Maaf, Elena Tak Tertolong (versi ion)

Sudah lima belas menit dan pintu itu masih menutup. Lampu yang menerangi tulisan Ruang Bedah di atasnya pun masih menyala merah. Seno hanya bisa menundukkan kepalanya lagi. Membiarkan arah matanya membentur setangkai mawar putih yang ia pegang.

“Aku memang suka dengan bunga mawar. Terutama, yang berwarna putih. Makanya, aku meminta Seno untuk membelikannya. Dan karena Seno sudah membelikannya, aku ucapkan terima kasih.”

Hanya ucapan terima kasih. Namun senyuman yang menyertainya, membuat Seno sadar, bahwa ucapan itu benar-benar tulus. Senyum itu pula yang membuat bayang-bayang Elena tidak bisa lepas dari kepalanya. Gadis itu. Satu jam yang lalu, mereka masih berbincang hangat. Namun sekarang, ia telah berbaring di ranjang dingin ruang bedah.

Seno lagi-lagi mengangkat kepalanya. Lampu itu masih bersinar angkuh.

***

“Maaf, ya? Aku selalu merepotkanmu.” Gadis itu tidak seperti sedang sakit. Wajahnya berseri, bibirnya merona meski tanpa pemerah bibir. Dengan hati-hati, ia menyisipkan satu demi satu tangkai bunga mawar ke dalam sebuah vas mungil. Bunganya yang putih saling berkumpul. Elena merapikannya, lagi-lagi dengan penuh kehati-hatian.

“Hanya untuk membelikanmu mawar, itu bukan masalah. Kecuali, kau memintanya di saat aku kehabisan uang.” Mereka berdua begitu saja tersenyum geli. Terlebih-lebih Elena. Selain menelepon Seno bahwa hari ini ia akan menjalani pembedahan, di akhir telepon ia masih sempat meminta dibelikan mawar putih. Katanya, sebagai teman jika sendiri di kamar rumah sakit.

“Maksudku.... Jika saja aku berhati-hati, aku tidak akan sakit seperti ini.”

“Kau sudah berhati-hati, Elena. Kau sudah menyalakan firewall sebelum terhubung ke terminal. Hanya saja, virus yang menyerangmu tergolong bandel. Buktinya, superkomputer di kantorku juga terinfeksi. Hanya saja, nasibnya tidak seberuntung dirimu. Tiga hari, dan kau masih bisa bertahan. Aku yakin, kau akan cepat sembuh.”

Elena berhenti merangkai bunga. Tangan kanannya ia putar, sehingga tampak sebuah kabel kecil yang tertancap di gelang yang sedang ia pakai. Kabel itu merasuk ke lengan bajunya, dan berhenti ke sebuah kotak kecil yang melekat di pinggang Elena. Alat itu dipasang dokter, untuk memantau kinerja sistem tubuh Elena.

“Kalau dipikir-pikir, masuk akal juga.”

“Masuk akal?” Seno mengernyitkan dahi.

Elena mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan gelang yang tertancap kabel itu.

“Manusia yang diciptakan Tuhan, meskipun tidak dilengkapi USB, masih bisa terserang virus. Apalagi ion sepertiku, yang dilengkapi tidak hanya antarmuka USB.” Mulutnya membulat dan berkata, “Sudah pasti akan lebih parah....”

“Hal itu jangan dibawa pusing, nanti bisa overflow.”

Elena berputar kembali ke bunga mawar yang sudah tertata rapi di dalam vas. Wajahnya hanya tertunduk dan kedua tangannya bertopang di atas meja. Rasa khawatir akhirnya menyergap Seno, ketika gadis itu terus berdiam.

“Kau..., tidak apa-apa, Elena?”

Elena mengangguk kecil. Beberapa tetes air tiba-tiba terlihat jatuh dari kelopak matanya yang menutup.

“Aku... saat ini merasa senang. Aku bahagia karena Seno mau menemaniku. Aku sangat gembira ketika Seno mau menjadi sahabatku. Sebagai ion yang dibuang oleh perusahaan..., aku....”

