bintang-bintang di tepi pantai

BINTANG-BINTANG DI TEPI PANTAI

Oleh : Poetry Maulina January

Kelap-kelip lampu di tepi pantai membuat hatiku damai. Ombak yang menyapa kakiku menggelitik sampai ke ubun-ubun. Cakrawala senja sudah menghilang, gelappun datang. Sebentar lagi, beberapa anak nelayan datang ke rumahku yang sederhana. Merekalah anak-anak yang kurang beruntung untuk mencicipi bangku sekolah.
Pemandangan laut lepas masih menarik untuk dinikmati. Namun, bagiku janji harus di tepati. Jam 7, kelima anak itu pasti sudah sampai di depan pintu rumahku.
Mereka, 5 anak nelayan yang cerdas, penuh semangat. Semangat yang belum tentu ada dalam diri seorang anak berseragam di sekolah-sekolah. Semangat belajar pantang menyerah. 5 anak itulah yang terseleksi oleh alam. Tadinya, aku meminta 30 anak untuk di beri pelajaran menulis dan membaca. 2 minggu yang lalu, aku datang ke balai desa hanya ada 5 anak tersisa disana. Ada lelaki kecil yang tersipu malu, ada yang menggaruk kakinya yang telanjang. Ada satu perempuan kecil berambut ikal, dia mengedip-ngedipkan matanya, seakan aku melihat lentera perahu nelayan di lautan. Ada si hitam imut berpenampilan necis dan satu lagi…dia tersenyum riang dan segera mengulurkan tangan…
“ Area…”
Waw, sungguh nama yang unik. Kini aku tahu ia paling ramai dibanding yang lain. Dia tidak terlalu pintar dalam menghitung. Tapi, tulisannya selalu indah. Dia pandai membuat pantun jenaka, puisi cinta dan pandai menyanyi.
Aku mulai melangkah pulang. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 06.35. Sekitar setengah jam merupakan waktu yang cukup untuk menyiapkan materi pelajaran malam ini.
Aku berpapasan dengan beberapa nelayan. Mereka sibuk mempersiapkan perjalanan mereka mencari nafkah.
“ Non, baru mau pulang?”
Sapa seorang nelayan. Namanya Pak Tomang.
“ Iya, Pak Mang. Mudah-mudahan tangkapannya banyak.”
Aku tersenyum sambil membungkuk.
“ Amien. Lagipula saingannya berkurang. Banyak yang tidak melaut malam ini. Titip Amang ya, Non. Mudah-mudahan dia bisa jadi orang pintar.”
Aku tersenyum lagi. Lelaki itu, sama necisnya dengan anaknya. Amang; si hitam. Langkah kakiku terayun, angin pantai memainkan rambutku. Aku menyesal, kenapa rambut panjangku tidak ku potong saja sebelum perjalananku ke pesisir ini?
Benar, anak-anak itu datang tepat saat jarum pendek menunjuk ke angka 7.
“ Koq berempat? Mana Area?”
Keempat anak itu menggeleng bersamaan.
“ Baiklah, ayo kita belajar…”
Suasana malam ini lain dari biasanya. Tak ada Area yang membuat hangat dinginnya malam dengan keceriaannya.
=======================================================
Mentari pagi menyapa. Aku bersiap lari di tepian pantai. Nelayan sudah pulang. Mereka sibuk bongkar muatan ikan.
“ Pagi, Non. Tangkapan saya banyak lho…”
Ucapnya sumringah lantas kembali tenggelam dalam kesibukannya.
Nelayan pagi ini tidak seramai biasanya. Aku juga tidak melihat Pak Aya, ayah dari Area. Aku ingin menanyakan padanya tentang ketidakhadiran putranya. Ternyata, benar kata Pak Tomang saingannya berkurang.
Malam ini, yang dating ke rumah hanya Amang dan Adelia.; satu-satunya perempuan dari 5 sekawan itu.
“ Kemana Area, Abduh dan Loma?”
Mereka hanya menggeleng.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Apakah kekalutan pikiranku kali ini membuat cara mengajarku membosankan?
Sehingga mereka perlahan malas datang belajar?
Tapi, melihat semangat kelima anak itu biasanya…
Pasti ada sesuatu di balik semua ini.

