History of Sushi

Kamis, 28 Juni 2006

Namaku Diandra, seorang marketing executive di sebuah perusahaan di Jakarta. Aku adalah tipe wanita biasa, dan salah satu kegemaranku adalah sushi. Makan sushi, beli sushi, koleksi barang barang berbentuk atau bergambar sushi, membaca buku resep membuat sushi, dan satu lagi, membuat homemade sushi. Menurutku setiap sushi memiliki sejarahnya sendiri. Dari bahan membuatnya, apa yang dikandung di dalamnya, rasa sushinya, dan orang yang memakan dan menggemarinya. Aku sudah akrab dengan sushi sejak 4 tahun yang lalu, sejak aku kos di Jakarta untuk kuliah.

Jumat, 29 Juni 2006 – Unagi Roll, no wasabi, lots of homemade soy sauce

Hari ini aku mampir di rumah Rita, sahabatku yang sedang sakit. Katanya demam dan flu berat karena kehujanan naik motor semalam. Dre, sahabat kami yang lain, sedang duduk di sana dan menonton TV. Akhir akhir ini Rita sangat akrab dengan Andre, walaupun Andre awalnya adalah sahabatku sejak kecil. Aku bertemu dengan Rita saat kuliah di Jakarta, dan kami sangat klop. Rita orangnya blak blakan, sedangkan aku sangat pendiam. Andre adalah penengah di antara kami, seperti wasit dalam pertandingan bola, tidak memihak pada pihak manapun.

Aku membawa serta unagi roll buatanku sendiri. Itu jenis sushi kesukaan Rita. Waktu pertama kali mengenalnya, Rita mengklaim diri sendiri sebagai anti sushi. Rita paling tidak mau diajak makan sushi, dia hanya suka makan bakso atau pizza. Katanya, sushi itu tidak steril, penuh dengan bahan yang belum matang seperti ikan mentah. Rita selalu bergidik ngeri melihat sushi. Dia juga benci wasabi, katanya rasa pedasnya membuat kepalanya pusing.

Suatu saat aku memaksanya makan sushi karena dia kalah taruhan denganku. Dengan mata terpejam dan hidung yang ditutup, Rita memaksakan dirinya menelan satu roll sushi yang terbuat dari daging belut itu. Aku tersenyum sangat puas melihatnya, bahkan Dre pun ada di sana untuk mengabadikan momen itu. Entah mengapa, sejak saat itu Rita ketagihan unagi roll. Rita tetap membenci wasabi, dan hanya menggunakan kecap asin dapur untuk memakan sushinya itu.

Ketika Rita putus dengan pacar pacarnya yang brengsek, aku akan dating menawarkan sedikit konsolasi dan persahabatan dengan sekotak unagi roll tanpa wasabi. Rita akan menelannya bulat bulat dan berhenti menangis, dan setiap saat dia selesai makan sushi buatanku, Rita akan mengatakan bahwa dirinya sudah pulih dari patah hatinya. Hari kami yang berbahagia selalu ditandai dengan unagi roll, dan hari sushi adalah hari yang cukup special untuk kami berdua.

Rabu, 5 Juli 2006 – California roll, no wasabi, less nori

Aku cuti dua hari untuk pulang ke Surabaya dan mengunjungi ayah dan ibuku. Mereka menyuguhiku dengan pelbagai makanan daerah yang jarang kumakan di Jakarta. Kue basah, kue lapis, oncom, tape uli.. semuanya lengkap untuk menyambut kedatanganku. Aku memang sudah hampir setahun tidak menjenguk mereka, karena pekerjaan selalu menumpuk. Ayah dan Ibu tidak paham makanan luar, apalagi makanan Jepang.

“Sushi? Apa itu nak?” adalah respon dari Ibu ketika aku menawarkan akan membawa sushi pulang.

“Makanan Jepang, Ibu,” jawabku sambil menjelaskan sabar. Ketika sampai pada tahap sashimi, Ibuku langsung menolak bulat bulat kesempatan pertamanya untuk merasakan makanan Jepang tersebut. Ayah sama saja, dia hanya suka makanan Jawa. Pizza saja beliau tidak kenal, apalagi sushi?

Makanya sebagai oleh oleh aku membuatkan California roll super sehat untuk mereka. California roll adalah jenis sushi yang paling simple dan tidak mengandung bahan mentah. Aku menggulung nasi, wortel, telur, daging dan ketimun dalam sushi roller ku, lalu kugoreng sedikit dan kuberi saus.

