Teruntuk Ananda [1]

Teruntuk Ananda, Lawang, 15 Agustus 1980

Peluk cium beribu kerinduan untuk, Ananda. Ibunda disini sehat dan berbahagia. Hanya saja disini sangat sepi, Nak. Tidak ada keceriaan.

Ananda, bagaimana kabarmu disana tidakkah kau melupakan pesan ibundamu yang telah renta ini, untuk selalu makan tepat waktunya. Atau masihkah kau ingat akan kewajibanmu untuk terus pasrah dan eling*1 dengan Gusti Allah.

Ananda, masihkah kau ingat, cerita tentang bunga dan segala macam tanaman yang Ibunda rawat selama ini. Pembantu Ibunda, yang membantu Ibunda, untuk selalu merawat dan memperhatikan tanaman Ibunda itu. Namanya Sri. Dia dari Surabaya. Tanaman itu sekarang mulai bermekaran. Beberapa bunga Melati Bunda malah dibeli dan diminta oleh teman-teman dan pegawai Bunda disini.

Ananda, kapan kau akan berkunjung ke persinggahan Ibundamu ini. Tentu Ibundamu akan memasakkan Bothok Rempela Ati dan Sayur Asem kesukaanmu. Ya, benar kau pasti rindu dengan masakan Ibundamu ini kan? Ibu tunggu kedatanganmu. Tidak lama lagi, kan?

Peluk cium rindu

Ibunda
--------------------------
Teruntuk Ananda Lawang,16 Agustus 1980

Ananda, Bagaimana kesehatanmu? Ibunda mu agak meriang. Kamu tak usah khawatir, sakit begini tak akan bisa menghalangi Ibundamu ini.

Beberapa hari ini cuaca di persinggahan Bunda sangat dingin. Bahkan makanan dan minuman yang dibuatkan oleh Sri tidak cukup untuk membuat tubuh Ibunda mu terasa agak hangat.

Sri bahkan meminta Ibundamu ini jangan terlalu sering berada di luar persinggahan. Kata Sri, udara di luar terlalu dingin. Ah…dingin apa, wong Ibundamu ini masih kuat kok ! Bahkan untuk menggendongmu pun Ibundamu ini masih sanggup! Masih kuat ! Apalagi hanya untuk keluar persinggahan, sekedar untuk menjenguk dan menyirami tanaman dan bunga-bunga yang Ibundamu rawat layaknya Ibundamu menyayangi dan mengasihi dirimu .

Nak, kapan kau akan menjemput Ibunda . Ibunda sangat merindukanmu . Sudah lama, Bunda tidak mengelus bahu dan pundak mu . Ibu selalu menanti kehadiranmu . Kau pasti datang kan ? Ibu tunggu !
Peluk Rindu Sayang,
Bunda
-------------------------------
Wisnu melipat lembaran-lembaran surat yang habis dibacanya. Di dekatnya sesosok nenek tua sedang asyik menulis surat sambil membayangkan kata-kata apa yang hendak ditulisnya dalam surat itu. Rambut nenek tua itu sudah penuh uban, kepalanya pun sudah hampir botak, karena termakan oleh usia. Nenek itu menulis diatas ranjangnya dan mengalasi permukaan kertasnya dengan bantal tua yang sudah setengah lepek. Bantal itu digunakannya sebagai meja untuk menulis.

Wisnu duduk disamping ranjang Nenek tua itu sambil mengamati gerak-gerik Nenek itu dalam menulis surat. Didekat ranjang sang Nenek terdapat satu meja dengan taplak warna merah marun yang diatasnya diletakkan rangkaian bunga Mawar dan Melati.

Disamping meja terdapat lemari kayu tua. Rupanya lemari itu dipakai untuk menyimpan baju-baju Nenek tua itu. Sementara di dekat ranjang Nenek juga tampak satu kardus besar yang berisi berbagai macam amplop surat yang berisi surat - surat yang sangat banyak. Surat-surat itu tampaknya berumur cukup tua dan hampir lapuk oleh cuaca dan lembab.

“Suster, apa Nenek ini sudah lama berada di sini ?”, tanya Wisnu pada seorang suster yang mengantarkannya.

“Saya tidak tahu, yang saya tahu dia pasien wanita paling tua disini . “ jawab suster itu singkat.

