INI SALAH ITU SALAH

INI SALAH ITU SALAH

Hari mulai sore, terdengar suara mesin motor, mobil melintas depan gedung perkuliahan universitas swasta ternama di jakarta, semua mahasiswa regular mulai meninggalkan kampus terkecuali mereka mahasiswa non-reguler justru datang ke kampus, karena perkuliahan dimulai sejak pukul 16.00 hingga 19.00. Terlihat seorang mahasiswa yang duduk di loby gedung fakultas keguruan, mukanya nampak serius, di tangannya sebuah buku agenda warna hitam berukuran sedang, ia terus memandangi buku itu seolah mencari jalan pemecahan sebuah masalah, sesekali terlihat bibirnya tersenyum, ketika membuka dan melihat halaman ke dua buku itu, lalu tangannya mengepal kemudian diangkatnya dan di tarik ke bawah seraya mengucapkan

“Yesss…!”

TYPE – TYPE RINALDI WIBOWO

JOMBLO NO!!

PUNYA CEWEK YESS!!

Nama
Fakultas
Ciri-ciri

Aniyatun Nisa
HUKUM
Kulit putih, wajah bulat, bola mata biru, tinggi

Nahla
HUMANIORA
Kulit kuning langsat, tinggi, langsing

Syaqila
KEDOKTERAN
Kulit putih, muka orientalis, mata sipit

Naumi
SAINTEK
Kulit sao matang, pakai kaca mata, gigi putih bersih

Ishabell
EKONOMI
Kulit putih, hidung mancung, tinggi semampay, bibir tipis, muka kemerah-merahan

Tak ada yang tahu kalau tulisan di halaman ke dua buku Renaldi target mengejar cewek, nama-namanya sudah tertera jelas, tidak sulit bagi Renaldi kenal perempuan, karena orangnya supel, gampang kenal orang gampang pula tahu tentang orang, kalau fisik cukup penilaian sendiri, Renaldi bosan dengan gelar jomblonya, kali ini ia ingin warnai hidup dengan cinta, ia juga tak mau asal-asalan mencari perempuan yang bakal di pacarinya, sesuai dengan kategori yang tercantum di buku agendanya, pembuatan target tentu tidak sebentar, Renaldi menghabiskan waktu sekitar satu bulan membuatnya, Nama yang tertera paling bawah adalah perempuan yang paling bertama bakal ia gebet. Renaldi kembali tersenyum

“wooiii…ngapain loe Nal? senyum-senyum sendiri! Jadi ngeri gw!” tori teman kuliah Renaldi mengagetkannya dari arah belakang, dengan cepat ia menutup buku agendanya

“sialan loe mau bikin gw jantungan? “

“ya maaf-maaf dong!!” Renaldi menganggukan kepala, Tori termasuk teman dekatnya tapi kali ini ia tak mau ada orang yang tahu tentang rencananya

“wah buku apa ni?”

“uussst jangan disentuh, bahaya he2” ucap Renaldi jayus

“ya ampun Nal-nal, becanda loe ga ad model lain apa!, loe mau balik ga? yu bareng gw, ke depan gerbang doang”

“loe duluan aja, gw masih ada perlu”

“yaudah gw chow…”

Renaldi kembali terdiam, pikirannya disibukan dengan strategi-strategi yang bakal dilancarkannya untuk mendapatkan sang pujanan hati, dari kelima gadis yang sudah dicatatnya ia bakal mulai dari Ishabell, ya Ishabell. Sore itu juga Renaldi langsung berjalan menuju gedung fakultas ekonomi yang jaraknya sekitar 15 meter dari loby fakultas keguruan, berapa menit kemudian Renaldi sampai di loby Fakultas ekonomi, ia tahu kalau hari ini Ishabell pulang agak sore, karena semua jadwal perkuliahan dari ke lima gadis itu sudah dicatatnya, tidak sulit baginya untuk bertemu seolah sebuah kebetulan, dari jarak 3 meter terlihat Ishabell sedang berjalan ke arahnya dengan setumpuk buku-buku yang dibawanya, kali ini Renaldi akan menabrak Ishabell seolah ketidaksengajaan, ia berjalan ke arah Ishabell setelah jarak dirinya denga Ishabell sekitar sepuluh senti ia menoleh ke belakang seolah ada yang memanggil, dan

“braaaak…aaaw my God!!” ucap Ishabell

“ooh mba maafin saya, saya benar-benar ga sengaja” ucap Renaldi sambil mengambil buku-buku Ishabell yang terjatuh

“tidak apa-apa, ini hanya incident aja”

“bukunya banyak ya, biar saya bawain, kan jarak fakultas ekonomi ke gerbang lumayan jauh”

“sungguh, kamu mau bawain buku saya, terima kasih banyak ya” lalu Ishabell memberikan semua buku yang dibawanya kecuali buku yang ada di dalam tas

“Yess gw berhasil, ga sulit ko deketin Ishabell” ucap Renaldi dalam hati sambil tersenyum

“kamu kenapa senyum-senyum ada yang lucu?”

