Headline pagi Ini

Penyelewengan Dana Bantuan Sosial

Penegakan Hukum bagi Rakyat Kecil

Petani Sengsara Pejabat Tertawa, Pejabat Terima Impor Beras

“Hanya ini ! Hanya ini judul-judul berita yang kamu rekomendasikan ! Mau membreidel majalah ini ! GILA ! Kamu satu-satunya manusia sakit yang pernah aku temui. Cari berita yang sensasional, tapi aman untuk kita. Kamu ingat kan beberapa waktu yang lalu kita baru saja kena kasus, gara-gara berita semacam ini.”

“Pikir pakai otakmu. Aku tidak mau tahu. Dalam dua hari kamu tidak menyerahkan berita yang memuaskan, aku akan memindahkanmu ke divisi-divisi yang paling tidak kamu sukai. Divisi Periklanan!”, omel Bapak Anton Pimpinan Redaksi Majalah “Patron”

“Pak, tunggu dulu ! Anda tidak bisa seperti itu!”, jawabku.

“Ah…sudah jangan banyak omong! Saudara Anti apabila anda tidak dapat menyelesaikan tugas anda, maka saya tidak akan memberi ampun.”, tegas Pak Anton.

Dasar Pimpinan Redaksi sialan. Apa yang ada di pikirannya? Memaksakan kehendak, membeungkam kebebasan pers. Aku tak habis pikir racun apa yang telah mempengaruhinya. Oh…aku mungkin tahu racun itu. Tiras penjualan majalah. Pasti yang membuat semua pimpinan redaksi mempunyai tabiat aneh adalah racun semacam itu. Apalagi “Patron” hanyalah sebuah majalah yang tidak terlalu besar.

Mungkin benar apa kata Darsono, aku mungkin terlalu idealis tapi tidak rasional. Terlalu mengharap sesuatu yang sempurna, tapi tidak mengukur kemampuan sendiri. Sekarang, aku dihadapkan pilihan mempertahankan kearifanku atau melepaskannya demi sebuah berita.

Buntu! Buntu! Mengapa otakku tidak bisa jalan, mau kubawa kemana sepeda motor bitutku ini. Sebenarnya Darsono telah menawariku untuk meliput gosip artis. Dia rela melepaskan proporsi berita miliknya untuk kutulis. Katanya, berita artis selalu laku dijual. Biasanya berita artis bisa menjadi berita yang bombastis bila judulnya mencolok dan ditempatkan pada headline majalah. Gosip artis memang menjanjikan untuk dijual dan resiko dituntut atau pembreidelan relatif kecil.

Sip! Sudah dekat rumah Intan Kania. Akhirnya kupertimbangkan juga usul Darsono. Alat perekam, kamera plus filmnya juga telah aku persiapkan. Tapi apa yang akan kutulis. Ah…aku tak terbiasa menulis berita kehidupan pribadi artis semacam ini. Artis, pacaran, selingkuh, cerai, kawin lagi, cerai, kawin lagi, rebutan jatah royalti. Ya…pokoknya berita macam itu, yang diulang-ulang saja beritanya. Tapi yang buat beda adalah pelakunya.

“Permisi…. Intan Kania sedang ada di tempat ?”, ujarku pada seseorang yang membukakan pintu gerbang, yang kutahu setelahnya dia adalah pembantu Intan Kania.

“Darimana ya Mbak? Apa sudah buat janji dengan Mbak Intan ?” tanyanya.

“Saya Anti Paramita, wartawan dari Majalah “Patron”. Kemarin rekan saya Darsono sudah janji dengan Mbak Intan, kebetulan Darsono tidak bisa meliput jadi saya yang akhirnya menggantikan.” Jelasku.

Wanita itu kemudian memintaku menunggu diluar. Ia kemudian masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian, ia mempersilahkan aku masuk.

