Masihkah?

“Hei, Irfan!” Seruan itu membuyarkan fokusku ketika aku sedang menggoreskan mata pena di atas buku catatan.

Aku menyapukan pandangan ke penjuru kelas, mencari-cari empu suara itu. Kulihat seseorang berdiri di luar pintu sambil tangannya berisyarat menganggilku, “Sini, Fan!”

Aku bangkit dari kursi dudukku, melangkah menghampirinya. “Ada apa sih?” tanyaku singkat.

“Nanti jadi kumpul kan?”

Aku berpikir sejenak. “Em... Jadi. Nanti di kelas XI IPS 1 aja, ya?”

Anak itu mengangguk menjawab tawaranku, diikuti dengan senyuman yang agak memaksa.

“Ya udah.”

☼ ☼ ☼

Jam dinding kelasku masih terus berpusing seperti pusingnya anak-anak di ruang kelas, hingga terdengar bunyi bel panjang tanda pelajaran terakhir telah usai. Diiringi suara gaduh para anak-anak kelasku yang telah menunggu setia suara itu sejak tadi.

Guru pelajaran Bahasa Indonesia yang berdiri di depan hadirin kelas hanya menghela napas mengetahui waktunya bersama anak-anak itu cukup sampai di sini, hari ini.

“Ya, pelajaran kita sampai di sini dulu anak-anak. Besok kita lanjutkan lagi.”

“Iya Pak...” seru anak-anak kelas, hampir kompak.

Aku merapikan isi tasku. Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung melangkah keluar dari kelas dan masuk ke kelas lain. Berkumpul dengan anak-anak lain di komunitas yang lain.

“Gimana? Udah ngumpul semua?” tanyaku memastikan.

“Iya, tadi cuman ada tiga anak yang nggak bisa hadir.”

Aku tidak begitu peduli. Rapat ini segera kumulai. Rapat redaksi majalah sekolah yang kali ini membahas masalah cover.

Anak-anak itu kuperlihatkan desain cover melalui laptop yang sengaja kubawa.

“Tadi udah lihat semuanya kan? Cover edisi kali ini ada dua pilihan. Satu kreasiku dan satu lagi rancangannya Anggi. Langsung aja, kita sepakat pake yang mana?”

Aku menunggu jawaban, tapi tak ada yang merespon. “Hallo...?”

“Kalo saya pribadi sih mendingan punya Anggi tadi. Kan warnanya hijau, ngejreng. Terus juga kayaknya lebih gaul.”

“Yang lain?” tanyaku memancing.

“Iya, bikinan Anggi aja,” sahut yang lain. “Kan edisi yang dulu pake warna gelap mulu. Kali ini coba pake warna yang ngejreng.”

“Emang kalo pake desainku kenapa?”

“Majalah kita kan majalah sekolah, majalah remaja. Plis deh...!” kali ini Anggi yang angkat bicara. “Cover majalah kita tu harus kelihatan ngejreng. Jangan kayak majalah-majalah politik,” katanya. Sepertinya dia ingin mengatakan kalau desainku seperti desain cover majalah orang tua, nggak gaul.

Aku tidak puas dengan jawaban mereka. Bagaimanapun juga, aku adalah desainer grafis di sini. Aku lebih berhak dihargai—setidaknya dalam masalah ini—ketimbang Anggi.

“Gini ya,” aku mencoba menyusun kata-kata. “Tadi kan kita ngelihatnya pake layar monitor. Nanti gambar yang dicetak sama yang di monitor tu nggak bakalan sama.”

Aku mencoba menjelaskan kepada mereka, “Layar monitor tu bekerja pake cahaya untuk memunculkan warna, sedangkan majalah—kertas—itu pake tinta. Jadi yang kamu lihat di sana itu sebenernya...,” aku tak mampu—atau tak mau—melanjutkan kata-kataku.

Aku hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Anggi adalah pimpinan redaksi majalah sekolah, sedangkan aku hanyalah seorang desainer grafis. Aku masih bawahannya. Aku nggak bakalan bilang kalo desain dia—yang kebanyakan masih copy-paste itu—lebih terlihat seperti gambar bikinan anak kecil bagiku.

