K A D O

Mbak…mbak…bangun Mbak…
Ini sudah sampai di Jalan Lombok
Mbak nggak turun ? kata lelaki setengah baya yang berusaha membangunkanku dari alam mimpi.

Ehm..ini dimana ya Mas ? tanyaku dengan mata yang masih menyipit
Ini sudah sampai di Bandung, sekarang mbak lagi ada di pool nya Baraya Travel, jawab Mas sopir itu sambil menurunkan koper-koper milik penumpang yang lainnya.
Dengan langkah gontai aku berusaha turun dari mobil berwarna biru tua itu.
Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengunjungi kota yang menjadi saksi perjuanganku menempuh kuliah selama 3 tahun ini.

Sepuluh bulan yang lalu aku meninggalkan Kota Kembang menuju Ibu Kota Republik Indonesia. Bukannya aku sudah tak cinta lagi dengan kota yang terkenal dengan “peuyeum dan peuyeumpuannya” ini, tetapi keadaanlah yang memaksaku untuk meninggalkannya.

Sewaktu aku masih kuliah semester 5, aku diterima bekerja di sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta. Tentu saja setelah berkali-kali menjalani serangkaian tes penerimaan pegawai yang sangat rumit dan melelahkan itu. Namun aku bersyukur mampu melewatinya.

Mbak mau kemana ? tanya Mas sopir itu membuyarkan lamunanku
Eh…mau ke Pasar Balubur Mas
Oh…kalau gitu bareng aja saya saja, kebetulan saya mau kembali ke Jakarta, kebetulan hari ini sopir yang bertugas sedang sakit jadi saya yang menggantikannya.

Nanti Mbak turun di Sulanjana aja, jalan sedikit sudah sampai Pasar Balubur. Gimana?
Ehm..boleh deh Mas. Makasih ya. Jawabku sambil tersenyum simpul.

Di sepanjang jalan menuju Pasar Balubur, mataku tak henti-hentinya membaca tulisan baliho yang berderet rapi di sepanjang jalan. Belum genap setahun aku meninggalkan kota ini, namun bak jamur di musim hujan, banyak sekali bermunculan Factory Outlet baru yang saling banting harga menjelang akhir tahun.

Tak terasa sampailah sudah aku di ujung Jalan Sulanjana. Setelah berterima kasih pada Mas Sopir yang baik hati itu, aku mulai berjalan menyusuri Jalan Taman Sari untuk menuju Pasar Balubur.
Kadang aku tertawa kecil, saat melihat beberapa warung tenda yang ada di sekitar Jalan Taman Sari. Rasanya hampir semua warung tenda yang ada di sana pernah menjadi saksi bisu perjalanan cintaku bersama Mas Wira yang saat ini masih berusaha menyelesaikan kuliahnya di sebuah Institut Teknologi berlambang dewa gajah itu.

Bukan untuk bertemu dengannya aku datang ke kota ini. Bukan juga untuk liputan, namun untuk sesuatu yang lebih penting dari itu semua. Aku hanya ingin memberikan sebuah KADO pada seseorang yang aku sayangi, namun bukan pada Mas Wira. Sebab ia tak tahu jika aku datang ke kota Bandung pada hari ini.

Sampailah sudah aku di Pasar Balubur, aku berusaha mencari barang yang aku inginkan namun tak kutemukan satu pun kios yang menjualnya. Ah..sudahlah mungkin ada yang lebih menarik dari pada barang itu. Dan aku menemukannya…!!!

Dengan hati berbunga-bunga aku segera mencari angkot yang akan membawaku ke Jalan Cihampelas untuk bertemu “dia”.
Kulirik jam tangan yang melingkar di tangan kiriku. Ehmm…sudah jam 11 siang, aku terlambat nggak ya? Hari ini hari Rabu, biasanya “dia” pulang jam 10 atau jam 11 ya? Aduh…aku benar-benar lupa.
Akhirnya kutemukan juga sebuah bangunan yang setiap hari “dia” datangi. Namun sayang....Maksud hati ingin membuat kejutan namun apa daya ternyata aku terlambat dan ternyata “dia” sudah pulang ke rumahnya.

Kulangkahkan kakiku menyusuri gang-gang kecil di daerah Cimbeuleuit. Kudekap erat KADO yang akan kuberikan pada-“nya”. Aku membayangkan senyumnya saat membuka KADO dari ku. Namun ada juga sedikit keraguan jika “dia” tidak suka pada KADO yang aku berikan. Terlintas juga bayangan Mas Wira yang marah jika ia tahu aku datang ke Bandung tidak untuk menemuinya tetapi menemui orang lain yang lebih aku sayangi.

