Tiara

Assalamualaikum,
Namaku Alvian Wilianto, aku adalah seorang lelaki yang sampai saat ini belum ada pikiran untuk jatuh cinta lagi. Rasa sakit dan trauma belum juga pulih, saat ini umurku sudah memasuki 30 tahun, dan kejadian 14 tahun yang lalu belum juga mau sirna dari pikiranku. Semua terasa begitu menyakitkan dikala aku berusaha untuk mengingatnya kembali.

$$$

Kejadian itu berawal ketika aku mendapat hukuman dari seorang guru yang tak pernah aku sukai meta pelajarannya.
“Sekarang kamu harus membersihkan buku-buku diperpustakaan sampai bersih”
“Hah, perpus Pak ?”
“Iya, kenapa ? Kamu mau main tawar menawar lagi sama Bapak ?” tanya seorang guru yang badannya tak begitu besar, namanya Pak Teddy. Ia memang bukan guru killer, tapi dia termasuk golongan guru yang kejam dan tak berprikemanusiaan (padahal tergantung muridnya juga lho !!!). “Kan ini juga kesalahan kamu sendiri, disuruh ngerjain tugas malah bercanda, kamu itu sudah besar, mau jadi apa kamu klo begini terus ? Pokonya saat istirahat harus sudah dikerjakan !” Pak Teddy terus menasehati aku yang tetap saja berdiri mematung. Setelah puas Pak Teddy memberi ceramahnya kepadaku, beliau segera melenggang pergi meninggalkanku karena jam pelajaran sudah usai.
Teeett.....teeett....teeett....
Dentang bel berbunyi, tanda jam istirahat harus segera dilaksanakan. Semua murid yang sudah merasa terpanggil dengan keharuman makanan yang sudah tersaji di kantin semakin membuat perut berteria-teriak untuk segera diisi. Tapi berbeda jauh dengan aku, meski cacing-cacing perutku sudah pada tawuran juga aku harus tetap menjalankan hukuman membersihkan buku-buku perpustakaan.
“Hukuman yang menyakitkan !” aku bergumam dalam hati
“Salah lo sendiri lah, disuruh ngerjain tugas nggak mau, dibilangin ngebantah lagi. Siapa sih guru yang ga naik pitam klo digituin ?” temanku yang bernama Arya mentertawakanku, seakan dia tidak merasakan betapa sakitnya dikerumuni orang-orang dalam keheningan yang luar biasa tanpa ada teman mengobrol.
“Mendingan gw disuruh ngepel sekolah satu lantai deh”
“Udah sana, ngeluh mulu lo.” ucapnya sambil pergi menuju kantin.
“Kruururrkkk” ah, suara perutku yang sudah tidak sabar ingin segera menyantap nikmatnya bakmi bang Amat dan sejuknya es teh manis mak Onah. Semua tidak akan bisa terkabul bila aku tetap saja menunda hukuman dari Pak Teddy. Dengan langkah gontai aku memasuki ruangan yang cukup terang, ramai juga, tapi hening... aku melangkah masuk dan mengutarakan keinginanku untuk membantu membereskan ruangan perpus.
“Yaudah, kamu bersihinnya mulai dari belakang aja ya, soalnya didepan kan sudah ramai” ucap salah satu pengurus perpus, namanya Ibu Ida.
“Iya bu” aku langsung masuk ke bagian belakang lemari perpus, disana tertumpuk ratusan buku yang sepertinya sudah jarang dibaca, dan aku memulainya dari sini. Bersih, bersih,,,...
