Enemies!!! Chapter 1: Unpredicted Incoming

Chapter 1: Unpredicted Incoming

“Maaf. Kau sudah tak mampu lagi. Sayang, kau masih sangat muda.”

“Ijinkanlah hamba untuk mengabdi sekali lagi, Yang Mulia!!”

“Maaf. Itu saja yang dapat kukatakan. Silakan meninggalkan tempat sekarang juga.”

“Baiklah, hamba mengerti.”

Sebuah penghormatan kuberikan – terakhir kalinya untuk Yang Mulia. Kemudian aku berjalan keluar dari ruangan ini – ruangan Yang Mulia yang digunakan untuk menyambut tamu-tamu penting dan dibangun semegah mungkin. Delapan pilar utama menyangga ruangan Yang Mulia berlapiskan emas murni dan berukirkan ‘Delapan Hukum Utama Bangsa Zymosis’. Sehelai karpet panjang setebal satu setengah sentimeter dari sutera emas dengan jalinan benang perak pada sisi-sisinya digelar sebagai jalan untuk menghadap Yang Mulia di singgasananya. Singgasana Yang Mulia berhiaskan permata pirus tujuh warna, dan di belakang singgasana terdapat sebuah kaca besar yang terbagi menjadi tujuh bagian. Tiap bagian mewakili satu warna dari pelangi dan disusun sedemikian rupa sehingga ketika sinar matahari menyusup melalui kaca tersebut, kaca akan membiaskannya menjadi warna-warna pelangi.

Akupun berjalan melewati dua penjaga gerbang ruangan Yang Mulia yang selalu berdiri setiap waktu. Mereka selalu mengenakan pakaian putih dengan kombinasi kuning dan hitam yang panjang sampai ke kaki serta membawa sebuah tongkat upacara yang sangat panjang – berujungkan sebilah pisau dari batu giok hijau. Kini mereka memandangku dengan congkak, setelah mengetahui bahwa aku sudah tidak diberi kesempatan oleh Yang Mulia dan dikeluarkan dari kemiliteran Zymosis.

Berjalan melalui lobi istana berlantaikan pualam, aku ingin segera meninggalkan tempat ini dan kembali ke rumahku di sudut ibukota. Kembali aku ingin menikmati lezatnya sop kaki rusa di depot milik Bu Mary ataupun harumnya kopi buatan warung Godok Blend.

“Bagaimana,” tanya sahabatku Reina yang tiba-tiba menepuk punggungku dari belakang, “apa kau mendapat kesempatan lagi?”

Aku menggelengkan kepalaku dan berbalik melihatnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Seketika itu pula raut muka Reina menjadi sedih. Tentu saja, satu-satunya alasan yang membuat sahabatku yang sangat cantik ini menjadi sedih adalah kepergianku dari kemiliteran. Dia tak punya siapa-siapa lagi kecuali aku sahabatnya, setelah seluruh anggota keluarganya dibunuh oleh Jack De Death lima tahun yang lalu.

“Jadi,” kata Reina sedih, “kau keluar?” Tampak matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Maaf,” kataku, “semoga kita dapat bertemu lagi, sahabat…”

Tanpa kusadari sekarang Reina menangis dalam pelukanku. Aku hanya terdiam, mengetahui bahwa aku tak dapat melakukan apa-apa.

“Maaf, Tuan…” Seorang prajurit mendatangi kami dengan tergesa-gesa. “Tuan diharap segera menghadap Yang Mulia.”

Aku terperangah. Setahuku Yang Mulia tak pernah mengubah keputusannya meski di saat-saat genting, karena keputusan yang diambil Yang Mulia sudah dipertimbangkan baik-baik. Bahkan kalau perlu Yang mulia sampai menghabiskan waktu tidurnya hanya untuk memutuskan sesuatu.

“Apa… Apa Yang Mulia memberiku kesempatan???”

“Entahlah, Tuan. Itu…”

Tanpa mendengarkan perkataan prajurit itu, aku langsung menggenggam pergelangan tangan kanan Reina dan segera menariknya ke ruangan Yang Mulia.

“Ayo cepat…!”

Suara langkah kami membahana di seluruh lobi istana. Sesampainya di ruangan Yang Mulia, kami segera memberi hormat. Tanpa dipersilakan, aku langsung menanyakan alasan Yang Mulia memanggilku kembali.

