The Night I Saved A DJ's Life

The Night I Saved a DJ’s Life

Teks. Edo Wallad

Aku selalu menuang bir dengan gelas lurus vertikal tanpa memiringkannya seperti yang kebanyakan orang lakukan. Ya, aku tahu itu menyebabkan busa berlimpah keluar gelas. Dan aku akan langsung menyeruput busa itu hingga kandas.

Aku sangat menyukai busa pada bir. Seperti aku menyukai dia, pemandu cakram favoritku.

“Emang enak ya busa bir?”
“He eh…”
“Apa rasanya?”
“Gak ada…”
“Terus apa enaknya?”
“I don’t know, I just like it, that’s it…”

Malam itu, tidak seperti biasanya, dimana aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan di DJ booth dari kejauhan, kini ia ada di sampingku. Bahkan aku bisa mencium wangi Fahrenheit dari tubuhnya. Parfum yang sama beraroma di tubuh ayahku. Aku ingin memeluknya erat. Ingin memberinya kehangatan, atau apa sajalah yang ia butuhkan.

Biasanya kalau ia di belakang deck meja putar, dengan headphone menyangkut di leher, selalu ada perempuan berkulit putih mungil menemaninya. Semua pengunjung regular klab ini tahu kalau itu adalah kekasihnya. Seorang gadis kuliahan yang mati-matian dia cintai. Gadis itu memang sangat lucu, tanpa mengenalnya pun aku bisa merasakan aura menyenangkan keluar dari tubuh kecilnya. Sangat menggemaskan! Mereka adalah pasangan yang paling aku kagumi sepanjang aku memperhatikan orang-orang di sini.

Tapi aku tidak peduli hal-hal itu lagi. Dia, sang pemandu cakram favoritku sedang duduk di sebelahku. Aku ingin menikmati momen ini. Mungkin hanya sekali ini kesempatanku bisa memandangi matanya yang dalam dan batang hidungnya yang mempunyai undakan serta bergaris kuat.

Aku merasakan sesuatu yang salah pada dirinya. Mungkin dia terlalu mabuk. Entah dengan apa. Yang jelas dia seperti sudah tidak berdaya lagi. Bisa jadi sudah terlalu tinggi. Lalu aku menanyakannya.

“What did you take?”
“Just everything…”
“Really?”
“Yeah, you name it…”
“Kamu selalu begini?”

Dia terdiam.

Aku kira tidak. Dia biasanya sangat ceria. Tidak pernah terlalu ‘tinggi’ begini. Hingga malah tenggelam ke palung kesepian. Dan tiba-tiba aku menjadi sangat sedih. Duka dan kegalauannya seperti menular padaku begitu saja. Bertambah ingin aku menolongnya. Aku seperti ingin mengangkatnya dari lubang gelap yang menjebaknya ke dalam galau.

Matanya memandangku. Seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun sungguh ia sudah tidak berdaya lagi. Sepertinya sesuatu telah mencabut semangat dari jiwanya dan menyembunyikan semangat itu di sela langit hitam tak berbintang. Dan sejak pertanyaan terakhirku tadi, kami hanya terdiam menikmati musik. Walau aku tidak tahu pasti dia menikmatinya atau tidak, yang jelas tidak ada sepatah kata pun mengalir dari bibir kami.

Tiba-tiba ia menggenggam erat tanganku. Sangat erat. Dan ada beberapa kali ia mengeratkan genggamannya dengan seluruh tubuh yang seperti mengejang. Dan itu sedikit menyakitiku. Aku membiarkannya. Aku menikmatinya.

Tak terasa musik tak lagi mengalun. Klab itu sudah kosong. Hening adalah orang ketiga di antara kami. Para cleaning service sudah merapikan tempat, dan aku sudah meminta ijin mereka untuk menunggu dia, sang pemandu cakram favoritku, tersadar. Tapi tampaknya dia tak akan tersadar, dia sudah sangat terlalu tinggi. Nafasnya terdengar berat. Ia masih menggenggam tanganku.

“Hei, klab ini sudah tutup, kamu pulang kemana?”

