I Saw You Dancing in Catalonia

I Saw YouDancing in Catalonia
Edo Wallad

Aku tersangkut di kapal ini sejak 27 bulan lalu. Aku memang bukan Popeye, tapi aku bisa dibilang juga pelaut. Kapalku kapal pesiar mewah, namanya Queen Cruise. Dengan fasilitas seperti teater untuk nonton, kasino, diskotik, boling, kolam renang, dan lain-lain. Di sini aku tidak pernah kekurangan makanan atau hiburan. Namun setelah lama di laut, bosan juga aku akan hiburan di kapal ini. Berdansa dengan orang yang sama, bermain boling dengan lawan yang sama, dan berenang di kolam yang sama.

Namanya juga kapal pesiar pekerjaan kapal ini adalah memutari dunia di atas air. Walau membutuhkan waktu yang lama tapi aku bisa terdampar dimana-mana. Kadang ke pantai-pantai Karibia, sampai kadang ke pelabuhan-pelabuhan Mediterania.

Dan aku bertemu dia…

Saat kapalku bersandar di Catalonia…

Tepatnya di kota yang luasnya 31 895 km2 bernama Barcelona dan merupakan bagian dari pesisir Spanyol.

Aku sedang berlibur tiga hari karena kapal merapat cukup lama, hal ini juga dimusababkan oleh recruitment kru kapal yang baru. Dan aku ingat, aku menemukan ia memesonaku ketika aku memutuskan belanja piringan hitam sehari sehabis menonton pertandingan sepak bola piala champion, antara tim tuan rumah Barcelona melawan Chelsea. Aku bukan penggila bola, tapi bosku yang orang Itali itu menghadiahkan ini sebagai hadiah liburan. Dan Itali gila itu memilih datang ke partai lain di Milan untuk menyaksikan pertandingan antara AC Milan melawan Bayern Muenchen.

Tapi aku jelas menggilai dia perempuan yang memesonaku. Diantara barang-barang bekas di pasar loak, dan ketika lagu Femme Fatale dari The Velvet Underground yang sedang kucoba di player busuk itu berkumandang, aku merinding, melihat ia memilih sebuah lampu antik di toko seberang. Ia mengenakan pasmina merah dan gaun hitam. Sepertinya ia adalah orang Gipsy, atau apa aku tak peduli. Yang jelas ia adalah mahluk terindah yang pernah aku temui. Dan ia kini mencuri perhatian dan pemandanganku.

*****

“Ambil metro Paral.lel, jalur 3…Nama restorannya Ca L'Isidre.”

“Okay senorita.”

Akhirnya aku bisa mendapatkan nomor perempuan itu. Dengan trik menanyakan waktu yang sudah sangat usang itu. Namanya Adriana dan biasa dipanggil Ana, gadis keturunan Turki, dan Spanyol tentunya. Dan ia memilih sebuah restoran Catalan dengan inspirasi sentuhan Perancis sebagai tempat kencan kami malam itu. Makan malam ditemani lilin, sesuatu yang tak bisa kulakukan di Queen Cruise. Ca l'Isidre adalah restoran favorit King Juan Carlos di Barcelona. Aku langsung bisa beradaptasi dengan restoran ini. Sebuah restoran yang sangat akrab. Mungkin karena ukuran meja yang tidak besar, hingga aku bisa melihat tahi lalat manis yang menempel di atas bibir Adriana. Atau karena dindingnya menempelkan banyak pigura seperti di rumahku. Memilih satu saja menu saja di restoran ini adalah mustahil, kata Ana.

“Kau harus mencoba grilled baby octopuss, baked seabass, grilled 'king - sea cucumber', fried codfish 'home style', grilled scampi dari Sant Carles, grilled turbot dengan sayuran... dan banyak lagi.”

Ia menyebutkan makanan-makanan itu. Dan aku bukan hanya menjadi berselera mendengar menu yang ia sebutkan. Aku lebih berselera lagi membayangkan bibir ranumnya menyebutkan menu itu.

“Kita harus beberapa kali mampir kesana untuk mencicipi semua itu, atau kantongmu akan jebol. Kecuali kau teman Raja. Hahaha… dekorasinya tidak buruk, begitu juga anggurnya.”

*****

Aku menemukannya lagi dan menanyakan nomornya kala ia menari flamingo, bersama udara hangat yang mengajak siapapun seindah dirinya ingin meliuk berdansa, di lorong kota Barcelona yang sendu saat senja. Dengan cahaya emas yang merangsek masuk ke lorong. Sekali lagi aku terpesona.

Aku tak mampu lagi menahan rasa yang membuncah di sanubariku. Aku melepaskan jamku, menaruhnya di saku celana lalu menghampirinya.

“Jam berapa senorita?”

Dasar Melayu pikirku mencela diri sendiri.

