DGG 02 : Sejarah Pergigian Gue

Dari kecil gue sering sekali mengharapkan, bahkan memimpikan, kontes gigi sehat menjadi kontes yang paling sering diadakan dan paling populer di dunia ini.

Soalnya, waktu balita dulu gue pernah JUARA GIGI SEHAT.

Nyokap gue sering menceritakan itu pada orang lain dengan penuh kebanggaan, walaupun hanya dalam obrolan iseng-penuh-guyon.

Sebenarnya sih kebanggaan beliau lebih karena keberhasilannya menanamkan doktrin pada gue:
permen itu bikin gigi rusak.

Entah karena itu atau apa, yang jelas sampai sekarang dengan sukses gue engga suka permen.
Tidak sampai benci, sih.
Engga suka aja.
Gue tidak mungkin khusus cari-cari permen kalo lagi bosen atau ngantuk dengerin kuliah.
Gue tidak jadi kepingin permen kalo ada yang lagi makan permen.
Gue biasanya males ngambil permen yang ditawarin temen.
Gue makan permen waktu naik pesawat karena terpaksa, bukan dengan sukarela.
Dan hasilnya, tidak seperti anak-anak lain yang umumnya pernah bergigi bolong gara-gara permen, GIGI GUE ENGGA PERNAH BOLONG.
Bisa dibilang, ini salah satu rekor pribadi yang paling gue banggakan selain gue tidak pernah merokok dan tidak pernah menyentuh narkoba.

Seperti yang gue ceritakan sebelumnya, sekarang gigi bungsu gue sedang tumbuh dan gue sedang merasa sakit.

Rahang gue kecil dan gigi gue besar-besar.
Karena tidak cukup tempat untuk si bungsu yang mau lahir, maka aborsi alias operasi pengguguran si bungsu ini menjadi WAJIB demi menyelamatkan diri gue dari masalah yang lebih parah...tumor gigi, misalnya. Maafkan aku ya nak, harus menggugurkanmu.
Apa daya, kakak-kakakmu bodinya gede-gede semua dan rumah kita kecil. Huhuhhuu.

Ini adalah salah satu MASALAH gigi gue yang TIDAK TERDUGA.
Maksud gue, salah satu hal tak terduga yang menyebabkan gue harus mengunjungi dokter gigi.

Inget ya, SALAH SATU.

Pertama kalinya gue divonis harus bersahabat dengan dokter gigi adalah 8 tahun yang lalu, waktu gue masih berumur 14 tahun, masih lucu-lucunya, baru pake seragam putih abu-abu.

Gue mulai curiga karena tiap kali gosok gigi, ada yang aneh dengan gusi yang terletak di atas gigi seri gue.
Warna merah gusi gue itu agak memudar, seperti MEMUTIH.
Dan, itu gusi MENGGEMBUL.

Pertama kali liat sebenernya gue udah menduga, tapi ada pikiran lain yang bilang, “Ah...engga mungkin, hahhahahaha...”
Dan berikutnya, berbulan-bulan kemudian ketika kecurigaan gue makin kuat, gue menyesali pikiran bodoh itu.
Ternyata gusi GUE POSITIF HAMIL.
Jenis yang dikandung adalah gigi TARING.

Inget tadi gue bilang letak gusi gue itu di mana?
Ya, BETUL.

GIGI TARING PERMANEN GUE akan lahir DI ATAS GIGI SERI GUE.

Entah kenapa selama ini tidak pernah ada pengumuman atau laporan dari keluarga besar drakula bahwa salah satu anggota keluarganya telah hilang.

Waktu itu gue tegang abis.
Identitas gue terbongkar.
Masih adakah kesempatan gue bisa tetep hidup, bersekolah, berteman, berpacaran, dan menikah dengan manusia?

Dokter gigi pun hadir di hadapan gue dengan cahaya yang menerangi sosoknya, seperti sang Buddha (gue bukan penganut agama Buddha sih, tapi gue terinspirasi dari pelem yang sering gue liat di tipi-tipi), memberikan gue kesempatan itu.

Itulah awal persahabatan gue dengan dokter gigi beserta segala peralatan mengerikan yang ada di ruangan prakteknya.

Gue pake kawat gigi, dengan salah satu bijinya ditempelkan pada si gigi taring baru, lalu gigi-gigi lainnya bahu-membahu menyeret dia agar berpindah ke posisi yang seharusnya.

Jangan dikira proses ini sekali jalan loh.
Setahun lamanya gue harus ngapelin dokter gigi gue tiap minggu dan gigi-gigi gue menyapa semua pasukan peralatannya.