“Bu, ini ada sumbangan dari alumni yang baru aja lulus kemarin, dan bukunya baru sampai. Mau ditaruh dimana bu ?” terdengar dari dalam suara perempuan, tapi aku tidak memperdulikannya.
“Letakkan saja dibelakang, lagipula disana ada murid yang sedang dihukum sama Pek Teddy, jadi sekalian aja suruh dia yang beresin, kamu ngawasin aja”
“Iya bu” kudengar suara derap langkah kaki menuju ke sini,
Aku pasti akan sangat malu dilihat perempuan, tapi perempuan mana yang tak aka kenal ? Baru saja kutengok kepalaku untuk melihat siapa yang berjalan, orang itu sudah berdiri saja didepan mataku. Sesosok bidadari yang cantik, manis, dan senyumnya ramah. Kulihat dia kebingungan karena aku menatapnya seperti ini.
“Maaf, ada apa ya ?” suara indah itu mengudara dipikiranku, saat-saat seperti ini terakhir kurasakan saat aku mulai menyukai Ria, teman SMP ku. Bahuku ditepuk si bidadari cantik, segera kubuyarkan segala lamunanku tentang dirinya.
“Eh, maaf. Kenapa ya ?”
“Lho kok balik nanya, tadi kan saya nanya sama kamu, kenapa mandang saya kaya begitu ?” tatapannya masih tak lepas dariku dibarengin dengan senyuman yang menawan
“Nggak, cuma kaget aja ada orang yang kesini”
“Oooo, kirain kenapa. Oh iya, saya mau ngeberesin buku-buku ini, kamu bisa bantuin”
“Bantuin lo ? Kan gw cuma disuruh bersihin perpus, ga ada tuh Pak Teddy bilang suruh bantuin lo beresin buku banyak kaya gini, males banget sih” aku tau perkataanku mungkin menyinggung dia, tapi aku tidak perduli. Saat ini yang penting adalah aku menyelesaikan semuanya dan ke kantin karena aku sudah sangat lapar.
“Oh, yaudah ga apa-apa. Bukunya biarin disini aja, terus kamu selesaiin hukuman kamu, saya tunggu diluar ya kalau kamu sudah selesai.” dia langsung pergi meninggalkan jejak-jejak senyum yang ia berikan padaku tanpa ada perasaan tersinggung sedikitpun.
Dan aku melanjutkan hukumanku, kali ini perutku sudah benar-benar tak bisa ditahan lagi. Setelah semua selesai, kulihat buku yang tadi dibawa gadis tadi mesih tergeletak tak bergerak dan tak berubah sedikitpun.
“Banyak juga bukunya” pikirku. Rasa ketidak tegaan ku kembali muncul, karena aku kasihan, secara diam-diam aku membereskan buku itu, dan semua selesai. “Bersih juga” bangga juga ya klo tiap hari liat perpus kaya gini. Aku melenggang pergi meninggalkan jurang kesengsaraan itu meski membawa nikmat. Kulihat gadis itu menengok kearahku...
“Sudah selesai ?” tanyanya
“Iya, gw duluan ya !” jalanku setapak perlahan, kulihat dia berdiri dari bangkunya dan menuju ke lemari belakang. Tanpa kusia-siakan waktu, aku berjalan ke meja besar Ibu Ida si pengurus perpus. “Bu, yang tadi siapa ?” tanyaku yang sok cuek
“Lho, kenapa Vian ? Kamu naksir ?”
“Siapa juga yang naksir” tanpa butuh jawaban aku langsung melengos pergi. Aku tahu kalau Bu Ida sedang terkekeh memperhatikan wajahku yang memerah.

