Perempuan Ciptaanku (2)

“Kirana, Tunggu aku!” Perempuan itu cuma tertawa. Terus saja ia berlari menapaki garis pantai. Bercura dengan kecipak ombak seraya menggodaku. Sesekali ia menoleh, lantas kemudian berpaling kembali.

Kirana adalah nama yang kupilihkan untuknya. Seperti nama dewi dalam dongeng yang dulu sering diceritakan ibu padaku. Kuharap dia benar-benar memiliki sifat seperti dewi. Penebar kasih sayang tiada henti. Kadang aku merasa aneh sendiri, dia perempuan nyata atau bukan? Toh bila ini sekedar khayalan, mengapa aku dengan jelas bisa merasakan hangat tubuhnya, lembut kulitnya dan wangi rambutnya?

Kirana masih berlari. Larinya secepat kijang. Sejenak aku puas dengan hasil ciptaanku itu. Dia begitu sempurna, batinku.

“Kirana, berhenti dulu! Sungguh aku tak sanggup meneruskan permainan ini lagi,” ucapku dengan nafas tersenggal seraya menggenggam lutut. Perlahan kubaringkan tubuhku. Terlentang di atas pasir basah.

Ia memberenggut. Bibirnya dibikin manyun mengerucut. Sambil menggerutu, didekatinya aku. “Ah, Leo payah. Nggak seru,” ia duduk di sisiku. Rajukannya terdengar renyah di telinga.

Semakin lancar saja ia bicara. Dulu cuma bisa menggeleng dan mengangguk saja. Kadang-kadang diselingi bahasa aneh yang bagiku seperti sekedar erangan. Ajaibnya, kami seakan saling memahami. Barangkali karena aku dan dia tercipta dari gejolak emosi yang sama. Hingga cukup mengajarinya berkata-kata sedikit saja, dan gadis polos itu kini tampak lebih berwarna.

Aku kasihan juga dengannya. Ini kali pertama ia merasakan lapangnya dunia. Sudah dua bulan semenjak kuciptakan, ia terkurung terus dalam kamar. Aku memang tak sekalipun mengizinkannya keluar. Takut ia diganggu orang.

Bahkan, setiap kali ada seseorang yang menyambangi kamarku, aku selalu menyuruhnya bersembunyi. Dan ia benar-benar mematuhi. Kirana akan memilih seonggok kardus bekas mi instan sebagai tempat persembunyiannya. Aku hanya garuk-garuk kepala sambil bertanya dalam hati, bagaimana ia melakukan itu?

“Leo...”

“Hmmm..?”

“Aku ingin tanya sesuatu”

“Tanya apa?”

“Mengapa aku tak memiliki ayah dan ibu?”

Batinku tersentak. Kupandangi mata bulat kucingnya lekat-lekat. “Mengapa bertanya begitu?” tanyaku separuh tercekat.

“Aku melihat orang lain, tetangga-teatangga kita. Mereka punya keluarga, punya ayah-ibu, saudara, sedangkan aku? Aku hanya punya kamu”
Seakan ada sesuatu yang menghantam dadaku. Tak kusangka pertanyaannya sepelik ini. Aku mendesah pelan sembari melepaskan pandangan ke arah cakrawala.

“Aku yatim piatu, ya?”

“Bukan, kamu bukan yatim piatu. Kamu punya ayah dan ibu, sungguh.”

“Lantas di mana mereka? Mengapa membuangku? Apakah mereka tak menginginkanku? Apakah...”

“Psstt..,” kuletakkan jari telunjukku pada bibirnya yang ranum. “Ayah-ibumu sedang ada di sini. Sekarang, saat ini. Kirana, kau tercipta dari kegelisahanku. Itulah ayahmu. Kau terlahir dari rahim penantianku. Itulah ibumu. Dan kau memiliki saudara yang bukan hanya sedarah, tapi juga sejiwa. Mereka adalah suka cita, kedamaian, kesetiaan, cemburu, dan rasa rindu. Kau tahu? Kemanapun kau pergi, mereka turut serta. Karena mereka adalah keluargamu yang paling setia.”

Hening sesaat. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan setelah aku berkata-kata. Mendadak ia tergelak. Aku terkesiap. Ia pikir aku sedang bercanda rupanya.

“Leo lucu! Menghiburku dengan omong kosong. Mana ada cerita seperti itu?” ucapnya seraya mengambil segenggam pasir lantas melemparkannya ke wajahku.

“Kurang ajar. Aku tidak sedang bercanda tahu?!” aku menyergap tubuhnya yang hendak melarikan diri. Kali ini akan kuperlihatkan padanya siapa yang lebih berkuasa.

“Ampun, ampun...”

“Rasain, nih!” aku balas melumuri wajahnya dengan pasir.

Ia membalasku lagi dengan gelitikan mengguncang. Tubuh kami terguling-guling. Saling dekap, saling pagut. Bermandi percik ombak.

Jauh di cakrawala, cahaya senja makin bersurai jingga. Saat di mana rembulan semestinya telah sedia. Menggantikan singgasana sang raja siang yang akan turun tahta.

Read previous post:  
54
points
(444 words) posted by Jamil_begundal 12 years 18 weeks ago
77.1429
Tags: Cerita | cinta | angan-angan | ciptaan | perempuan
Read next post:  
Writer Jamil_begundal
Jamil_begundal at Perempuan Ciptaanku (2) (12 years 17 weeks ago)

sekedar info aja. sebenarnya cerita ini masih ada lanjutannya. tapi berhubung media tempat aku mengirimkan karya ini hanya mensyaratkan maksimal 3 halaman. maka cerita ini aku cukupkan sampai di sini dengan beberapa perubahan.
semoga pembaca tidak kecewa...

Writer windymarcello
windymarcello at Perempuan Ciptaanku (2) (12 years 17 weeks ago)
90

aku paling terkesan sama kata2,"... kau tercipta dari kegelisahanku. Itulah ayahmu. Kau terlahir dari rahim penantianku. Itulah ibumu...."

Writer brown
brown at Perempuan Ciptaanku (2) (12 years 17 weeks ago)
70

aku telat rupanya ngajuin nama, tadinya mau usulkan 'Jamilah' saja (hehehe) tapi kurasa nama itu tidak pas untuk cerita ini.

cerita ini cukup sampai di sini, Mil? gimana kalo dilanjutin?

Writer f_as_luki
f_as_luki at Perempuan Ciptaanku (2) (12 years 17 weeks ago)
70

terima kasih... telah mengingatkan aku pada apa yang hampir saja aku lupakan.
Kini aku tahu, aku memilikinya!
-_^

Writer KD
KD at Perempuan Ciptaanku (2) (12 years 18 weeks ago)
100

vamos..vamos..vamos..

Writer noir
noir at Perempuan Ciptaanku (2) (12 years 18 weeks ago)
70

Masih belum tertangkap makna sebenarnya. Mungkin harus menunggu lanjutannya :) Yang pasti ceritanya begitu mengalir....

Writer arien arda
arien arda at Perempuan Ciptaanku (2) (12 years 18 weeks ago)
70

lanjut....
Rien suka...
Rien tunggu ya..
keep writin

Writer miss worm
miss worm at Perempuan Ciptaanku (2) (12 years 18 weeks ago)
70

bukan kirana yang diharap tapi asal muasalnya bagus juga