Gadis Hari Rabu - Wednesday Child

Rhea memandang kakaknya, Delia, dengan sebal. Lagi lagi Delia mendapatkan kontrak modelling untuk iklan produk kecantikan terbaru. Delia sedang memamerkan prestasinya itu dengan bangga kepada Ibu dan Ayah, setelah berteriak dramatis ketika menerima telepon kabar gembira lima menit yang lalu. Tapi Rhea tahu persis mengapa Delia dapat dengan mudah menguasai audisi itu, dan mendapatkan peran di sintron serta iklan-iklan yang sekarang dilakoninya. Lihat saja tubuhnya yang semampai dan langsing, wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih, disertai dengan kemampuan akting yang lumayan. Yah.. kalau cuma disuruh berakting menangis di depan kamera, itu bukan hal yang sulit untuk Delia.

Tapi bukan hal itu yang membuat Rhea kesal setengah mati melihat keberhasilan kakaknya. Hanya dengan bermodal wajah dan tubuh yang molek, Delia dapat dengan mudah menjadi model ternama. Delia jadi sering melenggok di catwalk, memamerkan karya designer terkenal. Namanya sering masuk tabloid dan Delia sering di-interview di televisi sebagai The Next Big Star setelah Dian Sastrowardoyo. Tapi sebenarnya apakah Delia pantas mendapatkan itu semua? Delia tidak pernah susah payah mendapatkan segalanya, hanya dengan seulas senyum dan sedikit unjuk kemampuan bergaya di depan kamera, semua sutradara tekuk lutut dan memberikan peran utama kepadanya. Padahal Delia tidak pernah masuk sekolah acting. Delia tidak pernah masuk sekolah model. Delia tidak pernah ditolak audisi berkali kali. Delia tidak pernah merasakan susahnya sepak terjang di dunia selebriti. Delia bahkan sering berganti pacar, semuanya cowok model atau aktor film ganteng yang sama populernya dengan Delia.

Rhea tidak mengalami kemudahan seperti itu. Dia bukanlah seseorang yang dapat sukses dalam sekejap. Dia hanyalah gadis biasa, berambut hitam sebahu, berkacamata, sering berjerawat, dan tubuhnya cenderung atletis, tidak langsing seperti Delia. Jika orang orang yang mengenal Delia melihatnya, mereka tidak akan percaya Rhea adalah adik Delia satu satunya. Karena Rhea tidak seperti Delia yang sempurna. Rhea contoh sosok manusia yang butuh perombakan total dalam fisiknya untuk menjadi seperti Delia.

Tidak, Rhea tidak iri pada Delia karena dia cantik. Rhea hanya kesal karena dia percaya bahwa keberuntungan dan sifat seseorang itu bergantung pada hari lahirnya. Dalam puisi Mother Goose yang dibacanya ketika masih kecil, Rhea diajarkan tentang karakter seseorang berdasarkan hari lahir.

Monday's child is fair of face,

Tuesday's child is full of grace;

Wednesday's child is full of woe,

Thursday's child has far to go;

Friday's child is loving and giving,

Saturday's child works hard for its living;

But the child that is born on the Sabbath day

Is bonny and blithe, and good and gay.

- Mother Goose-

Rhea benci karena dirinya lahir pada hari Rabu. Delia lahir pada hari Minggu, karena itulah Delia selalu dipenuhi oleh keberuntungan. Delia selalu mendapatkan segalanya, dan Rhea hanya dipenuhi oleh kesedihan dan masalah. Rhea aktif dalam kegiatan social di sekolahnya. Dia sering pergi ke tempat korban bencana alam, melihat kematian dan kesusahan orang-orang yang tertimpa kemalangan. Rhea aktif menulis tentang kegiatan sosialnya, tapi sialnya tidak pernah sekalipun tulisannya yang menyinggung politik dan sosial itu dimuat. Sedangkan Delia, hanya sekali dia mengunjungi Yogyakarta untuk memberi sumbangan kepada korban bencana gempa bumi, dan dalam lima detik fotonya sudah menyebar di tabloid dan majalah. Headline nya: Artis Baru yang Membumi.

Rhea sudah muak menjadi Wednesday Child. Kenapa Sunday Child mendapatkan segalanya? Bukankah dia juga anak Tuhan yang berhak mendapatkan karuniaNya?

