Felgirth - Chain 1 - Traumatic Past

CHAIN 1
TRAUMATIC PAST



Segalanya terlihat gelap, ruang hampa yang tidak ada isinya. Tak ada angin yang berhembus, tak ada air yang mengalir, tak ada sedikit pun tanda-tanda kehidupan kecuali seorang pria dan sebuah suara.

“Bangkitlah puteraku…”

“Siapa…? Siapakah kamu yang selalu menghampiri mimpiku?” jawab sang pria.

“Bangkit dan hancurkanlah jantung dunia ini…” Suara yang sama kembali terdengar, nadanya seperti mendesah.

“Jantung? Apa maksudmu?”

“Dunia ini menyedihkan, puteraku… Dunia ini akan segera hancur olehnya, oleh dia yang selalu membawa bencana bagi manusia. Dia takut rahasianya akan terkuak, oh tapi aku tahu—ya aku tahu rahasianya…” Suara itu terdengar percaya diri dan penuh kebencian.

“Rahasia? Siapakah yang kau maksud itu? Siapa kamu sebenarnya?!” Sang pria semakin jengkel dan tak sabar. Setiap kali selalu seperti ini, kata-kata yang tak jelas, perintah-perintah yang harus dipatuhi, ia sudah tak tahan lagi.

“Siapa aku tidaklah penting… Kau hanya perlu mendengarkan kata-kataku saja, puteraku… Ya, kau adalah puteraku, maha karyaku yang paling sempurna… kalau saja gadis busuk itu tidak menghancurkan rencanaku dan membuatmu jadi begini…” Suara itu terdengar seperti menahan kepedihan yang mendalam. “Tapi tenanglah, segera… tak akan lama lagi, kekuatanmu akan kembali… dan jika saat itu tiba, puteraku, hancurkanlah jantung dunia ini… putuskan jaring takdir yang mengendalikan kita… hanya dengan begitu, dunia ini bisa lepas dari cengkraman tangannya…”

“Untuk apa aku harus menurutimu? Jangan libatkan aku dalam ambisi pribadimu! Enyahlah! Jangan ganggu aku lagi !!” teriak si pria.

“Bukan… ini bukan ambisi pribadi… Ini semua demi umat manusia… Kau tidak mengerti puteraku, orang itu akan menghancurkan kita cepat atau lambat… Sudah saatnya umat manusia menentukan takdirnya sendiri…” Suara itu terdengar semakin melemah dan kata-kata berikutnya semakin tidak jelas, dan semuanya menjadi putih.

“He—hei tunggu dulu!!” Si pria merasakan kepalanya tiba-tiba sakit dan dunia terasa berputar. Hal berikutnya yang ia tahu adalah sebuah gelas melayang tepat ke arahnya. Ia memiringkan kepalanya tepat pada waktunya sehingga gelas berisi bliss itu menabrak tembok dan pecah dengan suara nyaring, diikuti dengan suara tawa yang keras dari sekumpulan pemabuk di seberang jalan.

Pria itu terbangun dari mimpi anehnya dan sedikit berkeringat. Pandangannya kosong sejenak dan selama beberapa saat dia merasa seperti tidak mengenali dunia ini. Sepertinya jiwanya yang habis melayang ke tempat lain harus menyesuaikan diri dulu ketika bergabung kembali dengan tubuhnya. Setelah beberapa detik seperti itu, matanya kembali fokus, dengan warna yang hitam pekat, tak seperti tadi yang kosong dan berwarna putih.

Dia kemudian mulai melihat, atau lebih mirip kalau disebut ‘menganalisa’ keadaan di sekelilingnya. Ia berada di Cielgris, kota para nithlom—ksatria, serta benteng kekuatan utama kerajaan terbesar di Surfassia yang bernama kerajaan Fallom.

“Varlend” begitulah pria muda ini dipanggil oleh seorang anak kecil berpakaian lusuh yang kini menghampirinya.