“Ato kalo nggak percaya,” kataku melanjutkan, ”gimana kalo gambar-gambar ini kita cetak. Nanti dari situ bakalan lebih kelihatan.”

“Iya. Okey!” sahut Anggi dengan suara menantang.

Beberapa menit kemudian setelah kedua gambar itu dicetak, rapat sore itu berlanjut kembali.

“Sebelumnya aku pengen menyampaikan sesuatu dulu,” kataku. Kali ini dengan nada bicara lebih serius. “Di sini aku kan sebagai desainer grafisnya. Ya... aku merasa lebih punya pengalaman—kamu tahu kan? Lebih tahu tentang masalah seperti ini. Udahlah... Kalian kan udah mempercayaiku sebagai desainer. Sekarang, biarkan aku ngasih yang terbaik buat majalah sekolah kita.”

“Ehm!” Anggi yang duduk di sampingku mendehem, entah apa maksudnya.

Kertas-kertas hasil cetakan itu aku gilirkan kepada anak-anak redaksi untuk dikomentari.

“Gimana?” tanyaku tak sabar.

“Iya sih, kalo dilihat lagi emang aku lebih milih yang ini,” kata seorang temanku sambil menunjuk desain punyaku.

“Yang lain?”

“Secara proporsional, emang lebih bagus punya kamu. Tapi kayaknya kurang berani deh warnanya. Biru muda gitu loh!”

“Iya sih. Tapi sebagai gantinya aku menerapkan permainan warna di tulisan headline. Jadinya tetep seimbang.”

“Dan keliatan kayak majalah politik,” sahut Anggi.

Aku tidak begitu mempedulikan komentar Anggi. “Yang lain?” tanyaku lagi.

“Emm... Kalo aku sih,” kali ini Rini yang berkomentar. “Kalo aku sih emang setuju kalo punya kamu lebih bagus. Tapi seperti kata anak-anak yang laen, apa nggak terlalu kaku?” ia mengucapkan itu dengan hati-hati. “Kalo bisa sih ditambah apa lagi gitu. Bisa kan?”

“Nggak. Itu aku bikinnya dah maksimal. Plis, perlakukan aku kayak seharusnya seorang desainer diperlakukan. Aku tahu bagaimana desain yang masih perlu tambahan dan yang nggak.” Aku kembali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.

“Ya udah, sekarang keputusannya gimana?” Anggi balik bertanya kepada anak-anak. Sepertinya dia mulai gerah di ruangan ini.

Untuk menentukan desain mana yang dipakai, akhirnya diadakan voting. Dan akhirnya, desain buatanku lah yang ditentukan sebagai cover untuk majalah edisi selanjutnya. Aku tidak kaget dengan hasil itu. Sejak dari awal aku tahu, desainku memang lebih baik dari milik Anggi.

“Sebelumnya,” kataku, “aku mau bilang sama Anggi: Aku bisa memahami perasaan kamu. Karena aku dulu juga pernah begitu. Tapi memang cover itu harus satu. Nggak bisa dua-duanya,” ujarku sambil tersenyum licik.

“Makasih,” kata Anggi dengan nada datar. Kata-kataku tadi sepertinya berhasil membuatnya jengkel.

Rapat sore itu pun berakhir. Anak-anak yang tadinya berkumpul melingkar seperti biji tasbih kini telah berhamburan di dalam dan di luar ruangan. Aku masih terduduk di kursiku saat sosok yang amat kukenal itu menghampiriku.

“Fan, kamu tadi sadar nggak sih?” tanya Wahyu, teman akrabku.

Aku tak menjawab.

“Tadi kita itu rapat, musyawarah! Sebisa mungkin kita tu nggak bikin perpecahan. Kan yang kita cari itu kesepakatan, titik temu.”

“Tapi tadi kan mereka udah sepakat?”

“Kamu itu dari dulu selalu begitu. Egois, tahu nggak! Kamu nggak mikirin perasaan Anggi. Kamu nggak mikirin perasaan temen-temen yang laen.”