Seno mendekati Elena yang masih tertunduk. Tetes-tetes air dari matanya terlihat semakin tak terhenti. Bergegas ia menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Isaknya menangis kini terdengar jelas.

“Aku memerlukan orang yang bisa kuanggap teman, bahkan keluarga. Dan Seno sudah memberikan itu. Aku sangat sayang pada Seno. Seandainya ada suatu tempat bagi ion humanir di akhirat, aku sangat ingin menunggumu di sana.”

“Elena, sudahlah. Kau akan sembuh.” Seno menuntun Elena untuk duduk di ranjang. Gadis itu menurut, dengan masih menutupi wajahnya. Tangan kanan itu segera ia singkirkan, ketika guncangan kecil di pundaknya mulai lenyap. Air mata yang masih mengalir, ia usap dengan tangan.

“Aku tahu. Ini adalah saat-saat terakhirku....”

***

“Saat-saat terakhir?” Seno hanya bisa menggeram. Sudah lewat tiga puluh menit, dan pintu itu masih belum terbuka. “Dokter sudah tahu apa yang menyerangmu, dokter juga sudah tahu apa yang harus dilakukan. Kau akan sembuh.”

Ya, setidaknya tim dokter yang menangani kasus Elena sudah mengetahui penyebab pingsannya ion itu ketika mengakses Internet langsung ke terminal. Meskipun, hasil diagnosa baru bisa mereka keluarkan setelah satu hari Elena bermalam di rumah sakit.

***

“Virus Nest yang menjangkiti temanmu adalah varian vion terbaru. Sudah ada tiga puluh lima kasus serupa di berbagai belahan dunia. Dan kesemua kasus itu berakhir dengan kematian.” Seno takkan dapat lupa ketika hasil diagnosa tersebut membuat kelopak matanya membuka lebar. Ia pikir, Elena hanya tersengat listrik, atau memiliki beberapa komponen yang perlu diganti.

“Kami sudah mengumpulkan informasi dari Persatuan Dokter Ion Sedunia. Nest adalah virus dengan masa inkubasi empat jam. Serangan utamanya adalah antarmuka koneksi nirkabel untuk menyebarkan diri. Jika ion yang diserangnya tidak memiliki antarmuka nirkabel, atau memiliki namun jangkauannya rendah, maka serangan kedua akan dilanjutkan. Ion ini akan menyusup ke sistem ingatan dan merusak neuronotrik ion-ion yang diinfeksi. Kurang dari dua jam, ion-ion itu bisa tewas.”

“Bagaimana dengan Elena, Dokter? Padahal sudah satu hari lebih, dan ia masih bisa bertahan. Pasti masih ada peluang untuk sembuh!”

“Satu-satunya alasan mengapa Elena masih belum menampakkan gejala serangan kedua adalah ini....”

Ketua tim dokter itu menyodorkan sebuah map. Seno membukanya.

“Elena memiliki antarmuka koneksi nirkabel. Ini jenis firebridge yang mampu menjangkau wilayah dalam radius dua puluh kilometer. Firebridge yang dimiliki temanmu itu diproteksi oleh tiga simpul sandi. Virus itu mungkin kini sibuk membukanya. Dan jika ketiga simpul itu berhasil dibuka, temanmu akan menjadi zombie dan berbahaya bagi semua alat elektronik dalam jangkauan dua puluh kilometer.”

“Ya, Tuhan....”

“Karena Anda adalah satu-satunya pihak terdekat pasien, kami terpaksa mengatakan ini kepada Anda. Penanganan Elena tidak bisa dilakukan hanya melalui general protocol penanganan vion. Ia harus menjalani surgery procedure. Namun kapan, kami masih belum bisa menentukan. Secepatnya jika bisa, tetapi kami masih harus menunggu perkembangan lebih lanjut. Kami harus benar-benar tahu apa yang dilakukan Nest kepada pasien, selain menguasai antarmuka koneksi nirkabel mereka.”