Pria yang dipanggil Varlend itu pun menoleh dan menatap sang anak dengan dahi mengernyit, namun anak itu tetap berdiri di depannya tanpa rasa takut dan berbicara dengan nada yang polos, “ibuku melarangku untuk mendekati kak Varlend… katanya kakak orang yang berbahaya…”

Tanpa perlu dikatakan pun Varlend sudah bisa melihat dengan jelas sang ibu yang sekarang sedang berteriak-teriak dengan wajah cemas setengah mati, menyuruh sang anak agar kembali namun tetap menjaga jaraknya karena takut. Sementara itu sang anak tetap dengan polosnya berdiri di sana dan berkata, “tetapi para ni’hlom di sana mengatakan kalau kakak tidak pernah menyakiti orang lain sekali pun… apa kakak orang baik?” Si anak tampaknya kesulitan mengeja kata nithlom.

Ucapan sang anak langsung diikuti gelak tawa oleh para nithlom yang dimaksud tadi, yang ternyata sekumpulan pemabuk yang tadi telah melemparkan gelas bliss ke Varlend.

“Hei bocah!!” kata salah seorang nithlom berjenggot lebat sambil menahan tawa, “orang seperti dia itu, bukan orang baik, tapi lemah!!” Semua nithlom serentak tertawa terbahak-bahak, sementara seorang lagi yang bertubuh kurus menambahkan, ”dia itu seorang penari, penari cantik yang lemah gemulai!!” dan semua pun tertawa semakin keras.

“Aku sudah melihatnya, dia dipukuli dan bahkan tidak melawan sama sekali!! Dia memang cuma seorang penari! Dan pedang besarnya itu pastilah hanya sekadar untuk atraksi saja!!” Nithlom yang berjenggot lebat tadi menambahkan lagi, seakan sedang berlomba dengan si kurus tentang siapa yang bisa menciptakan lelucon terkonyol tentang Varlend.

Anak kecil itu menoleh menatap wajah Varlend yang tampaknya tidak memperdulikan ucapan para pemabuk yang tampangnya sudah nyaris mau roboh akibat terlalu banyak menenggak bliss.

“Kalau kakak orang baik, maukah kakak Varlend menolong fulberr milikku yang terjebak di atas pohon? Kasihan sekali dia tidak bisa turun karena takut…” tanya anak itu dengan nada yang panjang dan perlahan.

Tanpa basa-basi, tinju Varlend langsung melayang ke arah anak kecil itu, namun berhenti dengan jarak setipis kertas dari wajah si anak. Sang anak hanya berkedip sedikit namun tidak berusaha melindungi dirinya, sementara itu sang ibu langsung berteriak histeris dan menerjang menyelamatkan anaknya dan membawanya pergi, diiringi suara siulan dari para pemabuk. Anak kecil yang digendong pergi ibunya itu terus menatap Varlend dengan tatapan polos setengah memohon, namun tak lama sosoknya menghilang dibawa memasuki gang kecil.

“Hey, lelaki pesolek!! Pukulanmu tadi boleh juga!! Pasti kau sudah berlatih menari cukup lama ya!!” teriak nithlom berjenggot lebat dan disusul gelak tawa yang riuh ramai, namun tiba-tiba suara tawa itu mereda di bawah tatapan tajam mata Varlend. Mata Varlend seperti berkilat, sesekali menyala biru dan menatap mereka semua dengan keinginan membunuh yang sangat kuat hingga beberapa penduduk langsung mundur, bahkan salah satu pemabuk terjatuh dari bangkunya.

“A… apa?! Kau mau ber—bertarung?!!” Si nithlom berjenggot lebat berdiri setengah gemetar.

Varlend menatap mereka selama beberapa saat dan kemudian dia berdiri, mengambil pedang besarnya yang dari tadi menyandar di sebelahnya, nithlom itu langsung bergerak mundur sedikit.