*****

Malam itu, setelah menelan bayi gurita yang pastinya tak bersalah dan terdampar di restoran Ca l'Isidre, ia terbaring di sampingku. Di peraduan itu.

*****

Ibiza seperti Bali untuk Indonesia. Sudah tiga tahun lalu semenjak aku terakhir kali menginjakan kaki di Spanyol. Aku ingat waktu itu di Catalonia aku bertemu seorang wanita terindah yang menjadi pencuri hatiku. Aku ingat juga ketika ia berdansa flamingo bersama hangatnya senja yang merangsek di lorong jalan Barcelona.

Ada sedikit harapan menyempil di hati untuk bertemu dia. Walau ini Ibiza dan dia di Barcelona. Kini aku bekerja di kantor pemasaran kapalku dulu. Aku bertugas sebagai surveyor tempat liburan yang cocok dijadikan tempat tujuan kapal kami.

Bosku memang sangat sayang padaku. Dialah yang mereferensikan aku untuk bekerja di departemen pemasaran. Dan untuk seorang mantan pelaut, ini adalah pekerjaan idaman, tetap berkeliling dunia dan mengembara. Aku memang tak pernah bisa menetap. Seperti hatiku yang tak mau diam. Dan tentu saja gaji yang cukup besar untuk mengirimkannya ke ibuku di tanah air dan membelikan keluargaku segala kebutuhan mereka.

Aku akhirnya menghabiskan malam di sebuah klab house. Sudah terlalu jauh aku bertualang dengan ecstasy yang kubeli dari orang Belanda tadi. Semua menjadi indah. Aku berubah menjadi dewa cinta yang memesona orang di sekitarku. Semua cantik dan tampan.

Dan aku bertemu Adriana.

Dia begitu indah berdisko dengan teman-teman perempuannya. Seperti saat ia berdansa flamingo bersama hangatnya senja yang merangsek di lorong jalan Barcelona.

“So, how much did you take?”

Dia bertanya. Aku hanya bisa tersenyum. Kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.

*****

Ketika aku terbangun aku berada di kamar hotel asing, dan Adriana di sampingku. Dia terlihat sangat cantik. Tertidur pulas di ranjang ini. Aku menyentuh bibirnya, sebenarnya aku ingin sekali mengecupnya. Tapi aku bukan laki-laki seperti itu. Laki-laki seperti apa aku? Kalau ditanya seperti ini, aku sendiripun tak tahu jawabnya. Nyatanya aku hanya berani menyentuh bibirnya dengan jemariku.

Adriana terbangun ,wajahnya yang sangat segar begitu menggoda untuk dicumbu. Dia tersenyum lalu merogoh tas kecilnya.

“I want to take it with you!”

Ternyata ia mengeluarkan sebutir pil mdma lagi untuk dipakai kami berdua. Aku sedikit terkejut, tapi aku tidak menolak permintaannya.

Di kupingku hadir lirik itu tanpa diundang.

“Take ecstasy with me…”

Lagu yang dipopulerkan oleh band dengan nama yang cukup aneh, !!! (dibaca: chk chk chk). Dan ia menjulurkan ½ pil itu bersama lidahnya yang kini dengan lincahnya menelusuri mulutku. Tak kusadari kami sudah berciuman lagi, sama dahsyatnya dengan seks pertama kami. Dan pengaruh pil itu…

Bercumbu dengannya mempercepat efek dari pil mdma itu. Dan aku kini sudah seperti melebihi kegagahan Raja Spanyol. Dan ia secantik malaikat yang beterbangan di firdaus.

“Aku harus menangkapnya!”

Adriana kembali menari dan berputar. Seperti darwis menari dan berputar, diiringi sajak Rumi yang selalu memukau. Dan kami terbang melintasi laut hitam, laut kaspia, dan mediterania. Lalu kami mampir sebentar ke langit ke tujuh. Sampai akhirnya kami tersadar, bahwa kami sekarang sedang berada di sebuah hotel di Ibiza.

“I love you, Ana.”

“I love you too, Juan…”

Kami kembali mampir di langit ke tujuh, lalu sedikit mencicipi anggur di surga. Lalu kembali pulang ke hotel di Ibiza itu.

*****

Adriana kelihatan begitu pucat. Seperti susu yang biasa dia minum sejak dia berdomisili rumah sakit ini. Bibirnya tak lagi seranum apel yang dimakan Snow White.

Tiga hari yang lalu dia masih sering mengerang, tapi sekarang bernafas saja sudah susah. Adriana mengidap kanker akut, yang bersarang dirahimnya dan kini sudah menyebar sampai ke hati. Itu membuatku langsung berpikir, kalau kanker saja dapat hidup berkembang dan beradaptasi begitu cepat, apalagi aku yang sudah tiga bulan ini menetap di Catalonia dan meninggalkan pekerjaanku. Aku sudah seperti Catalonian. Dan aku sudah menikahi Adriana dua bulan yang lalu. Langsung begitu kita mengetahui dia mengidap kanker.