“Rhea, ayo sini lihat kakakmu! Lagi lagi dia masuk TV!” suara Ibu memanggil Rhea yang sedang merenung menyesali nasib buruknya. Sambil melengos sebal, Rhea pun beranjak ke sekolah dan pura-pura tidak mendengar Ibunya. Dia menendang batu kerikil yang ada di sepanjang jalannya ke sekolah, sambil memikirkan rencana beramal dalam rangka ulang tahun sekolahnya yang kelimabelas.

Tanpa sadar ditendangnya sebutir batu kerikil yang agak besar sembarangan dan kletek! Batu tersebut mengenai sebuah mobil Porsche yang kebetulan melaju di jalan besar di sampingnya.

Ups, lecet gak yah? Rhea sempat berpikir untuk ngumpet di balik pohon, tapi apa daya, seorang pemuda sudah keburu keluar dari mobil tersebut dan menghampiri Rhea. Pemuda itu Kana, ketua OSIS sekolahnya yang terkenal ganteng. Rhea tidak mengenalnya secara dekat, tapi telinganya cukup panas setelah terapi gosip menggosip dengan sahabatnya Poppy kerap diselingi dengan cerita tentang Kana, yang orang tuanya pejabat, yang mobilnya selalu ganti ganti setiap tahun (ada quarternya sendiri untuk pergantian mobil) dan selalu dikelilingi oleh keberuntungan dan cewek cantik. Ya, Poppy, seperti anak SMU lainnya, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Kana si playboy kelas kakap. Entah apa yang mereka lihat dari Kana. Tampangnya memang lumayan, tapi sikapnya itu loh.. Sepertinya sangat sombong.

”Hei, tadi kamu nendang batu kerikil ke mobil gue ya? Sengaja ya?” sembur Kana tanpa melihat wajah Rhea.

”Heh, gue gak sengaja tau!” Rhea berusaha membela diri, apalagi dia disemprot dengan begitu galaknya.

Kana mengangkat wajah, dan memandang Rhea. ”Eh, kamu anak kelas satu itu kan? Adiknya Delia Rosa, yang main sinetron?”

”Ya, kenapa?” Rhea dengan malas balik memelototi Kana. ”Mau ikutan main di sinetron Mawar Berduri melalui koneksi ya?”

Kana tertawa, wajahnya berubah lebih lembut. ”Enggak. Tapi kamu dimaafkan deh, walau mobilku agak lecet nih,” Kana nyegir lebar, ”asal kamu kenalin aku ke Delia Rosa.”

Rhea melotot lagi. ”Lecet di mana? Jelas jelas cuma kenal kerikil nyasar, mana mungkin lecet?”

”Ya, mau bayar ongkos poles mobil juga kayaknya kamu gak mampu, lebih baik kenalin aku aja ke kakakmu yang cantik itu!”

Rhea mendengus. ”Mbak Delia sudah punya pacar keren yang main sinetron, mana mau dia sama kamu?”

Kana tertawa lagi, entah apa yang lucu. ”Kamu gak tahu sih, aku ini selalu dikelilingi oleh keberuntungan.” Rhea membatin, seperti kakakku. Tiba tiba terbersit sebuah keingintahuan di otak Rhea.

”Eh, kamu lahir hari apa?”

Kana agak bingung sejenak. ”Hmmm rasanya hari Minggu. Aku ingat Ibuku bilang dia sedang dalam perjalanan pulang dari gereja ketika aku tiba tiba memutuskan itulah hari di mana aku akan lahir.”

Rhea kembali mendengus. ”Pantas.” Orang yang sempurna seperti Delia dan Kana tidak pernah merasakan bagaimana bencinya melihat Sunday Child yang sangat mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, sedangkan Wednesday Child selalu penuh masalah dan kemurungan.

Kana terlihat bingung sejenak, lalu tiba tiba tertawa terbahak bahak. ”Ohh.. jadi ini semua gara gara puisi yang ada di bukumu itu ya?”

”Buku apa?” tanya Rhea jutek.

”Buku agendamu, waktu itu pernah dibawakan oleh Poppi, lalu ketinggalan di mejaku saat dia mampir untuk nanya tentang ulangan fisika dua minggu yang lalu.” Kana tersenyum. ”Ternyata selama ini kamu begitu sarkastis karena masalah hari lahir. Dasar bodoh, kamu pikir isapan jempol itu benar?”