Itu juga harusnya lebih dari setahun.
Berhubung gue ikut ortu pindah pulau, gue memutuskan untuk menyudahi saja proses itu.
Tadinya sempet ditransfer ke seorang dokter gigi lain di daerah tempat tinggal gue yang baru, tapi...
O-M-G .
Dokter gigi yang baru itu punya prinsip kerja yang beda dan selalu menyalah-nyalahkan, menjelek-jelekkan pekerjaan dokter gue yang sebelumnya.
Gue engga tau dan engga tertarik untuk cari tau siapa yang bener.
Capek, menderita secara mental, fisik dan keuangan!!
Gue pun PUTUS dengan para dokter gigi itu.

Kawat gigi gue pun dilepas,
gue bebas!

Walau gue masih punya gingsul, setidaknya uda engga merngerikan. Malah banyak yang bilang gue jadi keliatan manis dengan gingsul....aduh gimana ya, jadi malu.

Perkiraan bahwa gue tidak akan lagi berhubungan dengan dokter gigi ternyata salah, terbukti beberapa bulan lalu saat gue harus operasi gigi bungsu.
Dan saat itu gue juga udah tau, tidak lama kemudian akan kembali ke meja operasi itu lagi.

Well, setidaknya tiap operasi itu sekali jalan.
Jadi gue masih punya harapan, engga perlu rutin ngapelin si dokter kayak zaman dulu.
Tidak perlu tegang dan sakit berkali-kali setiap minggunya.

Itu HARAPAN gue.
Yang akhirnya PUPUS kemarin.

Menurut seorang dokter gigi yang memvonis operasi kedua gue, gigi bungsu gue yang kali ini datang dengan ancaman yang sungguh kelewatan.

Mungkin dia tau kali yah, bakal gue gugurin juga.
Jadi sebelum gugur, dia memutuskan untuk meninggalkan oleh-oleh yang takkan terlupakan oleh gue.

Ini gigi muncul dengan posisi yang sangat miring, hampir sembilan puluh derajat dari arah seharusnya.
Dan dia telah menzhalimi kakaknya yang berbaris di depannya, yang telah lahir sejak bertahun-tahun yang lalu dan selalu dalam keadaan sehat walafiat.
Terus mendesak, mendorong, menusuk...

hingga akhirnya, si kakak terluka.

Salah satu gigi gue telah BOLONG.
Bukan karena permen, tapi karena kebrutalan saudaranya.

Gue akan menjalani operasi yang menggugurkan si gigi brutal itu beberapa hari lagi (nak, percayalah, walau brutal, walau harus digugurkan, aku selalu mencintaimu...hiks),
dan setelah itu akan kembali menjalin hubungan akrab dengan seorang dokter gigi untuk perawatan syaraf rutin.

WHAT YOU RESIST PERSISTS,
inilah salah satu buktinya.
Sepertinya gue emang berjodoh dengan yang namanya dokter gigi.

Dan hiks, rekor gue punya gigi engga pernah ada yang bolong pecah sudah.

Read previous post:  
51
points
(65 words) posted by heidy 12 years 28 weeks ago
56.6667
Tags: Cerita | lain - lain | gigi | novelet
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer tgc3
tgc3 at DGG 02 : Sejarah Pergigian Gue (12 years 26 weeks ago)
100

Gue sengaja makan permen sebanyak-banyaknya biar bisa ketemu sama doker gigi gue lagi. Tapi malahan gue nyampenya ke UGD gara-gara sakit perut, pas waktu kelas 4 SD, dan gigi gue masih sehat-walafiat. Hah, seneng baca cerita lo tentang kawat gigi. Jadi inget kenangan masa lalu,...jadi kangen nih pengen dipasang kawat gigi lagi.

Writer renge2024
renge2024 at DGG 02 : Sejarah Pergigian Gue (12 years 27 weeks ago)
80

lo jago mengacak-acak paradigma, deh. SIP nih. SIP. Emang agak datar tapi LANJUTTT!!

KOcaK!

Writer my bro
my bro at DGG 02 : Sejarah Pergigian Gue (12 years 27 weeks ago)
80

lucu juga

Writer miss worm
miss worm at DGG 02 : Sejarah Pergigian Gue (12 years 27 weeks ago)
60

..lebih menggigit, dy. entah karena alurnya atau memang konfliknya.. yang kedua ini terasa datar.. dan efek huruf kapital itu kurang efektif

Writer evikaye
evikaye at DGG 02 : Sejarah Pergigian Gue (12 years 27 weeks ago)
70

"Gigi Gw Ga Pernah Bolong" karena dari yang gw baca premisnya itu. Bukan sejarah pergigian lu. Ini menurut gw looh... Lebih seru yang pertama, ah... Sok atuh keluarin cerita yang lebih seru... Huaahahahhahahah.... :P

Writer KD
KD at DGG 02 : Sejarah Pergigian Gue (12 years 28 weeks ago)
100

senyum sih, tapi cuma dikit.