Gadis Hujan

Aku bertemu gadis itu di sebuah restoran di langit.. salah satu restoran tertinggi di Jakarta. Dia berambut panjang tergerai hingga pinggang, kulitnya kuning langsat bagai dipoles gading, kedua matanya yang pekat menguasai ruangan. Gadis itu duduk di depan piano, dengan piawai memainkan seuntai lagu klasik yang suram, kukenali sebagai Moonlight Sonata. Entah kami yang mendengarnya harus kagum atau menangis, karena lagu itu bernada kesepian. Lalu dia tersenyum kelam sejenak, sampai duduk kembali di kursi nomor 24, salah satu tempat terbaik di restoran itu. Dia menunduk, ditemani secangkir coklat panas.

Aku berjalan mendekatinya. Manuver apa yang harus kulancarkan untuk gadis seperti ini, pikirku sambil melangkah. Otakku bagai terbius, kaki berjalan mengarah kepadanya. Ketika aku berdiri di hadapannya, lidahku kelu tidak bisa bertutur kata. Bagaimana mungkin? Seorang gadis bisa membuatku gelisah seperti anak bayi? Gadis itu diam menatapku dengan sepasang mata kucingnya yang gelap, lalu berkata, “Diana telah meninggal.”

“Siapakah Diana?” Akhirnya mulutku terbuka, dan gadis itu tersenyum pahit, mendongak memperhatikanku.

“Sahabatku,” jawabnya singkat. Aku terbuai dalam senyumnya, lekuk lehernya yang jenjang, jemarinya yang melilit gagang cangkir. Dialah wanita pertama yang membuatku lemas seperti ini.

“Boleh aku duduk?” aku menunjuk lemah pada kursi di hadapannya. Dengan jantung berdetak cepat kutunggu jawabannya, sementara ia termangu menatap rintik hujan yang turun, membasahi jendela restoran langit bagai peluh, turunnya satu persatu.

“Namaku Sonny,” akhirnya kupersilakan diri sendiri untuk duduk.

“Andrea.” Nama yang sangat cantik. Ketika kulihat air mata di pelupuk matanya, aku bisa bersumpah kulihat hujan turun dengan derasnya.

**

Nama gadis itu Andrea. Andrea Samuel, seorang penulis lepas yang berusia dua puluh lima tahun. Dia menyukai warna putih. Dia suka pada kupu kupu. Dia seorang Scorpio sejati. Dia les piano sejak balita, dan sekarang sudah mencapai tahap tertinggi. Dia suka pada hujan. Sangat suka pada hujan… seakan bisa mengontrolnya.

Kami bertemu lagi di tempat yang sama dua hari kemudian. Bangga rasanya duduk dengan gadis tercantik di ruangan, menikmati makan malam dengan sang putrid dalam balutan gaun putih dan ditemani red wine terbaik. Kami tertawa, tersenyum, bercerita…

“Diana sudah meninggal,” ucapnya lagi.

“Ya, aku tahu, sahabatmu,” balasku dengan simpati. “Kapan dia meninggal?”

Mata Andrea dirundung kelabu. Hujan rintik perlahan menyelimuti Jakarta. “Minggu lalu,” ujarnya pelan. “Dia jatuh dalam jurang ketika berkemah.”

“Oh.” Aku tidak tahu cara menghibur wanita yang baru ditinggal mati sahabatnya. “Aku turut berduka cita.”

Andrea tersenyum. Sekelibat petir melintas. “Diana suka berpetualang, Sonny. Dia tidak peduli akan bahaya.”

“Bagaimana dengan kamu?” Aku bertanya, bosan dengan cerita mengenai Diana nya.

Andrea menatapku. “Aku juga suka berpetualang.” Dia termangu sambil menghirup aroma red wine nya. “Inspirasi untuk menulis.”

“Di bawah sinar matahari dan ultra violet yang jahat itu?” tanyaku tidak percaya. Andrea tergelak.

“Ya,” katanya ringan. “Di bawah matahari dan UV yang jahat itu.” Kami tertawa bersama. Kupandangi kulitnya yang mulus itu. Bagaimana mungkin?

