Biar Aku Saja!

“CERAH banget! Dapat undian jutaan rupiah?!”

“Enggak tuh!”

“Orgasme barengan? Berapa jam?”

“Nenek loe masturbasi! Sejak kapan gue bisa org***me barengan. Tau tuh suami gue kayaknya ngidap penyakit Edi Tansil!”

“Edi Tansil? Suami loe tukang korupsi gitu?”

“Ejakulasi dini tanpa hasil!”

“Kasian banget sih loe. Bawa sana suami loe ke dokter Boyke. Kalau perlu ke Ma Erot sekalian.”

“Idih, apaan sih?! Udah ah, pagi buta gini ngomongin gituan. Nggak enak kalo kedenger sama anak-anak.”

“Emang di kantor redaksi majalah pria dewasa gini ada ya yang namanya anak-anak?”

Perbincangan itu tiba-tiba berakhir saat seorang lelaki klimis berkumis tipis lewat di depan mereka.

“Pagi, Pak,” sapa kedua wanita yang bekerja sebagai staf administrasi itu sembari nyengir dan menganggukkan kepala.
Lelaki berperawakan jankis itu tak bereaksi sedikitpun. Namanya Pak Adito. Dia adalah direktur utama kantor ini. Semua orang di sini tentunya menaruh sejuta hormat padanya. Tanpa terkecuali aku. Kulakukan hal yang sama dengan yang lainnya saat bertemu dengannya. Akhir-akhir ini suasana kantor agak menegang. Pak Adito sering uring-uringan. Sedikit stress. Omset penjualan bulan lalu merosot drastis. Imbas protes beberapa kalangan dengan gerakan anti pornografi-pornoaksinya. Beruntung nasibnya tidak seperti direktur redaksi majalah pria dewasa berlabel burung itu. Meski demikian, tetap saja dirinya rikuh. High bussines high risk. Dan pekerjaanku jadi makin menumpuk. Sebagai salah seorang wakil pimpinan redaksi, aku pun punya beban yang sama beratnya dalam menjaga eksistensi kantor ini. Mesti lebih selektif memilih inilah, memutuskan itulah, ekstra hati-hati dalam hal inilah, berinovasi tentang hal itulah, blablabla... aku pusing jadinya. Pergi pagi. Pulang malam. Dari Senin hingga Sabtu. Full time.

Apa jadinya kalau aku tak bersuamikan Tama. Mungkin saat pulang, rumah masih dalam keadaan serba kacau tak beraturan. Sampah berserakan. Pakaian kotor bertumpukan. Debu bertebaran. Lalu dengan sisa tenaga yang kupunya aku harus membenahi semua seperti sedia kala adanya. Juga memasak makanan dan membuatkan kopi untuknya. Belum lagi bercinta dengannya. Argh, tamatlah!

Temanku bilang ini sebuah kemujuran. Benarkah? Asal tahu saja, Tama tidak punya mata pencaharian. Waktu luangnya habis untuk menonton TV sambil tiduran. Setiap berbicara denganku selalu tentang gosip murahan. Entah kenapa aku bisa jatuh cinta padanya. Bahkan hingga mempersuaminya.

Kubilang, pesonanya. Dia adalah lelaki “tercantik” yang pernah kutemui. Satu banding seribu, aku berani bertaruh. Tubuhnya semampai berbalut kulit mulus putih terang. Rambut hitam dan bibir merahnya senantiasa membangkitkan gairah. Aku tak pernah perduli seperti apa latar belakangnya dan apa profesinya.

Usia kami hanya terpaut lima tahun. Memang dia lebih muda dariku. Dan lebih manja. Tapi di saat-saat tertentu, dia lebih mengerti aku. Dan dia pun bisa berbuat hal-hal di luar dugaan.
Suatu malam saat aku pulang kerja, dia mematikan semua lampu. Aku sempat kesal dan bermaksud memakinya. Siapa yang tahan dipermainkan dalam tekanan manusia kantoran. Tapi tiba-tiba saja...

SURPRISE!!! Secerca cahaya berpendar indah melingkar di depan wajahnya. Cahaya dari lilin-lilin pada sebuah black forest bertabur strawberry kesukaanku.

“Happy birth day, honey,” betapa hangatnya dia menciumku. Rontoklah seluruh tulang belulangku. Aku sendiri saja lupa malam itu aku genap berusia tiga puluh.

Kini usia perkawinan kami menginjak masanya yang ketiga. Cukup lama juga.

“Tidak, memangnya pacaran. Usia segitu masih seumur jagung untuk sebuah pernikahan. Kecuali salah satu dari kita atau kita berdua selebriti.” Komentar Tama saat terakhir aku membahasnya. “Kamu tahu nggak, honey, tadi ada gosip perceraian tentang artis yang keliatan adem ayem itu. Dan ada juga artis yang ketauan selingkuh. Itu lho...”