Setelah selesai mewawancarai, Intan menanyaiku,

“Aneh, anda wartawan politik kan gaek itu bukan ? Kenapa jadi tertarik meliput berita gosip? Dan satu lagi anda tak seperti wartawan lain yang lebih tertarik dengan berita gosip murahan dari selebrits semacam saya. Saya sih senang saja masalah pribadi saya tak disinggung, namun, saya kuatir ketenaran saya akan menurun, kalau beritanya tidak dibumbui dengan gosip-gosip kecil. Ya…anda tahu lah, untuk sebuah kepopuleran…..”

Aku cuma tersenyum menanggapi kelicikan artis yang satu ini. Memanfaatkan gosip sebagai alat untuk mencapai ketenaran. Bagiku itu seperti menjilat kotoran sendiri.

Pagi yang indah untuk bekerja. Deadline berita sudah kuserahkan kemarin sore.

“An…, ternyata kamu punya penggemar juga yah ?”, sapa Darsono, pagi itu.

“Penggemar ? Ngarang kamu, Dar!”

“Lihat aja, tuh Intan Kania pagi-pagi sudah melabrak kamu, lewat Pak Anton. “, jelas Darsono.

Aku menoleh pada suatu ruangan bersekat kaca milik Pak Anton. Didalamnya nampak seorang wanita diantarkan seorang lelaki, menunjuk-nunjuk ke arah Pak Anton. Sementara Pak Anton hanya manggut-manggut diam saja.

“Gila! Apa-apaan artis ini. Aku kan sudah menulis beritanya sesuai wawancara yang kulakukan. Lalu apa salahnya berita itu ?”, tanyaku pada Darsono.

“Itu penyebabnya. Nih baca!”, kata Darsono, sambil menyerahkan majalah terbitan tadi pagi.

“Artis jaman sekarang beritanya harus bombastis, harus ada gosipnya. Intan Kania ngamuk karena kamu nggak memuat gosip-gosip terbaru tentang dirinya. Dia takut ketenarannya akan turun.”, terang Darsono.

“Aneh, artis yang satu, ingin masalah pribadinya ditutupi, tapi yang satu lagi ingin dibikin bombastis dengan ditambah embel-embel kebohongan disana-sini.”, jawabku.

“Ya..paling tidak kamu hutang sama aku lagi, An.”, ingat Darsono.

Alamak! Aku baru ingat, kemarin Darsono yang telah berbaik hati untuk mengijinkan aku meliput berita Intan. Pastilah sekarang Darsono kena imbas juga.

Dengan dimuatnya beritaku tadi, otomatis aku didudukkan lagi di depan meja pak Anton, Pimpinan Redaksi Majalah “Patron”.

“Anti, masak nulis berita macam ini saja tidak bisa ?”, omel Pak Anton.

“Tapi Pak, Bapak telah memeriksa sendiri kan tulisan saya, dan tampaknya Bapak tidak keberatan. Bultinya juga telah dimuat di halaman depan.”, terangku.

“Benar! Tapi kamu tahu kan kemarin deadline sudah mepet sekali. Kamu sebenarnya periksa dulu dong.”, omel Pak Anton.

“Ah…bagaimana ini Intan Kania telah menuntut aku di depan pengadilan karena masalah ini.”, cemas Pak Anton.

“Dengar ! Kamu harus minta maaf sama dia?”, ancam Pak Anton.

“Maksud Bapak, sama Intan ? Silahkan saja kalau dia mau menuntut, saya tidak akan meminta maaf, saya punya catatan rekamannya kalau itu bisa meloloskan saya dari masalah ini. Saya menulis sesuai dengan apa yang terekam dalam kaset itu taidak ada yang dikurangi, tidak ada yang dilebihkan.”, sahutku untuk membela diri.

“Baik, kalau begitu posisi anda akan dipertaruhkan.”, terang Pak Anton.

Dua bulan berlalu, “Patron”, menjadi bulan-bulanan dewan pers karena begitu banyak kasus kontroversial yang aku perbuat. Kasus ini hanya merupakan tambahan deretan kasus yang aku buat sebelumnya. Namun seperti yang aku duga, “Patron” bebas. Namun karena kasus-kasusku yang begitu banyak keberadaan majalah ini jadi dibayang-bayangi dewan pers, aku sudah tidak bisa lagi meliput dengan leluasa, berita-berita politik berat seperti dulu. Darsono kena imbas juga.