Aku tidak menyesal meninggalkan pekerjaanku demi Adriana. Yang kini sudah menghilang. Secara harfiah di telan bumi. Bahkan aku rela meninggalkan seluruh hidupku demi dia. Kini aku tetap tinggal di Barcelona. Sekedar untuk merasakan kehadirannya dulu. Kala ia berdansa flamingo bersama hangatnya senja sendu keemasan yang merangsek di lorong jalan Barcelona.

//i love you Ana

i love you Ana
kukatakan ini padamu
sekali lagi

atas nama malam
yang datang bersama gelap
aku bersumpah
aku semakin mencintaimu
setiap satu hari berganti
namun kini
aku sudah merasa seperti hari lusa

i love you Ana
kukatakan ini padamu
sekali lagi

aku akan selalu hadir bersama waktu
yang kau jalani bersama hidupmu
karena hidupmu telah menjadi bagian dari hidupku
dan aku akan melakukan apapun yang diperlukan
untuk tetap bisa bersamamu

i love you Ana
kukatakan ini padamu
sekali lagi//

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Lignify
Lignify at I Saw You Dancing in Catalonia (9 years 48 weeks ago)
100

Asik banget bacanya.

Writer santorini.girl
santorini.girl at I Saw You Dancing in Catalonia (10 years 12 weeks ago)
90

kereenn banget~~

Writer miss worm
miss worm at I Saw You Dancing in Catalonia (12 years 6 weeks ago)
80

..teramat suka gayamu, do.. setuju dengan komen winna di bawah ^^

100

wawwawawaw bagusbagus

Writer mwpugln
mwpugln at I Saw You Dancing in Catalonia (12 years 11 weeks ago)
100

bagus

Writer redshox
redshox at I Saw You Dancing in Catalonia (12 years 12 weeks ago)
100

seperti petikan otobiografi...

Writer windymarcello
windymarcello at I Saw You Dancing in Catalonia (12 years 12 weeks ago)
90

aku sukaaa...sama cerita ini. ga meledak-ledak tapi menancap kuat di kati..

Writer FrenZy
FrenZy at I Saw You Dancing in Catalonia (12 years 34 weeks ago)
70

Bagus, memberikan pengetahuan, judulnya aja menarik, ceritanya juga menyenangkan dan membawa kita ke perasaan senang kayak bs merasakan mereka jatuh cinta.. but even though in the end she died, I think this story's flow is a little slow dan agak datar.. however, I really like the way you write it. BTW puisinya bgs.

Writer sakauta
sakauta at I Saw You Dancing in Catalonia (12 years 38 weeks ago)
60

cara bertuturnya asyik, meski kadang2 jadi kedodoran karena keenakan bercerita. oia, konfliknya kurang kuat. kesannya jadi lurus-lurus aja serupa jalan tol.

Writer Valen
Valen at I Saw You Dancing in Catalonia (12 years 39 weeks ago)
80

Gaya bahasanya bagus, luwes, dan cara penggambaran emosi cukup menyentuh. Sebenarnya ceritanya sederhana, tapi penulisnya piawai menggambarkan situasi dan perasaan, jadinya ya enak dibaca. Aku berharap ceritanya lebih banyak konfliknya. Jadi bisa lebih seru. Tapi serius, pengen belajar gimana bisa membuat deskripsi sebagus penulisnya...

Writer ratihsugarzels
ratihsugarzels at I Saw You Dancing in Catalonia (12 years 39 weeks ago)
70

baca ini kaya baca buku tour ajah. kayaknya kamu tau banget gitu. tapi bahasanya juga jadi kayak bahasa buku tour. ga kayak bahasa sastra.
kadang2 orang emang terpaku sama referensi sampai lupa dengan pengolahan kembali.
tapi dilain sisi, penggambaran adegan per adegan keren. ada sisi yang nyangkut tapi ada juga yang lepas gitu aja.
meski jalan ceritanya damn predictable, tapi kesederhanaan kata dalam menggambarkan perasaannya oke juga. khas laki-laki.
mungkin karena aku perempuan, setiap kali nulis tentang laki2 jadi kebawa sama suasana perempuannya. akibatnya karakternya jadi terlalu dalam dan dramatis.

Writer F_Griffin
F_Griffin at I Saw You Dancing in Catalonia (12 years 39 weeks ago)
80

What can I say...
Plot cerita biasa
narasi bagus
susunan paragraf terbaca

Tapi kenapa saya kok nggak terkesan ya? But I just can't put a finger on it. hmmh...

Writer aisha shiifa
aisha shiifa at I Saw You Dancing in Catalonia (12 years 39 weeks ago)
100

Edo..mengapa engkau gemar sekali menulis cerita tentang kematian? endingnya selalu sedih..
Tapi bagusnya ceritanya nggak mudah ditebak.
Bikin dong cerita yang happy ending.Oke !!!