Sampailah aku di depan rumah tua yang ada di dekat aliran sungai Cikapundung
Tok…tok…tok…
Tak ada jawaban dari dalam rumah yang sudah pudar cat-nya itu
Sekali lagi aku berusaha mengetuk pintu
Dan ketika pintu itu terbuka, tampaklah seorang anak kecil berbaju merah muda dengan rambut yang diikat menyerupai ekor kuda.

“Kakak………!!!” teriaknya gembira sambil berusaha memelukku

“Ria…apa kabar? tanyaku sambil memeluk tubuh mungil itu

“Eh…ada Neng Geulis ya ? Dari Jakarta ya Neng? tanya Nenek Ria sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku

“Iya Nek, maaf baru sekarang saya main lagi kesini”

“Ria..kira, Kakak lupa sama Ria. Kemarin Ria sempet mikirin Kakak, kenapa ya Kakak nggak pernah kesini lagi nengok Ria, apa kakak sakit ya?” cerita Ria dengan wajah berseri-seri

“Maaf..Ria, Kakak sedang sibuk sekali di Jakarta. Bahkan kadang Kakak harus menginap dikantor lho” jawabku sambil menatap mata Ria

“Dari kemarin Ria nangis Neng, katanya kangen sama ayah ibunya” sahut Nenek Ria

Gadis kecil itu lalu menunduk, ia selalu bersikap seperti itu jika teringat kedua orang tuanya yang telah lama meninggal karena terserang sakit parah dan tak mampu menebus obat dari dokter. Kini ia hidup bersama Nenek dan Kakeknya.

“Eh…tau nggak kenapa hari ini kakak datang ke sini ? “ tanyaku berusaha menghibur Ria

Namun Ria hanya menggelengkan kepalanya

“Ini buat Ria, “Selamat Ulang Tahun yang ke-8…Sayaaang” !!!! “ seruku sambil memberikan KADO berpita merah itu.

“Ini KADO buat Ria Kak ?”tanya Ria tak percaya

“Iya, maaf ya Kakak ngasihnya terlambat” jawabku sambil memeluknya

“Terimakasih Kakak” jawab Ria dengan wajah cerianya

Tangan-tangan kecilnya berusaha membuka bungkus KADO itu.
Tampak sekotak besar crayon warna-warni yang menarik hati, namun tak ada reaksi apapun dari Ria.

Suasana menjadi hening seolah menanti reaksi Ria pada KADO yang aku berikan.
Kenapa tak ada keceriaan di wajahnya?
Kenapa tak ada senyum manis itu untukku?
Apa ada yang salah dengan KADO-ku?
Akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya apa yang sebenarnya ia pikirkan.

“Ria nggak suka ya KADO dari Kakak?” tanyaku dengan hati-hati

“Ehm…bukan, Ria suka kok. Sebenarnya Ria ingin sesuatu tapi Ria takut nanti Kakak marah?”

“Ria ingin apa? tanyaku sembari menggenggam tangan mungilnya"

Ia lalu berusaha memelukku, lalu mencoba mendekatkan mulut kecilnya di telinga kananku

Pikiranku makin kacau, aku tak tahu apa yang salah dengan KADO-ku??
Kini aku menantikan dirinya untuk membisikkan sesuatu yang mengusik hatinya.

Ada apa gerangan????

“Kakak…boleh nggak kalau Ria manggil Kakak dengan sebutan “Bunda”, aku ingin punya Bunda. Semua temanku mempunyai Bunda kecuali aku. Aku juga ingin punya Bunda.” bisik Ria dengan suara memohon.

Tak terasa air mataku menetes di pipi ku. Sungguh sederhana sekali permintaan-nya. Tiba-tiba aku teringat Bunda-ku yang jauh berada di Semarang. Aku tak ingat lagi kapan aku terakhir meneleponnya sekedar untuk menyapa dirinya dan menanyakan kabarnya. Selama ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Sudah lama sekali aku tak pernah mengantarnya berbelanja ke pasar atau menemaninya memasak.

“Kakak boleh nggak ?” tanya Ria membuyarkan lamunanku

“Boleh dong sayaaang…” jawabku sembari menghapus air mata dari kedua pipiku

“Terimakasih Kakak…eh…Bunda. Ini KADO terindah buat Ria” seru Ria sambil mencium pipiku

Setelah makan siang bersama, aku pamit pulang untuk segera kembali ke Jakarta.
Ria mengantarkanku menuyusuri gang-gang kecil itu hingga ke jalan raya. Tangan mungilnya mengenggam erat tanganku, seolah tak mau melepaskannya.
Lambaian tangannya mengiringi kepergianku bersama angkot berwarna hijau tua itu.

Tiba-tiba saja perasaan rindu kepada Bunda-ku menyelusupi seluruh jiwaku.Sangat menyesakkan dada dan seolah ingin meledak.