**

Siang ini kami mengopi di Starbucks, ditemani brownies coklat kesukaannya. Di luar cerah, sinar matahari menyengat dan menyilaukan pandanganku. Andrea duduk dalam balutan jeans dan baby doll santai, menghirup aroma kopi. Aku baru selesai meeting dengan klien besar, dan kami merayakan kesuksesanku melayangkan deal dengan klien tersebut.

“Tampaknya hari ini kau sangat senang.”

Benar, Andrea sangat ceria. Dia bersemangat, bicaranya terbuka, senyumnya lebar. Apakah mungkin dia sedang jatuh cinta.. denganku?

“Ya,” jawabnya tersipu. Tangan kirinya erat menggenggam sebuah kantong plastik putih.

“Kau beli apa?” tanyaku penasaran, “Barang incaran ya?” Aku tahu wanita suka berbelanja habis habisan, mungkin Andrea juga begitu.

“Memang,” katanya. Dia mengeluarkan sebuah frame kaca. Di dalamnya ada seekor kupu kupu, entah asli atau palsu, bersayap merah dengan bercak hitam. Biasa saja, seperti yang ada di kebun Nenek di kampung.

“Tidak menarik?” Mata Andrea bertanya Tanya, dan dia tersenyum lucu seakan menertawakanku yang tidak paham indahnya seni seekor serangga. “Ini kupu kupu langka. Common Sailer namanya. Nama kerennya Neptis Hylas.”

Wajahku blank. Aku tahu aku tampak bodoh. Aku hanya tidak mau kelihatan sedang bosan, tapi memang benar kupu kupu kering untuk hiasan bukanlah hobiku.

“Kelihatannya menarik,” ujarku akhirnya, memutuskan untuk berbohong. “Mau tambah kopi?” Alihkan pembicaraan sebiasa mungkin. Gagal.

“Diana sudah mencarinya selama bertahun tahun. Akhirnya aku menemukannya. Diana pasti akan senang sekali.”

Ya, Diana mu di akhirat sana pasti lebih memikirkan masuk surga atau neraka disbanding kupu kupu kering, batinku kesal.

“Kupu kupu ini…”

**

Di minggu ketiga kami berkenalan, Andrea mengajakku ke rumahnya. Mampir sejenak untuk minum teh melati dan mengambil buku yang mau dipinjamkannya kepadaku. Hujan turun cukup deras, dan suasana hati Andrea kelihatannya kurang begitu baik.

Tapi aku sangat senang mampir ke rumahnya, rumah kayu kecil sederhana dan minimalis, dengan susunan lemari kaca panjang untuk koleksi kupu kupunya yang ribuan jumlahnya.

Aku ngeri melihat sekeliling. Suram, bau apak dari lembabnya hujan memenuhi ruangan. Sorotan lampu kuning yang kelap menyinari ribuan kupu kupu yang diawetkan.

Kupu kupu hitam dengan bercak emas..

Kupu kupu raksasa dengan sayap hijau

Kupu kupu kuning..

“Sonny, ini bukunya,” suara Andrea mengejutkanku. Kupu kupu itu membuat bulu kudukku berdiri.

“Thanks.” Aku duduk di sofa hitamnya, memandangi awan dari sudut jendela. Kulihat Andrea termenung lagi. Wajahnya sangat cantik, sangat sendu. Bibirnya yang basah tidak membentuk senyum, tapi cukup membuatku panas dingin. Mungkin ini saatnya…

“Andrea,” panggilku pelan. Kupegang jemarinya, dan dia tersentak. “Aku jatuh cinta padamu di hari berhujan itu.. dan aku ingin menyatakan perasaanku.. saat hujan tetap turun.”

Yah.. lumayan gombal kedengarannya. Tapi selama ini belum ada gadis yang berhasil menolaknya.. belum ada orang yang..