***

Lampu di atas pintu ruang bedah akhirnya padam. Seno menunggu dengan cemas ketika seorang dokter terlihat keluar.

“Saudara Seno?”

Seno berdiri dan bergegas mendekat.

“Saya Seno,” sahut pemuda itu. “Bagaimana teman saya?”

Dokter itu menepuk pundak Seno beberapa kali, lalu berujar, “Ikut saya.”

Mereka berdua memasuki ruang bedah. Seorang perawat tampak menyibakkan sebuah tirai berwarna biru langit. Beberapa dokter dan perawat lain juga terlihat mengemaskan kabel-kabel. Dua dokter sisanya terlihat duduk bersandar di belakang sebuah meja kendali. Sebanyak sepuluh monitor dua puluh inci tertatak berjejer di atas meja itu. Seorangnya memejamkan mata untuk beberapa detik, lalu berdiri. Ditepuknya pundak dokter yang menemaninya di meja kendali.

“Kita sudah berusaha semampu kita,” ujarnya.

Lampu bedah kini ditarik naik oleh beberapa lengan mesin. Selanjutnya, penerangan berasal dari puluhan lampu neon. Sesosok tubuh yang dikenal oleh Seno terlihat berbaring di atas ranjang, ditutupi kain berwarna biru hingga sebatas leher. Matanya menutup rapat.

“Elena...?”

Mereka berhenti tepat di samping kanan tubuh Elena. Tubuh itu masih terdiam.

“Kami gagal menyelamatkan sistem Elena. Nest berhasil mengurai simpul sandi firebridge dan berduplikasi di sistem komputer bedah. Padahal, kami sudah membasmi semua virus yang berada di tubuh Elena. Hanya saja, Nest ternyata menyerang kembali dan menghancurkan sistemnya dalam beberapa detik. Kami harap..., Elena memiliki restore image untuk mengembalikan sistemnya yang hancur.”

Sedikitpun Seno tak mampu menggeleng. Elena tidak pernah memiliki restore image, bahkan sama sekali tidak dibekali kemampuan untuk me-restore sistemnya.

Namun, Elena masih menyisakan segaris halus senyum di bibirnya, bibir yang hingga kini masih merona meski tanpa pemerah bibir. Wajah itu pun masih berseri berkat formula biosinteks.

“Aku sangat kehilangan....” Akhirnya, hanya itu yang mampu diucapkan oleh Seno. Matanya tiba-tiba menghangat. “Kau juga memiliki jasa tak terlupakan, Elena. Kau adalah sahabatku yang paling setia....”

----------

Keterangan untuk Beberapa Istilah

Istilah dunia nyata:

firewall = program untuk memblokir akses dari jaringan luar.

USB = universal serial bus, jenis koneksi yang mendukung lebih dari 120 perangkat komputer dan telah mampu menggantikan koneksi berjenis paralel maupun serial.

overflow: kelebihan aliran data, umumnya akibat proses yang terus berulang.

diagnosa: pemeriksaan terperinci, hasilnya adalah diagnosis.

inkubasi: masa setelah terinfeksi sebelum timbulnya penyakit.

antarmuka: dalam dunia program komputer berarti tampilan, namun dalam dunia perangkat keras berarti model koneksi yang digunakan, apakah USB, paralel, serial, dll.

nirkabel: jaringan tanpa kabel.

zombie: beberapa mengatakan orang bodoh, atau yang bertindak tanpa berpikir, atau yang lain mengartikan sebagai mayat hidup.

