Secret Admirer

Pecundang! Mungkin itu adalah sebutan yang tepat untukku. Yah! I’m a looser.
Enam tahun sudah kupendam rasa cintaku. Rasa cintaku terhadap Christian, seorang cowok yang notabene adalah sahabatku sendiri. Cerita klise yang sering teradi di bumi dan di kalangan banyak remaja. Kebersamaan dan keterbukaan dalam kurun waktu yang lama telah menumbuhkan rasa cinta dalam hatiku.
Entah sejak kapan semua rasa ini bermula. Yang kutau, jantungku berdegup kencang tiap kali pandangan mata kami bertemu. Bahkan jika tanpa sengaja tangannya menyentuh tanganku pun jantungku serasa mau melomat dari tempatnnya.
“Cha, aku mau beli es krim nih. Kamu mau nggak?”
“Oh… eh… mmm… ya deh aku mau”
Tidak!!! I’m salting again, again, and again! Tampakknya aku telah terjangkit virus Tian holic stadium akhir. Virus yang mungkin lebih parah dari pada virus flu burung, SARS, atau virus apapun itu.
Aku dan Tian berbeda kelas. Hal ini juga yang menyebabkan timbul rasa kangen yang terjadi hannya sesaat, karena nanti pada saat jam istirahat aku bias dengan bebas memandangi sosoknya yang sedang bermain sepak bola di laangan dari kejauhan.
Kucurahkan segala macam rasa yang bergejolak di dalam hatiku ini dalam sebuah atau mungkin tidak hanya sebuah tetapi puluhan bahkan ratusan puisi yang kutulis untuk Tian di dalam buku Diary-ku.
Aku pun mulai sedikit menampakkan rasa sayangku kepadanya, dengan memberi sedikit perhatian-perhatian kecil yang tak pernah kulakukan sebelumnya terhadap orang lain. Tapi rupanya, dia mengartikan perhatian-perhatianku padanya itu hanya sebagai rasa perhatian dari seorang sahabat.
Oke, aku akui menjadi seorang secret admirer itu tak mudah. Tak semudah seperti apa yang telah ditulis di dalam novel-novel Teenlit ataupun sinetron-sinetron yang telah banyak beredar saat ini, semuanya tak semudah seperti apa yang telah aku bayangkan sebelumnya.
Menjadi seorang pengagum rahasia, harus pandai-pandai menyimpan perasaannya, menjaga sikapnya agar tampak sewajar mungkin saat berhadapan dengan orang yang kita kagumi, harus pandai meredam rasa cemburu yang dating dengan menggila saat melihat orang yang kita sayangi secara diam-siam itu tengah berada dengan seseorang yang dianggapnya special atau dengan seorang yang menganggapnya special. Dan seperti yang telah aku katakana sebelumnya, semua itu tak mudah.
Hingga sampai saat ini, genap berusia enam tahun rasa cinta yang tumbuh dan berkembang di dalam hatiku ini. Ditahun ke enam ini perasaanku seolah melayang tinggi, jauh melampaui awan. Tian seakan memberiku secercah harapan untuk dapat memilikinya. Tapi aku tak tau secara pasti apa yang ada di dalam hatinya. Dia sering mengatakan bahwa dia sayang aku, entah dia sayang sama aku sebagai rasa sayang seorang cowok tehadap cewek atau malah hanya sekedar rasa sayang terhadap seorang sahabat. Beginilah diriku yang masih saja berada di bawah baying-bayang kata sayang yang aku sendiri tak tahu apa maksudnya.
* * * * * * * *