Ibu dan Ayah akhirnya berani mencobanya. Mereka sedang menikmatinya ketika Ayah tiba tiba berdehem dan Ibu bertanya kepadaku, “Diandra, kapan kamu akan menikah, nak?”

Aku tersedak dalam lamunan dan kopiku tumpah ke pangkuanku.

Jumat, 7 Juli 2006 – Shrimp Rolls with lots of wasabi and cream cheese

Dimas, kekasihku selama tiga tahun terakhir ini, datang menjemputku di bandara sepulangnya aku dari Surabaya. Dimas kelihatan sangat lelah, dan dia terlambat empat puluh menit. Sepanjang perjalanan dia terus menerima telepon dan SMS yang kadang tidak diangkatnya. Katanya, dia bolos kerja untuk menjemputku.

Dimas adalah penyuka shrimp rolls, yaitu sushi udang dengan cream cheese yang banyak. Dimas juga suka jenis sushi yang lain, tapi dia sangat menggemari udang. Dimas selalu makan sushi dengan wasabi yang banyak, karena dia suka makanan pedas. Kadang aku bingung, seberapa tahan Dimas pada rasa pedas, karena dalam makanannya selalu lebih banyak sambal dan cabainya daripada sayurnya.

Kami bertemu tiga setengah tahun yang lalu di restoran Jepang yang sedang trend di Jakarta, dengan meja berputar yang penuh dengan sushi yang kelihatannya sangat lezat. Saat itu aku masih beginner dalam dunia per-sushi-an, aku tidak paham akan banyaknya jenis sushi, dan aku adalah orang yang suka bereksperimen. Aku duduk sendirian di restoran sushi yang padat itu, dan dengan senang mencapiti sushi demi sushi yang menarik perhatianku. Vegetarian roll, sushi maki, salmon roll, California roll. Rasa yang berbeda di lidah dalam setiap suapan membuatku lupa diri.

Ketika aku sedang mengambil sepiring sushi dengan tatanan udang yang apik, aku terpaksa bermain sedikit tarik tarikan dengan seorang pria yang juga ingin mengambil sushi yang sama. Shrimp roll. Aku menoleh. Seorang pria muda yang cukup tampan. Di piringnya begitu banyak wasabi dan jahe.

Tahukah kalian bagaimana akhirnya? Kami membagi dua sushi tersebut, dan akhirnya membagi dua hati kami dalam sebuah komitmen pacaran.

Kamis, 3 Agustus 2006 – Salmon Maki, perfect combination of soy sauce and wasabi and ginger

Aku patah hati. Dimas ketahuan berselingkuh dengan teman sekantornya. Aku pernah melihatnya, namanya Sarah, perempuan cantik yang lebih tua dariku. Orangnya sangat pandai bergaya, rambutnya keluaran salon ternama, dan bajunya selalu limited edition dari butik mahal. Aku tidak tahu mengapa Dimas melakukan itu kepadaku. Selama ini kami baik baik saja. Apakah karena aku banyak mengalah? Apakah karena aku tidak pernah manja dan ngambek jika dia lebih memilih menonton bola daripada berkencan? Apakah karena aku tidak pernah curiga dan selalu membelanya? Apakah karena aku wanita yang membosankan?

Rita sedang keluar kota untuk urusan kantor ketika hal itu terjadi. Dia hanya menelepon dan marah marah atas kelakuan itu, mengatakan supaya aku tidak lagi menangis untuk lelaki buaya darat semacam Dimas, dan berjanji akan segera pulang untuk mengempeskan mobil Dimas dan cewek barunya. Aku tidak bisa menolak. Aku hanya pasrah menerima semuanya.

Dre datang ke rumahku karena aku sudah tidak tahan memandangi layar TV sendirian di rumahku. Aku depresi. Aku bosan mengunyah Pringles sendirian sambil menangis, membiarkan air mataku meresapi kain sofa hijau dan membiarkan matahari menyembul malu malu karena aku malas membuka tirai. Aku capek berbohong pada orang HRD di kantorku bahwa aku terkena gejala tipus, lalu stress sendiri melarang mereka datang menjengukku.

Aku bosan menjadi Diandra yang patah hati.