“Tapi desainernya kan aku. Masa’ mereka nggak percaya sama aku sih? Desain cover itu emang style-ku. Kalo nggak suka, nggak usah ngangkat aku jadi desainer dong! Nanti kalo ada apa-apa juga jangan manggil aku.”

“Nyatanya,” lanjutku,”mereka nggak bisa apa-apa kalo nggak ada aku. Mereka tuh masih butuh aku, tapi nggak mau mengakuinya!”

Sesaat kami saling diam.

“Fan,” Wahyu menurunkan volume suaranya, “kamu tadi tahu Rini kan? Dia tuh berusaha ngasih kamu solusi. Dia tanya, ‘Apa bisa desain kamu itu diperbaiki?’ Kamu langsung jawab, ‘Nggak’. Kamu nggak ngebayangin perasaan dia?”

Aku terdiam sesaat, mengingat kembali kilasan kejadian pada saat rapat tadi. Aku tidak percaya kalau tadi yang aku mengatakan seperti itu. Aku tidak yakin dengan kata-kataku sendiri.

“Aku tadi lagi bad mood, Yu. Pikiranku lagi suntuk,” kilahku.

“Kamu tahu kan,” Wahyu berkata, “dia itu suka sama kamu. Dia itu berusaha nolongin kamu.” Anak itu sejenak mempermainkan pulpen di antara jari-jemarinya. “Kamu juga pernah cerita kan, kalo kamu sebenernya juga punya perasaan yang sama dengan dia?”

Aku tak menjawab. Pura-pura tidak tahu apa yang dimaksud Wahyu. Padahal di dalam batin, aku memberontak.

Dialog sore itu cukup sampai di situ. Aku pulang dengan membawa perasaan yang tak menentu.

☼ ☼ ☼

Usai makan malam, aku menghidupkan komputerku. Ber-chatting ria dengan kenalanku di seberang sana. Katanya sih di Surabaya. Dia memperkenalkan namanya Vivi kepadaku.

Konfrontasiku sore tadi dengan teman-temanku seperti masih mengiang-ngiang di telingaku. Aku merasa bersalah. Ya, aku mengakuinya—suatu hal yang amat jarang kulakukan.

Tapi bagaimanapun juga, inilah aku. Aku punya prinsip, aku punya idealisme. Tapi tak seorang pun dari teman-temanku itu memahami diriku. Mereka lebih sering merasakan, daripada memikirkan. Keputusan-keputusan yang mereka buat tidak berdasarkan pertimbangan yang masuk akal, sehingga berakibat menjadi kacaunya sistem organisasi majalah sekolah.

Ketika aku datang memperbaiki, mereka tetap bertahan pada kekolotan mereka. Mereka berkilah bahwa itu adalah warisan para pendahulu. Sedangkan aku, aku datang membawa kebaikan untuk mereka. Tapi mereka menganggapku adalah pengacau. Siapa yang tidak jengah diperlakukan seperti itu?

Pandanganku kembali berfokus ke layar monitor. Aku sudah online sekarang. Setelah menunggu beberapa menit sambil browsing, akhirnya Vivi online juga. Ia menyapaku duluan.

“Hai, Fan! Gw lagi ada masalah nie... Plis bantu gw ya? ;) ...” tulisnya di instant messenger.

“OK deh. Aq bantu sebisaku ^_^. Aq jg lagi ada masalah sih,” balasku.

“Gw skrg koq rasa2nya ga semangat gitu di organisasi...”

Lama aku terdiam di depan layar monitorku.

“Woy...! Koq malah bengong aje sich?”

“Eh iya,” tulisku spontan. Aku berpikir sejenak. “Trus terang nih ya. Sbenernya aku ga bisa ngejawab pertanyaan itu. Coz sbenernya aku juga punya masalah yang sama kayak kamu,” ketikku diiringi dengan menekan tombol Enter.

Aku kemudian menulis lagi, “Aku nggak tahu kenapa orang-orang di sekitarku selalu nggak cocok sama aku. Apa karena aku orangnya terlalu idealis. Tapi untuk saat ini aku merasa kayak orang yang berdiri di tempat yang salah pada waktu yang salah :( ...“

Setelah itu tak ada kata lagi yang tampil di layar monitorku. Kulihat di instant messenger-ku sepertinya dia sudah offline alias tidak terhubung lagi denganku. Perhatianku pun akhirnya beralih ke browser yang sejak tadi masih putih halamannya. Aku tenggelam dalam jagad internet yang mahaluas.