CUKUP!!!
Aku adalah wanita yang sama sekali benci bergunjing. Sering kusumpal mulut Tama jika dia sudah demikian. Ya, kusumpal dengan mulutku. Sesekali dengan payudara juga kelaminku. Aku memang agak “maniak”. Untuk urusan yang satu itu, selelah apa pun pasti kujabani. Kecuali jika memang stuck di level terberat atau pikiranku sedang mumet, atau juga memang sama sekali sedang tidak mood.

Aku sedikit heran. Kenapa Tama lebih menikmati posisi terlentangnya setiap kami bercinta? Tapi aku akui dia lebih dari lumayan dalam urusan peranjangan. Syukurlah dia tidak mengidap penyakit Edi Tansil seperti yang kedua pegawai tadi bilang. Jika demikian, alamat gawat. Aku susah mencari pelampiasan!
Dan yang membuatku heran lagi, kenapa Tama bisa bangun lebih pagi dariku?

Berkali-kali kupastikan aku tidur lebih awal darinya. Kunyalakan alarm tepat di angka lima. Tapi yang terjadi seperti pagi-pagi sebelumnya. Tama bahkan sudah selesai berolah raga dan mandi. Dan sempat-sempatnya dia membuatkan menu sarapan lengkap untukku. Hingga urusan pakaian pun dia yang atur. Lalu, saat aku hendak berangkat ke kantor, kulihat mobilku sudah lebih bersih dari sebelumnya. Betapa hebatnya bisa melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu yang cukup singkat di saat-saat yang malas berat. Dan saat aku tiba kembali, rumah masih serapi sebelum aku pergi. Semua beres tanpa terkecuali. Aku jadi tidak punya beban apa-apa lagi. Hanya tinggal mandi dan menikmati makan malam yang dia buat sendiri.

“Good husban,” puji temanku saat aku bercerita padanya. “Jarang-jarang lho ada laki-laki serajin itu. Suamiku sih boro-boro bisa begitu. Untung semuanya dikerjakan pembantu. By the way, kenapa kamu nggak pake jasa pembantu saja?”
Percayalah, ide itu sudah muncul di benakku mungkin sejak ratusan tahun lalu. Tapi apa kata Tama?

“Biar aku saja! Aku cukup sadar diri kok. Aku nggak mau dicap sebagai suami pemuas birahi semata.”

“Enggak, honey. Nggak ada yang mencap kamu seperti itu. Aku fine-fine saja dengan statusmu sebagai seorang suami yang ‘betah’ di rumah. Lagi pula sejauh ini aku cukup mampu membiayai hidup kita. Ini bukan soal materi. Tapi cinta.” Kataku, menutupi kerendahan dirinya.

“Aku tau itu. Tapi aku mohon, kamu nggak maksa aku untuk nggak melakukan semua ini. Jujur, aku tulus dan senang melakukannya. Dan aku ngerasa nggak berarti banget kalau keberadaanku di sini nggak ada fungsinya sama sekali. Aku tau kondisi kamu. Sangat tau. Pulang kerja tentu kamu lelah. Sekedar membuatkanmu teh atau kopi saja aku bisa. Sekedar memanaskan air untuk mandi saja aku juga bisa. Sekedar membuatkan makan malam saja aku lumayan bisa. Dan jika semua pekerjaan rumah ini bisa kulakukan sendiri, kenapa harus dilakukan orang lain seperti pembantu?”

“Beda, honey. Kamu aku nikahi bukan sebagai seorang pembantu tapi suami. Tugas suami adalah menyenangkan istri di tempat tidur.”

“Tapi tugas suami juga menafkahi istrinya. Dan aku nggak bisa ngasih itu. Sudahlah. Aku tau ini hanya akan menjadi debat kusir yang panjang. Aku nggak minta banyak. Selama aku bisa melakukannya, biar aku saja yang melakukannya. Titik.”

Apa boleh buat?

Syukurlah semua berjalan baik, lancar dan terkendali. Tama tidak pernah mengeluh dengan rutinitas hariannya yang menurutku lebih monoton dari kedengarannya. Dan aku semakin sibuk dari hari ke harinya. Kami memang jadi tak sering bicara. Tapi bukan berarti kami bermusuhan, lebih-lebih pisah ranjang—hal yang tak mungkin kulakukan. Dia cukup mengerti kesibukanku belakangan ini. Aku berjanji akhir bulan nanti aku akan minta cuti untuk liburan barang sehari dua hari, menghabiskan waktu dengan Tama. Berbincag dan bercinta sehari semalam dengannya.
Tapi bisakah dia kuajak pergi berlibur?

Beberapa hari terakhir ini kulihat wajahnya agak pucat dan tubuhnya melemas. Sempat aku memergokinya muntah-muntah. Pasti dia kelelahan dan masuk angin. Masih mending kalau hanya masuk angin. Kalau sampai dia terserang flu berat atau mungkin gejala lainnya, bisa gawat!

“Aku baik-baik saja,” katanya saat malam itu aku mengusiknya. “Mungkin karena pengaruh perubahan cuaca saja. Sekali-dua kali minum obat juga baikan.”

“Aku besok libur saja. Biar kamu bisa istirahat dan semua pekerjaan rumah aku yang handle.”