$$$

Bel pulang berbunyi, tanpa dikomando lagi semua anak-anak satu sekolah berhamburan keluar untuk segera pulang dan beristirahat. Aku yang masih penasaran dengan gadis tadi hanya bisa menatapnya dari jauh, dan satu-satunya orang yang tahu gadis itu adalah Ibu Ida. Kutunggu Ibu Ida digerbang sekolah, 1 jam, 2 jam...
“Lama juga nih” aku mulai merasa bosan, tapi saat aku mulai beranjak dari kursi taman di sekolah, kulihat Ibu Ida berjalan keluar. Aku tersenyum melihatnya, dan kuhela nafas ku yang selama 2 jam ini tertahankan.
“Alvian, kamu belum pulang ?”
“Belum bu, Ibu sendiri kok baru pulang sih ?”
“Kan hari ini ada tambahan buku, tau gitu kenapa kamu tadi ga ke perpus aja bantuin ibu”
“Emangnya cewek yang tadi ga bantuin Ibu ?”
“Dia mah bantuin Ibu pas istirahat aja, tapi besok dia juga ikutan ngecek lagi kok. Ngomong-ngomong kamu nungguin siapa, kok jam segini belum pulang ?”
“Saya nungguin Ibu !”
“Ibu ?” kami mulai berja;an keluar sekolah dan meninggalkan semuanya
“Iya...” sepertinya Ibu tahu apa yang saya maksud untuk menungguinya
“Mau nanyain Tiara lagi ?”
“Tiara ?”
“Iya, cewek yang mau kamu tanyain namanya kan ? Cewek yang tadi kamu bantuin beresin buku-buku dari alumni ? Dia berterima kasih banget tuh sama kamu, tapi dia ga tau kamu kelas berapa, taunya nama kamu cuma Alvian”
“Masa sih bu, kenapa tadi ibu ga ngomong ? Tau gitu kan tadi saya nungguin dulu di perpus”
“Ah, dasar laki-laki, bisanya cari perhatian doank, emangnya kamu kelas berapa Yan ?”'
“3 IPS 1 bu”
“Padahal kelasnya deket banget sama kamu, emangnya kamu bener-bener belum kenal dia ?”
“Ya ampun bu, ketemu aja baru tadi” ribuan pertanyaan aku layangkan untuk Ibu Ida dan betapa bahagianya karena beliau bersedia menjawab semua pertanyaanku tentang gadis yang sudah kudapatkan namanya, yaitu Tiara.
Dalam perjalanan pulang bahkan sampai dirumah pun tak kuhentikan rasa kagumku pada Tiara. Bayangan-bayangan tentang dirirnya selalu menghantui ku, apakan ini jatuh cinta ? Semua orang rumahku bertanya padaku tentang keadaanku yang berbeda ini.

$$$

Hari ini banyak harapan yang aku panjatkan kepada sang Khalik, termasuk dapat bertemu lagi dengan Tiara. Kulangkahkan kakiku ke kelas idamanku, kelas dimana aku mencari ilmu. Kulihat Arya sudah terlebih dahulu duduk manis dimejanya, kuhampirilah dia.
“Ya, kenal sama Tiara ga yang suka nongkrong di perpus ?”
“Tiara ?” ku anggukan kepalaku dengan cepat, “Siapa sih yang ga kenal sama Tiara, semua cowok-cowok disini juga pada kenal kali sama dia”
“Masa sih, kok gw baru ngeliat dia ya ?”
“Lo sih, ga gaul. Klo ga di kantin ya dikelas doank, padahal kemarin dia itu banyak menangin juara sastra, makanya klo lagi upacara jangan keluyuran donk” wah, ternyata Arya lebih banyak tahu tentang Tiara, telat donk gw, “Napa Lo Yan, lo ikutan naksir dia ?”
“Naksir ? Ih, plis deh...”
“Alah, ngomong aja, gw itu temen lo dari kecil dan gw tau sifat lo klo lagi naksir cewe. Makanya jadi orang jangan cuek-cuek banget kek sama cewek, gaulnya sama PS terus sih.”
“Ah, berisik loh...” aku langsung duduk dikursiku dan memulai perenunganku.
Memang, sejak SMP aku udah ga mau lagi naksir cewek, abisan cuma bikin sakit hati doank. Tampangku pun cakep sih, banyak juga cewek yang naksir, tapi males aja. Sampai aku ketemu Tiara, si gadis manis dari perpus. Kumulai pendekatanku padanya, dari mulai kirim salam sampai sering ke perpus cuma pengen ngeliat dia doank. Ibu Ida pun udah tahu gelagatku mendekati beliau, agar aku semakin dekat dengan Tiara. Susah juga ngajak dia jalan, beribu alasan aku layangkan padanya agar dia mau aku ajak jalan, ke toko buku atau ke tempat yang berhubungan dengan buku. Karena berkat dia aku sudah tidak pernah lagi dihukum Pak Teddy, dan sekarang aku sudah semakin rajin belajar dan punya hobi baru, yaitu membaca.