Wisnu mengamati dalam-dalam ruangan itu. Ruangan di Rumah Sakit ini memang dirancang sedemikian rupa, hingga untuk setiap pasiennya mendapat satu kamar pribadi. Tidak ada teman sekamar, tdak ada teman bicara. Teman bicara disini rupanya hanya suster dan para dokter yang merawat pasien-pasien itu. Dinding-dinding di ruangan itu sudah melapuk. Cat-catnya sudah terlalu banyak mengelupas. Lantainya dari tanah liat yang dibakar. Lantai khas peninggalan bangunan kuno. Jendelanya sudah terlalu lama dibiarkan tak terawat dengan debu-debu dan sarang laba-laba yang menggelayut. Sayup-sayup terdengar suara decitan dan derakan dari sisi lain daun pintu dan jendela, yang tak kalah tua usianya dengan para penghuninya.

Kembali tatapan Wisnu tertuju pada tumpukan surat disitu. Setelah membaca surat-surat dari tumpukan yang satu, Wisnu beranjak ke tumpukan surat-surat yang lain, kali ini pada tumpukan yang agak baru.
-------------------------------
Ananda Rama Anakku, Lawang, 15 Mei 1995

Bagaimana kabarmu Nak ? Ibu berharap kau sudah berkeluarga. Ibunda ingin sekali bertemu dengan istrimu. Ibu tidak pernah melihat wajah dan kecantikannya. Ibu yakin ia teramat cantik.

Kalau tidak, mana mungkin kau tertarik dengannya dan berbagi tempat tidur dengannya kalau ia tidak mempunyai hati yang lembut layaknya dirimu. Kau juga mungkin akan, atau bahkan sudah mempunyai anak, kan? Ibu yakin pasti sudah. Ibu bisa melihat kau punya seorang anak laki-laki yang tampan seperti dirimu. Mukanya pasti mirip denganmu. Hidungnya yang nyepor*2, alis mata yang tebal, dan bibir tipis yang manis berwarna kemerahan. Umur berapa dia sekarang? Ibu tidak sabar ingin menimang cucu, memandikannya, mendengar jerit tangisnya. Pastilah sangat membahagiakan. Belum lagi kalau dia mengompol diatas baju yang Ibu pakai.

Hari ini ulang tahunmu, kan? Selamat ulang tahun Rama, sayang. Sama seperti tahun-tahun yang sebelumnya, Ibu telah mempersiapkan kado yang istimewa untukmu. Kemarin, Sri Ibu suruh untuk membelikan segulung benang wool warna biru. Lengkap dengan peralatan songketnya. Ibu menyongket benang itu menjadi rajutan yang indah. Ibu membuatkanmu sebuah baju hangat yang manis. Warnanya biru tua. Warna itu masih menjadi warna kesukaanmu, kan?
Tidak ada yang berubah dari tahun ke tahun. Ibu masih memepersiapkan kadomu dari tahun ke tahun. Ingatkah kau, Nak, kado sepatu berwarna biru -hitam yang Ibunda persiapkan untuk ulang tahunmu yang ke 12. Ibu mengumpulkan sedikit demi sedikit dari uang hasil menjual bunga-bunga yang Ibunda rawat kepada pegawai-pegawai di sekitar persinggahan ini.

Ibu pun tidak pernah lupa setiap kado yang Ibu berikan padamu dari tahun ke tahun . Contohnya saja kado sebuah cincin perak berlian pada usiamu yang ke 20. Ibu berharap nantinya cincin itu akan dipakai oleh istrimu sebagai mas kawin di hari pernikahanmu. Cincin itu hadiah dari Nenekmu kepada Ibu. Nenekmu memberikannya pada Ibu, sewaktu Ibu berpisah dengan Kakek dan Nenekmu.
Ibu berharap kau menyimpan kado-kado itu dalam keadaan apapun sebagai kenang-kenangan nantinya untuk Ibu kenang di hari tua Ibu nantinya. Ibu ingin kau berkunjung kesini.

Datanglah, Nak ! Meski hanya untuk sekedar menjenguk Ibumu yang renta ini.
Peluk Rindu
Bunda
-------------------------------------
“ Ada yang bisa saya bantu ? “, tanya seorang wanita yang tiba-tiba mendatangi Wisnu dan Suster yang menemaninya.