“Cha… Necha!!! Aku udah jadian sama Eci! Hehehe… finally akhirnya aku bias juga jadian sama dia. Kamu mau tahu nggak gimana ceritanya? Aku ceritain ya,”
Kabar yang teruca dari bibir Tian pagi ini bagaikan petir yang menyambar, hatiku yang semula jauh melayang tinggi di atas awan karena kata sayang yang sering dia ucapkan, kini jatuh berserak di atas tanah berduri, bukan main sakit yang sedang kurasakan saat ini.
“ Jadi pertama aku tembak dia pake bawa bunga mawar, norak sih emang… bla… bla… bla…,”
Stop!!! Aku pengen dia berhenti ngomong lagi!
“Dia malu-malu gitu waktu aku kasih mawarnya…bla…bla…bla…,”
Stop! Stop! Stop! Aku nggak mau dengar lagi.
“Lho, lho, Cha kamu mau kemana? Lho aku belum selesai ceritanya nih. Kamu dengerin aku dulu donk… Cha!! Necha!!! Cha aku salah ngomong ya? Maafin aku Cha… Cha…!!!”
Maafin aku Tian! Aku nggak sanggup lagi kalau harus mendengarkan cerita kamu lebih lama lagi. Aku nggak kuat, dari pada aku menangis di depan kamu lebih baik aku lari. Seperti saat ini yang telah aku lakukan.
Ini bukan salah kamu, ini salahku sendiri. Salahku mengapa aku aku terlalu berharap, salahku karena aku mencintai orang yang tak seharusnya aku cintai, salahku karena telah membiarkan semua rasa ini tumbuh dan menjadi semakin besar, salahku sendiri karena tak mau membunuh perasaan ini sejak awal, salahku. Semua ini salahku.
Selama beberapa hari ini aku mencoba menghindari Tian, dengan alas an lagi kurang enak badan, alas an yang benar-benar klise dan Tian pasti tahu bahwa aku tengah berbohong padanya.
Aku belum siap untuk bertemu dengannya lagi, tidak dengan keadaanku yang sangat kacau ini, tidak dengan mata yang sembab, tidak dengan air mata yang tak kunjung surut seolah ingin menghabiskan persediaannya hanya dalam satu waktu, tidak dengan semua rasa yang masih mengendap di dasar hati.
Setelah lebih dari satu minggu, akhirnya hari ini kuputuskan untuk mengakhiri segala aksi bisu yang kulakukan terhadap Tian, sahabat yang kucintai selama enam tahun terakhir ini.
“Tian, maafin aku ya. Kemarin aku ninggalin kamu gitu aja padahal kamu kan lagi cerita. Oke kamu boleh lanjutin cerita kamu sekarang,”
Sebenarnya aku merasa sedikit aneh dengan sikap Tian. Dia hanya tersenyum dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Ceritanya kapan-kapan aja deh. Kamu sakitapa Cha?”
Oh ternyata Tian enggan untuk bercerita. Apakah ia tidak mempercayaiku lagi sebagai orang yang bersedia mendengarkan segala keluh kesahnya?Apakah ia marah padaku? Apakah aku telah menyakiti hatinya? Oh tidak… jangan sekarang, tidak untuk saat ini, setelah kehilangan cinta aku tak mau kehilangan sahabat.
“Nggak apa-apa kok, Cuma nggak enak badan aja! Eh gimana kabar kamu sama si Eci? Cie…cie… pasti udah tambah mesra ya?” ucapku untuk terus memancingnya bercerita. Tapi Tian hanya diam beberapa saat.
“Aku udah putus sama dia,” ucap Tian lirih dan sempat mengembalikan serpihan-serpihan hatiku yang tadinya berserak. Namun, sedetik kemudian aku kembali tersadar, aku tidak akan terus berharap padanya. Aku sudah memilih untuk mencoba meluakannya secepat mungkin.
“Putus?” tanyaku seolah tak percaya.
Tian hanya menganggu lemah, dan dia pun mulai bercerita. Tentang perasaannya yang ternyata tak segembira saat ia bersamaku.
Oh, tidak. Don’t do this to me, Tian. Kamu terlalu banyak memberi harapan padaku. Kau telah membuatku terus berharap dan berharap lagi. Tidak! Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

