzacky at Kau terus berbicara (11 years 21 weeks ago)
80

hakhakhak..
kasian itu sales deh..

adaadasajaideidenya..
:)

Writer Shinichi
Shinichi at Kau terus berbicara (11 years 22 weeks ago)
70

hahahaha...

curut...!
ceritana santai nih..enak aza bacanya.
berarti ini yg terjadi saat penulis didatangi penjual ketengan...

hahaha...

great tapi, terlalu datar
hehehe

Writer elbintang
elbintang at Kau terus berbicara (11 years 22 weeks ago)
80

lucu juga. harusnya tag curhat nih :-)

biasakan untuk menolak dari pintu pagar, nggak usah sampe masuk dan duduk begitu. :-)
--------------------
jualan emang salah satu modalnya bicara
--------------------
cheers!