Siang ini, aku mengikat rambutku. Biasanya sehabis aktivitas pagiku yang membosankan, yaitu jogging, mandi dan sarapan, aku bersiap di depan laptopku. Apapun aku lakukan di depan layar kecil nan canggih itu. Sungguh rutinitas yang menjemukan. Namun, aku menikmatinya. Berbeda dengan hari ini, aku melangkah keluar rumah mungilku, hadiah ulang tahun dari suami yang teramat sangat menyayangiku.
Teriknya siang ini tidak membuatku patah semangat.
Di dermaga, aku melihat orang berkerumun.
Aku melihat anak-anak kecil bersembunyi di balik rumah sementara keramaian itu berlangsung. Aku menghampiri mereka.
“ Area, kemari…”
Tubuhnya bergetar….tidak seperti Area yang biasanya.
“ Ada apa, ceritalah…”
Air matanya mengalir.
Aku memeluknya.
“ Area belum makan 2 hari, Non…”
Ia berbisik.
Aku melepas pelukanku lantas menariknya untuk beranjak dari sana. Hanya ia yang ingin aku selamatkan. Karena anak-anak lain ada di pelukan ibunya. Tidak seperti Areaa.
Anak itu makan dengan lahap. Aku membiarkannya. Ia mulai berceloteh, aku tersenyum.
“ Maaf Non, Area tidak datang 2 hari ini. Nanti malam Area janji akan datang.”
Ia mencium punggung lenganku lantas pulang tanpa alas kaki.

Area tidak datang lagi malam ini. Hatiku gundah. Lebih parah lagi, satu-satunya yang dating hanya Amang.
“ Amang, sebenarnya ada apa?”
Amang terlihat berpikir, menimbang-nimbang…
Dia menghela nafas dan akhirnya menjelaskan….
“ Non, nelayan tidak bisa melaut. Bahan bakar mahal. Mereka protes, ternyata tak ada gunanya. Papa bisa melaut karena kami lebih beruntung dari yang lain. Papa Area, dia bahkan membakar perahunya sebagai aksi protes. Area tidak diperkenankan kesini lagi juga anak-anak yang lain. Mereka tahu, suami Non pejabat yang membuat peraturan kenaikan harga bahan bakar. Kenapa hidup kami yang sudah susah harus semakin susah?”
Amang, aku melihat calon pemimpin besar di hadapanku. Aku tidak menyangka, si hitam imut ini bisa berkata demikian tegas.
Kini, bukan hanya derai air mata Amang yang ada. Air matakupun meleleh. Aku memencet speed dial di handphone-ku.
“ Sayang, aku tahu apa yang harus kita lakukan untuk negeri tercinta ini. Buat sekolah gratis untuk anak-anak miskin. Hanya itu yang bisa membantu generasi muda untuk merubah nasib keluarganya.”
“ Alhamdulillah, berarti sayang segera pulang?”
Itulah jawaban suamiku tercinta di seberang.
“ Ya, aku kangen kamu.”
Jawaban untuk segala pertanyaan di kepalaku. Sampai akhirnya aku harus ada di pesisir pulau Jawa. Aku hanya ingin tahu bagaimana caranya agar bangsa kita lepas dari kemiskinan?
Ternyata, Bintang-bintang kecil di pesisir pantailah yang membuat jawaban itu. Bintang-bintang generasi penerus bangsa yang terus bersinar sepanjang masa.
Ombak berdebur pelan. Aku melihat dari jendela rumahku. Malam ini bintang tersipu malu-malu. Aku mengantar Amang sampai halaman. Lambaian tangannya akan aku rindukan. Esok, aku akan kembali ke pelukan suamiku untuk merencanakan pembuatan sekolah gratis untuk anak-anak miskin di negeri tercinta ini.

-END-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer fadly_pwk
fadly_pwk at bintang-bintang di tepi pantai (11 years 15 weeks ago)
50

Aku suka isinya ...

Writer 145
145 at bintang-bintang di tepi pantai (11 years 15 weeks ago)
80

Kali ini rasanya yang kurang cuma pembagian paragrafnya...

Untuk isi hmm lumayan,coba komposisi narasi-deskripsi nya di pertimbangkan lagi.

SAY NO TO JUNK COMMENT
CONSTRUCTIVE ONE IS BETTER