“Nggak. Bukankah kamu bilang kerjaanmu sedang sibuk-sibuknya? Salah-salah kamu dipecat lagi. Udahlah, aku beneran nggak apa-apa. Tugas rumah seperti biasa, biar aku saja.”

Biar aku saja! Ya, itu kata saktinya yang paling aku benci.

* * *

“Malam.” Aku pulang.

“Malam,” sahut Tama. “Kusut banget! Sedikit pijatan bisa membuat kamu rileks. Sini!”

“No, thanks. Mestinya kamu yang aku pijat. Gimana kondisi kamu? Udah enakan?”

“Hm, lumayan. Tapi masih pusing-pusing dikit.”

“Ke dokter aja ya?”

“Nggak usah. Aku tau obat yang paling mujarab.” Tama berjalan ke dapur dan membawakan sesuatu dalam piring. “TADA...!!!”

“Apaan tuh? Rujak?”

“Yups. Seger lho. Coba!”

“Malam-malam gini?”

“Apa salahnya? Enak kok.”

“Tama...???”

“Kenapa?”
Bisakah????????????????????????????????
Mungkinkah????????????????????????????
Mustahil!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

“Biar aku saja, Tama! Biar aku saja!”

“Maksudnya???”

Ketakutanku........................................................

Kecurigaanku.......................................................

“Semua tugasku di rumah boleh kamu ambil. Dari mulai memasak, mencuci pakaian, menyapu dan mengepel lantai boleh kamu lakukan. Tapi khusus untuk yang satu itu, biar aku saja! BIAR AKU SAJA, Tama!”
“???”

“Aku yang lebih berhak. Dan aku yakin aku sanggup dan punya waktu untuk itu.” Kamu tidak HAMIL kan Tama?***

| Selasa, 23 Januari 2007 10:12 |

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Meylla
Meylla at Biar Aku Saja! (9 years 30 weeks ago)

Waduh maksudnya?

dadun at Biar Aku Saja! (12 years 2 weeks ago)
50

postingan lama nih.. dikit diedit, coba dipermak. semoga masih layak baca.

my bro : iya lagi puasa. emangnya napa ya? hehe ^_^ jangan mikir ke mana-mana ah

buat yang dah baca+komen, makasih banyak yah^^

Writer vieajah
vieajah at Biar Aku Saja! (12 years 2 weeks ago)
80

GuuubRaaaKh...
9iLe mampuz Low..

KD, eMang cowo bisa hamiL yah..?? hamiL beNeRan 9iTu maKsuTnyah..??

kaLo cowo nGidam kaRna isTRi hamiL si biasa denGeR 9w.. ??

Writer creativeway13th
creativeway13th at Biar Aku Saja! (12 years 2 weeks ago)
80

unik banget.. cara penyampaiannya, idenya.. wah pokoknya kreatif banget..

Writer my bro
my bro at Biar Aku Saja! (12 years 2 weeks ago)
70

wadaw... gimana yaaah. hmmm.

Writer fortherose
fortherose at Biar Aku Saja! (12 years 16 weeks ago)
80

...ini udah disensor dun?

^_^

Writer hephaistion
hephaistion at Biar Aku Saja! (12 years 19 weeks ago)
70

yg versi belum disensor gimana ya? hihihihi

Writer brown
brown at Biar Aku Saja! (12 years 19 weeks ago)
70

emang cowok bisa hamil ya? blm pernah dengar sih kecuali yg di film-nya Arnold. tapi aku udah pernah bertetanggaan dengan cowok yg ngidam saat isterinya lagi hamil. aneh deh, si isteri tenang2 aja, si suami yg tiap hari muntah2 dan ngidam mangga muda.

Writer KD
KD at Biar Aku Saja! (12 years 20 weeks ago)
100

lagi-lagi aku berhasil menebak.
*******
btw, memang pernah ditemukan di Filipina seorang laki-laki hamil. Cuma aku lupa, dia dihamili perempuan atau tidak.

Writer ananda
ananda at Biar Aku Saja! (12 years 20 weeks ago)
70

bocooor !!!

awas lu kena sensor

Writer miss worm
miss worm at Biar Aku Saja! (12 years 20 weeks ago)
80

kukira apa waktu baca judulnya, ternyata...

somewhere pernah juga baca ide seperti ini..

bener kata ima... hati2 kena sensor jeng far and mba tiva ^^

Writer arien arda
arien arda at Biar Aku Saja! (12 years 20 weeks ago)
80

Wakakkakak...!!! gak nyangka...so crazyyyy..!!!!

i like it..
great

Writer ima_29
ima_29 at Biar Aku Saja! (12 years 20 weeks ago)
80

Dadun sinting!!! tadi gw baca blum ada bintang2 berkilauan di tulisan lo...kok sekarang jadi ada bintang2 gitu???ga seru ah Dun! biarin aja lagi...ga usah takut di sensor! hihihihi

Ah gile lo Dun!! Wakakakaka..Hati-hati dengan penyensoran hasil karya di k.com loh!hehehehe...

Tapi gw suka crita lo! Sedikit menyentil kedewasaan gw rasa gpp sih!