* * * * * * *
Sebulan telah berlalu setelah peristiwa yang menyakitkan menimpa hatiku. Demi mengobati luka hati ini, kuputuskan untuk mencari hati yang lain.
Aku mulai mencobanya saat ini, hingga akhirnya kutemukan juga satu sosok yang menurutku ku anggap paling tepat, dia bernama Dana. Anak kelas sebelah. Kucari seluruh informasi yang berkaitan dengannya melalui salah satu temanku yang dengan sangat kebetulan sekelas dengannya. Dan terakhir kuberanikan diri untuk memotret sosoknya dari kejauhan.
Setelah semuanya jadi, informasi-informasi yang aku dapat dari temanku dan beberapa foto dirinya, aku lalu mencoba untuk mengambil satu kesimpulan tentang target baruku itu. Ternyata dia sangatlah mirip dengan Tian. Oh my God, ternyata aku belum dapat sepenuhnya terbebas dari bayang-bayang Tian.
Samai kapan aku dapat menghilangkan bayang-bayang Tian dari dalam pikiranku? Ku bertanya pada diri sendiri, dan sudah sangat jeas ha tersebut tidak akan membuahkan jawaban. Malah sederetan pertanyaan yang lainnya berlomba-lomba muncul di pikiranku. Bagaimana caranya? Berapa lama? Apa aku mampu? Pasti akan sangat sulit sekali. Apakan Dana mampu menyembuhkan luka hatiku?
Penyelidikan tentang Dana terus berlanjut, hingga aku mendapat poin besar dari usahaku ini. Menurut penuturan teman-teman sekelasnya, ternyata Dana diam-diam menyimpan perasaan sayang terhadapku. Betapa beruntungnya aku yang ternyata menjadi pilihan dari orang yang aku pilih sendiri.
Dua hari setelahnya. Dana menghampiriku dan mengucapkan tiga buah kata yang mampu menyihirku dan sangat kutunggu-tunggu. “Aku sayang kamu,” dan tanpa piker panjang aku langsung menerimanya sebagai pacarku.

* * * * * * * * *
Tian! Aku telah melupakannya beberapa hari terakhir ini. Dan hari ini dia muncul tepat dihadapanku dan tepat pada saat aku akan mencarinya.
Ia berdiri di hadapanku dan Dana, kekasihku. Wajahnya tegang dan sarat akan rasa cemas yang amat sangat. Aku tau disaat seperti ini dia pasti akan memulai berbicara terlebih dahulu. Kutungg dengan sabar samai akhirnya dia mau membuka mulutnya. Dan mengatakan sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.
“Cha, maafin aku, aku ternyata selama ini… Aku…” Tian memotong kalimatnya dan menarik nafas sejenak.
“Aku ternyata selama ini sayang sama kamu Cha…”
Seketika itu juga air mata meleleh, tak dapat terbendung lagi. Tampaknya takdir tengah mempermainkan aku. Mengapa dia dating di saat semuanya sudah terlambat? Tampaknya Tuhan berkehendak lain terhadap jalan hidupku. Dia ingin agar aku dan Tian hanya menjadi sepasang sahabat yang saling melengkapi satu sama lain, saling berbagi, dan saling menguatkan.
Aku hanya bias melepaskan Tian sebagai seorang yang pernah aku cintai, tetapi aku akan tetap menggenggamnya sebagai seorang sahabat yang selalu kusayangi.
Semuanya sudah terlambat…
You’re my best friends forever…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer AkangYamato
AkangYamato at Secret Admirer (11 years 41 weeks ago)
80

Keren!Keren!

Ceritanya bagus,lebih bagus lagi kalo dirapihin lagi! ;)

Ditunggu karya selanjutnya!..

Best regards,
AkangYamato :)

Writer Psylo
Psylo at Secret Admirer (11 years 41 weeks ago)
80

Hidup itu seperti bermain RPG. Satu pilihan bisa mengubah endingnya :).
Ceritanya bagus, meski ide ceritanya umum, tapi yang jadi poin lebih adalah pembawaannya. Cerita yang sama kalo disampaikan dengan cara berbeda, orang akan melihatnya secara berbeda juga. Keep writing.

Oh ya, lebih baik autocorrect di MS Wordnya dimatiin, soalnya kan ngetiknya dalam bahasa Indonesia :p. Periksa ulang lagi tulisannya tuh, banyak yang salah ketik.

Writer chuitraa
chuitraa at Secret Admirer (11 years 42 weeks ago)
80

ie cerita dah seru . but ada beberapa kata yang salah ketik , mustinya kamu liat ulang kata2 yang salah . ok !! ^_____^

Writer dhitaspica
dhitaspica at Secret Admirer (11 years 42 weeks ago)
50

cerpen lo bagus buaaaaaaaanget!!!!!!!!!

sumpe deeeeeeeee

tapi ya,,,, guwa gak terima deh mereka cuma temenan doangan..........

coz mereka khan saling sayang..