$$$

Sampai saat ujian tiba pun Tiara tetap saja tidak mau aku ajak jalan, ia pun hanya mau bertemu dan mengobrol denganku di perpus, padahal disana tidak boleh berisik. Akhirnya ujian usai, kini aku semakin gencar mendekati dia, karena tak akan ada lagi penghalang.
“Nggak Alvian, aku ga mau jalan sama kamu”
“Kita ke toko buku deh Ra, terserah lo...” Tiara tetap keukeuh dengan ucapannya. Aku sudah mulai lelah mengajak gadis seperti Tiara, tapi entah setan apa yang merasuki tubuhku, aku tetap ingin bersama dirinya sampai kapanpun. Sampai suatu hari...
“Ra, kalau gw bisa lulus dan mendapat peringkat 3 besar, boleh ga gw ngajak lo jalan ?” Tiara terdiam mendengar hal itu, namun aku yakin didalam lubuk hati Tiara, ia tak akan yakin kalau aku akan dapat gelar 3 besar.
“Ok, aku janji, tapi klo kamu hanya 3 besar ya, lewat dari 3 besar perjanjian kita batal. Deal ?”
“Deal..!!!” pertama kali aku menjabat tangannya hanya sebuah pertaruhan harga diriku, dan kulihat Tiara tersenyum puas atas taruhan ini.
1 minggu lagi adalah penentuan taruhan itu, akan luluskah aku dan mendapat 3 besar. Hari ini, hari dimana aku akan melihat hasil jerih payahku selama 3 tahun ingin mendapat ijazah SMA. Ku baca satu persatu deretan nama yang tertempel di mading, meski berdesak-desakkan aku harus tetap mencari namaku dideretan no 1 sampai 3.
“Hah, kok nama gw ga ada ?” bathinku, tanganku tetap berjalan diantara barisan nama, “Ini dia, lho kok nomor 4 ?” namaku di nomor 4, aku bukan 3 besar ? Harga diriku jatuh, aku lemas dan segera keluar dari kerumunan murid lain yang juga ingin melihat hasil penilaian. Aku duduk dipinggir lapangan, aku bingung harus gimana “Berarti gw nggak akan pernah bisa jalan sama Tiara donk ?” ucapku pelan, aku tak mnyadari kalau sedari tadi ada orang yang memperhatikan aku.
“Masih bisa kok” aku kaget melihat dirinya, Tiara ada dihadapanku, tersenyum manis
“Bisa apa ?”
“Bisa jalan, emang kamu ga mau jalan sama saya ?”
“Tapi gw kan ga 3 besar ?”
“Yaudah, ga apa-apa kok. Mau ga sama tawaran saya ?” aku masih tidak mempercayai dengan perkataan Tiara, aku akan nge-date sama dia. Ya Tuhan, terima kasih.
“Iya, gw mau Ra”