Dre akhirnya datang, dan dengan seulas senyum dia menarikku ke dapur, meletakkan plastic belanjaannya di atas meja dan mengeluarkan peralatan perangku. Sushi roller, cuka beras, beras Jepang, rumput laut, mirin, kecap, wasabi, jahe, dan salmon. Dalam diam kami pun bekerja. Dre bahkan tidak mencaci maki Dimas, mengumpat betapa kurang ajarnya lelaki itu, ataupun mengatakan bahwa aku harus tenang dan cheer up. Dre hanya menyalakan lagu jazz kesukaannya, karena dia tahu aku akhir akhir ini sering mendengarkan lagu rock karena Dimas sangat menyukainya, dan aku mengikutinya.

Kami mencapur bahan dalam senyap, dan ketika nasinya sudah matang, Dre berpaling kepadaku sambil berkata, “Diandra, kamu ingatkah pertama kali kamu membuat sushi?”

Aku hanya memaksakan diri tersenyum.

“Lihat,” ujar Dre pelan, tangannya ada di sushi roller. “Ketika pertama kali kulihat kau menggulung sushi, hasilnya tidak sebagus ini, bukan?” Dia menunjuk pada sepotong salmon sushi yang telah digulungnya. Gulungan Dre selalu sempurna. Nasinya padat dan lengket, norinya renyah, dan kombinasi cuka, garam dan gulanya selalu pas. Dre sangat teliti, sejak kecil dia begitu, tidak seperti aku yang ceroboh.

Ya, aku ingat. Pertama kali aku dan Andre belajar membuat sushi (Dre kupaksa untuk ikut), nasi sushiku bertebaran, tidak rapi, dan norinya lepas setengah jalan. Isi sushiku ikut keluar, dan sushinya terlalu asam karena kebanyakan cuka beras. Bahkan wasabi yang kubuat terlalu encer, dan kecapnya kebanyakan.

Dre berkata lagi ketika aku diam, “Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatunya. Yang pertama tidak selalu sempurna, yang pertama tidak selalu seperti yang kita inginkan. Bukan begitu, Diandra?” Air mataku menggenang di pelupuk mata. Dre memang benar, tapi kenapa rasanya sesakit ini?

“Ayo, sini,” dengan lembut dia membimbing tanganku, menggulung sushi, lalu mencolek sedikit wasabi dan jahe dan kecap, lalu memaksaku memakannya. “Enak kan?” aku mengangguk angguk. Salmon roll buatan Dre paling hebat. Kombinasi yang tepat, rasa asin, manis, asam dan pedas bergelora dengan sempurna di ujung lidahku. “Dalam hidup ini kita perlu menemukan kombinasi yang tepat atas segalanya. Kesedihan, kebahagiaan, kepahitan, semuanya tidak boleh ada yang berlebihan dan tumpang tindih.”

Lalu dengan asal asalan, Dre mencampur wasabi dan kecapnya terlalu banyak, sehingga ketika aku memakannya, lidahku langsung menolak rasa yang diterbitkannya. “Gak enak, Dre,” ujarku sedih, “seperti hidupku sekarang.”

“Inilah apa yang terjadi jika kombinasinya tidak pas,” kata Dre menggurui. “Dan kita akan terus belajar membuat sushi yang lebih baik, yang lebih enak. Kita tidak bisa terus menerus memakan sushi asam pedas ini, kan?”

Dengan tangan yang penuh nasi, Dre menggapai bahuku dan memelukku erat. Seperti seorang kakak, seperti seorang sahabat, ataukah lebih dari itu? Hatiku berdesir. Sejak kapan Dre begitu perhatian dan dewasa, mengapa aku tidak pernah menyadarinya sebelumnya?

Dre mengelus pelan rambutku, dan aku terisak. “Mungkin ini saat yang buruk bila aku berterus terang padamu, Diandra, tapi aku jatuh cinta padamu. Aku jatuh cinta pada kau dan sushi-sushimu, seberapa asam pun mereka ketika kau pertama membuatnya. Aku jatuh cinta pada kesabaran dan kelembutanmu belajar dan mencintai sushi, aku jatuh cinta pada dirimu yang sesungguhnya.”

Aku mendongak, agak kaget. “Bukankah kau mencintai Rita?”

”Kami lebih baik menjadi sahabat,” ujar Dre.

“Aku butuh waktu.”

“Ya, aku mengerti.”