Dia hanya menatapku dengan matanya yang sayu.

“Oke…aku akan mengantarmu pulang.”

Lalu aku membantunya berdiri, dan mulai berjalan keluar. Kepalanya sempat terantuk papan reklame di lorong gelap klab yang lampunya sudah mati. Beberapa kali. Akupun sudah tidak terlalu mempunyai keseimbangan. Dan walaupun dia agak kurus, dia tetap lebih besar dariku.

Tujuanku adalah mobilku. Aku akan mengantarnya pulang. Tidak peduli ia membawa kendaraan atau tidak. Biar saja mobilnya di parkiran, dan dia ambil besok.

Kuletakkan dan kusandarkan ia di jok depan mobilku, kupasangkan seatbelt, dan membukan satu kancing kemejanya. Lalu mobilpun mulai melaju.

Di satu persimpangan jalan, aku harus munentukan pilihan arah kemana harus berbelok.

“Rumah kamu di mana?”
“Aku tidak ingin pulang dan menemukan diriku sendiri di rumah. Aku ingin mati saja.”

Ah…akhirnya terdengar juga suara itu.

“Seberat itukah persoalannya?”
“Aku benar-benar tidak mampu meneruskan perjalan hidup ini tanpa dia.”

Dia hanya mengulangi kalimatnya. Setelah itu dia kembali terdiam. Nafasnya kembali terdengar berat. Tanpa berkata apapun, aku mengarahkan mobil pulang ke rumahku. Aku harus menyelamatkan dia. Entah bagaimana.

Kubaringkan dia di tempat tidurku. Mau di mana lagi? Di apartemen tipe studio yang kecil ini aku hanya punya satu tempat tidur dan satu meja kerja dengan bangkunya. Tanpa sofa yang bisa menampung tubuhnya. Kuambilkan segelas susu untuknya. Lalu memaksa ia bangun untuk meneguknya. Ia menurutiku dan berhasil menghabiskan susu tanpa lemakku. Lalu kubalikkan badan ketika ia tba-tiba tangannya menarik tanganku. Tenaganya cukup kuat untuk menghempaskan tubuhku di atas tubuhnya. Kekagetanku hanya berlaku sekejap ketika tiba-tiba ia mendaratkan kecupan di bibirku. Dan dari detik itu bibir kami melekat tanpa mampu lepas lagi.

Dan semuanya terjadi begitu saja.

*****

Aku dan dia terbangun ketika dering telepon selulernya berbunyi. Dia langsung beranjak menjauhi tempat tidur.

Aku sempat mencuri dengar.

“We can work it out honey!”

Aku hanya tersenyum. Aku tak peduli.

Lalu pembicaraan itu berakhir. Ia kembali mendekati tempat tidur dan menyadari ia sudah setengah telanjang.

“Hmm, maaf apakah aku dan kamu…”
“Tidak! Tenang saja, aku hanya punya satu peraduan. Jadi terima sajalah, kalau kita harus berbagi. Sudah menumpang jangan bawel ya.”

Kata-kata itu mengalir begitu saja. Dan ada setangkup blues dalam kalimat yang berkedok canda itu.

Dan siang itu setelah mengucapkan terima kasih, ia pergi. Aku hanya bisa menyaksikan punggungnya berlalu menjauhiku.

Aku berlari mengejarnya.

“Tunggu!”

Ia menghentikan langkahnya.

“Aku hanya ingin tahu nama aslimu…”

Lalu ia menyebutkan nama itu. Nama yang selalu kuingat. Karena bukan tidak mungkin setelah itu aku tidak akan pernah menemuinya lagi. Aku mengukir di kepalaku. Kukemas menjadi bingkisan kenangan terindah yang pernah kualami.

