Keluarga Ironik(3)

Berulang kali sudah purnama terlewati. Anak-anak Ndang Matyo berturut-turut mengalami nasib buruk. Eko dipecat karena difitnah melakukan pelecehan seksual, sebuah keberhasilan konspirasi rekan-rekannya sendiri yang mengincar jabatannya. Nama baik Eko pun tercemar dan sempat menghiasi tabloid maupun acara infotaintment di televisi, karena wanita yang diumpankan kepadanya adalah seorang model majalah bertaraf internasional. Eko pun berusaha merehabilitasi dirinya, kasus pencemaran nama baiknya sudah dibawa ke meja hijau. Dwi terpaksa keluar dari perusahaannya yang mengadakan rasionalisasi karyawan. Menjadi niatnya untuk selanjutnya bekerja di maskapai penerbangan nasional saja. Namun tak bisa serta merta Dwi melaksanakan niatnya. Kecelakaan pesawat yang terjadi secara bertubi-tubi menyembulkan kekhawatiran tersendiri bagi dirinya sendiri maupun isteri dan anak-anaknya.

Tri didakwa melakukan tindak pidana korupsi dan kasusnya telah sampai di pengadilan. Tak cukup kuat iman Tri, sehingga perampokan uang rakyat yang dilakukan secara berjamaah oleh rekan-rekannya pun diikutinya selama duduk di kursi dewan. Resto-kafe Runi masih tetap laris, bahkan cabang barunya pun telah dibuka. Tapi kehamilannya yang telah lama dinanti ternyata mengalami keguguran. Runi pun merasakan kesedihan yang luar biasa dalam hidupnya.

Rita pun didera masalah yang tak kalah pelik. Suaminya gagal dalam pencalonan bupati karena ketahuan selingkuh dan rumah tangga Rita pun terancam pecah. Sementara itu nilai kontrak Ragil baru saja dinaikkan karena timnya berhasil menjadi juara, tapi pada awal musim berikutnya dia mendapat skorsing larangan bermain satu tahun karena dituduh menghina wasit. Melalui klubnya, Ragil mengajukan bukti baru pada komisi banding federasi sepakbola nasional, untuk setidaknya memberikan remisi atas hukumannya. Dilarang bermain sepakbola merupakan sebuah hal yang akan sangat menyiksanya.

Pak Ndang berdua dengan isterinya merenungi nasib anak-anak mereka.
“Bu, apa mungkin anak-anak kita nasibnya begitu karena ndak mau berbakti pada kita ya?” tanya Pak Ndang pada isterinya.
“Jangan berpikir begitu, Pak. Kita ini ‘kan hanya manusia biasa. Cuma Tuhan yang berhak menentukan takdir mereka. Tapi, apa yang terjadi pada mereka, mesti saja tak terlepas dari kita sebagai orang tuanya,” sahut Bu Ndang.

Mereka jadi sadar telah gagal menjadi orang tua yang baik. Namun apa yang terjadi pada kedua orang lanjut usia tersebut justru membuat mereka senantiasa berupaya mendekatkan diri pada Ilahi. Tak henti-hentinya mereka mohon ampunan atas dosa-dosa mereka di masa lalu dan mohon ditunjukkan jalan yang terbaik bagi anak-anak mereka.
Pak Ndang dan isterinya selalu memberikan dukungan pada anak-anak dengan permasalahan hidup mereka masing-masing.

Nurani anak-anak pun tersentuh dengan perlakuan orang tua mereka. Eko dan adik-adiknya beranjak menuju kesadaran bahwa ada yang tak tepat dengan perlakuan mereka kepada bapak dan ibu mereka selama ini. Satu demi satu mereka mendatangi rumah sederhana yang ditinggali orang tua mereka. Satu demi satu mereka memohon maaf atas kesalahan mereka selama ini dan kembali memohon doa restu dari bapak ibunya. Tri yang sempat masuk tahanan pun menyempatkan diri melakukannya ketika statusnya berubah menjadi tahanan kota.

...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer loushevaon7
loushevaon7 at Keluarga Ironik(3) (12 years 17 weeks ago)
60

trims buat sarannya, brown!

Writer brown
brown at Keluarga Ironik(3) (12 years 18 weeks ago)
60

stlh baca dr bag-1 s/d bag-3 ceritanya terkesan lurus2 saja pdhal ada banyak konflik dlm keluarga yg seharusnya bisa dikupas lbh dalam lagi untuk memberi nafas dlm cerita ini, untuk membuat pembaca merasakan emosi dlm cerita ini. kemungkinan krn alur cerita dan endingnya sudah tertebak dr awal dan jg karena cerita spt ini sudah sering dilihat di sinetron2, jadinya tidak ada surprise sama sekali. aku pribadi lbh suka melihat ending yg tak terpikirkan sebelumnya.

just keep on writing/learning lah!