“Ooh ga pa-pa”

Sesaat kemudian terdengar bunyi ponsel Ishabell, lalu ia mengangkat ponselnya itu dan sedikit bercakap-cakap, sebentar sekali pembicaraan sehingga menyulitkan Renaldi untuk menafsirkan maksud sang penelpon, setelah berjalan sekitar 5 meter, terliaht mobil honda jazz berwarna merah melintas depan Renaldi dan Ishabell, sedang itu kemudian berbalik arah dan berhenti tepat di samping mereka berdua,

“Ishabell, hallo hanny? Ucap laki-laki itu sambil membuka pintu dan turun dari mobilnya

“ooh kamu cepat sekali, saya kira kamu masih di jalan tol, oy Renald

perkenalkan ini hunson my boy friend , thanks so much for your help” ucap Ishabell,

hanson mengulurkan tangan pada Renaldi kemudian memindahkan buku-buku yang dibawa Renaldi ke dalam mobil, lalu Ishabell dan Hunson masuk ke dalam mobil

“Renaldi kamu mau bareng kita?” tanya Ishabell

Renaldi hanya menggelengkan kepala, ia tidak percaya dengan apa yang terjadi ternyata Ishabell sudah punya pacar, hatinya kembali galau, dengan cepat ia menepis perasaan itu

“Aaah itu baru Ishabell, Masih ada 4 target gw, heem!” ucap Renaldi dalam hati sambil melihat mobil yang ditumpangi Ishabell dan hunson melaju menjauh dari dirinya.

Dengan gontai Renaldi berjalan, ia hendak ke parkiran kampus untuk mengambil motor, sesampainya di parkiran Renaldi melihat perempuan berdiri tepat di samping motornya, Renaldi melangkah lebih cepat untuk memastikan siapa perempuan itu, dan ternyata perempuan itu rina teman baik Naumi, dulu Rina yang memperkenalkan Naumi sekarangpun Rina yang bisa membantunya mendekati Naumi

“Hai Rin, kemana aja?” sapa Renaldi

“Hei Di, gw disini aja kali”

“Rin temen lw yang biasa bareng kemana? Ko ga kelihatan” Renaldi sengaja tak menyebut nama Naumi, agar terlihat acuh

“Naumi, Naumi tu udah ga disini lagi, dia dapat bea siswa ke Australia, udah seminggu yang lalu ia pergi”

“Apa!? ke Autralia!” mata Renaldi melotot

“ko kaget gitu, emangnya kenapa Di?”

“aaah ga apa-apa” Renaldi berlaga santai lalu ia bersiul dan memarkir motornya

“Yaudah Di gw duluan ya” ucap Rina lalu ia menyalakan mesin motornya yang tepat ada di samping kiri motor Renaldi kemudian pergi, demikian Renaldi kini perempuan bernama Naumi harus ia hapus dari pikirannya, Renaldi menjalankan motornya dalam hitungan detik ia sudah sampai di gerbang kampus, setelah memperlihatkan STNK motor dan membayar 500 rupiah pada pak satpam Renaldi lang sung tancap gas dan

“aaawww…criiiing” terdengar teriakan perempuan dan suara sesuatu terjatuh

“ngiiiik…” sebisa mungkin Renaldi menginjak rem, ia hampir menabrak seorang perempuan

“maaf mba, saya ga sengaja” ucap Renaldi, ia turun dari motornya yang sudah di standar satu untuk memastikan keadaan perempuan itu, mata perempuan itu mencari-cari sesuatu mungkin miliknya terjatuh, mata Renaldi mendapati sebuag cincin tepat berada di pinggir aspal, tanpa pikir panjang ia mengambil cincin itu, lalu memberikannya pada perempuan yang hampir di tabraknya

“mba ini cincinnya” ucap Renaldi

“kamu…kamu Renaldi kan? Yang waktu kenalan di kafe DW” tanya perempuan itu setelah melihat wajah Renaldi lalu ia mengambil cincin itu

“ya, Syaqila!! Kamu ga apa-apa kan, maaf ya tadi saya hampir nambrak kamu”

“ga apa-apa ko, ya laen kali kamu jangan ngebut ya bawa motornya” pinta syaqila

“waaah ni kesempatan buat deketin Syaqila dia care banget sama gw, qw anterin dia pulang aaah” ucap Renaldi dalam hati

“Syaqila, sebagai rasa maafku sama kamu, aku antar pulang ya, supaya aku ga ngerasa bersalah terus”

“Renaldi, kamu ga salah ko, buktinya aku baik-baik aja kan, ga usah dianterin aku lagi nunggu tunanganku dia kerja di kantor Akuntan Publik, nah itu dia…” jelas Syaqila sambil menunjuk ke arah laki-laki berdasi yang hendak menyebrang jalan, tak lama ia menghampiri Syaqila, hati Renaldi kembali remuk ia tak sanggup berkata apa-apa hanya tersenyum, senyum yang dibuatnya sendiri.