*****

Tahukah kau?
Jejak kaki yang kau pijakkan di lapangan hatiku
Begitu dalam membenam

Tahukah kau?
Dalam semalam kau ciptakan semesta baru
Di mana cintaku bersemayam

Kau tidak pernah tahu
Karena ini rahasiaku

Aku terlalu mencintai kamu
Hingga aku tidak ingin membagi cinta itu denganmu

*****

Obat bius itu berhenti bekerja, dan aku tersadar. Aku berada di sebuah ruang rumah sakit. Di pergelangan tanganku masih tertancap jarum infus yang cairannya turun secara perlahan memasuki tubuhku. Pandanganku yang tadinya berpendar mulai kembali terang. Semua mulai menjelas.

Tak terasa tetesan air hangat mengalir dari kedua mataku. Entah ini tangis sedih atau bahagia. Ingatanku yang bagaikan kilat-kilat cahaya, secara sporadis memenuhi benakku.

Aliran air mataku makin deras. Walau tidak membuatku terisak.

Seorang suster datang dengan membawa mahluk mungil di gendongannya. Lalu ia menyerahkannya padaku. Matanya dalam dan batang hidungnya mempunyai undakan serta bergaris kuat. Anakku!

“Maaf bu, kemarin kami tidak sempat menanyakan. Untuk keperluan administrasi, kami perlu nama ayah dari anak ibu.”

Nama itu kembali mencuat ke permukaan hidupku. Sekian lama aku menyimpan semua ini untuk diriku.

Aku mulai terisak.

“Namanya…”

Oh… aku hanya ingin menyelamatkan hidupnya malam itu…

* Cerpen ini sudah pernah terbit di majalah soap bulan Oktober 2004 dengan nama penulis Nirahai.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vinegar
vinegar at The Night I Saved A DJ's Life (4 years 23 weeks ago)
100

Jalan-jalan ke masa lalu dan nemu ini berasa pengen ngumpat; nyumpah dan nyerapah. Semoga kapan2 penulisnya bangkit dari moksa dan menghantui malam-malam saya :3. Hail to mister writer..

Writer hephaistion
hephaistion at The Night I Saved A DJ's Life (11 years 48 weeks ago)
90

sama dgn valen, gw pikir ini boys love, sampai munculnya bayi di ending. but this is a very gud piece of writing.

Writer v1vald1
v1vald1 at The Night I Saved A DJ's Life (12 years 31 weeks ago)
90

Mantap. Meski "aura" cerita ini tidak aku suka. Tapi segala2nya yang membingkai kisah Edowalad di sini: MANTAP.

Writer splinters
splinters at The Night I Saved A DJ's Life (12 years 32 weeks ago)
90

pernah baca 'Last Night A DJ Saved My Life', ya? ;p hehehehe atau ada sedikit percikan inspirasi dari sana? :) tentang cerita ini? lovely. just lovely. kenapa saya kasih nilai 9? karena saya merasa masih ada yang kurang ... mungkin karena ceritanya harus berakhir secepat ini di kala saya sedang asyik menikmati. Atau karena cerita ini lagi-lagi berakhir dengan seorang bayi. Somehow saya merasa akhir-akhir ini terlalu sering membaca cerita yang berakhir dengan lahirnya bayi hasil selingkuhan hehehehe, punten banget ;p

Writer edowallad
edowallad at The Night I Saved A DJ's Life (12 years 34 weeks ago)

dang ding dong

Writer Valen
Valen at The Night I Saved A DJ's Life (12 years 38 weeks ago)
80

Edo,cerpen ini enak dibaca dan 'touching'. Cuma,kenapa ya awalnya aku pikir tokoh aku itu cowok? he he...gara2 busa bir kali ya dan adegan "aku" mengantar cowok itu pulang?

Writer ratihsugarzels
ratihsugarzels at The Night I Saved A DJ's Life (12 years 39 weeks ago)
100

sure this one is pretty. beautiful.
semuanya, porsi karakter, jalan cerita, pilihan kata semuanya proporsional.ga ada yang berlebihan atau kurang. pas.
u just write it like a coffee, bro. excellent. i luv it.

Writer F_Griffin
F_Griffin at The Night I Saved A DJ's Life (12 years 39 weeks ago)
100

This is my first TEN.
MY FIRST I ever gave to anyone here in Kemudiandotcom.
THIS IS A REALLY GOOD PIECE OF WORK!!!
'nuff said