Aku tidak tahan untuk bertanya, “Mengapa kau tidak mengatakan bahwa Dimas itu brengsek, seperti yang orang orang lain bilang untuk menghiburku?”

Dre tertawa santai. “Hahaha, dia memang brengsek.”

Aku ikut tertawa. Aku butuh waktu untuk memastikan perasaanku untuk Dre. Mungkin saja aku tidak akan bersama Dre jika kami tidak berjodoh. Mungkin juga Rita mencintai Dre. Mungkin kami akan sedikit bertengkar jika akhirnya aku dan Dre bersama. Tapi aku membawa secercah harapan. Untuk aku dan sushi sushi kecilku.

The End

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yoshe
yoshe at History of Sushi (12 years 11 weeks ago)
80

Aduh, cerita yang berbau Jepang nih ;> Kebetulan aku tuh suka banget sama yg Jepang2. So, interesting aja buat aku.
Tapi, gaya penceritaan Mba emang mantap. terasa meyentuh.

Writer nightcrawler
nightcrawler at History of Sushi (12 years 29 weeks ago)
70

the diary of a sushi-addict-lady? hahaha...

good writing... always like the way you write stories!

Writer julie
julie at History of Sushi (12 years 29 weeks ago)
70

aku bukan tipe orang yang suka berexperimen, terutama soal makanan, aku suka makanan yang sudah akrab dengan lidahku ,pokoknya indonesia banget deh (kok jadi curhat?.
.......
anyway, Winna aku suka kok cerita ini. sesederhana apapun idenya bisa menjadi menarik kalau tau meramunya.
.....
terkadang kita juga tidak sadar kalau cinta itu ada di sekitar kita.

Writer neko no oujisama
neko no oujisama at History of Sushi (12 years 29 weeks ago)
90

dari segi ceritabagus kok. gw suka bacanya, jadi tambah wawasan tentang sushi. Dari segi penulisan, kalimat2nya agak kaku yah. mungkin kamu buatnya karena menerjemahkan secara kaku dari bahasa inggris. Maksud gw, di kepala elo tuh bahasanya inggris, tapi nulisanya pake indo. temen gw juga ada yang begitu, makanya gw sarann, dari mulia mikirnya pun pake bahasa indonesia.

btw, gw suka banget sushi walaupun nggak pernah tau nama2nya. tapi belum sampe tahap mencari sushi... cuma selalu makan kalo kebetulan lunch di hotel dan di sana ada.

Writer splinters
splinters at History of Sushi (12 years 29 weeks ago)
60

frenzy, aku juga suka sushi!!! hehehe, bukannya aku ga suka sama ceritamu ini, tetapi entah kenapa aku merasa cerita yang dihubungkan dengan sushi ini agak terlalu dipaksakan, mungkin juga karena kamu, maaf hehehe, menulis dalam bahasa indonesia, sehingga kurang luwes aja gitu, sister ...

Writer heripurwoko
heripurwoko at History of Sushi (12 years 34 weeks ago)
50

Bagus ceritanya. Gue suka sisi filosofisnya. Ps: Gue juga suka dengan nama Diandra....

Writer loushevaon7
loushevaon7 at History of Sushi (12 years 36 weeks ago)
60

aku juga belum pernah makan yg namanya sushi tuh

Writer KD
KD at History of Sushi (12 years 36 weeks ago)
100

Entah kenapa aku jadiingat brownies?

Ini pengalaman pribadi atau hasil riset ya?

Writer FrenZy
FrenZy at History of Sushi (12 years 36 weeks ago)

Banyak yang membenci cerita ini yaahhh :( padahal ga ada maksud pembelajaran aneh, hanya sedikit cerita yang agak 'aneh' dan kompleks karena saya sukaaa banget ama sushi.. Tolong saran kritiknya ya.

Writer pikanisa
pikanisa at History of Sushi (12 years 36 weeks ago)
50

Untuk seribu alasan kebingunganku, aku mengatakan aku belum pernah makan sushi.
Tak pernah tahu sensasi yang dirasakan dari nya.
Begitu juga dengan cerita ini, terus terang aku bingung!
Mungkin lain kali frenzy ajak aku mencoba.
Mungkin aku seperti Rita.

Writer Mia Magdalena
Mia Magdalena at History of Sushi (12 years 36 weeks ago)
60

Kayaknya semuanya tentang sushi..
aku adalah aku dan sushi adalh sushi, mohon jangan membuat pembelajaran yang aneh-aneh...