Aku rindu pada Bunda-ku...
Aku baru saja memberikan KADO terindah untuk adik angkatku.
Namun aku lupa kapan aku memberikan KADO terindah buat Bunda-ku

Kuambil handphone dari tas ranselku. Kucari sebuah nama bertuliskan “Bundaku Sayang” di phonebook handphoneku. Dan aku pencet tombol bergambar telpon berwana hijau. Tak berapa lama kudengar suara lembut Bundaku yang sudah lama sekali tak pernah kudengar.

“Ada apa Ka? Kok tumben kamu telpon? Ada kabar apa?”tanya Bunda-ku

I Love You Bunda…..Ika kangen Bunda, namun sayang kata-kata itu hanya mampu aku ucapkan dalam hati. Karena tiba-tiba pembicaraanku dengan Bunda-ku terputus. Rupanya aku lupa mengisi baterai handphone-ku tadi malam. Semoga Bunda mendengarkan getaran rindu yang ada di hatiku.

Aku tak mampu menghitung berapa banyak jasa yang Bunda berikan untukku...

Terimakasih Bunda atas semua cinta dan kasihmu yang kau telah kau berikan untukku

Terimakasih Bunda telah mendoakan-ku setiap hari

Terimakasih Bunda telah menjadi sahabat setia-ku selama ini

Terimakasih Bunda...

Maafkan aku yang belum bisa membalas jasa-jasa mu selama ini...
Mungkin aku tak mampu membalasnya...
Hanya doa yang mampu aku berikan untukmu
Semoga Tuhan membahagiakanmu seperti kau membahagiakanku

Selamat Hari Ibu, Bunda...
Aku selalu mencintaimu...

Read previous post:  
Read next post:  
Writer panah hujan
panah hujan at K A D O (10 years 36 weeks ago)
70

:)

Writer zera
zera at K A D O (11 years 18 weeks ago)
70

Salam kenal ja ya

Writer sZa_mNisT
sZa_mNisT at K A D O (12 years 27 weeks ago)
90

apapun yg ditulis ma yg ngasih komen kmu...

aq pengen bilang..aq tersentuh wkt anak itu pengen manggil Bunda..hiks..aq ga isa bayangin seandainya aq jdi ank itu..hiks

tpi emg sie..awalnya kepanjangen...

Writer firdha gonzy
firdha gonzy at K A D O (12 years 38 weeks ago)
50

temanya oke juga..seger..
apalg skrg lagi hr ibu ya..pas banget..
salam kenal juga ya aisha..
terus menulis! hehe..

Writer niawmiaw
niawmiaw at K A D O (12 years 38 weeks ago)
40

Coba kalo ini dikasih dan dibaca oleh bunda, apakah ia nangis atau diam saja?
Kalau nangis, berarti cerita ini sudah menyentuh.

Writer diorisnotgucci
diorisnotgucci at K A D O (12 years 38 weeks ago)
30

big question: kenapa kata KADO harus ditulis gede-gede? ada alasan tersendiri? Anyway... what can I say, paragraf2 terakhir cucok banget ya buat dikasih ke mama pas hari ibu nanti?

Writer Farah
Farah at K A D O (12 years 38 weeks ago)
50

so sweet,,,

Writer edowallad
edowallad at K A D O (12 years 39 weeks ago)
70

-Oh…kalau gitu bareng aja saya saja, kebetulan saya mau kembali ke Jakarta, kebetulan hari ini sopir yang bertugas sedang sakit jadi saya yang menggantikannya.-
kebetulan dua kali terasa jadi repetisi yang mengganggu...
tema yg aktual tanda cerpen ini segar baru dibikin
dan ini nilai tambah
karena saya sendiri kalau menulis harus ada pengendapan beberapa hari.
sayang ending yang dramatis masih kurang tersingkap. trus berusaha

Writer Acip S
Acip S at K A D O (12 years 39 weeks ago)
40

idealnya cerpen, dari awal langsung terlihat dan terasa apa yang mau disampaikan. Tapi di sini terlalu banyak narasi kurng penting, sehingga sedikit mengaburkan misinya. BTW, kok bisa ya, seorang anak lebih mikiran orang lain (adik angkatnya) ketimbang ibunya sendiri? Toh, di sini tak tergambar kenapa adik angkatnya lebih istimewa? Wah, pasti anak ini enggak nonton hidayah, ya.. sampe2 menomorduakan ibunya, heheheh

Writer F_Griffin
F_Griffin at K A D O (12 years 39 weeks ago)
40

Saya tahu cerita ini maksudnya apa. Tapi 8 paragraf awal hanya untuk masuk ke cerita, terlalu lambat. Menyeret, dan tidak efisien. Ini kan cerpen, bukan novel epik atau saga. Jangan boros kalimat dan karakter. Langsunglah ke pokok masalah (di 4 paragraf terakhir itu) dan fokus! Kalau kelamaan, anda bisa kehilangan pembaca.