“Kamu tahu kenapa langit selalu mendung dan hujan?” pertanyaan Andrea mengacaukan scenario jadianku. Seharusnya dia mengerjapkan mata, mengangguk bahagia dan menanggapi dengan, “Ya! Tentu aku mau menjadi pacarmu!” Bukannya membicarakan cuaca. Andrea menatapku dengan mata besarnya, meminta pengertian. “Karena aku gadis hujan, Sonny. Aku menangis, lalu langit pun akan menangis. Aku hancur, dan hujan pun akan mengguyur. Aku tersenyum, lalu matahari akan muncul..”

Aneh sekali. “Aku tidak paham,” kataku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Ya.. sejak kecil cuaca di sekitarku dipengaruhi oleh suasana hatiku,” Andrea tersenyum simpul. “Apakah kamu tahu kenapa Diana meninggal?”

Aku menggeleng.

“Kami bertengkar malam itu. Diana nekad membawa peralatan berkemahnya dan pergi ke gunung untuk camping. Aku sangat marah.. malam itu hujan deras dan petir menyambut. Mobil Diana jatuh ke jurang, dan dia meninggal. Hari ini adalah sebulan Dia meninggal..”

Sebutir air mata Andrea meluncur turun. “Kami tinggal di rumah ini. Diana sangat suka warna putih. Dia juga jatuh cinta pada kupu kupu sejak kecil, dan aku ikut menekuni hobinya. Sebelum meninggal, dia bilang padaku bahwa dia melihat Common Sailer..”

Dia menatapku di bawah remang cahaya. “Sadarkah kau, Sonny, bahwa aku telah membunuh Diana dengan kemampuan bawah sadarku ini?” Lidahku kelu..

“Tapi sahabatmu pasti memaafkanmu,” akhirnya kuucapkan dengan pelan..

Andrea jatuh terduduk di lantai, menangis dan berkata di tengah sekelibat petir dan awan gelap di luar, “Aku mencintai Diana, Son.. aku sangat mencintainya…”

Tamat.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer heripurwoko
heripurwoko at Gadis Hujan (12 years 33 weeks ago)
60

Ada lelaki hujan, ada gadis hujan.

Oke kok. cuma penulisan "dia suka kupu-kupu" sama "dia scorpio sejati" apa hubungannya ya? hehe...

Writer bulqiss
bulqiss at Gadis Hujan (12 years 35 weeks ago)
60

Hehehe..aku agak mikir,satu orang yang punya kekuatan, bisa bikin hujan seberapa luas sih..tapi itu nggak perlu dipikir koq, bahasanya ngalir, temanya ringan tapi Aku bingung, kupu-kupu mana yang menbuatnya bergidik, andrea atau kupu-kupu kuning..t

Writer F_Griffin
F_Griffin at Gadis Hujan (12 years 35 weeks ago)
60

jatuh ke jurang ketika berkemah? Mungkin lebih bagus kalo jatuh ke jurang waktu naik gunung. Itu lebih masuk akal.
jatuh ketimpa pohon pas berkemah, walaupun ada kejadian benernya, terdengar nggak masuk akal.
fiksi itu ngarang. Ngarang itu nipu. Nipu itu harus bisa dipercaya. Make the readers believe the lies. It's the key to fiction.

Writer FrenZy
FrenZy at Gadis Hujan (12 years 35 weeks ago)

Wah thanks ya.. mnurut aku ini cerita sangat kelam dan agak aneh.. jadi efeknya seperti itu. Senang kalau ada yang suka :)

Writer rinojoe
rinojoe at Gadis Hujan (12 years 35 weeks ago)
50

rapih banget euuyyy... rajin dehh

Writer pikanisa
pikanisa at Gadis Hujan (12 years 35 weeks ago)
60

Kalau pernah baca komik2 atau pengamat Manga sejati, beberapa judul karangan Jepang itu ada yang punya konsep hampir sama dengan cerita mu.
Lihat saja judul2 film atau manga, Alice academy, Naruto, atau James and the beanstalk.
kesemuanya juga membidik manusia yang punya kekuatan gaib.
Tapi overall ok kok

Writer Valen
Valen at Gadis Hujan (12 years 35 weeks ago)
70

Cukup bagus, ngalir. Penggambaran situasi kamu ok, FrenZy.
Salam kenal.