*** KARENA AKU PASIR DAN KAU AIR LAUT***

Pantai masih menjadi tempat yang paling berkesan buat kamu. Ada banyak kenangan yang kamu simpan tentang pantai. Hamparan pasir, gagahnya batu karang, deburan ombak laut, naungan awan di atas pantai, sampai teriknya matahari pantai yang menurut kamu punya nilai misteri. Entahlah, sampai sekarang aku masih sulit menemukan alasannya.

Seperti saat sore itu. Kita berdua berjalan-jalan di sepanjang pantai. Jejak kaki kita meninggalkan bekas satu bentangan jejak kaki berjumlah ratusan, menandakan perjalanan kita yang semakin jauh dari bibir pantai. Langkahmu terhenti sebentar saat pandanganmu tertuju pada gundukan pasir sisa di depan kita.

“Mas, kamu tau nggak kenapa pasir itu tidak pernah menyatu dengan air laut?.” Katamu tiba-tiba.

Aku menoleh kearahmu sambil menjawab agak ketus.

“Ya pasti beda dong. Kalau air itu benda cair, kalau pasir itu benda padat. Sampai kapanpun mereka nggak akan pernah bisa menyatu.”

“Jawabanmu terlalu ilmiah ya. Tapi ada benarnya juga sih.” Katamu sambil mendekatkan tubuhmu di dadaku.

Aku mendekapmu dari belakang sambil mencium untaian rambut panjangmu. Harum dan membuatku tenang sekali.

“Terus, apa dong jawabannya.” Aku bertanya lagi.

“Kamu akan tau kalo saatnya tiba mas. Ada waktunya nanti.” Katamu dengan jawaban ringan.

“Kamu tuh paling suka buat orang penasaran ya. Kasih pertanyaan, jawabannya digantung. Apa dong jawabannya.” Aku semakin penasaran.

Kamu semakin merapatkan tubuhmu dalam dekapanku. Hangat, nyaman dan sangat membuatku terlarut. Kamu mulai berkicau lagi tentang pantai, awan dan hamparan pasir sampai sunset datang dan mengingatkan kita untuk segera pulang.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebulan setelah pertemuan kita di pantai, satu hal mengejutkan terjadi lagi. Kamu memutuskan untuk menerima tawaran pindah kerja di Bali. Alasannya Cuma sederhana saja. Bali punya banyak pantai yang misteri. Aku sedikit marah karena hampir tidak bisa menerima alasan itu. Ada apa dengan pantai?! Ada apa dengan pasir?! Kenapa mereka sangat berarti bagi kamu?!

“Mas Raka, Bali-Jogja itu kan Cuma berapa jam sih jaraknya. Lagian, jaman sekarang manfaatin dong teknologi informasi dan teknologi transportasi. Iya kan?” Kamu berkata sambil tersenyum.

Aku diam saja dengan air muka sedikit marah. Aku masih belum dapat menerima dan menganggap itu alasan yang tidak bisa aku terima. Aku mulai bicara masalah jarak dan waktu yang makin sedikit jika kamu memutuskan pindah ke Bali. Ada batas. Itu masalahnya. Tapi entahlah, waktu itu aku seperti terhipnotis oleh semua kata-katamu sampai akhirnya aku relakan kamu untuk pindah kerja di Bali.

Seperti malam ini. Aku merasakan satu siksaan berat sepanjang hidupku. Penat dengan urusan pekerjaan yang semakin menyita habis waktuku. Perusahaan mulai menuntutku untuk sering dinas ke luar kota karena alasan pesatnya perkembangan usaha. Dalam seminggu, 4 hari aku berada di luar kota. Benar-benar penat dan menyita habis semua waktuku.

Pikiranku mulai kacau tak karuan saat wajah kamu hadir lagi di setiap ruang gerakku. Rasa kesal bercampur marah. Betapa tidak, sudah 2 minggu ini aku sulit sekali berkomunikasi dengan kamu. Sejak kepindahan kamu ke Bali, kita hanya bertemu satu kali saat ulang tahun perkawinan orang tuamu. Itu saja. Selebihnya lebih banyak lewat HP dan telepon kantor. Aku makin merasa kesal karena setiap kali aku menelpon ke kantormu, jawabannya selalu sama : Maaf pak, mbak Dayu sedang dinas ke Singapura. Itu saja jawabanya. Aku juga mencoba menelpon ke rumah orang tuamu dan jawabannya tetap sama.