Kira-kira setelah setengah jam berlalu, handphone-ku berbunyi, tanda ada pesan singkat yang masuk.

Kulihat layar Hp-ku. Ternyata pesan dari Vivi. Aku tak tahu maksudnya, kenapa dia tiba-tiba memutuskan chatting-nya. Ah, yang penting dia sekarang sudah mengirim SMS padaku.

Kalaulah memang idealisme yang kita perjuangkan, maka tak akan ada yang sia-sia. Tapi jika itu hanyalah egoisme belaka, sepertinya semua akan kehilangan makna.

Kata-kata yang singkat, tapi terasa begitu mencubitku.

Egoisme, itukah yang selama ini aku tebarkan? Aku merasa seperti diberi pilihan dua jalan yang aku tak tahu ujungnya. Padahal selama ini aku selalu mengumbar bahwa segala keputusan dalam hidupku adalah prinsipku, idealisme yang harus kupegang teguh.

Ataukah ego itu yang mengatasnamakan idealisme? Aarrghh...! Aku tak sanggup lagi. Bahkan seluruh idealisme yang kau bangun, tak lain hanyalah wujud lain dari egoisme. Semuanya kau bangun berdasarkan egomu!

Aku masih termenung di sudut kamarku. Batinku bergejolak. Pikiranku memberontak. Aku merasa seperti tebing yang dihempas ombak.

Maukah kau berubah? Kembali kepada fitrah? Atau kau masih terus ingin mempertahankan egomu?

Cyberspace, 29042007

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer encum
encum at Masihkah? (11 years 30 weeks ago)
100

Bagus... memana kejadian seperti itu sering terjadi di sebuah organisasi. Dan semoga cerpen ini bisa diambil hikmahnya oleh semua orang. GREAT... calon penulis yang berbakat kayaknya...

Writer suri-jamur
suri-jamur at Masihkah? (12 years 19 weeks ago)
80

aku suka gaya cerita lho! thanks loh lu ngasih komen ke gw, about "menyimak" hehehe.....
cara lu bercerita....sku suka. tap

dadun at Masihkah? (12 years 19 weeks ago)
70

Bagian awalnya bisa lebih disederhanakan dalam satu atau dua paragraf saja hingga inti dari cerita ini ‘benar-benar’ dimulai untuk menghindari alur ‘berbelit-belit’. Atau bisa juga disisip pada percakapan setelah konflik dimulai, atau pada saat sedang terjadi dengan sedikit adegan flashback atau semacamnya. Kemunculan Vivi sebenarnya bisa lebih ‘dimanfaatkan’ lagi. Malah sebenarnya kata-kata yang keluar dari tokoh Vivilah yang lebih ‘mencubit’ dan membuat cerita ini ‘menggigit’.
Terlepas dari semua itu, ide ceritanya boleh juga. Curiga pengalaman pribadi neh. Emosinya lumayan kerasa. Cuma kayaknya mesti lebih diEksplor lagi deh biar imbang antara emosi, ide cerita, rasa dan keutuhan cerpen ini.
Good. Keep on writing!

Writer miss worm
miss worm at Masihkah? (12 years 19 weeks ago)
70

harusnya.. coba diatur lagi alurnya

Writer maximillian
maximillian at Masihkah? (12 years 20 weeks ago)
70

Untuk sebuah cerpen, boleh lah...

Banyak eksplorasi tema2 lain ya. Practice makes perfect!

Writer vee_lubis
vee_lubis at Masihkah? (12 years 20 weeks ago)
60

Dengan bahasa yang apa adanya, kamu membawa pembaca ke realita kehidupan nyata.

Writer KD
KD at Masihkah? (12 years 20 weeks ago)
100

terlalu panjang untuk sebuah renungan. Konflik ada hampir di seluruh cerita. Peralihan menuju sadarnya sang tokoh agak dipaksakan.