Renaldi masih mematung di pinggir jalan melihat kepergian Syaqila dan tunangannya, kepalanya terasa pening. Renaldi ingin membeli sebatang rokok mungkin dapat menghilangkan kepeningannya, ia langsung naik motor dan melaju ke jalan raya meninggalkan kampus, tak jauh dari kampus di pinggir jalan raya ada sebuah toko sembako ucok, ia berhenti dan memarkir motornya, Renaldi masuk ke toko itu ia menunggu sebentar karena ada pembeli lain yang belum selesai bertransaksi, dilihatnya pembeli itu berkerudung biru muda, bila dilihat dari belakang sepertinya Renaldi mengenalinya

“siapa ya dia? Emm…ya kayanya Nahla” Renaldi berkata sendiri, perempuan itu membalikkan badannya ia hendak keluar dari toko itu, tepat di belakangnya seorang laki-laki berkaos biru

“Renaldi, tadi aku ke kosanmu tapi sepi ga ada orang, oy ni undangan pernikahanku datang ya di tunggu lo..”

“Mas kenalin, ini Renaldi teman aku, yang tadi kita ke kosannya terus ga ada orang”

“Bagya, senang bertemu mas” Ucap laki-laki calon suami Nahla sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan

“Renaldi, aku usahakan untuk datang di pernikahan kalian, selamat ya semoga bahagia” ucap Renaldi menyambut uluran tangan Bagya.

Mereka berpisah di toko itu Nahla dan Bagya pergi lebih dulu.

Waktu magrib semakin dekat, langit nampak gelap siang akan tergantikan oleh malam. Renaldi enggan pulang ke kosan, di kamar sendirian hanya akan menyiksanya mengingat kejadian yang di alaminya, kini harapan hanya satu Aniyatu Nissa, suara azan magrib mulai dikumandangkan, tapi suara itu tak menggerakan hatinya untuk memenuhi panggilan Illahi yang mengajak kepada kemenangan, hati Renaldi dipenuhi perasaan-perasaan tak menentu, pikirannya kalut bayangan perempuan-perempuan yang menjadi targetnya masih asyik melintas. Di hirupnya bau goreng ayam dari tenda yang tak lain tukang pecel ayam, yang letaknya tak jauh dari tempat ia berdiri sekitar 3 meter, Renaldi menghampiri tenda itu lalu ia duduk dan memesan pecel ayam, sepiring nasi uduk dan segelas es jeruk, tak lama pesanannya sudah siap, ia menyantapnya sendirian, tiba-tiba datang laki-laki mengenakan jeans berwarna hitam dengan kaos berwarna hijau

“Di, makan sendirian aja, ga ngajak-ngajak” ledek laki-laki yang baru datang yang ternyata dia Tori teman dekatnya

“eh Tor makan-makan, mau makan apa? Pesen aja ntar gw biarin” balas Renaldi Keduanya duduk bersampingan, Toripun makan setelah apa yang dipesannya sudah siap santap.

“Tor lw kenal sama Aniyatu Nissa? anak hukum” Renaldi membuka pembicaraan

“ya kenal, emangnya kenapa?”

“dia cantik ya, salamin dong dari gw special buat dia”

“yee sebelum lw juga, gw duluan yang bakal ngejar dia, tapi Di, masalahnya Aniyatu Nissa itu udah punya suami alias get merried, masih mau salam ke dia? Atau…”

“kheeek…khok khok” tenggorokan Renaldi tersentak, nasi yang baru saja masuk ke mulut keluar berhamburan bersama batuk

“wees pren tenang-tenang, minum minum dulu” Tori menyodorkan segelas air minum miliknya. Nafsu makan Renaldi hilang kini harapannya memiliki pacar telah sirna mungkin ia di takdirkan untuk menjomblo sampai jodohnya datang.

SEKIAN

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ramaximus_dionius
ramaximus_dionius at INI SALAH ITU SALAH (11 years 14 weeks ago)
40

udah masuk kategori bagus untuk dasar cerita sinetron

Writer nen_seh
nen_seh at INI SALAH ITU SALAH (11 years 14 weeks ago)
40

walopun diriq sendiri juga ga bisa bikin cerita bagus tapi ga papa ya aku ngomentarin..

aku mikirnya cerita ini maksa banget...
masa dalam satu hari kenyataan ce2 itu tersaji semua,...
kurang nyata aja, itu menurutku loh...

Writer diesonne
diesonne at INI SALAH ITU SALAH (11 years 14 weeks ago)
50

mantap...gue suka

Writer syafira
syafira at INI SALAH ITU SALAH (11 years 14 weeks ago)
50

:P

Writer naila
naila at INI SALAH ITU SALAH (11 years 14 weeks ago)
90

hidup jomlowan

Writer Arra
Arra at INI SALAH ITU SALAH (11 years 14 weeks ago)
50

KOsong...

cerita kamu seolah tak ada yang diampaikan..

Dari alur, plot hingga korelasi antar kalimat masaih perlu diperbaiki..

coba kamu perdetil lagi dekripsi-deskripsi kejadian..

Trus coba cek lagi kosakata bahasa inggrisnya,,, Ada yang salah kayaknya,, diketik juga pake huruf miring yah!

 

salam..

semangat berkarya lebih baik lagi!