“ Apa yang membuat anda tertarik ? “ , tanya wanita itu lagi.

Teguran halus itu mengagetkan Wisnu yang termenung membaca surat demi surat Nenek tua itu. Usia wanita itu kira-kira separuh baya.

“ Maaf, kalau saya merasa ingin tahu tentang Ibu ini . “, sahut Wisnu kepada wanita itu.

“Saya Wisnu . Saya hanya tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Ibu ini. Ibu ini hanya menulis dan menulis surat-surat tanpa mengeposkannya. Padahal dari surat-surat yang telah saya baca, ia sangat merindukan kehadiran anaknya.“, tanya Wisnu sambil melipat surat yang baru saja ia baca, kemudian ia memasukkannya pada sebuah amplop berwarna biru.

Amplop itu hanya bertuliskan “Kepada Ananda Rama di Jakarta”. Wisnu kemudian berjalan menjauh dari ruangan Nenek tua itu, diikuti oleh suster dan wanita itu.

“Saya Dokter Sri . Saya Kepala Rumah Sakit disini.“, ucap wanita itu sambil memperkenalkan diri.

“Suster, sebaiknya anda kembali bertugas.” ucap Dokter Sri kepada Suster, yang mengantarkan Wisnu.

Suster itu mengangguk mengerti dan meninggalkan mereka berdua.

“Orang-orang yang dirawat disini memang semuanya mempunyai perbedaan dengan kita pada umumnya. Masyarakat awam menyebut mereka gila. Namun saya tidak, saya hanya bilang bahwa mereka punya dunia yang berbeda dengan kita. Mereka tenggelam dengan alam pikir masing-masing, tanpa perduli dengan alam pikir orang lain. Tidak seperti kita yang terkadang sibuk memperdulikan kelemahan orang lain dan tidak perduli dengan kebutuhan kita sendiri.“, ucap wanita itu meneruskan penjelasannya.

Wanita itu memakai pakaian berwarna putih, di dadanya tertera plat nama “Dr.Psi. Sri Wahyuningsih . Spesialis Kejiwaan".

Mereka berjalan melalui lorong Rumah Sakit Jiwa itu. Di sepanjang lorong itu terdapat pilar-pilar yang kokoh, sebagai penyangga bangunan tua Rumah Sakit Jiwa itu, namun terkesan kusam tak terawat. Kemudian di ujung lorong terdapat sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Tampaknya ruangan itu dipakai sebagai ruang kerja Dokter Sri.

Ruangan itu hanya berisi sebuah meja, dua buah kursi lipat tua dan tumpukan file-file diatas mejanya. Tidak ada File cabinet atau loker untuk menyimpan semua file-file itu. File-file itu sisanya hanya ditaruh di dalam lemari kayu yang telah tua.

“ Apa yang menyebabkan orang - orang itu menjadi seperti itu ? Contohnya saja Nenek tua yang barusan tadi, dari wajahnya saya yakin, dia orang yang mempunyai ketegaran hati dan ketulusan dalam mencintai anaknya.“, ucap Wisnu keheranan.

“Bu Marni, maksud anda ?” jawab Dokter Sri.

Dokter Sri menghela nafas dalam-dalam, dan kemudian berkata, “Saya merupakan pegawai yang paling lama bertahan di Rumah Sakit ini . Sudah lebih 40 tahun saya mengabdikan diri disini . Bagaimana dan apa saja latar belakang pasien disini, kurang lebihnya, saya yang paling banyak tahu . Apalagi Bu Marni dia merupakan penghuni paling lama disini“.

Dokter Sri melangkah menuju ke sebuah jendela, dalam ruangan itu.

Dia menatap dalam-dalam keluar, sambil berkata,“Coba anda lihat ke arah ujung lorong sana. Anda lihat lelaki itu ? Dia berulang kali membenturkan kepalanya ke dinding. Atau coba anda lihat di ujung sana, pasien wanita itu berulangkali memetik bunga kemudian melepaskan dan memetik kelopak bunganya helai demi helai. Sama seperti perbuatan lelaki dan wanita itu, Bu Marni melakukan gejala perilaku yang sama dengan lelaki itu. Mereka melakukan pengulangan perilaku untuk mengatasi perasaan bersalah mereka. Bedanya, Bu Marni melakukan pengulangan perilaku, dengan terus-menerus menulis surat kepada anaknya.” jelas Dokter Sri kepada Wisnu.