“Yang Mulia!! Apa maksud Yang Mulia…”

“Tahan!!!!” seru seseorang di belakang kami, di pintu gerbang ruangan Yang Mulia. Kami berdua segera menoleh ke belakang.

Seorang pria tiga puluh tahunan yang berambut pirang dan berjubah sutra halus, berdiri di sana. Dengan baju zirah berlapiskan platina yang dikenakannya sekarang kami segera tahu bahwa pria itu adalah Jenderal Marsmouth.

“Jenderal!!” sahut Reina, “Sungguh sebuah kehormatan untuk dapat melihat Anda kembali!”

“Marsmouth!!!!” seru Raja. “Setelah satu bulan kau menghilang di tengah peperangan di Limberg, akhirnya kau kembali.”

Sambil memberi hormat kepada Yang Mulia, Jenderal Marsmouth pun berkata, “Kebaikan Yang Mulia telah menyelamatkan hamba.”

“Bagaimana hal itu bisa terjadi?” tanya Yang Mulia.

“Tentu akan hamba ceritakan, tetapi ijinkanlah hamba untuk menyampaikan sesuatu pada mereka ini.” Jawab Jenderal Marsmouth.

“Diijinkan.”

Sebelum Marsmouth menyampaikan sepatah kata, aku langsung menyelanya.

“Ini semua salahmu, Jenderal!!! Kemunculanmu di jalur utama menuju kota Rytell memperlambat pasukanku!!! Itu semua karena kabar yang Jenderal sampaikan padaku mengenai rencana para pemberontak itu!!! Sudah kuduga, mereka cepat!!! Kalau saja Jenderal tidak menghalangi jalan pasukanku… Seharusnya aku tidak gagal!!!”

Sang Jenderal pun tersenyum, kemudian berjalan perlahan menuju singgasana Yang Mulia.

“Maafkan hamba, Yang Mulia. Bukan maksud hamba untuk memperlambat pasukannya, tetapi hamba tidak menduga kalau Radical Justice – para pemberontak itu menyerang lebih awal.”

“Hmmm…” Yang Mulia terlihat berpikir sejenak. “Sudah, yang lalu biarlah berlalu.”

Mendengar perkataan Yang Mulia, rasanya tubuhku ini ingin memberontak.

“Tapi Yang Mulia!!! Apa maksud Yang Mulia – dengan perkataan Yang Mulia sebelumnya?” tanyaku dengan nada agak tinggi.

“Tentu kau tahu, bahwa aku tak pernah mengubah keputusan yang telah aku buat.”

“Tapi… Tapi… Tapi apa alasan Yang Mulia memanggilku kembali? Dan mengapa Jenderal Marsmouth tidak dikeluarkan juga dari kemiliteran???”

Suasana dalam ruangan Yang Mulia tiba-tiba hening, tanpa suara.

“… Maaf,” kata Jenderal pelan, “tetapi hamba membawa sesuatu untuk Yang Mulia, sesuatu yang harus hamba lindungi. Ini adalah hasil dari tugas hamba dalam melindungi kota Limberg – kota kelahiran Yang Mulia.”

Apa? Ini benar-benar tak dapat disangka. Apakah benar, tugas Jenderal bukan untuk melindungi kota kelahiran Yang Mulia, tetapi untuk mempertahankan sesuatu?

Yang Mulia pun berkata dengan tenang, “Jadi sebenarnya kau tidak gagal, Marsmouth?”

“Tentu saja, Yang Mulia. Ini, sesuai apa Yang Mulia inginkan.” Kata Marsmouth sambil menyerahkan sebuah bros berbentuk bunga mawar yang terbuat dari batu topaz. Yang Mulia segera menerimanya dengan senang hati. Wajahnya berubah menjadi cerah, lebih cerah dari biasanya.

“Meskipun kota kelahiranku telah hancur,” kata Yang Mulia, “tetapi harta kota ini – harta kota Limberg yang paling berharga, dapat diselamatkan.”

Darah dalam tubuhku mendidih. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus. Aku harus.

Kau harus!!!

“Yang Mulia!!! Hamba mohon agar Yang Mulia menjawab pertanyaan yang tadi hamba ajukan!!”

Sekali lagi suasana dalam ruangan Yang Mulia menjadi hening.

“Maksudku…” kata Yang Mulia, “Maksudku… Maksudku, bukannya aku ingin kau keluar dari istana, tetapi aku hanya ingin agar kau tetap tinggal di sini.”