Aku mulai mengumpat sendiri karena gagal mencari cara tepat untuk berdamai dengan hati. Tak tahu harus berpikir gimana. Memikirkan kamu dan pekerjaanku membuatku letih sampai akhirnya aku tertidur tanpa melepas baju kerjaku. Dan malam itu terlewati lagi tanpa ada yang berubah, Sama seperti malam sejak kepindahanmu. Hanya ada hampa, letih dan penat.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pagi hari, tepat jam 6.00 pintu kamarku diketuk.

“Mas Raka. Bagun mas. Ada tamu tuh di teras depan. Udah nungguin tuh.” Suara mbok Mur membangunkan tidurku.

“Iya mbok. Suruh tunggu sebentar.” Kataku sambil mengangkat badanku dengan perasaan malas.

Setengah mengumpat aku beranjak dari tempat tidur ke westafel untuk mencuci muka. Aku berjalan keluar kamar dan menuju ke teras depan. Disana, aku melihat ada tamu seorang laki-laki berusia sekitar 20an duduk di kursi tamu. Dia seegra berdiri melihat kedatanganku.

“Pagi mas Raka. Masih inget saya kan mas? Saya Andra, adik sepupu mbak Dayu,” Katanya ramah.

“Iya. Kamu yang kuliah di UPN ya?” Kataku sambil menyeka sisa air di keningku.
“Iya mas. Maaf mas, ada hal penting yang harus saya sampaikan. Ini tentang mbak Dayu.” Katanya agak pelan.

“Dayu? Sampaikan saja. Ada apa nih kayaknya serius amat?” kataku sambil mendekat.

“Mbak Dayu mas. Dia udah nggak ada.” Katanya sambil menunduk.

“Maksud kamu?!” Kataku setengah berteriak.

“Mbak Dayu meninggal mas kemarin. Gagal ginjal.” Andra menjawab singkat sambil menunduk.

Pandanganku gelap seketika. Aku tidak ingat lagi berada dimana aku saat itu. Mulutku seolah terkunci dan hanya hampa yang aku rasakan. Rasa tak percaya bercampur dengan rasa sesak. Semuanya membungkam mulut dan hatiku.

“Ini semua pesan mbak Dayu. Dia yang meminta kita semua untuk merahasiakan ini semua. Itu pesan terakhirnya. Sebelum meninggal, mbak Dayu menitipkan ini buat mas.” Andra berkata lirih sambil menyerahkan MP 4 berwarna silver.

Andra menaruh MP 4 di tangan kananku. Saat itu aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Semuanya terasa kosong dan seolah tubuhku lunglai tak bertenaga sama sekali. Mulutku tetap terkunci dan padanganku terasa gelap. Disorientasi yang sangat kuat.

Aku mulai sadar dan mendapati tubuhku berada di kasur kamarku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru aku alami tadi pagi. Aku menoleh kearah jam dinding, tepat menunjukkan pukul 13.05. Aku bergegas meraih kunci mobil dan berjalan kearah garasi. Yang ada dalam benakku adalah pergi ke rumah keluarga Dayu dan menanyakan kabar yang sebenarnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku sampai di komplek pemakaman di daerah Maguwoharjo setelah mendapat informasi dari keluarga Dayu. Sunyi dan lengang sekali suasana di permakaman itu. Beberapa ekor burung berhenti berkicau saat langkahku memasuki kompleks makam itu. Tidak ada suara tiupan angin, apalagi bunyi serangga tonggeret yang sering terdengar di sekitar pemakaman. Semua senyap, seolah iba melihat langkahku yang tidak iklas dengan kepergian kamu.

Aku terus melangkah kira-kira seratus meter dari pintu makam. Tepat di depanku, aku melihat gundukan tanah merah yang masih bertabur bunga warna-warni. Sebagian sudah kering karena terserap sinar matahari. Di papan nisan itu tertera nama panjangmu : Dayu Setya Purnamarini Binti Hendra Prasetyo. Tulisan yang masih jelas terlihat karena masih beberapa hari dibuat.