$$$

Saat aku mulai bahagia bersamanya, bersama dalam suka dan duka karena sudah 1 tahun aku menjalin kasih dengan Tiara. Tapi saat yang tak kuduga terjadi, Tiara tiba-tiba menghilang tanpa jejak, aku ga tahu dia kemana, sampai saat ini pun aku belum pernah bertemu dengannya. Sampai kuingat, 1 tahun lalu aku mendatangi rumahnya yang sudah 13 tahun tak aku sambangi, padahal saat dia menghilangpun aku sudah berusaha mendatangi rumahnya, menelponnya, dan selalu menghubunginya tetapi tidak ada jawaban apapun darinya.
Kini kulihat sesosok perempuan sedang terduduk dikursi roda, menatap langit yang saat ini sedikit mendung. Tanpa segan ku hampiri, karena kuketuk gerbangnya tak juga dijawab. Saat kulihat wajahnya...
“Ya Allah, Tiara !!!” Gadis itu, gadis yang 13 tahun menghilang kini terduduk dikursi roda seorang diri, gadis yang dulu kucintai, kini tak lagi seperti dulu. Kulihat wajahnya yang ditutupi kepucatan dan kerutan-kerutan. Tiara menangis karena dia tahu aku datang, dia memalingkan wajahnya, “Tiara...”
“Aaalll...vvviiiaaaaannn...” ucapnya terbata-bata
“Ya Allah, Tiara. Kamu kenapa ? Kenapa jadi begini ? Tiara jawab!” aku mengguncang-guncangkan tubuhnya yang lemah itu.
“Aa..aalll.. aku ga mau kamu tau...”
“Tau apa ? Kamu kemana aja selama ini ?” aku memeluknya erat, kurasakan tulang belulangnya karena tubuhnya semakin kisut mengurus. Tiara meneteskan air mata...
“Aku...sakit...LEUKIMIA...dan aku bertahan demi kamu.... Aku mau mati dipelukanmu... Aku...Sayang...Kamu....” dengan seketika aku merasakan detak jantungnya berhenti berdetak dan tangannya tergontai. Ya Allah, apakah kau telah mengambilnya ? Kulihat wajahnya tersenyum, dari kejauhan kulihat ibunya Tiara tersenyum, selama 13 tahun ia menungguku tapi tak dizinkan oleh keluarganya dan akupun tak tahu apa alasannya. Kini dalam pelukanku, dia pergi meninggalkanku untuk selamanya. Entahlah, apakah aku masih bisa membangun perasaanku lagi untuk orang lain.

$$$

Kini aku ada didepan peristirahatan terkhirnya, kupandangi tanah yang masih merah dan basah itu. Kuraba papan yang bertuliskan nama TIARA LILYANA. Kekasih yang aku cintai telah pergi untuk selamanya, takkan ada orang lain yang dapat menggantikanmu, kekasihku Tiara...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer bonsai
bonsai at Tiara (11 years 4 weeks ago)
60

untuk kategori cerita, cukup menarik tetapi ending atau klimaks cerita sudah dapat ditebak.coba untuk buat cerita yang klimaks/ending yang berbeda dari yang lain.terus tetap berkarya ;)

Writer belongs2eti
belongs2eti at Tiara (11 years 4 weeks ago)
70

ceritanya bagus & mengharukan, cuma terlalu panjang jd agak bosen jg bacanya. Mungkin agak di padetin kali yaa.

Ok, keep on writing yaa
btw, thanks atas commentnya :)

Writer prince-adi
prince-adi at Tiara (11 years 4 weeks ago)
70

bagus

saran aja ya
nulisnya dirapiin kalau copas dari ms.word
trus usahakan jgn kirim cerita lebih dari 1500 kata di sini, kemungkinan yang baca sedikit

dah itu aja

Writer al-mundzir
al-mundzir at Tiara (11 years 4 weeks ago)
100

Penjiwaannya bagus. Penuh dengan pelajaran.
Ceritanya berakhir mengharukan, akhirya memang sudah dapat di duga. Tapi pemakaian kata dan penyampaiannya membuatnya sedikit berbeda.
Terakhir hanya sebuah pesan coba buat cerpen yang lebih pendek dengan tidak banyak dialog. Untuk mempertajam bakatmu dalam menulis.

Be positive

Assalammu'alaikum

Writer lonly
lonly at Tiara (11 years 5 weeks ago)
100

sama tuh ama koharu
baca krn tertarik sm judulnya TIARA aku juga pgn bgt sayang sama tiara tp ga mkn jadi milik aku....
sampai mua nangis bacanya nih sampai sakit nahan pgn nangis :''( O:)

Writer koharu
koharu at Tiara (11 years 5 weeks ago)
80

awalnya pengen bca gra2 judulnya sama ma nama q tp stelah dbca lumayan.....bkin terharu. itu beneran g sih??maap ya comment cm gni abz q g bsa pke bhasa yg bgus2 gt :)