Istilah hanya di cerita ini:

ion humanir: program komputer yang dilengkapi logika kesalahan dan kecerdasan emosi, sehingga memiliki tingkah mendekati manusia. Beberapa hanya memiliki tubuh statis, seperti dipasang di
mainframe. Sementara yang lain memiliki tubuh dinamis
layaknya manusia. Lebih lengkap cari di sini.

firebridge: koneksi nirkabel dengan jangkaun hingga mencapai 20 km.

simpul sandi: sistem kata kunci atau password yang berlapis.

vion: virus ion.

general protocol: protokol umum, atau tatalaksana umum.

surgery procedure: prosedur pembedahan.

restore image: kloning dari sistem yang sewaktu-waktu dapat dikembalikan apabila sistem yag asli mengalami masalah, dengan kata lain cadangan.

neuronotrik: sistem saraf program berinteligensi buatan.

biosinteks: biosintetis lateks atau kulit dan daging buatan yang berasal dari bahan-bahan organik namun disintetiskan.

Read previous post:  
110
points
(788 words) posted by dirgita 11 years 29 weeks ago
73.3333
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | undefined
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Kika
Kika at Maaf, Elena Tak Tertolong (versi ion) (8 years 44 weeks ago)
100

Lebih suka sama versi ini daripada yg satunya btw salam kenal kak dirgita, kika member baru disini mohon bantuannya ^^

Salam kenal jugaaaaa!^^

90

suasananya... perfect banget! sayang chie l0m ga bca versi2 lainnya.
kesannya sedih, tp gak cengeng.
kereeeeen!

Makasiiiiih! Versi yang asli, sih, ga ada hubungannya sama sekali dengan versi yang ini^^

90

Wah, luar biasa, drama yang bagus plus dengan tambahan istilah yang bisa menambah pengetahuan kita jadi nilai plus disini. :)

Catatan kecilnya boleh juga tuh, bolehkah saya mengadopsinya?.. Hehe

Siapa pun boleh mengadopsi catatan kecil itu^^

Writer Alfare
Alfare at Maaf, Elena Tak Tertolong (versi ion) (11 years 7 weeks ago)
90

Wow. Kau mengalami banyak kemajuan.
Aku salut! Menurutku penggambaran emosi di sini cukup bagus. Pas dan tak berlebihan.

Kadang aku bertanya2 buku2 macam apa yang kau baca.

Aduh, Gigit juga bingung^^

Writer lintar
lintar at Maaf, Elena Tak Tertolong (versi ion) (11 years 8 weeks ago)
80

wah tulisannya bagus kayaknya anak IT nih nyoba nulis atau penulis nyoba nulis IT ?

Bisa jadi dua-duanya^^

50

Ceritanya keyen. Aku mau copas supaya bisa jadi referensi buat ceritaku (Everlasting Arms, Red). Soalnya, di situ ada karakter yang mirip elena (Fluks, red).

Nb: browserku ngelag, jadi cuma ngasih 5. Aslinya mau ngasih 11
Pizz, love, n ngawur

Silakaaaaan!^^

90

dari yg elena sebelumnya, elena yg ini keren.
ada beberapa kalimat tidak jelas, seperti : ...Mereka berdua begitu saja tersenyum geli. Terlebih-lebih Elena. Selain menelepon Seno...

ada dua ato tiga kalimat serupa *tidak jelas* keknya belum disisir edit ya?

selebihnya...membuat aku ingin menulis tentang darkqueen :D

--------------------------------

cheers!

Waduh? Hihi, semangaaaaat!^^

100

Keren! Ceritamu seperti biasa mengalir dengan istilah-istilah teknogi infomasi terkini, tetapi tetap ada unsur humaniti yang kental.

Makasiiiiih!^^

Writer ayy
ayy at Maaf, Elena Tak Tertolong (versi ion) (11 years 8 weeks ago)
80

sayangnya aku tak tahu (:d belom baca) versi-veri yang lain. tapi versi ion ashik juga. penuh istilah IT. meski awalnya aku harus menduga-duga makhluk macam apakah si Elena, sepertinya robot, tapi punya rasa. untung ada keterangannya di akhir tulisn. great.

Yups, Elena di sini adalah robot dengan kecerdasan buatan. Versi yang lain sama sekali nggak ada hubungannya dengan versi yang ini^^