“Tetapi Yang Mulia,” sanggahku, “tetapi hal itu akan merendahkan harga diri hamba!! Lebih baik hamba pulang saja ke rumah daripada tinggal di istana tanpa melakukan sesuatu yang berguna!!!” Aku benar-benar marah.

“Reid!!!!” seru Reina seraya memperingatkanku agar tak berkata kasar pada Yang Mulia.

Yang Mulia tak menjawab. Jenderal Marsmouth pun tidak menyahut.

Tunggu. Sepertinya Yang Mulia akan berbicara.

“Baiklah, kalau itu yang menjadi keinginanmu…” jawab Yang Mulia singkat. Tetapi kata-kata Yang Mulia yang menyakinkan tadi tidak relevan dengan raut mukanya yang tampaknya sedikit ragu-ragu.

Aku ingin sekali…

Aku ingin sekali…

Aku ingin sekali membunuh Jenderal Marsmouth! Bunuh! Bunuh!

“Hamba akan pergi. Tetapi sebelum itu…” kataku.

“Sebelum apa?” tanya Reina.

Sebelum itu aku akan membunuh Marsmouth dengan pisau belati yang kubawa sekarang.

“Sebelum…”

Tiba-tiba Marsmouth berkata, “Yang Mulia, kalau begitu ijinkanlah hamba untuk meninggalkan tempat. Ada urusan yang harus hamba selesaikan.”

“Tentu saja, Marsmouth. Diijinkan.” Jawab Yang Mulia.

Dalam pandanganku sekarang aku melihat Marsmouth berjalan perlahan menuju ke pintu gerbang ruangan. Melewati aku. Melewati Reina.

Bunuh sekarang, Reid!!!

Tanpa sadar, aku mengambil sebilah belati dari balik bajuku dan melemparkannya – persis ke arah leher Marsmouth dengan tangan kananku.

Entah mengapa, tetapi setelah sepersekian detik setelah aku melemparkan belatiku ke arah Marsmouth, seluruh pikiran, jiwa dan perasaanku terbawa kepada saat-saat perjalananku memimpin sejumlah pasukan untuk mempertahankan kota Rytell.

Saat itu…

“Tuan, apa Tuan tidak apa-apa? Tampaknya setelah Tuan mendengar perkataan Jenderal Marsmouth, Tuan langsung terlihat – lain.” Seorang prajurit yang meyertaiku dalam perjalanan menuju Rytell bertanya.

“Jangan khawatirkan diriku, kadet. Lebih baik kita pusatkan pikiran kita pada pertempuran di Rytell nanti. Sebentar lagi kita akan menghadapi para jahanam itu – Radical Justice.” jawabku.

“Baiklah, Tuan. Terima kasih.” sahut prajurit tersebut.

Beberapa kilometer lagi kami akan sampai di kota Rytell. Saat itu mungkin matahari akan mencapai puncaknya di langit. Siang hari.

“Ayo!!!” seruku. “Satu jam lagi dan kita sampai!!! Pacu kuda kalian!! Tak ada waktu lagi!!!”

“Ya!!!!!” seru pasukanku serempak. Aku dan dua prajuritku yang paling setia dan pandai memainkan pedang, berada di depan diiringi sekitar dua ratusan prajurit lain dengan kuda mereka masing-masing dan tentu saja dengan sepuluh buah gerobak perbekalan, tiap-tiapnya ditarik oleh dua ekor kuda terkuat. Kini kami sedang melalui padang Rytain yang gersang, satu-satunya jalan tercepat menuju Rytell. Di kiri-kanan kami hanya terdapat hamparan pasir, sejumlah kaktus, dan beberapa batang pohon korma. Angin panas yang bertiup setiap saat tidak menghalangi perjalanan kami, melainkan memacu kami untuk segera tiba di Rytell dan bersiap untuk berperang.

Kota Rytell sudah terlihat. Yang perlu kami lakukan hanya menuruni bukit di depan kami ini saja setelah itu kami akan sampai di Rytell.

“Ayo!!! Rytell sudah dekat!!! Yang kita perlukan sekarang hanyalah menuruni bukit di depan kita dan kita akan sampai!!!” seruku untuk menyemangati yang lain.

“Ya…..!!!!!!!!!” seru pasukanku serempak – sekali lagi.