“Kalau dia menulis surat, lalu mengapa dia tidak pernah mengeposkan surat-surat itu kepada anaknya? Bukankah ia sangat merindukan anaknya?", tanya Wisnu, penuh rasa ingin tahu.

“Maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda. Latar belakang pasien tidak begitu saja, dengan mudah saya beritahukan, karena ini menyangkut kode etik saya sebagai dokter disini. Permisi saya masih punya banyak pekerjaan.“, elak Dokter Sri sambil pergi meninggalkan Wisnu di ruangan kerjanya.

“Tunggu, Dok. Apakah anda masih mengelak untuk menjawab pertanyaan saya tadi, kalau anda tahu bahwa saya adalah salah satu keluarga pasien anda disini? “ ucap Wisnu mencegah Dokter Sri pergi.
____________________________
[bersambung]

Read previous post:  
Read next post:  
Writer krystal
krystal at Teruntuk Ananda [1] (9 years 28 weeks ago)
80

great post by the way

Writer krystal
krystal at Teruntuk Ananda [1] (9 years 28 weeks ago)
80

great post by the way

Writer Super x
Super x at Teruntuk Ananda [1] (12 years 30 weeks ago)
90

aku selalu suka membaca cerita yang punya unsur kasih-sayang yang lebih universal.

Writer bulqiss
bulqiss at Teruntuk Ananda [1] (12 years 36 weeks ago)
70

Aku baru tau,kalau kegiatan berulang-ulang dari pasien kejiwaan itu karena rasa bersalah...hehehe tidak semua mungkin yah..

Writer neko no oujisama
neko no oujisama at Teruntuk Ananda [1] (12 years 36 weeks ago)
70

waktu masih SMA aja udah bisa nulis kayak begini. Pantesan bagus2 ceritanya yang sekarang. Untuk komen... vivaldi jagonya!

Writer KD
KD at Teruntuk Ananda [1] (12 years 36 weeks ago)
100

top deh

Writer v1vald1
v1vald1 at Teruntuk Ananda [1] (12 years 36 weeks ago)
60

Hmmm, pikanisa... dialog dokter Sri dan Wisnu yang ini :"Tidak seperti kita yang terkadang sibuk memperdulikan kelemahan orang lain dan tidak perduli dengan kebutuhan kita sendiri"--> agak kaku. Orang gila itu, memang betul punya realita sendiri. Tapi dalam hal kepedulian terhadap kebutuhan pribadi, jelas mereka juga tidak punya. Dalam istilah salah satunya, dekorum = kebersihan diri. Itu karenanya pada state "gila", orang itu jadi kotor, bau, tidak terawat.
----
Mengenai sebutan dr.psi untuk dokter spesialis jiwa, itu dapet dari mana ya? Yang aku tahu, dokter spesialis jiwa itu , dalam bahasa indo titelnya begini : ...,dr, Sp.KJ (dokter spes kedokteran jiwa)
---
Kejanggalan berikutnya, juga mengenai keberlangsungan dialog dokter Sri dengan Wisnu. Yang ternyata di akhir cerita dijelaskan, bahwa saat bertemu itu, dokter Sri belum mengetahui siapa Wisnu, dan karena apa ia bertandang ke asylum. Percaya deh, dokter tidak semudah itu berbicara kepada orang yang sedang bertandang ke sana. Kecuali setelah sebelumnya mengutarakan niatan kedatangannya.
____
Demikian :)

Writer pikanisa
pikanisa at Teruntuk Ananda [1] (12 years 36 weeks ago)

Cerpen inilah yang menjadi titik balik kesukaan ku dalam memulai kesukaanku menulis cerpen, atau tulisan2 semacamnya. Beberapa memang terdapat kesalahan, makasih banget loh ralatnya.

Maklum saja cerpen ini aku buat ketika aku masih baru saja masuk SMU. Salah satu proses pembelajaran diriku.

Namun saya sampai saat ini juga masih berproses untuk mendewasakan diri dan imajinasi.