”Tentu saja!” dengan tersinggung Rhea membantah. ”Jika Tuhan tidak pilih kasih, aku rasa aku tidak akan beranggapan seperti itu! Lagipula, siapa yang mengijinkanmu buka agenda orang sembarangan?”

”Rhea, kenapa sih kamu selalu sarkastis? Hidup ini kan bukan ditentukan oleh kartu Tarot, ramalan, nasib berdasarkan garis tangan, ataupun penentuan karakter seseorang berdasarkan hari lahir! Masa masih percaya begituan sih?” sambil geleng geleng kepala Kana memandang Rhea yang masih melotot mempertahankan pendapatnya.

”Lalu kau pikir, keberuntungan Delia itu
apa? Kebetulan? Bagaimana dengan kau, dengan mudah mendapatkan segala sesuatu?” dengan sebal Rhea membalas.

”Kau mau sedikit pembuktian?” Kana menarik tangan Rhea pelan dan dengan mobil Kana mereka pun meluncur ke sebuah mal.

”Mau dibawa ke mana aku?”

”Galak amat. Tenang, kamu gak akan kuculik.”

Rhea merasa agak gugup ketika mereka memasuki pekarangan rumahnya sendiri. Ternyata Kana membawanya untuk menemui Delia. Entah apa yang akan pemuda gila ini lakukan.

”Rhea!” Delia yang baru saja sarapan pagi kaget melihat adiknya yang bolos sekolah, hal yang jarang dilakukannya karena Rhea sangat suka sekolah.

”Hai, Mbak Delia Rosa kan? Aku teman sekolah Rhea,” Kana bersalaman dengan Delia dengan pedenya. ”Aku ingin mewawancara Mbak sebentar untuk mading sekolah.”

Delia tampak senang. ”Wah, senang sekali. Boleh, saya merasa tersanjung.”

”Oke, kita mulai yah Mbak. Bagaimana permulaan karir Mbak sebagai model dan artis terkenal?” Kana pura pura mengambil notes dan pen untuk mencatat, tanpa menghiraukan pandangan marah Rhea.

”Wah, rasanya bagaikan kupu kupu yang bermetamorfosis. Aku hanyalah gadis biasa yang mengikuti lomba modelling. Aku sempat gagal, bahkan masuk semi finalis pun tidak. Tapi aku kemudian ditemukan oleh seorang pencari bakat dan menjadi model lepasan, itu pun sulit karena pekerjaan menuntut aku untuk buka bukaan dan mengikuti kehidupan bebas seperti model lainnya. Aku menolak tawaran itu,” Delia sempat terdiam mengenang masa lalu. ”Saat itu Rhea masih sangat kecil, dan aku adalah tulang belakang keluarga ini sejak Ayah pensiun.”

Rhea terdiam. Ternyata banyak hal yang tidak diingatnya tentang masa lalu Delia. Kana lalu melanjutkan interview bohongannya, ”Lalu bagaimana Mbak akhirnya menjadi sukses?”

”Aku menjadi figuran dalam sebuah film layar lebar, lalu mulai ditawari peran yang lumayan besar.”

”Apakah kendala terbesar menjadi seorang selebriti?”

”Tidak semua orang di dunia ini menyukai kita. Ketenaran juga tidak datang dengan mudah dan tidak bisa bertahan selamanya. Kadang banyak gosip tidak sedap yang belum tentu benar, atau sulitnya memenuhi harapan banyak pihak,” Delia tersenyum mantap, seakan akan berada dalam interview profesional seperti yang sering dihadapinya. Dia menatap Rhea dengan sayang sambil melanjutkan, ”tapi tetap yang terpenting adalah keluarga.

Mereka yang mendukung saat keadaan sangat sulit. Mereka yang ikut merasakan kebahagiaan jika aku berhasil, dan mereka yang menjadi cheerleader sejati.”
Rhea bagai tertampar. Dia teringat ketika kakaknya Delia sempat menurun pamornya saat aktris muda baru Shinta Wijaya masuk ke dunia akting, tapi Delia berlatih di kamarnya setiap malam untuk menghafalkan dialognya. Rhea teringat dialog demi dialog yang diucapkan kakaknya sebelum tidur, dan betapa bahagia ibu ayahnya ketika Delia memberikan honor pertamanya untuk membiayai les piano Rhea. Dan Rhea tiba tiba teringat ketika Delia menangis malam malam saat pacarnya ketahuan berselingkuh dan Rhea bersyukur senang di atas kesedihan kakaknya. Ternyata hidup Delia tidaklah semudah itu, dan Rhea selalu membencinya karena keberuntungan yang berasal dari jerih payah Delia. Rhea selalu iri, Rhea selalu salah menafsirkan, Rhea selalu menghakimi, Rhea tidak pernah percaya. Apakah karena itu Rhea tidak mendapatkan kebahagiaannya sendiri?