Ternyata bukit di depan kami ini cukup menantang untuk didaki. Beberapa kuda – khususnya yang menarik grobak perbekalan, mengalami kesulitan dalam mendaki bukit karang ini. Tetapi dengan semangatku sebagai pemimpin pasukan, akhirnya kuda-kuda tersebut berhasil mendaki bukit karang yang harus kami lalui.

“Berhasil!!!!” seru pasukanku karena telah mencapai puncak bukit karang yang kami daki. Semua kuda langsung kami beri minum air dan sayuran. Mereka makan dengan lahap setelah menguras energi mereka saat melakukan pendakian yang menantang.

Benarlah dugaanku. Saat ini matahari telah mencapai puncaknya di langit, memendarkan sinarnya yang keemasan dan panas yang menyengat bagaikan lebah.

“Tuan!!!” seru salah seorang prajurit ketika kami semua sedang asyik memberi makan kuda-kuda kami. “Ada orang yang datang!!! Sepertinya mereka…”

“Radical Justice!!!!!” seruku karena kaget. Ember penuh sawi yang sedang kubawa kujatuhkan begitu saja. Sepertinya kami kedatangan tamu. Lima orang anggota Radical Justice menghadang kami.

“Kalian berlima? Mana yang lain?” seruku.

Salah seorang dari mereka kemudian berjalan maju dan berseru, “Rytell sudah berada dalam tangan kami!!!! Teman-teman kami yang lain sudah menghancurkan kota tersebut!!! Kuberi petunjuk – itu karena kalian terlambat!!! Dan itu semua, tentu saja gara-gara kau, pemimpin yang tak becus!!!!”

Aku memandangi seorang gadis yang barusan mengejekku dengan sebutan tak becus. Ternyata ada juga anggota Radical Justice yang semuda dan secantik ini. Umurnya bahkan hampir sama atau dapat disetarakan dengan umur Reina – sekitar dua puluh tahun.

Tunggu. Waktu seakan berbalik dan menarikku pada malam sebelum aku berangkat ke Rytell…

Malam itu, aku sedang duduk di balkon kamarku – di istana sambil menikmati segelas cokelat panas dan menikmati pemandangan malam dari atas balkon. Langit tampak cerah tanpa segumpal mega yang menggantung di sana. Hanya ribuan bintang yang gemerlapan menghiasi kubah Bumi, tanpa ditemani rembulan.

“Rytell… Apakah aku akan dapat melindungimu?” gumamku. Akupun segera menghirup secangkir cokelat panas yang dari tadi kupegang sedikit demi sedikit. Kemudian aku bangkit dari tempat dudukku, berjalan ke pinggir balkon dan melongok ke bawah – ke arah taman istana. Kusandarkan tubuhku pada pagar pembatas balkon – sebuah pagar setinggi perut orang dewasa yang terbuat dari batu andesit, diukir menyerupai tabung-tabung kaca yang ada di laboratorium istana.

“Aku harus melindungi Rytell seperti melindungi Reina.”

Terdengar suara teriakan yang cukup keras dari bawah.

“Tuan!!!! Tolong hati-hati dengan apa yang Tuan sedang pegang!! Minuman Tuan tumpah!!!”

“Mmm..?” Ah, aku baru sadar kalau cokelat panas yang tadinya akan kunikmati sudah mengguyur beberapa pohon di taman istana. Sepertinya aku terlalu banyak melamun, sehingga cangkir yang kupegang terbalik.

“Maaf, Pak!!!” sahutku.

“Tak apa!!! Lain kali hati-hati, Tuan!!!”

Akhirnya orang di taman istana itupun pergi dari pendengaranku.

“Reid?” Tiba-tiba ada suara seorang gadis di belakangku. Ketika aku menoleh, aku melihat seorang gadis yang sangat mempesona – rambut hitam yang berkilau, sepasang mata biru yang jernih bagaikan permata, dan bibirnya yang lembut… Tubuhnya yang anggun disertai dengan tiga hal – kekuatan, kecerdasan dan kecepatannya dalam berperang melawan musuh, membuat dia disegani oleh orang manapun, sebagai gadis anggun yang rupawan dan sebagai prajurit yang tak terkalahkan.

“Reina?” tanyaku, “Sedang apa kau di sini?”

“Mmm… Ini…” dia tampak ragu-ragu menjawab. “Kau tahu, kalau tugas ini menentukan takdirmu selanjutnya?”