Sekarang aku dan Darsono, dipindahkan ke Divisi Periklanan. Darsono mencoba membesarkan hatiku dengan mengatakan apa salahnya dicoba. Lagipula katanya, divisi ini merupakan lahan yang “basah”. Huh..tapi apa gunanya. Hanya saja demi mengisi ganjalan dalam perutku juga keluarga, akhirnya aku hadapi saja kenyataan itu. Idealisme ternyata tidak sepenuhnya sempurna ya!

Jadi… Apa kabar headline pagi ini………….?

---------------------------

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer v1vald1
v1vald1 at Headline pagi Ini (12 years 36 weeks ago)
50

sori, buat gw, kok biasa aja ya bacanya. Gak ada yang baru dari ide. Ending juga datar. "Konklusif" dalam artian F Griffin, aku artikan sebagai sebuah tulisan menggurui. Kalo mau berhenti sampai di sini, jelas tulisan ini menjadi -maaf-, tidak bagus. Lagi2 observasi yang dangkal untuk keberanian menulis cerita yang tidak dalam ranah-nya.

Writer OnyZuka
OnyZuka at Headline pagi Ini (12 years 36 weeks ago)
80

taoco rasa ayam pedas.nikmaat...membuahkan kolaborasi entensitas makna akan apa aku ada karena kamu. hmm...dunia journalism gak akan ada habisnya. teruslah berkreasi, menuju yg terbaik. GREAT!!
kasih koment juga ya...bwt tlsan OnyZuka rasa pasta pedas.pokoknya yg pedas2 bikin asik deh

Writer barubelajar
barubelajar at Headline pagi Ini (12 years 36 weeks ago)
60

Seru waktu aku baca. TOP lah pokoknya.

Writer -RK-
-RK- at Headline pagi Ini (12 years 36 weeks ago)
60

bagus..hanya antiklimaksnya agak kurang ma'nyus =)

Writer KD
KD at Headline pagi Ini (12 years 36 weeks ago)
100

Intan Kania? Gabungan antara Intan Nuraini dan Kania Sutisnawinata ya?

Adegan Intan melabrak pak Anton bisa jadi bahan gosip infotainment tuh

Writer Azarya Mesaya
Azarya Mesaya at Headline pagi Ini (12 years 36 weeks ago)
50

kalau penulis wartawan, gw ga salut. Kalau penulis bukan wartawan gw salut. Ngertikan? He..he

Writer neko no oujisama
neko no oujisama at Headline pagi Ini (12 years 36 weeks ago)
80

Bagus, banyakin tulisan yang mengangkat idealisme. Tapi buat yang idealisme menang.

Writer F_Griffin
F_Griffin at Headline pagi Ini (12 years 36 weeks ago)
70

Ini kurang panjang. endingnya terlalu konklusif. Mungkin karena kurang panjang.
Konfliknya sudah bagus lho padahal.
DTK? apaan tuuuh. :)

====

main juga dong di milisnya: kemudian@yahoogroups.com

YEAH

Writer pikanisa
pikanisa at Headline pagi Ini (12 years 36 weeks ago)

Ngerasa ada yang kurang nggak?

Sejujurnya, cerita ini aku tulis sebelum sinetron DTK (Dunia Tanpa Koma) tayang, tapi ketika aku sodorin ke temen2 buat dibaca kata mereka kayak cerita DTK. Trus segi alur dan penulisannya kurang. Bantuin yah buat kasih saran, cacian or anything.....
Eh... Griffin thanks buat ngelmu-nya ending yang konklusif itu kayak gimana ?Ntar buat tambahan pengetahuanku juga.
Soal Intan Nuraini sama Kania Sutisnawati, nggak ada kaitannya. Kan cerita ini dibuat sebelum mereka muncul.
Pertanyaan lanjutan, aq ini bukan wartawan, tapi masih merintis. Jadi aku termasuk golongan yg mana ? Aku rasa yang paling akhir (yang paling parah kan....???=b)
Ini cerita kedua setelah teruntuk ananda. {hayo...dah baca belum...}

Thx a lot