Kana pun menatap Rhea sambil tersenyum. ”Nah, sekarang sudah sadar kan?”

Rhea hanya tersenyum menyesal. ”Tuhan tidak pernah pilih kasih ya, hanya karena aku lahir hari Rabu?”

”Kamu sugesti sih,” ujar Kana. ”Eh, tapi boleh kan kita jalan jalan berdua lagi seperti ini?”

Rhea terpana sejenak. ”Bercanda ya kamu.”

”Ini anak,” Kana mencubit hidungnya pelan. ”Dari dulu aku selalu memperhatikan kamu, satu satunya gadis yang ikut acara pelestarian alam, rela menghabiskan weekend berjemur matahari membantu korban bencana alam, dan selalu aktif menulis di mading tentang masalah sosial. Apalagi saat melihat agendamu, sangat menarik. Kamu punya pikiran yang berbeda dari anak perempuan lain yang biasanya cuma mikirin cowok dan fashion.” Sambil tersenyum mengejek Kana lalu melanjutkan, ”Lagipula, kamu pikir sebelum suka aku harus nanya dulu kamu lahir hari apa?”

Rhea tergelak. ”Hehehehe, siapa tahu kau takut ketularan sial kalau pacaran sama Wednesday Child?”

Tamat

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Littleayas
Littleayas at Gadis Hari Rabu - Wednesday Child (10 years 18 weeks ago)
70

Aku pernah baca buku tentang puisi ini juga. Judulnya Kau Pun Istimewa Anna. Tentang Anna yang selalu iri sama Kimberly kakaknya. Anna di selalu sial gara2 dia lahir hari rabu, sedangkan kimberly lahir hari minggu. same kind kayanya sama cerita ini...tapi menarik ya gimana sebuah puisi bisa bermetamorfosis jadi sebuah cerita ^^

Writer FrenZy
FrenZy at Gadis Hari Rabu - Wednesday Child (10 years 18 weeks ago)

Now that you mentioned it.. betul ya aku juga rasanya pernah baca puisi itu :)

Writer bunda_ery
bunda_ery at Gadis Hari Rabu - Wednesday Child (11 years 42 weeks ago)
80

secara tidak langsung cerita ini memberikan pesan moril kepada pembaca bahwa harus senantiasa mensyukuri apa yang Tuhan berikan ....thanks y fren...:)

Writer OnyZuka
OnyZuka at Gadis Hari Rabu - Wednesday Child (12 years 32 weeks ago)
60

ganbatte
ur story inspiratif

Writer edowallad
edowallad at Gadis Hari Rabu - Wednesday Child (12 years 35 weeks ago)
100

setuju dgn bang kristofer

Writer stella_ernes
stella_ernes at Gadis Hari Rabu - Wednesday Child (12 years 35 weeks ago)
50

ringan, kata2nya mengalir...perpaduan mitos dan realitas...oke juga, tapi sayang endingnya terlalu bisa ditebak..

Writer ThaMie
ThaMie at Gadis Hari Rabu - Wednesday Child (12 years 36 weeks ago)
80

Oke... Okee... Okee...

Eh...

Gak ada kata-kata lain, sih...

Cuma bisa bilang...

"Oke... Okee... Okee..."

Writer KD
KD at Gadis Hari Rabu - Wednesday Child (12 years 36 weeks ago)
100

Kayaknya para remaja kita emang perlu dicerahkan oleh cerita seperti ini.

Writer FrenZy
FrenZy at Gadis Hari Rabu - Wednesday Child (12 years 36 weeks ago)

Ini merupakan karya yang sebenarnya menurut saya sendiri tidak terlalu bagus.. karena terlalu sederhana dan plot nya juga agak twisted dan gampang ditebak. Saya sendiri gak suka karakter yang ada di dalamnya.. namun saya ingin mencoba memasukkannya sebagai salah satu karya saya jg :) terima kasih klo ada yg bc n ksh saran