Aku langsung mengangguk-anggukkan kepalaku, mengiyakan jawabannya. “Lalu?”

“Mmm… Aku hanya ingin mengatakan…”

“Apa?” tanyaku.

Reina berjalan perlahan mendekatiku.

“Selamat berjuang, Reid…” katanya seraya memelukku tiba-tiba. Agaknya dia sedih karena takkan bertemu selama beberapa waktu denganku.

“Aku harus melindungi Rytell seperti melindungi Reina.”

Dan kami berdua menghabiskan waktu itu dengan menangis bersama…

Saatnya kembali.

“Clang!!!”

Lalu terdengarlah suara belati yang jatuh ke lantai.

“Apa maksudmu, Reid!!!???” tanya Marsmouth yang akhirnya berhenti berjalan setelah menangkis seranganku dengan pedangnya. “Kau ingin membunuhku???” serunya.

Kau ingin, Reid…

“Ya…. Aku ingin…. Aku…” desisku tak jelas. Aku bahkan tak berpikir. Dan tanpa sebuah rangsanganpun, tangan kiriku langsung mengeluarkan sebilah pedang dari sarungnya. Secepat mungkin kakiku membawaku berlari menuju Marsmouth dan tanganku – secara tak sadar menyabetkan pedang yang kupegang ke arah leher Marsmouth.

“Clang!!!!” Terdengar suara tangkisan pedang dengan pedang. Kemudian berlanjut dengan suara-suara yang sama, lagi. Entah bagaimana dan mengapa, tetapi meski aku tak memberi perintah kepada tanganku untuk mengayunkan pedang dan menyerang, tapi tanganku tetap melakukannya. Entah.

“Clang!!”

“Clang!!”

“Clang!!”

“Berhenti!!!!!!” teriak Yang Mulia kesal. Tapi nampaknya, baik tubuhku maupun Marsmouth sendiri tak ingin untuk menghentikan pertarungan.

“Berhenti!!!!! Atau…”

Kelihatannya Yang Mulia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kesia-siaan ini, pikirku. Dan ketika aku memalingkan pandanganku ke arah Yang Mulia, nampaknya hal yang buruk akan terjadi.

“Petrae Cursa!!!” teriak Yang Mulia seraya mengacungkan jari telunjuknya ke arah kami berdua. Ini benar-benar buruk.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer 145
145 at Enemies!!! Chapter 1: Unpredicted Incoming (11 years 16 weeks ago)
90

Hanya saja, proporsi antara deskripsi dan narasi agaknya masih kurang berimbang, (aih sebenarnya saya sendiri masih kurang ahli sih...) dalam arti jika memungkinkan sebaiknya deskripsi latar di buat lebih merata dalam setiap adegan.

Lalu hmm... soal tempo mungkin karena stylenya ya, tapi saya merasakan adanya kesan "terburu-buru" dalam cerita ini. Agak melelahkan membacanya.

Yang terakhir, karena POV yang diambil adalah POV orang pertama rasanya harus ada batasan tentang "kebenaran" si tokoh utama, misalnya saja:"Dia tak punya siapa-siapa lagi kecuali aku sahabatnya..." kalimat ini rasanya agak janggal, seakan-akan si tokoh utama tahu pasti akan hal itu. Penggunaan kata "mungkin" rasanya akan membantu.

Lalu err... saya lihat cerita ini tak memiliki prolog ya... bukan masalah sih, namun jika begitu masuk ke chapter 1 sudah disodorkan konflik tanpa cukup pengantar... hmm mau tak mau pembaca akan kesulitan memahami cerita. Setidaknya, pada chapter 1 pembaca sudah mendapat gambaran secara garis besar tentang bagaimana kondisi "dunia" tempat cerita berlangsung.

SAY NO TO JUNK COMMENT
CONSTRUCTIVE ONE IS BETTER

(semoga komen saya ini termasuk yang constructive -__- )

comment ya^^

50

sepakat dengan akang yamato, tapi ceritanya keren,,, ditunggu lanjutanya...

salam kenal, mampir ketempatku ya...

70

Ceritanya seru nih!..

Kalo boleh saran, kayaknya lebih bagus kalo dirapihin dikit, biar enak dibacanya gituh, hehe..

50

di tunggu kelanjutannya ya...

menarik sekali boz...........