Aku duduk bersimpuh di depan makam tanahmu. Masih saja tak percaya dengan pemandangan di depanku. Aku ingin menangis, tapi air mataku seolah tertahan oleh kelopak mataku yang makin menegang. Aku membelai tanah merah itu dan mengambil serpihan bunga sisa penguburan kemarin. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. MP 4 yang dititipkan Dayu lewat Andra. Dan aku meraba saku celanaku dan meraih MP 4 berwarna silver. Pelan-pelan aku tekan tombolnya dan menunggu beberapa saat.

God! Di layar MP 4 itu muncul wajahmu dengan senyum terbaikmu. Mengenakan kaos warna ungu yang sering kanu banggakan saat berjalan-jalan di pantai. Cantik sekali wajah kamu di situ. Benar-benar sempurna sepanjang aku mengenal kamu.

“Mas Raka.” Katamu tersenyum.

“Dulu aku pernah menanyakan pada kamu, kenapa pasir tidak akan pernah bisa menyatu dengan air laut. Hari ini aku berikan jawabannya. Inilah saatnya.” Kamu berkata sambil tetap tersenyum.

“Pasir dan air laut selalu bersama di sepanjang pantai. Hamparan pasir dan deburan ombak yang saling bertemu. Tapi mereka tidak akan pernah bisa menyatu sampai kapanpun. Kamu tau kenapa? Karena sebelum air laut meresapi pasir, ia sudah lebih dulu diserap oleh matahari. Mengering dan sirna.” Kali ini wajahmu setengah menunduk.

Aku terus memperhatikan wajahmu di MP4 itu tanpa bergeming.

“Kamu adalah pasir itu, dan akulah air lautnya. Sejak 3 tahun lalu, tubuhku sudah dimilki oleh matahari. Sama seperti vonis dokter terhadap prediksi hidupku. Dan hari ini, vonis itu sudah berjalan 3 tahun 3 hari. Hanya meleset satu hari dari vonis yang diberikan dokter.” Katamu mulai menangis.

MP 4 di tanganku terjatuh tiba-tiba. Tanganku tak mampu lagi menopang benda itu. Seluruh tubuhku lunglai, ditandai dengan terpaan air mata yang membobol pertahanan kelopak mataku. Air mata ini tumpah seolah tak terbendung lagi. Aku berteriak merintih sambil memukulkan kedua tanganku di atas gundukan makam kamu. Dan aku tak peduli lagi dengan keadaan di sekitarku. Yang aku rasakan hanya rintihan, kepedihan dan ketidak relaan dengan situasi ini.

Dan aku terus menangis, berteriak dan menyalahkan semuanya. Berteriak tentang penyesalan dan ketidakadilan yang harus aku terima pada hari itu. Tanpa suara pengibaan dan yang terirat hanyalah ketidakrelaan tentang kenyataan yang baru saja aku hadapi. Yang tersisa hanya air mata, rintihan, dah kehampaan yang berkepanjangan.
-------------------------------------------------------- @@@@@@@@------------------------------------------------

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Edwin
Edwin at *** KARENA AKU PASIR DAN KAU AIR LAUT*** (10 years 51 weeks ago)
80

Mr. Jay...
Bagus neh ceritanya...
:D

80

mau dibawa sampai kapan??? life must go on?

70

Menarik ada filosofinya. Cuma rasanya ada yang kurang...

Writer Arra
Arra at *** KARENA AKU PASIR DAN KAU AIR LAUT*** (11 years 10 weeks ago)
80

saya suka filosofi pasir dan air lautnya.. saya pikir ada alasa kimia gitu.. hwehwe

50

nih,,kisah nyata ga yah..
tuturan kata yg bagus,,
wlu ceritanya sedih,,pi,
cukup mendamaikan hati,, hehe

50

itu aja..

80

hua...ne cerita kok sedih bgt ya,tp asli menyentuh bgt!
kl aq jd mas raka,mungkin aq juga da gulung2 di kuburan,menangisi ketidak adilan.
orang yg kita sayangi direnggut oleh penyakit.hiks..da ah,tissu sy bs habis baca cerpen ini ^^

80

Haduh, mas..kenapa ceritanya tragis begini? Tapi bagus. Menyentuh.