“A… aku tidak takut denganmu! Ayo maju ka— kalau kau berani!!” teriaknya lagi walaupun wajahnya ketara sekali gentar di bawah tatapan membunuh Varlend. Para nithlom itu sudah sering berperang dan mereka tahu ketika seseorang itu berbahaya atau tidak dari tatapan matanya saja, dan tatapan Varlend dengan jelas memancarkan aura kematian.

Varlend maju selangkah ke depan dengan perlahan, membuat semua nithlom serempak mundur selangkah, namun kemudian Varlend membelokkan jalannya ke arah pintu gerbang Cielgris yang sangat besar namun saat ini dalam keadaan terbuka.

Para nithlom sesaat kebingungan namun kemudian si jenggot lebat mengejek Varlend lagi dari belakang dan memaksakan diri untuk tertawa keras, “ha—haha…. HAAHAHA!! Kalian lihat?! Si pengecut itu takut padaku!!” Para nithlom perlahan-lahan kembali berlagak sok melihat Varlend terus berjalan dan tidak menanggapi mereka. Berbagai makian dan hinaan keluar dari mulut mereka namun Varlend terus berjalan keluar kota Cielgris tanpa berkata apa-apa. Ia hanya bergumam pelan, “kota yang busuk…”

Kota Cielgris, begitu memang orang menyebutnya, walaupun begitu tempat ini lebih cocok dikatakan sebagai tempat kumuh daripada sebuah kota. Kota yang seharusnya menjadi benteng utama kerajaan Fallom kini usang, rusak dimana-mana, dan begitu kotor seperti pemukiman kumuh. Kemudian nithlom, meskipun tingkatan kastanya rendah, tapi mereka dulunya merupakan para prajurit kebanggaan kerajaan Fallom. Dua puluh tahun yang lalu semua orang akan menepi bila para nithlom lewat dengan gagahnya, dan pasukan musuh akan langsung gentar begitu melihat kibaran jubah hijaunya yang sangat khas, apalagi kedatangan mereka selalu diiringi sangkakala raksasa berbentuk naga hijau yang masing-masing ditiup oleh sepuluh orang. Mereka merupakan pasukan elit kerajaan Fallom yang dikagumi kawan maupun lawan.

Sayangnya kini mereka hanyalah sekumpulan pemabuk yang tidak ada pekerjaan dan hanya menenggak bliss setiap harinya. Perang sudah berlalu, perjanjian damai sudah ditanda tangani, dan sudah lebih dari tiga tahun negeri ini aman tentram. Hal baik memang—bagi sebagian orang—namun tidak bagi para nithlom yang hidup di medan pertempuran. Mereka yang sejak awal sudah memiliki tingkatan kasta terendah dalam ras Himmels— sebutan untuk manusia—semakin terpuruk karena mereka tidak dibutuhkan lagi di masa damai. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain menenggak bliss beraroma kuat yang membawa mereka ke alam mimpi… mimpi ketika mereka masih menjadi prajurit kebanggaan kerajaan Fallom yang nama besarnya sampai ke pelosok negeri. Hal ini pula yang membuat bliss menjadi sangat populer di kalangan nithlom. Minuman yang cocok sekali bagi mereka yang menganggap dunia seperti ini busuk, tak pantas ditinggali, dan mungkin hanya itulah persamaan mereka dengan Varlend—walaupun alasannya sedikit berbeda.

Next========>Felgirth - Chain 1 - Traumatic Past, Part 2

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Deschia
Deschia at Felgirth - Chain 1 - Traumatic Past (10 years 36 weeks ago)
90

cerita fanfic pertama buatku... baca prolog nya jadi ingin meneruskan... selanjutnya aku baca dulu yah...

wah senang bisa menulis cerita fantasy fiksi pertama buat anda, Deschia. :) Semoga anda menikmatinya ^^

hehe, masih kurang jelas yak? Ok nanti aku akan tambahin deskripsi setingnya.

Si Varlend tidur dgn posisi duduk bersandar di dinding, di pinggir jalan kota.

dan anak kecil itu 'sosok'nya menghilang di balik gang. Maksudnya digendong ibunya berbelok masuk ke dalam gang, dan kemudian tidak terlihat lagi oleh Varlend.

Thx atas kritiknya :)

70

kok para nithlom-nya ga disuruh bekerja di ladang saja..daripada mabuk2an..
mabuk di tempat umum kan didenda Rp. 1500,- :D halah,monopoli bgt

70

hebatttttttttt fantasinya.. coba bikin namanya dan settingnya indonesia... hehe bisa ga yah

Haha, gw ga pinter bikin penamaan bahasa Indo, apalagi ngambil setting di Indo. :D Jadi kurang bebas kalau ada kekangan setting dunia nyata. :) Thx for the comment bro~

Baca terus ya. Website mu bagus jg btw. ^^

Writer Feline
Feline at Felgirth - Chain 1 - Traumatic Past (10 years 44 weeks ago)
90

Hmmmm, mungkin karena ini sudah di-edit juga ya(telat koment)
Ceritanya bagus,
tapi sedikit ruwet di otakku(apa mungkin otakku lagi gak beres ya?)
Menurtku kurang jelas tempatnya. Ini di mana? Masih di bumi ata dunia lain???

Hmm membingungkan ya hehe. Ini cerita post apocalypse, atau setelah dunia kiamat dan kehidupan baru dimulai kembali diatas tanah yg sama, Bumi, hanya saja sudah dipanggil dgn nama yg berbeda.

Writer ndyw
ndyw at Felgirth - Chain 1 - Traumatic Past (10 years 45 weeks ago)
80

wow
aq sempet ga bisa bicara melihat ceritamu ini
keren n aduhai banged
bacaan fantasy yang keren
n
baca ceritaku jg ya :D n tolong d koreksi
http://www.kemudian.com/node/226476

Writer ubr
ubr at Felgirth - Chain 1 - Traumatic Past (10 years 50 weeks ago)
80

Salam kenal sesama Villamers :))
---
Cielgris? Cielgris Phantasm?
---
Saya suka dua paragraf terakhir. dengan itu suasana lingkungan dan sepotong sejarah mempermanis kisah ini. Kepanjangan? menurutku sih enggak :)tapi memang lebih bagus kalau keluar sedikit demi sedikit.

Huahua, salam Villamers. :D Thx sudah mampir ~

Cielgris Phantasm? Hmm apa itu yah? Kynya pernah denger cm lupa apaan hehe. Game kah?

Yg 2 paragraf terakhir itu versi yg sudah diperpendek dan diperbaikin ^^ Sebelumnya emang rada kepanjangan dan aneh si hehe. Thx komennya bro~

Baca lanjutannya ya ~

100

wagh.. keren.. tp aq rada susah membayangkan situasinya.. haha.. (emangnya lemot sih) yah.. nice work!! lanjut aaah~~~

90

Hmm.. Bro, menurutku dua paragraf terakhir agak terlalu panjang.. :D Takutnya pembaca merasa sedikit bosan.. :)

Hmm setelah dibaca lagi, emang rada kepanjangan yah hehe. Oke2 ntar gw perbaikin 2 paragraf terakhir ini. Thx bro ~

50

great....
kau menuliskan dengan bagus

90

keren......

90

LANJUTIN!!

100

Sebagai sebuah prolog, cerita ini cukup panjang. Sehingga pengenalan pembaca dengan para tokoh menjadi kurang.

Tetapi secara cerita menurut saya imajinasi penulis untuk bercerita dan ikuti oleh pembaca sangat sempurna.

Saking sempurnanya, seolah-olah aku seperti membaca Harry Potter.

50

Kenapa senior-senior semua begitu hebat membuat cerita.
Aku makin terpuruk saja
T~T

90

Wah... Detail ceritanya itu loch, menurutku bener-bener ciamik!..

Writer Elyaza
Elyaza at Felgirth - Chain 1 - Traumatic Past (11 years 22 weeks ago)
90

spechless...nice...